Kamis, 19 Februari 2015

Esai Kritis OIM UI 2014

Standard
REVITALISASI BUDAYA RISET PADA INTERPROFESSIONAL HEALTH STUDENT SEBAGAI STRATEGI MAHASISWA KESEHATAN MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI
           Oleh Maufiroh, Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2012
Juara II Esai Kritis ajang Olimpiade Ilmiah Mahasiswa Universitas Indonesia Tahun 2014

         Kesehatan menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena merupakan kunci dari produktivitas. Pada kenyatannya,  Indonesia masih memiliki banyak permasalahan kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011, sejumlah 1.321.451 penduduk mengalami malaria dan sebanyak 316.562 penduduk mengalami Tuberkulosis (TBC) (Badan Pusat Statistik, 2014). Indonesia juga menduduki peringkat ketiga terbanyak penderita kusta di dunia setelah Brazil dan India (WHO, 2013). Sehubungan dengan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia, permasalahan kesehatan di Indonesia harus diselesaikan dalam menghadapi tantangan globalisasi secara global.
           Berdasarkan permasalahan kesehatan yang ada, Indonesia mulai menerapkan Interprofessional Practice and Education (IPE) di beberapa perguruan tinggi negeri. Interprofessional Practice and Education (IPE) dicetuskan oleh World Health Organization pada tahun 2006 sebagai strategi dunia untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan (WHO, 2010). Namun, perguruan tinggi yang menerapkan sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) masih sedikit. Di Indonesia, perguruan tinggi yang telah mengadopsi sistem ini, diantaranya Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
             Dari beberapa hasil penelitian di luar negeri, sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) menunjukan hasil yang positif terhadap pelaksanaan sistem. Penelitian yang dilakukan oleh Hood et al (2013), menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki sikap positif terhadap Interprofessional Practice and Education (IPE) dan semua mahasiswa bersedia untuk menjalankan pembelajaran secara profesional. Lynn et al (2014), juga menyebutkan pada penelitiannya bahwa dengan antusiasme dan dukungan, mahasiswa dapat mentransformasikan pengalaman sistem IPE untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di abad ke-21. Hal ini menunjukkan bahwa sistem Interprofessional Education menjadi sistem yang potensial untuk menciptakan Interprofessional Health Student yang dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan di Indonesia.
       Dalam menghadapi tantangan globalisasi, disamping mengedepankan kualitas sumber daya manusia, Indonesia juga harus memperhatikan perkembangan riset dan kemajuan teknologi. Hal ini perlu dilakukan karena riset dan teknologi menunjukkan kemajuan suatu bangsa di bidang pendidikan dan teknologi. Namun, pada kenyataannya Indonesia memiliki jumlah publikasi ilmiah (bukti riset) dengan jumlah yang rendah dibandingkan negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand (Scopus, 2013).
       Dari data Scopus (2013), jumlah publikasi ilmiah pada tahun 2013, Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2011 dengan jumlah 2.741 publikasi menjadi 4.175 dan menduduki peringkat ke 55. Amerika menduduki posisi pertama sebanyak 563.292, diikuti oleh China dengan jumlah publikasi 425.677, dan United Kingdom diurutan ketiga dengan jumlah 162.574 publikasi ilmiah. Sedangkan untuk beberapa negara-negara ASEAN, Malaysia menduduki peringkat 23 dunia dengan jumlah 23.190, Singapore peringkat 30 dengan jumlah 17.052, Thailand peringkat 42 dengan jumlah 11.313, dan Vietnam peringkat 58 dengan jumlah 3.443. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal jauh untuk menghadapi tantangan globalisasi dilihat dari kesiapan di bidang riset dan teknologi.
        Upaya dalam meningkatkan riset sudah dilakukan pemerintah pada sumber daya manusia strategis, yaitu mahasiswa. Melalui Undang – Undang No. 12 Tahun 2012, Pemerintah mewajibkan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Undang Undang No. 12 tahun 2012 menyebutkan pada pasal 45 ayat (1) bahwa  penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Dalam hal ini, mahasiswa baik sarjana, magister, dan doktor memiliki peran penting yang diwajibkan pemerintah untuk melakukan riset dan diharapkan dapat menciptakan, menemukan, dan memberikan kontribusi bagi penerapan, pengembangan, serta pengamalan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah (UU No. 12 tahun 2012).
Gambar 1. Grafik Jumlah Publikasi Ilmiah Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura Sejak 1996 – 2011 (Alam, 2013)
        Upaya revitalisasi di bidang riset tidak cukup hanya dari kebijakan pemerintah kepada perguruan tinggi, tetapi juga dilakukan revitalisasi dari perguruan tinggi terhadap mahasiswa sebagai pemegang peranan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Upaya revitalisasi yang sudah dilakukan terhadap mahasiswa, yaitu melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Tidak hanya itu, beberapa perguruan tinggi telah berupaya dengan memberikan dana hibah riset kepada mahasiswa dengan jumlah yang cukup besar. Salah satu contohnya adalah Universitas Indonesia.
            Upaya revitalisasi di bidang riset sudah cukup banyak dilakukan, namun upaya-upaya tersebut dirasa belum cukup efektif bagi mahasiswa untuk meningkatkan publikasi ilmiah dalam menghadapi persaingan secara global. Hal ini dibuktikan dari minimnya jumlah publikasi yang dihasilkan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Scopus, jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh UI, ITB, UGM, dan IPB dalam kurun waktu 2007 – 2013 mengalami peningkatan dengan jumlah kurang dari 250 publikasi per tahun dari masing-masing perguruan tinggi (Alam, 2013). Bukti lainnya adalah terjadi penurunan jumlah publikasi ilmiah secara drastis pada tahun 2013, dengan jumlah publikasi kurang dari 100 pada masing-masing perguruan tinggi  (gambar 2).
Gambar 2. Jumlah publikasi UI, ITB, UGM, dan IPB pada tahun 2007 – 2013 (Scopus dalam Alam, 2013)

Melihat potensi pada implementasi sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) terhadap inovasi riset dan teknologi di bidang kesehatan, kebutuhan Indonesia untuk menghadapi tantangan globalisasi di bidang riset dan teknologi serta belum efektifnya upaya revitalisasi riset yang sudah ada, maka dibutuhkan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student sebagai strategi mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dalam menghadapi tantangan globalisasi. Berikut adalah gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student.

1.      Pendidikan Formal Riset Interprofessional Health Student berbasis Aplikatif
Riset – riset yang diterapkan pada umumnya adalah riset sesuai bidang profesi masing – masing. Sedangkan riset pada Interprofessional Health Student (minimal terdiri dari dua bidang profesi) belum diterapkan di Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan formal khusus riset pada Interprofessional Health Student berbasis aplikatif agar mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dapat memahami baik secara teoritis maupun aplikatif.
Pada umumnya, pelaksanaan pembelajaran pada pendidikan formal riset ini sama seperti pembelajaran metode penelitian. Namun, terdapat perbedaan antara pembelajaran metode penelitian dengan riset Interprofessional Health Student, yaitu dari segi aplikatifnya pembelajaran. Setelah mendapatkan pengetahuan tentang penelitian, mahasiswa langsung mengimplementasikan dari ilmu pengetahuan yang didapat. Berikut tahap – tahap pelaksanaan pendidikan formal riset Interprofessional Health Student berbasis aplikatif.

1)      Pra-Orientasi Pembelajaran
Tahap pra-orientasi pembelajaran ditekankan kepada pendidik, yaitu dosen pengajar. Sebelum melakukan tahap orientasi kepada mahasiswa, dosen melakukan orientasi terlebih dahulu terkait modul pembelajaran riset Interprofessional Student berbasis aplikatif. Pada tahap ini juga sebagai tahap assessment pada daerah yang akan dilakukan penelitian sebagai pilot project dari pembelajaran ini. Hasil assessment tersebut akan di presentasikan saat orientasi pembelajaran kepada mahasiswa untuk memberi gambaran terkait kondisi masalah di daerah pilot project tersebut.

2)      Orientasi Pembelajaran
Pada tahap ini, pendidik memberikan orientasi pembelajaran kepada mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tentang proses pembelajaran yang akan di jalani selama satu semester. Selain itu, mahasiswa diberikan gambaran kondisi daerah pilot project yang akan dilakukan pada tahap implementasi nanti.

3)Materi Proposal Penelitian (review)
Pemberian materi proposal penelitian guna melakukan review terhadap materi metode penelitian dan menyamakan persepsi seluruh mahasiswa rumpun ilmu kesehatan terkait pembuatan proposal penelitian.

4) Pembuatan proposal kelompok
Setelah mendapatkan materi pembuatan proposal penelitian, tahap ini merupakan tahap implementasi dari materi yang telah diberikan. Kemudian mahasiswa membentuk kelompok proposal yang terdiri dari minimal dua bidang profesi dengan jumlah anggota kelompok sebanyak lima orang.

5) Seminar proposal kelompok
Tahap selanjutnya adalah seminar proposal kelompok. Tahap ini dilakukan setelah kelompok Interprofessional Health Student membuat proposal penelitian. Tujuannya adalah sebagai monitoring dan evaluasi hasil proposal penelitian kelompok oleh fasiliator kelas untuk di revisi kembali sebelum melaksanakan penelitian.

6) Tahap implementasi penelitian
Setelah proposal kelompok sudah disetujui oleh fasilitator kelas, semua mahasiswa melakukan tahap implementasi, yaitu pengambilan data penelitian di daerah pilot project yang telah di tentukan sebelumnya.

7) Materi dan pelatihan penulisan jurnal
Tahap berikutnya adalah pemberian materi dan pelatihan penulisan jurnal penelitian. Pendidik memberikan materi singkat terkait penulisan jurnal kemudian memberikan pelatihan proses/cara penulisan jurnal penelitian yang baik dan ilmiah.

8) Tahap Implementasi penulisan jurnal
Mahasiswa dituntut untuk mampu mengimplementasikan dari pengetahuan sebelumnya. Secara berkelompok, mahasiswa membuat jurnal penelitian dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

 9) Evaluasi
Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi. Setelah pembelajaran selesai, mahasiswa memberikan evaluasi terhadap pembelajaran untuk perkembangan dan penyempurnaan pelaksanaan sistem pembelajaran.

Berikut adalah skema implementasi pendidikan formal riset pada Interprofessional Health Student berbasis aplikatif.

Gambar 3. Skema Pendidikan Formal Riset pada Interprofessional Health Student Berbasis Aplikatif.
Hasil keluaran dari gagasan ini adalah berupa fisik dan non-fisik. Hasil keluaran fisik gagasan ini berupa proposal penelitian dan jurnal penelitian. Jurnal penelitian ini dapat digunakan untuk mengikuti kompetisi ilmiah yang berbasis penelitian seperti Call for Paper, Conference, PKM-AI, dan sebagainya.

2.      Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian khusus mahasiswa rumpun ilmu kesehatan menjadi sebuah gagasan lanjutan dari gagasan sebelumnya. Gagasan ini bertujuan sebagai wadah Interprofessional Health Student untuk melakukan penelitian diluar pendidikan formal. UKM ini menjadi sebuah organisasi untuk meningkatkan budaya riset pada Interprofessional Health Student. Penelitian yang dapat dilakukan oleh mahasiswa pada UKM ini terbagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan lingkup daerah penelitian, yaitu penelitian tingkat universitas, daerah lokal universitas, dan luar daerah universitas.

Tahap implementasi pada UKM ini hampir serupa dengan implementasi pada pendidikan formal riset Interprofessional Health Student berbasis aplikatif. Hanya saja terdapat perbedaan pada tahap awal dan akhir. Pada tahap awal implementasi, yaitu adanya kajian penelitian sebagai pengetahuan terkait penelitian kepada anggota organisasi dan pembentukan kepanitiaan untuk mengurus pelaksanaan kegiatan. Sedangkan perbedaan pada tahap akhir, yaitu dapat melakukan pengabdian masyarakat di bidang kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Berikut skema tahap implementasi gagasan UKM Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan.

Gambar 4. Skema Implementasi UKM Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

3.      Perpustakaan Riset Digital Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Gagasan ini  dilatarbelakangi oleh keluhan beberapa mahasiswa yang sulit mencari sumber literatur pada proses pembuatan proposal penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Mujiyah dkk (2001) dalam Januarti (2009) menemukan bahwa kendala terbesar yang dihadapi mahasiswa dalam membuat skripsi adalah pada buku – buku sumber me;iputi kurangnya buku – buku referensi yang focus terhadap permasalahan penelitian, dengan persentasi sebesar 53,3%. Terlebih lagi, tidak ditemukan data jumlah publikasi penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa di Indonesia.

Perpustakaan riset digital mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dibentuk untuk menampung seluruh jurnal penelitian mahasiswa rumpun ilmu kesehatan yang telah terseleksi. Hal ini akan menjadi akses literatur untuk perkembangan penelitian selanjutnya dan juga sebagai referensi penelitian. Perpustakaan ini didesain dalam bentuk digital supaya seluruh mahasiswa di Indonesia, khususnya kesehatan dapat melakukan akses terhadap jurnal-jurnal penelitian yang ada. Berikut adalah skema implementasi gagasan perpustakaan digital riset mahasiswa rumpun ilmu kesehatan.

Gambar 5. Skema Implementasi Perpustakaan Riset Digital Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student (Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan) diharapkan mampu menjadi program yang dapat diimplementasikan pada perguruan tinggi di Indonesia pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Hasil luaran yang diberikan melalui gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student diharapkan mampu meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia serta meningkatkan publikasi ilmiah Indonesia. Dengan begitu, peran mahasiswa dapat dioptimalisasi sebagai strategi dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Kondisi yang diharapkan agar gagasan revitalisasi budaya riset dapat berjalan dengan baik  antara lain, perguruan tinggi dapat membuat regulasi terkait pengadaan pendidikan formal riset kolaborasi kesehatan serta menyediakan fasilitas yang memadai untuk mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dalam melakukan riset agar budaya riset tetap terbangun dan DIKTI beserta LPDP dapat bekerja sama dalam pelaksanaan program guna mendukung dana riset agar perkembangan riset dan kemajuan teknologi Indonesia dapat meningkat dan mampu bersaing secara global.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, Bachtiar. (2013, Oktober). Strategi dan Kinerja Riset Perguruan Tinggi: Pengalaman Universitas Indonesia. DRPM Gazette, 06(4), 6-7.
Badan Pusat Statistik. (2014). Number of Disease Cases by Province and Type of Disease. www.bps.go.id/eng/tab_sub/print.php?id_subyek=30&notab=47 diakses pada 18 September 2014
Hood, Kerry., Robyn Cant, Julie Baulch, Alana Gilbee, Michelle Leech, Amanda Anderson, dan Kate Davies. (2013). Prior experience of interprofessional learning enhances undergraduate nursing and health students’  professional identity and attitudes to teamwork. Nursing Education in practice. Elsevier Mosby Inc.14, 117-122
Januarti, R. (2009). Hubungan antara Persepsi terhadap Dosen Pembimbing dengan Tingkat Stress dalam Menulis Skripsi. [Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Surakarta,
Scopus. (2013). http://www.scimagojr.com/countryrank.php?area=0&category=0&region=all&year=2013&order=it&min=0&min_type=it diakses pada 17 September 2014
Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/17624/UU0122012_Full.pdf diakses pada 19 September 2014
VanderWielen, Lynn M. et al. (2014). Interprofessional Collaboration Led by Health Professional Students: A Case Study of the Inter Health Professionals Alliance at Virginia Commonwealth University. Journal of Research in Interprofessional Practice and Education.
World Health Organization. (2010). Framework for Action on Interprofessional Educaion & Collaborative Practice. Geneva, WHO Press.

World Health Organization. (2013). Weekly Epidemiological Record. 88(35), 365-380. Diakses dari http://www.who.int/wer

Minggu, 08 Februari 2015

Sudahkah Saya Merdeka?

Standard

Merdeka, Saya ingin sekali mengulas satu kata tersebut. 

Sebenarnya, kata 'merdeka' ini terlintas ketika saya memerhatikan seorang pemudi dan ibunya di dalam kereta Commuterline Tanah Abang-Serpong. Kalau saya taksir, pemudi tersebut sekitar usia 16-17 tahun dengan perawakan yang cukup gemuk dan menggunakan pakaian tertutup serta jilbab hitam. Pemudi ini duduk disamping ibunya. Sedangkan saya berdiri menggantungkan tangan kanan pada pegangan kereta untuk mencegah ketidakseimbangan posisi akibat laju kereta yang begitu cepat, di depan mereka.

Hal yang membuat tatapan saya lebih lama kepada pemudi tersebut adalah raut wajah serta cara pandangnya. Setiap orang memang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Saya juga paham kalau kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Tapi, raut wajah yang saya lihat kini berbeda. Raut wajahnya menampakkan kesedihan. Saat itu tatapannya menunduk, bahkan dengan Ibunya sendiri. 

Kala itu, pemudi itu sedang asyik dengan tab-nya dan menunduk. Kemudian, Ibunya mencoba untuk meraih tab yang dipegangnya. Namun, pemudi tersebut mengelak. Kalau saya terjemahkan, mungkin dia berkata "Sebentar Ma, lagi seru.", dalam hatinya. Faktanya, pemudi itu tidak berkata sepatah kata apapun. Hanya menghindar. Berkali-kali Ibunya mencoba untuk meraih tab-nya, namun pemudi itu memberi isyarat untuk tidak mengambil tab dari genggamannya. Saya melihat tatapan Ibu terhadap pemudi, terlihat mengancam. Namun, pandangan pemudi itu ke bawah, sehingga tidak melihat sorotan mata ibunya. Saya yang melihatnya. Hingga akhirnya pemudi itu menyerah. Menyerahkan tab yang dipegangnya kepada Ibunya. Saya melihat lekuk bibirnya semakin merunduk (re: manyun). Gerakan pipi dan sekitar wajah yang dapat saya perhatikan bergerak menampakkan kesedihan. Entah kenapa, saya menafsirkan rasa sedih yang ditampakkan begitu dalam dari pemudi tersebut.

Kereta yang saya tumpangi akhirnya sampai di stasiun Kebayoran. Saya meninggalkan pemudi dan Ibu yang ada dihadapan saya dan menuju pintu keluar kereta Commuterline sambil merenungi peristiwa tersebut. Hingga kata "kebebasan" terlintas dipikiran saya, kemudian muncul kata "merdeka".

Kalau menilik dari KBBI, merdeka memiliki arti 1. bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb; berdiri sendiri. 2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Jelas sekali makna merdeka dari KBBI tersebut. Jika melihat kasus yang saya ceritakan, sudahkah pemudi itu merdeka? Sayapun tidak tahu. Namun banyak sekali fenomena-fenomena yang menunjukkan ke-tidak-merdeka-an di sekeliling saya. Banyak di lingkungan saya yang memiliki suatu grup yang biasa disebut dengan "geng", entah itu di SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Tak jarang sekali, saya merasa bahwa banyak diantara mereka yang belum merdeka. Kenapa? Karena saya melihat raut wajah itu palsu. Kesenangan didapat hanya semu. Menurut saya, kasus tersebut sangat melekat sekali namun banyak yang tidak sadar.

Merdeka juga didapatkan dari diri sendiri. Kalau menurut Bung Karno, “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno). Sama halnya dengan diri kita sendiri. Ketika kita tidak percaya pada diri sendiri, artinya diri kita terbelenggu. Contoh hal kecil kemerdekaan diri sendiri adalah berani melawan ketakutan dari diri sendiri. Kalau saya, dulu pernah tidak merdeka untuk mengungkapkan pendapat. Kini, saya telah bermetamorfosis hingga rasa belenggu itu mulai pudar. 

Indonesia memang sudah merdeka. Namun, merdeka yang seperti apa? Hakikikah kemerdekaan itu? Banyak sekali fenomena-fenomena belenggu kemerdekaan dari mulai yang paling jelas terlihat hingga samar-samar. Sudahkah saya merdeka? Pertanyaan refleksi yang wajib diupdate. Semoga saya dan semua yang membaca merasa merdeka secara hakiki, serta dapat memerdekakan banyak orang. Karena.................................
“Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”  Pramoedya Ananta Toer



Selasa, 27 Januari 2015

LKMM Nasional: Rasa Gado-Gado

Standard
Om Swastyastu...!

Yap! Kini Aku sedang berada di Bali (lagi), sejak dua tahun yang lalu pertama kali Aku ke Bali untuk menghadiri Konferensi Budaya Nasional di Udayana dan Ubud. Alhamdulillah Aku diberi kesempatan lagi untuk ke Bali dalam rangka menghadiri Latihan Kepemimpinan dan Manajerial Mahasiswa Ilmu Keperawatan yang diadakah oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) se-Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. :)

Kenapa judul postingannya rasa gado-gado? Karena ini kali pertama Aku menghadiri event keperawatan se-Indonesia dan Aku tak bisa mengungkapkan satu jenis rasa ketika bertemu dengan  mereka, teman-teman sejawat (mahasiswa keperawatan) se-Indonesia. Sesungguhnya, alasan utama mengikuti kegiatan ini karena ingin direct meeting dengan teman-teman Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (BIMIKI). Ya, Aku telah bergabung ke dalam BIMIKI sebagai staff redaksi yang mengurus artikel-artikel penelitian keperawatan untuk diterbitkan. Ya, penelitian, itu passionku. Haha :) Alasan lainnya lagi adalah karena Aku ingin menemukan sensasi seperti apa yang dapat Aku rasa ketika duduk bersama, berdiskusi, dan berbincang dengan teman sesama ilmu keperawatan se-Indonesia. Selain itu, Aku juga membawa satu misi untuk project yang sedang Aku kerjakan bersama dosen dan temanku tentang kasus Needlestick Injury. Yeah, survei kasus itu menambah ruh semangatku untuk hadir ke dalam acara ini. :)

Aku berangkat dari Jakarta bersama temanku, Abel. Hal yang menarik bagiku pada hari ini adalah teman-teman satu kamarku, teman-teman sebelahku, opening ceremony, dan pemateri dari Prof. Irawan Yusuf. :)

Teman satu kamarku ada tiga orang. Mereka adalah Putri (Universitas Jember), Ain (Universitas jember), dan Puput (STIKES Surya Global Jogja). apa yang menarik bagiku? Mereka masih muda *eh bukan*. Mereka sangat ekstrovert dan ekspresif, terlebih lagi Putri. Haha.. Mereka seperti adikku saja. Gimana bukan adik? Mereka masih semester satu guys, kecuali Puput, semester tiga. *sok tua, emang tua -_-* :D
Apalagi yang menarik? Mereka semua memiliki mimik yang sangat ceria. Aku suka! Haha :)) Dan, Ain ternyata orang Madura tetapi dia di Bangkalan, kampungku di Pamekasan. Then, Bapaknya Putri orang Pamekasan. Oh my..Apa maksudMu membuat kami satu kamar ya Tuhan? Apakah engkau memberiku isyarat untuk Aku belajar akif bahasa Madura? Selama ini Aku cenderung pasif bahasa Madura, hanya bisa memahami apa yang di bicarakan tetapi tidak bisa lancar membalasnya. Heuheu :3

Hal menarik kedua, opening ceremony. Aku belajar tentang kearifan lokal disini. Setiap memulai acara, Aku dibuat merasa bahwa "Oh, Ini di Bali". Hal ini Aku rasakan karena kostum panitia, ornamen khas Bali, serta salam "Om Swastyastu" yang tak pernah luput pada permulaan acara. Selain itu, Aku duduk di apit oleh mahasiswa semester satu dari Universitas Jember (Faizah) dan Universitas Muhamadyah Malang (Agus) ketika opening ceremony di dalam Aula. Aku pun berkenalan dengan dua orang lainnya disebelah Agus, yaitu Jajar dan Atiq namun mereka cenderung diam saja. Setelah berkenalan dan berbincang-bincang, tetiba Aku mendengar percakapan antara Agus dengan salah satu dari dua orang yang diam tadi menggunakan bahasa yang Aku kenal. Ya, bahasa Madura. Sontak Aku bertanya pada Agus, ternyata dia berasal dari Pamekasan. Hey! LKMM ini rasa Madura-Bali bagiku, wkwk.. Seketika Aku mengaku kalau Aku juga dari Pamekasan, dan tiba-tiba Atiq langsung memberikan tangannya untuk berjabat tangan padaku, Padahal sebelumnya dia terlihat acuh tak acuh. Peristiwa ini tetiba membuat Aku menyimpulkan bahwa budaya dapat membuat orang menjadi saudara dengan cepat sekali. Entahlah, Akupun tak mengerti akan kekuatan budaya yang seperti itu. Menarik memang, Indonesia.

Hal menarik terakhir, yaitu pemateri bernama Prof. Irawan Yusuf. Beliau memberikan pengetahuan kepada kami tentang "Strategi Membangun Komunikasi Efektif Antar Organisasi Mahasiswa Nasional". Ya, beliau menyampaiakn bahwa komunikasi efektif itu sangatlah penting baik bagi organisasi mahasiswa maupun dalam pelayanan kesehatan. Hal yang Aku garis bawahi dalam penyampaian materi beliau adalah komunikasi efektif itu dapat terwujud ketika kita memahami karakteristiknya sebagai lawan bicara atau teman berkomunikasi. I think he was right. Kalau kita berbicara dengan bayi, pasi kita akan mengikuti cara bayi. Kalau kita hendak berkomunikas dengan remaja atau orang tua, pasti kita akan menyesuaikan dengan mereka. Pun sama halnya dengan teman kita ketika mereka curhat. 

Iseng punya iseng, Aku browsing tentang profil beliau. Haha...Dan wow! Beliau punya rekam jejak yang luar biasa di bidang penelitian. Kontribusinya pada penelitian kesehatan di Indonesia sangat luar biasa. Beliau berkiprah di Komite Etik Nasional Penelitian Kesehatan Indonesia. Seketika Aku ingin sekali bertanya padanya supaya beliau setidaknya peernah berkomunikasi denganku. Haha..But I couldnt reach it karena gak ada sesi tanya jawab. Huhuhu...

Begitulah hari pertama yang telah kulalui di Bali. Di sini Aku harus menyelesaikan beberapa tugas kedepan. Tugas pertamaku telah selesai, yaitu membuat sebuah tulisan tentang konsep/ide tentang beberapa topik pilihan, yaitu Konflik dan Survei Isu; Fundraising; Media sosial, Internet, dan Teknologi; dan Buletin. Alhamdulillah tugasku sudah rampung. Aku berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Jika kamu mengenalku, maka kamu akan tahu topik apa yang telah Aku pilih. haha...

Sampai jumpa! Aku harus bangun pukul 04.30 WITA untuk memulai aktivitas kembali. Namun semangatku masih ada hingga Aku tidak merasa ngantuk tapi harus istirahat juga. Sampai jumpa di tulisan berikutnya! Foto menyusul ya! Hihi... :))

27 Januari 2015
02.44 WITA dari Bali, Indonesia

Minggu, 25 Januari 2015

Korea Selatan #4 : Seoul City!

Standard
Konbanwa Minna-san !~~

Sapaan kali ini dengan bahasa Jepang, karena tahun ini Aku ingin sekali pergi ke sana. Doakan saja ya, sedang dalam tahap ikhtiar. :")

Tahu drama korea Boys Before Flower? Tahu dimana lokasi foto dibawah ini? Ya! Namsan Tower! :") Aku mau cerita hari terakhirku di negeri gingseng ini. Mengakhirinya dengan memutuskan untuk mengunjungi Namsan Tower bersama Lili dan Chika. Alright then~


25 Agustus 2014
Hari terakhirku di Korea Selatan. Menuju Namsan Tower adalah perjalanan yang panjang, meletihkan, namun membahagiakan!  Setelah Aku, Lili, dan Chika menyelesaikan conference day di Daejeon, pagi hari kami segera bertolak ke kota Seoul. Pagi itu, di Daejeon hujan cukup deras. Kami kesulitan mencari taksi untuk menuju halte bus yang akan mengantarkan kami ke Seoul. Sekitar satu jam kemudian, dengan bantuan Oppa-Oppa di Yuseong Youth Hostel, taksi datang dan mengantarkan kami ke Yoosung Gumho Express Bus Terminal. Naik bus di Korea gak bisa sembarangan. Kita mesti beli tiket di loket dan menunggu di halte bus. Fufufu~

Kami sampai di terminal bus pukul 9.30 dan membeli tiket bus Daejeon-Seoul seharga 9.700 Won dengan jenis small seat (paling murah). Sedangkan bis masih akan tiba pukul 10.40. So, kami harus menunggu di halte ini. Sambil menunggu, Aku memandangi pemandangan luar terminal, rintik hujan yang membasahi jalan, serta hiruk pikuk orang korea di dalam dan luar terminal. Ya, orang Korea dan HANYA KAMI yang dari Indonesia. "Ini baru berasa di Korea!", sahutku pada Lili. Tak ada lagi orang lain yang menggunakan bahasa selain kami. Beberapa dari mereka melirik kami bertiga yang menggunakan kerudung colorful dengan tas jinjingan yang besar. Haha...

Suatu ketika, ada seorang Ajhumma di depan kami. Kalau bisa Aku taksir, mungkin sekitar usia 50an tahun. Aku, Lili, dan Chika berurut duduk di belakang beliau. Kebetulan, kami sedang sangat bingung akan naik bus yang mana karena kami tidak tahu dan takut ketinggalan. Akhirnya Lili yang sambil memegang buku ajaibnya (buku saku Korea), mencari-cari kalimat pertanyaan dan dengan berani sekali mencolek Ajhumma dan melontarkan pertanyaan yg ada di buku saku. Hahaha.. Aku lupa detail percakapan kami, tetapi Ajhumma itu baik sekali. Beliau bilang "Katci". Kemudian, Lili dengan sigap membuka handphonenya yang ternyata ada kamus bahasa Korea. Wkwkwk..."Katci" berarti bersama-sama. Nah, artinya Ajhumma tersebut juga satu tujuan dengan kami. Yeah! Asik sekali bertemu dengan Ajhumma. Beliau sepertinya sangat ingin sekali berbicara kepada kami. Beliau berbicara dengan bahasa Korea sambil memegang kerudungku, mengusap pipiku dan pipinya, namun kami tidak mengerti. Hahaha.. Sepertinya dia ingin bertanya tentang kerudung kami.. Sayang sekali kami tidak bisa bercakap-cakap.. hanya bisa pakai non-verbal alias sungging bibir dan tunjukkan gigi.. :) Kemudian, Ajhumma masuk mini market dan memberikan kami tiga minuman kotak rasa anggur. Aaaah~ Ghamsahamnida Ajhumma... Gomawo~~ :3

Halte Bus, Ada Ajhumma. Tapi bukan Ajhumma yang di foto. Hehe :D
Singkat cerita, kami sampai di Seoul terminal city dan segera mencari yang namanya T-money. Kalau kata kak Rhesa, T-money ini sangat berguna untuk transportasi di Seoul, khususnya pengguna subway! Akhirnya kami temukan dia di sebuah mini market bernama "With Me", bukan with you. wkwk...T-money ini ibarat kartu Multitripnya KRL Jabodetabek gitu deh. Kami beli kartu seharga 2.500 Won ditambah top up 10.000 Won yang akan cukup bahkan lebih untuk satu hari pakai Subway. Wow! Lalu kemana kita?? Yes, kita bingung cari rute subway. Bingung juga cari orang yang bisa bahasa inggris sebagai sasaran untuk bertanya. Akhirnya kami bertemu dengan sekumpulan pemuda yang tepat dan kami mendapat arah. Bolang banget! 
T-money ku~
Dezing~~~~
Suasana  bawah tanah dengan hiruk pikuk orang Korea dan suara otomatis yang keluar dari setiap tap kartu kartu T-money membuatku berkata, "Ini baru Korea (lagi)!". Berdasarkan alamat hostel yang tertera pada kertas print yang Chika bawa, kami akan kami menuju Itaewon. Namanya hostelnya adalah SP Itaewon Guesthouse. Hanya berbekal informasi dari kak Rhesa dan melihat peta Subway, akhirnya kami tiba di Itaewon (masih di bawah tanah). Kami berjalan menuju panah exit dan........kita menemukan 5 atau 6 jalur exit dengan nama Itaewon di setiap exit. Nahlo~~~ kemudian ngecek alamat detailnya, yaitu 112-11 Itaewon-Dong, Yongsan-Gu, 140-863 Seoul, South Korea. Kami cocokkan dengan nama-nama yang tertera di exit tersebut, tetapi gak ada yang benar-benar tepat. Akhirnya kami gambling untuk pilih exit nomor 4. 

Keluar dari bawah tanah subway, kami melihat jalan raya besar, etalase-etalase, restauran, orang-orang ramai, kendaraan besar, dan kami....masih tak tau arah harus kemana lagi untuk sampai ke Itaewon guesthouse. Akhirnya kami bertanya dengan menunjukkan alamat di kertas. Dan...bukan sampai di Itaewon guesthouse, tapi malah sampai di G-guesthhouse, tempat menginap kak Rhesa sebelumnya. Dengan sangat baik hati, pemilik G-guesthouse menunjukkan arah kepada kami dari GPSnya. waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, akhirnya kami mencari masjid. Katanya didekat G-guesthouse ada masjid. Huwaaaa~~

Kami berjalan mengikuti arah GPS dan melihat ujung kubah masjid. Semakin jalan mendekat, kubah itu menghilang dan kami tak tahu lagi bagaimana sampai ke masjid. :( Modal bertanya, malah ditunjukkan ke dalam satu gedung bertingkat tiga yang terlihat seperti ruko. Kami masuk, tidak ada orang, hanya sandal-sandal di rak dan melihat sajadah terbentang. Sepertinya tempat berkumpul orang-orang muslim, dan tertera "Islamic Culture Center" di pintu paling depan. Nggak jadi lihat masjid di Seoul. :( 

Selepas sholat dzuhur di sana, kami keluar dan disapa oleh tiga pemudi Korea. Mereka meminta waktu untuk interview about Islam. Sepertinya mereka menduga hal itu karena kami bertiga berkerudung. Sebenarnya kami antara ingin dan tidak karena mengingat waktu sudah hampir sore. Soalnya kami belum sampai ke guesthouse dan rencana awal kami setelah sampai di guesthouse adalah pergi ke Myeondong dan Namsan Tower. Akhirnya kami memutuskan untuk berbincang-bincang dengan mereka sekitar 10 menit. Di dunkin donut, mereka bertanya kenapa kami ke Korea, Background kami, kebebasan kami dalam Islam, penggunaan jilbab, dan poligami. Mereka excited sekali karena baru lihat muslim menggunakan jilbab warna-warni seperti kami. They said "you are so colourfull, different with others". Wkwkwk..

Akhirnya, sampai di SP Itaewon Guesthouse pukul 16.00. Kamarnya nyaman sekali, sangat menggoda untuk tidur dan memberikan ruang untuk badan di kasur. Kami bergegas ke subway menuju Myeondong dan Namsan Tower, bersiap untuk ngebolang lagi. Yeay! Berbekal map dari Itewon Guesthouse, kami berdiskusi di ruang tunggu subway untuk menentukan stasiun akan kami singgahi. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita muda bersama seorang teman laki-lakinya. Wanita muda itu menyapa kami dan berbahasa Indonesia, bernama kak Chusna dan temannya adalah orang Thailand. Akhirnya kami bilang ingin ke Namsan Tower dan mereka bersedia mengantar kami ke sana. Yeay! :)

Dari gate Itaewon, kami naik subway di line 6 ke tujuan stasiun Samgakji, lalu kami transit ke line 4, stasiun Myeondong. Mereka hanya bisa mengantar kami sampai gang dimana kami masih harus berjalan kaki untuk sampai ke Namsan Tower. Thanks a lot kak Chusna dan temannya! :)

Gang dmana kami berpisah dengan kak Chusna. Di ujung jauh sanalah tempat Namsan Tower berada.
Menurut penjelasan kak Chusna, kami bisa menempuh dengan tiga cara untuk sampai ke Namsan Tower, yaitu jalan kaki, naik mobile car, dan bus. Mengingat dompet semakin tipis, akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki, sembari menikmati udara yang sejuk-sejuk dingin dan alam sekitar. Kami tak tahu seberapa jauh harus kami tempuh. Tapi kami terus berjalan, hingga akhirnya melihat puncak Namsan Tower. Uhyeah! :))

Itu Puncak Namsan Tower! Cheese dulu biar semangat! :)
Daki....daki...daki..! Gerak..gerak...!
Udah kayak Nenek-Nenek saking jauhnya!
See? Masih harus jalan kaki sejauh 1,4 km panjangnya! -__-


Semangat!! Bahagianya udah semakin dekat, padahal masih beberapa KILOMETER tanjakan lagi -_-

Pemandangan kota Seoul dari atas, dan belum sampai ke Tower -_-"
Well, ternyata jalan kaki dari bawah menuju Namsan Tower itu suangat jauh sekali. Harus nanjak dan menaiki ratusan anak tangga untuk sampai di puncak! Suasana di sepanjang jalan sangat sejuk, dikelilingi pohon rindang nan hijau. Seperti berada di area pegunungan. Setelah menempuh berkilo-kilo meter, akhirnya kami tiba! :)


Suasana malam hari di Namsan Tower!
Yes! We do it! We Arrived! Anything is Possible! Together we can! :)
 Ah, bahagia rasanya bisa sampai di Namsan Tower. Padahal dulu ketika nonton drama korea cuma bergumam dalam hati ingin kesana. Allah SWT Maha Mengetahui! :) Malam tiba dan akhirnya Aku harus pergi, meninggalkan Seoul, sendirian, ke Incheon Int'l Airport pukul 23.00 naik subway tanpa Chika ataupun Lili. Hanya ditemani tas berwarna peach muda di punggung dan menggenggam T-money. Sampailah Aku dengan selamat meskipun sempat nyasar sedikit, hehe! How another awesome experience!
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman) :)

Sampai jumpa di Jejak Perjalanan berikutnya! ;)


Jumat, 02 Januari 2015

Korea Selatan #3 : Conference Day!

Standard
Happy holiday and Happy New Year ! :)

Sebelumnya Aku bercerita tentang Trip di Daejeon. Kali ini, Aku akan bercerita tentang kegiatanku selama konferensi di Daejeon. Tapi, sebelum itu, Aku ingin memberi tahu dimana Aku, Chika, dan Lili tinggal selama di Daejeon. Kami tinggal di sebuah hostel bernama Yuseong Youth Hostel. Lokasi hostel kami lumayan jauh dengan lokasi acara CISAK di University Science and Technology (UST). Kami perlu menggunakan taksi dari hostel untuk menuju UST sekitar 2.500 Won. Biaya ini terasa murah kalau berangkatnya 4-5 orang sekaligus. 

Penginapannya cukup nyaman dan bisa dibilang murah. Untuk dua malam, 1 kamar yang cukup untuk 4 orang ini sejumlah 90.000 Won. Kami sekamar dengan Kak Resa dari UPN Surabaya yang juga ikut CISAK. Jadi biaya penginapan menjadi lebih murah. Alhamdulillah... :)
Cuaca saat itu tidak cerah, mendung dan gerimis kecil. Namun, dibalik jendela kamar kami terlihat gunung dan beberapa pohon rindang. Kalau kata Kak Resa, yang sudah bertolak ke Itaewon dan Seoul city, di sini merupakan tempat yang bisa dibilang "ndeso". Menurutku, Daejeon ini memang bukan kota metropolitannya Korea Selatan. Ah, Aku tidak peduli apakah ini desa atau kota, yang penting bisa tidur dengan nyaman ala ala Korea! :')

Kita Tidur di sana! :)
Sesampainya di penginapan, kami bebenah diri dan melakukan persiapan untuk presentasi besok! Ya, lebih tepatnya Aku yang melakukan presentasi besok (o.O). Kali pertama Aku presentasi in english di ajang konferensi seperti ini. Kala itu, Aku tidak bisa membayangkannya dan hanya bisa latihan presentasi di hadapan Chika dan Lili dengan sebaik-baiknya. Whoaaa fighting! Rasanya dag dig dug!

24 Agustus 2014
D-Day! Hati semakin bergemuruh mengingat harus presentasi. :")
Siap-siap berangkat dengan pakaian dan kesiapan paling baik! Bismillah..
Datang ke lokasi pukul 8 pagi dan mendapatkan seperangkat aksesoris Conference. :) Acara pertama adalah seminar yang di isi oleh Kang Goris Mustaqim dan Pak Wawan Gunawan. Sebenarnya Aku kecewa karena keynote speaker yang seharusnya di-isi oleh Pak Habibie digantikan oleh orang lain. Huhu.... Tapi, tak apa, yang penting kan ilmunya! Hehe... 
Kaos, Nametag, Goodie bag, Pulpen, etc!
Pembicara pertama, Kang Goris adalah seorang Entrepreneur lulusan ITB. Beliau ini menyampaikan presentasi dengan judul "Ingat Kampung, Pulang Kampung, Bangun Kampung". Seketika membaca judulnya saja Aku merasa tertohok. Kenapa Aku merasa tertohok? Aku ini di lahirkan di Madura. Kedua orangtuaku asli Madura. Tapi, Aku sejak kecil sekolah di Jakarta (TK, SD, SMA)-Bogor (SD,SMP)-Depok (PT). Tinggalpun di Kabupaten Bogor. Budaya mana yang Aku bawa dan menjadi identitasku? Fufufu... Bahasa Madura pun Aku pasif. :'(. Maka, sesi pertama ini sukses membuatku semangat untuk membangun kampung halamanku suatu saat nanti. :')
Pembicara Pertama dan Kedua
Pembicara kedua, Pak Wawan Gunawan, Professor ITB. Berbeda halnya dari Kang Goris, Pak Wawan berbicara lebih tentang Perkembangan Riset dan Teknologi di Indonesia. Judul presentasi yang dibawa beliau berjudul " ERI- Indonesian Landscape to Enhance Nation Self-Sustainable in Science and Technology Education Research & Innovation". Pada sesi ini, membuatku tersadar akan masih kurangnya Indonesia dalam bidang riset dan perkembangan teknologi. Dalam sesi tanya jawab, ada hal yang menarik dari salah satu penanya. Dia menanyakan "Mungkinkah ada pulau penelitian di Indonesia?". Ah, dia benar juga ya. Indonesia kan punya banyak pulau. Kenapa gak ada satu pulau khusus untuk penelitian? Pemikiran yang bagus. :)) Aku jadi semakin termotivasi untuk menjadi seorang peneliti. Hanya saja masih banyak PR yang harus Aku tempuh untuk mencapainya. Fighting! (9^.^)9
Foto Bersama!
Sesi seminar usai sudah. Saatnya sesi presentasi! Aaaakkkkkk.... jantung kembali berdegup kencang. Untung saja ada Lili dan Chika yang selalu memberi support. Sesi presentasi terbagi ke dalam beberapa ruang yang berbeda sesuai cluster rumpun ilmu, yaitu Food & Agriculture, Energy, Natural Science, Applied Science and Technology, Interdiciplinary Social Science, Healthcare & Pharmacy, and Electronics, Communications, and Informtics. Sebelum presentasi tiba, kami melakukan rehearsal dulu di dekat ruang kami presentasi, cluter Health & Pharmacy. Thanks a bunch for my beloved friends, Lili and Chika! Saat presentasi, semua mata di dalam ruangan seolah-olah menusuk mataku. Ihik. Well, usai presentasi selesai, semua beban pikiran hilang sudah. Degup jantung kembali normal sepertinya. Haha...Alhamdulillah.. :') Aku juga mendapatkan ilmu di dalam ruangan presentasi. Banyak sekali ilmu yang Aku dapat.

Ada hal yang membuatku agak terkejut di dalam ruangan, yaitu ada salah satu presentan yang mempresentasikan hasil penelitiannya di Talango, Madura. hey, Madura? Apakah dia berasal dari Madura? dan ternyata kami satu asal Universitas beda jurusan! -_-" Ah, rasanya saat itu seperti ketemu saudara dan semangat membangun kampung halaman semakin meningkat dengan dipertemukannya Aku dengan kakak itu. Ya, Allah..Inikah rencanaMu? Semoga saja! Pikirku saat itu. :') Usai sesi presentasi, kami tak lupa mengabadikan momen acara dengan berfoto ria! Kemudian kami semua peserta CISAK pergi menuju KAIST untuk Gala Dinner sebagai penutupan acara. Gala Dinner ini menurutku makan sore meskipun waktu menunjukkan pukul 7 malam dan karena masih terlihat sore. :'D 


Gala Dinner dengan sendok Jumbo! Ada Kimchi tapi gak ke foto. -_-"
Acara Conference telah berakhir, lalu kami pulang menuju hostel. Hari itu adalah malam terakhir kami di Daejeon yang menakjubkan. Kami berbincang-bincang dengan Kak Resa sebelum esok pagi berpetualang ke Seoul City. Kami semua sangat awam dengan keadaan Seoul. Beruntungnya kami bisa satu kamar dengan Kak Resa yang sudah keliling Seoul sebelum ke Daejeon bertemu dengan kami. Kami banyak bertanya ini itu dan di jelaskan serta diberi modal alamat di kertas untuk menuju Seoul. Ya, kami sengaja spare waktu beberapa hari untuk berkunjung ke Seoul city. Aku hanya spare waktu satu hari sedangkan Chika dan Lili spare waktu lebih lama satu hari dariku. Jadi, Aku pulang ke Indonesia sendiri tanpa mereka. :")

Ini modal/kunci utama kami pergi ke Seoul! :)
Begitulah cerita selama satu hari Conference! Ternyata konferensi internasional seperti itu adanya. Alhamdulillah diberikan kesempatan punya pengalaman! I thought you can also, just try and try! :)) Sampai Jumpa di cerita berikutnya tetap bersama Aku, Lili, dan Chika di kota Seoul! :)

Spoiler: Korea Selatan #4: Seoul City!








Jumat, 26 Desember 2014

Korea Selatan #2 : Trip Day!

Standard
Libur telah tiba! Hore! Hatiku gembira! Teroreroreroret! :D

(episode sebelumnya)

Disinilah, perjalanan kami di Korea akan segera dimulai... (klik disini untuk membaca postingan sebelumnya)


Yeps! Trip day di Daejeon, Korea Selatan! Kenapa Daejeon? karena event The 7th Conference of Indonesian Student Association in Korea dilaksanakan di Daejeon! Tapi, kalau alasan lainnya, mungkin karena Daejeon adalah salah satu kota pendidikan di Korsel, ibarat Jogjanya Indonesia gitu deh.

Ahya, sebelum lupa, mau kasih saran untuk kalian yang mau ke Korsel. Sebaiknya tukarkan uang Anda di Incheon Int'l Airport karena nilai tukarnya lebih murah. :-)

23 Agustus 2014

Hari pertama sampai di Korea Selatan langsung jalan-jalan di Daejeon. Tidak heran kalau perjalanan kami memakan waktu yang cukup lama dari Incheon menuju Daejeon. Di peta saja sudah jauh. -_-" Kalau kata Lili, perjalanan kita seperti dari Jakarta-Jawa. Wkwkwk
Peta Incheon-Daejeon
Bis seharga 23.100 Won dari Incheon ke Daejeon ini cukup bagus. Aku selalu berusaha melihat secara detail di sekelilingku. Bapak supirnya ada di sebelah kiri. Aku duduk di kanan paling depan. Aku selalu memandangi panorama di luar kaca bis (duduk di pinggir, sengaja. hehe). Tidak ingin melewatkan kesempatan emas melihat seluruh penampakan yang ada di Korea sepanjang perjalanan *Gak mau rugi, padahal ngantuk pas di Bis*. Aku melihat jembatan yang mirip jembatan Suramadu loh tapi lebih lebar. Bedanya, air laut dibawahnya berwarna coklat seperti pasir, tapi semakin jauh, air laut berwarna biru. Aku tidak bisa menebak nama lautnya.. Lalu, jauh di seberang laut sana, aku melihat daratan. Teringat peta, Korea tetanggaan sama Jepang. Apakah itu Jepang? Tapi Aku ragu, haha.. Ah, Aku ingin sekali ke sana! :')

Hari itu, langit tampak mendung. Langitnya berwarna abu-abu. Kemudian banyak gedung vertikal seperti di Jakarta namun lebih sedikit jumlahnya. Dan, macet! Ternyata macet ada dimana-mana ya. Di China juga sama, pernah macet. -_-" Aku melihat sawah, petani, kuburan, di Korea! *norak, maapin*. Satu hal, tol disana tidak pakai penjaga ataupun e-card, tetapi pakai sensor. Whuaaa canggihnya! 

Singkat cerita, kami sampai di Daejeon hampir jam 1 siang waktu bagian Korea Selatan. Bedanya hanya 2 jam *thanks Lili :))* lebih cepat dari Indonesia. Lalu, kami naik taksi menuju University of Science and Technology untuk bertemu dengan peserta lain dan juga panitia CISAK. Sampai disana, jengjengjeng......semuanya pakai bahasa Indonesia. Jadi belum terasa "Korea"nya. Huhuhu... FYI, CISAK ini diadakan oleh PPI Korea, alias Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea. So, we still use Indonesian language to communicate each other.

Aku, Lili, dan Chika segera tunaikan solat Zuhur, belum mandi, masih jet lag, dan belum makan siang. Kami dikasih makan siang, bentuknya kayak lontong (lonjong) dibungkus aluminium foil dengan satu sumpit, tapi udah disegerakan berangkat Field Trip. Hahaha.. Ruar biasa!


Makan siang, Kimbab!
Tol di Korea
1. Geological Museum Daejeon

Destinasi pertama kami adalah museum geology. Yeay! Museum ini letaknya di Yuseong-gu, Daejeon-si. Tampak luar, museumnya bagus banget! Masuk ke dalam, Subhanallah, keren! Ini ibarat makan kue sus yang tampilannya cantik, di gigit, kenikmatannya semakin terasa di dalam dengan lelehan coklat *slurp*. Isi museumnya tentang bebatuan, mineral, kebumian, astronomi, dan fosil-fosil. Namanya juga Geological yaps. Hal yang membuatku amaze adalah kecanggihan teknologinya di dalam museum ini. Kapan ya Indonesia punya museum canggih dan semenarik museum ini? :( Aku suka sekali di sini karena Aku suka Astronomi. Di dalamnya ada miniatur bola bumi, galaksi, dan kawan-kawannya. Pentingnya lagi, masuknya GRATIS! Cuma, kalau dari Indonesia, ya bayar tiket pesawat dulu, kekekkeke.... Kalau mau tahu lebih lanjut, bisa visit websitenya klik disini!
Tampak Luar


Guider Museum
2. National Science Museum

Tadi habis dari museum, destinasi kedua museum lagi. Haha.. Itulah kenapa Daejeon merupakan kota pendidikannya Korea, karena di kota ini gudangnya museum sains. Tapi tetap asyik kok! Aku suka sains. :) Isinya berbagai macam hal sains ada di sini. Kami disambut oleh patung Newton dengan Apelnya, tokoh fisika yang saya yakin kamu pasti tahu dan tokoh Jang Young-Sil dengan temuannya, jam Matahari. :) Selalu saja, tampak luar membuatku amaze. Semakin kedalam, semakin amaze. Aku melihat miniatur pesawat antariksa yang cukup besar, semuanya terlihat menarik bagiku. Penataan museum ini seperti dibuat untuk anak-anak, lucu dan atraktif! Sangat cocok untuk bermain ala sains. Tak jarang Aku melihat anak-anak bersama keluarganya di museum ini. Akupun sangat suka kesini, karena di dalam museum ini ada observatoriumnya~ :3 Tapi sedih, planetariumnya tutup. :( Kalau mau tahu lebih detail lagi, bisa klik disini!
Pengunjung!


Papan Planetarium tinggal kenangan :(
3. EXPO Park

Destinasi terakhir kami sebelum kembali dan menuju penginapan! Kali ini bukan museum, melainkan sebuah taman yang menggambarkan perkembangan teknologi sains *tetep aja sains*. Baru tahu kalau ada taman yang berbau sains. heuheu.. Ya, Korea memang pantas disebut negara dengan teknologi tinggi! Indonesiaku, bagaimana riwayatmu kini? :')

EXPO Park dan Foto Peserta CISAK 2014 :)
Begitulah, perjalanan Field Trip CISAK 2014 di Daejeon, Korea Selatan. Banyak yang Aku pelajari dan melihat keadaan kemajuan di luar sana. Semangat Indonesia! Kita pasti bisa! :)

Setelah itu, kami kembali dan menuju penginapan dan ada cerita menarik lagi di hari berkutnya. Sampai Jumpa di postingan selanjutnya! :D