Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juni 2021

Yuk, Bertumbuh & Berkembang bersama Seed for Children

Standard



Assalamualaikum wr wb

Halo, teman-teman! Semoga sehat selalu..

Semoga kasus covid-19 di negara kita tercinta segera membaik, juga di seluruh belahan bumi. Di masa pandemi ini, sejak April 2021 aku menginisiasi Seed for Children, sebuah bisnis sosial, juga sekaligus movement yang bergerak pada isu pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui pendidikan seksualitas yang ditujukan kepada orang tua, juga orang-orang terdekat anak-anak. 

Apa yang membuatku memulai Seed for Children? Ide ini berasal dari pengalamanku pribadi ketika sedang bekerja. Kala itu, aku bertempat tugas di IGD. Seorang anak laki-laki bersama ibunya datang untuk meminta pemeriksaan fisik atas keperluan pembuatan visum (semacam bukti yang sah secara hukum mengenai kasus kekerasan, dll). Mengapa ada kasus semacam ini di rumah sakit tempatku bekerja? Karena memang ada dokter spesialis forensik dan  pelayanan khusus kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Setelah dikaji, anak laki-laki yang masih berusia sekolah dasar ini mengalami kekerasan seksual di taman oleh petugas publik. Akupun tidak mengetahui kronologis persisnya seperti apa, tapi hal yang sangat kuingat adalah raut wajah anak itu, yang diam saja, entah karena pasrah, takut, sedih, akupun tidak tahu pasti. Ingin rasanya berbicara tetapi waktunya sangat tidak tepat serta tempat yang juga tidak memungkinkan. Dari lubuk hati yang paling dalam, berdesir rasa ingin membantunya, tapi tidak tahu bagaimana caranya. 

Selama bekerja menjadi perawat di ruang anak selama setahun, aku merasa bahwa anak-anak berhak memperoleh masa depan terbaiknya, tanpa dihantui rasa tidak nyaman akibat pengalaman kekerasan seksual. Juga pengalaman bekerja sebagai perawat perinatologi, merawat bayi-bayi yang baru lahir, menghadirkan perspektif baru terhadap anak-anak. Ketika menatap lekat wajah bayi-bayi yang baru saja lahir, mereka bagaikan kertas putih yang siap diwarnai oleh orang-orang terdekatnya. Mereka akan bertumbuh dan berkembang sebagaimana perlakuan orang dewasa memperlakukan mereka. Kekerasan seksual ini memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap anak-anak, baik fisik juga psikologis. Jika menelusuri kasus-kasus kekerasan seksual pada anak di internet, kasusnya setiap tahun terus meningkat. Bahkan, di masa pandemi ini pun kasusnya menjadi dua kali lipat. Setelah sedikit mendalami tentang kekerasan seksual pada anak, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas kepada anak-anak. Pada kenyataanya, banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan seksualitas untuk anak-anak adalah hal sensitif yang belum perlu diberi tahukan sejak kecil. Padahal, sebenarnya kita bisa memberikan edukasi ini sesuai usianya dan sudah banyak sekali informasi tentang hal ini yang bisa kita dapatkan. Entah penyebabnya karena pandangan yang masih tabu, ketidaktahuan tentang informasi pendidikan seksualitas yang sesuai usia anak, keterbatasan informasi, ataukah merasa kesulitan menyampaikannya kepada anak. 

Aku yang memiliki latar belakang pendidikan keperawatan, mempelajari tentang tumbuh-kembang anak, kesehatan reproduksi, kasus kehamilan pada remaja, juga selintas tentang dampak kekerasan pada anak (termasuk kekerasan seksual). Dari secuil pengetahuan tersebut, dan pengalaman yang aku saksikan, membuatku sangat ingin sekali berkontribusi pada pencegahan kekerasan seksual anak, hingga akhirnya aku benar-benar mewujudkannya dalam Seed for Children. Visinya adalah untuk membantu mengurangi kasus kekerasan seksual pada anak melalui pendidikan seksualitas. Utamanya, Seed for Children mengembangkan permainan edukatif pendidikan seksualitas sesuai usia anak, baik non-digital dan digital. Aku ingin semakin banyak orang yang menyadari bahwa kekerasan seksual pada anak bisa terjadi dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun, dan peran kita sebagai orang yang lebih dewasa ini sangatlah penting untuk melindungi mereka.

Aku ingin mengajak teman-teman untuk bertumbuh dan berkembang bersama Seed for Children, karena untuk mencapai visinya, diperlukan peran banyak pihak. Bagaimana caranya? Paling sederhananya adalah dengan follow instagram @seedforchildren karena ada banyak konten edukasi terkait kekerasan seksual anak dan pendidikan seksualitas pada anak. Bagi teman-teman yang tertarik dengan isu ini, memiliki visi yang sama, dan ingin berkontribusi lebih bersamaku dan Seed for Children, boleh hubungi aku via e-mail maufiroh12@gmail.com. Simply, ceritakan kenapa kamu tertarik dan apa yang bisa kamu kontribusikan dalam isu ini melalui Seed for Children.

Looking forward for your e-mail!



With love,


Maufiroh

Founder Seed for Children

Selasa, 28 Juli 2020

Ruang Baru : Bookpodcasting

Standard




Assalamualaikum wr wb
Ahlan wa sahlan yaaa, Dzulhijjah..  😁

Bersamaan dengan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah ini, turut mengabarkan bahwa aku membuka ruang baru sebagai wadah me-review/mengulas/mengulik konten buku-buku yang kubaca. Ruang baru itu adalah Bookpodcasting! 

Bookpodcasting adalah nama baru untuk podcast yang baru saja aku buat. Sudah terbit satu episode podcast yang membahas sebuah buku. Podcast memang bukan media yang tergolong baru, namun sedang booming dan banyak sekali orang yang memulai podcast, termasuk aku. Bookpodcasting ini sebenarnya hampir serupa dengan audiobook. Hanya saja, tidak membaca text buku kata-perkata dari halaman awal hingga akhir. Hanya membahas konten buku dan menyampaikan beberapa pendapatku pribadi tentang konten buku tersebut. Harapan dengan adanya podcast ini adalah supaya bisa lebih persuasif untuk mengajak teman-teman ikut membaca apa yang menjadi ketertarikanku juga dengan suatu buku.  Sebagai informasi, insyaAllah buku-buku yang akan aku review di podcast ini adalah buku-buku tentang Islam yang ringan untuk dibaca. Semoga ruang baru ini dapat memberikan kebermanfaatan. Aamiin. 

Yuk, mampir! 

Bookpodcasting : 

Rabu, 13 Mei 2020

Istiqamahkan Hati, Menjaga Hijrah Hingga Nanti

Standard

Istiqamahkan Hati, Menjaga Hijrah Hingga Nanti
“Hijrah” merupakan kata yang sering digaungkan oleh banyak orang, khususnya kaum pemuda. Bahkan, hijrah juga menjadi salah satu topik kajian yang menarik dan sering dibahas serta diperbincangkan. Terlebih lagi, tidak sedikit artis Indonesia yang juga menggaungkan fenomena hijrah sehingga menambahkan eksistensi kata hijrah itu sendiri. Euforia hijrah tak jarang bagaikan kondisi air laut, kadang pasang, dan kadang pula surut. Pasang saat semua berbondong-bondong menggaungkan semangat untuk hijrah. Surut ketika diri mulai lengah karena begitu banyak tantangan dalam menjaga hakikat hijrah dalam kehidupan, yaitu istiqamah. Seperti kata pepatah, “semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya, semakin kencang anginnya”, maka menjaga ke-istiqamah-an dalam berhijrah sesungguhnya sangat tidak mudah, kecuali memiliki ilmu untuk selalu mengupayakannya.
Hijrah banyak dimaknai dengan berpindah menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam Islam, ada dua jenis hijrah, yaitu hijrah zahir atau fisik dan hijrah jiwa atau spiritual. Hijrah zahir, yaitu berpindah tempat tinggal atau tempat. Hijrah spiritual, yaitu menuju pada perbaikan diri. Adapun Rasulullah SAW bersabda, “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala laranganNya (H.R. Imam Bukhari)”[1]. Maka, hijrah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah hijrah spiritual.
Pembahasan tentang proses hijrah seperti mengulas proses menanam pohon yang berbuah. Pada saat menanam, kita akan memilih bibit terbaik untuk menghasilkan buah yang juga terbaik. Dengan harapan akan memperoleh buah yang baik, maka setiap detik pertumbuhannya akan diperhatikan dan dijaga dengan baik. Jika ada serangga atau hama pada tanaman, makan akan segera dihilangkan. Dalam rangka menjaga tanaman untuk terus bertumbuh, tak jarang diberi pupuk. Segala upaya akan dilakukan hingga buah dari pohon dapat dipetik. Begitu pula dengan proses dalam berhijrah. Hal yang sangat penting sebelum memulai hijrah adalah menentukan niat. Niat diibaratkan pemilihan bibit terbaik sebelum menanam. Rasulullah SAW menegaskan tentang niat dalam berhijrah pada sebuah hadis shahih, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju. (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907)”. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sebaik-baik niat hijrah adalah untuk Allah dan RasulNya.
Buah terbaik dari hijrahnya seseorang adalah istiqamah. Istiqamah berasal dari kata “Qaama” yang artinya tegak lurus, berdiri. Dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah mendefinisikan istiqamah sebagai meniti jalan yang lurus, yaitu agama (Islam) yang lurus, tak bengkok ke kanan dan ke kiri, dan mencakup pelaksanaan semua ketaatan, baik yang zhahir maupun batin, dan menghindari semua larangan-larangan (Allah)[2]. Ibnul Qayyim menambahkan makna tentang istiqamah dalam kitabnya Madarijus Salikin, bahwa istiqamah itu terkait dengan ucapan, perbuatan dan niat[3]. Istiqamah dalam berhijrah, artinya upaya terus-menerus dalam meniti dan menegakkan jalan yang lurus serta bentuk sinergi antara batin dan zahir melalui akhlak yang mulia.
Apabila buah dari hakikat proses hijrah adalah istiqamah, maka pokok dasar istiqamah adalah tentang hati. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Tidak akan istiqamah (tegak) iman seorang hamba hingga hatinya istiqamah (HR. Ahmad dalam al-Musnad No.13048, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)”. Hadits Nabi SAW juga menyebutkan, “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baik pulalah seluruh jasad dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Segumpal daging itu adalah qalbu (hati).” (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599). Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah pun mengatakan bahwa “Pokok istiqamah adalah istiqamahnya hati di atas tauhid”. Pentingnya aspek hati dalam mencapai istiqamah ini pula menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan kondisi hati dalam proses hijrah.
Pada kenyataannya, urusan tentang hati dalam proses hijrah untuk mewujudkan istiqamah merupakan tantangan yang tidak mudah. Hal yang menyebabkan ini menjadi tidak mudah adalah manusia memiliki hawa nafsu yang membuat iman berada pada kondisi pasang-surut. Keadaan pasang-surut iman seseorang ini menggambarkan kondisi hatinya, apakah dia dalam keadaan qalbun salim (hati yang bersih) atau keadaan qalbun maridh (hati yang sakit) atau bahkan qalbun mayyit (hati yang mati). Saat kondisi hati sedang baik, maka yang akan muncul adalah semangat dalam beribadah, menuntut ilmu agama, dan berusaha menjauhi segala maksiat. Sebaliknya, apabila hati dalam keadaan sakit, maka akan timbul rasa malas, mungkin saja kembali lagi pada kondisi saat sebelum hijrah. Hal lebih buruk dari kondisi hati yang sakit adalah matinya hati. Saat hati dalam kondisi mati, maka tidak dapat menerima nasihat apapun dan hal paling buruk yang mungkin terjadi adalah berpalingnya dari Allah SWT.
Beruntung sekali Indonesia memiliki banyak komunitas dan tokoh-tokoh influencer serta lingkungan yang mengajak pada jalan kebaikan menuju proses hijrah. Komunitas pemuda muslim di Jakarta, seperti Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) Menteng, YukNgaji!, Muzammil Hasballah sebagai salah satu influencer, dan masih banyak lagi. Peluang-peluang kebaikan tersebut adalah salah satu upaya menjaga kondisi hati tetap sehat dan menyembuhkan hati yang sakit. Akan tetapi, kita juga perlu belajar dari kisah orang lain yang telah hijrah namun hatinya dipalingkan atas kehendak Allah SWT. Dapat kita ambil contoh salah satu selebgram Indonesia yang sebelumnya berbusana serba terbuka hingga hijrah dan mengenakan hijab menutupi lekuk tubuhnya. Namun, kini selebgram yang telah hijrah tersebut, telah berpaling dari agama Allah SWT. Tidak sedikit pula tokoh terkenal yang keluar dari agama Allah setelah mendapat petunjuk dariNya. Hal ini menunjukkan bahwa urusan hati dalam proses hijrah sangat tidak bisa diremehkan. Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa, “Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140][4]. Selama proses hijrah, kita tidak boleh lupa bahwa yang menggenggam dan berkuasa terhadap hati manusia adalah Allah, Dialah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW senantiasa berdo'a sekaligus mengajarkan kepada ummatnya agar hati kita selalu teguh dalam agama Allah, yaitu 
يا مقلب القلوب ثبت قلبي علي دينك
yang artinya, “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.”
Selain mendawamkan do'a yang diajarkan Rasulullah SAW, kita juga perlu melakukan beberapa upaya dalam menjaga istiqamahnya hati dalam proses hijrah. Syekh Al Buthi, dalam kitabnya yang berjudul Bathin al-Itsm menyebutkan solusi dalam permasalahan hati/dosa batin yang tersembunyi, yaitu senantiasa melakukan refleksi diri dengan merenungi tujuan hidup atau hakikat hidup manusia dan senantiasa mengingat adanya pengawasan Allah SWT terhadap segala perbuatan manusia, membiasakan diri mengingat Allah dengan berdzikir, wirid, dan/atau tilawah Al-Qur'an, memperbanyak do'a, dan menghindari memakan sesuatu yang haram[5]. Sayid Abu Bakr dalam kitabnya yang berjudul Kifayatul Atqiya menambahkan tentang upaya mengobati hati, yaitu dengan berkumpul bersama orang-orang yang shaleh, yang dapat membimbing dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik. Selain itu, Syekh Al-Buthi juga menyebutkan bahwa diantara sebab matinya hati adalah penyakit hati dan maksiat yang dilakukan dari ujung kaki hingga ujung kepala manusia. Hal ini sesuai dengan ancaman Allah dalam surat Al -Muthaffifin ayat 14, yang berfirman bahwa “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”.
Sejatinya, proses hijrah terus berlangsung selama kita masih bernapas. Apabila dikembalikan pada analogi proses menanam tanaman, maka kondisi saat tanaman mati itulah menggambarkan pula kondisi saat ajal menjemput kita. Apakah kita ingin tanaman itu mati dengan meninggalkan banyak buah yang manis atau sebaliknya? Tanpa ragu, setiap hambaNya pasti menginginkan malaikat pencabut nyawa mengambil nyawa kita dalam sebaik-baiknya keadaan, yaitu husnul khotimah. Oleh karena hakikat dari sebuah hijrah adalah istiqamah, dan pokoknya dari istiqamah adalah hati, maka jagalah kondisi hati agar tetap sehat (qalbun salim) hingga saatnya kita kembali padaNya. Karena sesungguhnya, hal yang paling menyakitkan dari upaya hijrahnya seseorang adalah dipalingkan hatinya setelah Allah beri petunjuk dalam hidupnya.
Wallahu A'lam Bisshowabi.
Sumber :
[1]https://www.nu.or.id/post/read/81402/hijrah-sebuah-renungan
[2] https://muslim.or.id/32376-10-kiat-istiqamah-5.html
[3]https://muslim.or.id/33387-10-kiat-istiqomah-10.html
[4] https://muslim.or.id/31345-10-kiat-istiqamah-3.html
[5] Al-Buthi, M. Said Ramadhan. (2019). Dosa (Batin) yang Tersembunyi. Yogyakarta: Penerbit Layar.

Tulisan ini telah diikutsertakan pada lomba Milad YISC Al-Azhar ke-49 dan dapat di akses juga pada https://www.yisc-alazhar.or.id/juara-lomba-karya-tulis-desain-logo-milad-49-tahun-yisc-al-azhar/ .

Semoga bermanfaat.. 

Senin, 31 Desember 2018

Buku Nursing Untold Stories

Standard
ﺑﺳﻢ ﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻢ


Hai, apa kabar? Hehe

Postinganku terakhir di blog ini adalah tentang pengalamanku di pondok. Anyway, aku sudah berhenti belajar di sana. Bukan telah selesai programnya, tapi memutuskan untuk berhenti di 3/4 jalan. Yah, pokoknya gitu deh. Sedih. Soon, mau cerita soal itu juga. Tunggu aja! Dalam postingan ini, aku mau cerita tentang karyaku bersama teman-temanku yang udah sejak setahun lalu ada. Yeay! 

Apa itu?

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeng jeng jeng
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini dia!!!





Buku Nursing Untold Stories.

Buku ini adalah buah karya kami, aku dan teman-teman kampus.  Ya, bisa ditebak sih, bukunya ini tentang keperawatan. Lebih tepatnya adalah kumpulan kisah yang kami alami selama menjalani masa pendidikan keperawatan di kampus, khususnya di masa-masa pendidikan profesi. Kisah-kisahnya beragam, ada yang kisahnya berfokus pada perasaan si penulis, dan ada juga yang fokus pada kejadian bermakna bagi si penulis. Semuanya adalah true story, artinya kejadian yang diceritain memang benar adanya dialami oleh masing-masing penulis. Kami harap, dengan adanya buku ini dapat sedikit menggambarkan bagaimana perjuangannya menjadi seorang perawat. Well, gak sedikit juga pandangan negatif soal profesi yang satu ini. Ada yang bilang juteklah, pembantu dokterlah, sampe kasus yang di grebek gubernur Jambi. Nah, di buku ini, kami mencoba untuk menyeimbangkan hal itu. Kami mencoba untuk memberikan pandangan kami terhadap profesi perawat dan harapan-harapan kami terhadap profesi kami.

Buku ini sebenarnya sudah lahir setahun yang lalu, yaitu sejak 27 Oktober 2017. Hehe.. Tapi baru sempat buat tulisan ini sekarang karena harus karantina di pondok sejak 25 Oktober 2017. Alhamdulillah, buku ini sudah terjual lebih dari 40 eksemplar. Hihi..... Bersyukur karena akhirnya punya buku! Bersyukur karena akhirnya kita berani publish tulisan-tulisan kita. Aku ingat sekali pesan Abi Qurasih Shihab, beliau berkata jangan pernah takut untuk menulis dan jangan pernah takut salah dalam menulis. Well, we deserve it! Meskipun yang terjual tak sebanyak penulis-penulis kondang, tapi yang terpenting, we have done it!

Dalam postingan kali ini juga aku amat sangat berterima kasih kepada teman-temanku yang keren abis promosinya. Jujur, merasa bersalah karena ninggalin project ini duluan sebelum bukunya launching. Rasanya kayak ninggalin tanggung jawab. Padahal udah dirancang timelinenya sedemikian rupa supaya launching sebelum minggat ke pondok. Dan....kenyataannya berkata lain. Tapi, melihat perkembangan postingan di instagram, dll itu rasanya...............................bahagia.  Bersyukur banget Allah udah kirim kalian sebagai para penulis di buku Nursing Untold Stories ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dan semoga saja buku ini bermanfaat dan niat kita selalu diluruskan, ya untuk lahirnya buku ini. Sekali lagi, terima kasih banyak kepada Nim, Nisrina, Pipit, Nabila, Yiyi, Nur, Dewi, Devi, Thifa, dan Asul.

Pengalaman sampai buku ini lahir, pertama pasang niat dan tujuan. Setelah itu, cari orang! Haha.. Maksudnya ajak teman-teman kita buat terlibat dalam pembuatan buku. Entah itu untuk sumbang tulisan, buat design cover, jadi editor, dan lain-lain. Ketiga, pilih mau terbit di mana. Pilih self publishing atau di penerbit kondang. Kita pilih self publishing karena lebih available buat buku ini lahir bagi para penulis pemula. Lalu, terpilihlah nulisbuku.com sebagai wadah untuk menerbitkan buku ini. Terakhir, doa biar lancar jaya. Proses pembuatan buku ini kira-kira tiga bulan sudah sampai di publish di web nulisbuku.com.

Yang belum punya bukunya, bisa pesan di sini yaaaaaaaaaaaaa --> Nursing: Untold Stories
Harganya 51.000 aja kok, tapi belum ongkos kirimnya. Hehehehee
Cara pesannya, harus jadi member nulisbuku.com dulu. Atau kamu bisa e-mail langsung ke admin@nulisbuku.com
Pokoknya harus beli! *Lah, maksa* Haha.... Buku ini bisa dikonsumsi oleh umum kok, nggak cuma buat yang berkecimpung di dunia keperawatan aja. Jadi, jangan ragu untuk membelinya. :D

Kalau udah baca, jangan lupa kasih komen atau review. Bisa di webnya nulisbuku.com atau di goodreads atau buat di blog sendiri juga boleh. :3

Terakhir, terima kasih, kamu. :) Semoga tahun baru sudah punya buku ini, :D

Wassalam.

Kamis, 19 Februari 2015

Esai Kritis OIM UI 2014

Standard
REVITALISASI BUDAYA RISET PADA INTERPROFESSIONAL HEALTH STUDENT SEBAGAI STRATEGI MAHASISWA KESEHATAN MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI
           Oleh Maufiroh, Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2012
Juara II Esai Kritis ajang Olimpiade Ilmiah Mahasiswa Universitas Indonesia Tahun 2014

         Kesehatan menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena merupakan kunci dari produktivitas. Pada kenyatannya,  Indonesia masih memiliki banyak permasalahan kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011, sejumlah 1.321.451 penduduk mengalami malaria dan sebanyak 316.562 penduduk mengalami Tuberkulosis (TBC) (Badan Pusat Statistik, 2014). Indonesia juga menduduki peringkat ketiga terbanyak penderita kusta di dunia setelah Brazil dan India (WHO, 2013). Sehubungan dengan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia, permasalahan kesehatan di Indonesia harus diselesaikan dalam menghadapi tantangan globalisasi secara global.
           Berdasarkan permasalahan kesehatan yang ada, Indonesia mulai menerapkan Interprofessional Practice and Education (IPE) di beberapa perguruan tinggi negeri. Interprofessional Practice and Education (IPE) dicetuskan oleh World Health Organization pada tahun 2006 sebagai strategi dunia untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan (WHO, 2010). Namun, perguruan tinggi yang menerapkan sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) masih sedikit. Di Indonesia, perguruan tinggi yang telah mengadopsi sistem ini, diantaranya Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
             Dari beberapa hasil penelitian di luar negeri, sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) menunjukan hasil yang positif terhadap pelaksanaan sistem. Penelitian yang dilakukan oleh Hood et al (2013), menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki sikap positif terhadap Interprofessional Practice and Education (IPE) dan semua mahasiswa bersedia untuk menjalankan pembelajaran secara profesional. Lynn et al (2014), juga menyebutkan pada penelitiannya bahwa dengan antusiasme dan dukungan, mahasiswa dapat mentransformasikan pengalaman sistem IPE untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di abad ke-21. Hal ini menunjukkan bahwa sistem Interprofessional Education menjadi sistem yang potensial untuk menciptakan Interprofessional Health Student yang dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan di Indonesia.
       Dalam menghadapi tantangan globalisasi, disamping mengedepankan kualitas sumber daya manusia, Indonesia juga harus memperhatikan perkembangan riset dan kemajuan teknologi. Hal ini perlu dilakukan karena riset dan teknologi menunjukkan kemajuan suatu bangsa di bidang pendidikan dan teknologi. Namun, pada kenyataannya Indonesia memiliki jumlah publikasi ilmiah (bukti riset) dengan jumlah yang rendah dibandingkan negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand (Scopus, 2013).
       Dari data Scopus (2013), jumlah publikasi ilmiah pada tahun 2013, Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2011 dengan jumlah 2.741 publikasi menjadi 4.175 dan menduduki peringkat ke 55. Amerika menduduki posisi pertama sebanyak 563.292, diikuti oleh China dengan jumlah publikasi 425.677, dan United Kingdom diurutan ketiga dengan jumlah 162.574 publikasi ilmiah. Sedangkan untuk beberapa negara-negara ASEAN, Malaysia menduduki peringkat 23 dunia dengan jumlah 23.190, Singapore peringkat 30 dengan jumlah 17.052, Thailand peringkat 42 dengan jumlah 11.313, dan Vietnam peringkat 58 dengan jumlah 3.443. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal jauh untuk menghadapi tantangan globalisasi dilihat dari kesiapan di bidang riset dan teknologi.
        Upaya dalam meningkatkan riset sudah dilakukan pemerintah pada sumber daya manusia strategis, yaitu mahasiswa. Melalui Undang – Undang No. 12 Tahun 2012, Pemerintah mewajibkan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Undang Undang No. 12 tahun 2012 menyebutkan pada pasal 45 ayat (1) bahwa  penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Dalam hal ini, mahasiswa baik sarjana, magister, dan doktor memiliki peran penting yang diwajibkan pemerintah untuk melakukan riset dan diharapkan dapat menciptakan, menemukan, dan memberikan kontribusi bagi penerapan, pengembangan, serta pengamalan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah (UU No. 12 tahun 2012).
Gambar 1. Grafik Jumlah Publikasi Ilmiah Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura Sejak 1996 – 2011 (Alam, 2013)
        Upaya revitalisasi di bidang riset tidak cukup hanya dari kebijakan pemerintah kepada perguruan tinggi, tetapi juga dilakukan revitalisasi dari perguruan tinggi terhadap mahasiswa sebagai pemegang peranan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Upaya revitalisasi yang sudah dilakukan terhadap mahasiswa, yaitu melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Tidak hanya itu, beberapa perguruan tinggi telah berupaya dengan memberikan dana hibah riset kepada mahasiswa dengan jumlah yang cukup besar. Salah satu contohnya adalah Universitas Indonesia.
            Upaya revitalisasi di bidang riset sudah cukup banyak dilakukan, namun upaya-upaya tersebut dirasa belum cukup efektif bagi mahasiswa untuk meningkatkan publikasi ilmiah dalam menghadapi persaingan secara global. Hal ini dibuktikan dari minimnya jumlah publikasi yang dihasilkan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Scopus, jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh UI, ITB, UGM, dan IPB dalam kurun waktu 2007 – 2013 mengalami peningkatan dengan jumlah kurang dari 250 publikasi per tahun dari masing-masing perguruan tinggi (Alam, 2013). Bukti lainnya adalah terjadi penurunan jumlah publikasi ilmiah secara drastis pada tahun 2013, dengan jumlah publikasi kurang dari 100 pada masing-masing perguruan tinggi  (gambar 2).
Gambar 2. Jumlah publikasi UI, ITB, UGM, dan IPB pada tahun 2007 – 2013 (Scopus dalam Alam, 2013)

Melihat potensi pada implementasi sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) terhadap inovasi riset dan teknologi di bidang kesehatan, kebutuhan Indonesia untuk menghadapi tantangan globalisasi di bidang riset dan teknologi serta belum efektifnya upaya revitalisasi riset yang sudah ada, maka dibutuhkan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student sebagai strategi mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dalam menghadapi tantangan globalisasi. Berikut adalah gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student.

1.      Pendidikan Formal Riset Interprofessional Health Student berbasis Aplikatif
Riset – riset yang diterapkan pada umumnya adalah riset sesuai bidang profesi masing – masing. Sedangkan riset pada Interprofessional Health Student (minimal terdiri dari dua bidang profesi) belum diterapkan di Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan formal khusus riset pada Interprofessional Health Student berbasis aplikatif agar mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dapat memahami baik secara teoritis maupun aplikatif.
Pada umumnya, pelaksanaan pembelajaran pada pendidikan formal riset ini sama seperti pembelajaran metode penelitian. Namun, terdapat perbedaan antara pembelajaran metode penelitian dengan riset Interprofessional Health Student, yaitu dari segi aplikatifnya pembelajaran. Setelah mendapatkan pengetahuan tentang penelitian, mahasiswa langsung mengimplementasikan dari ilmu pengetahuan yang didapat. Berikut tahap – tahap pelaksanaan pendidikan formal riset Interprofessional Health Student berbasis aplikatif.

1)      Pra-Orientasi Pembelajaran
Tahap pra-orientasi pembelajaran ditekankan kepada pendidik, yaitu dosen pengajar. Sebelum melakukan tahap orientasi kepada mahasiswa, dosen melakukan orientasi terlebih dahulu terkait modul pembelajaran riset Interprofessional Student berbasis aplikatif. Pada tahap ini juga sebagai tahap assessment pada daerah yang akan dilakukan penelitian sebagai pilot project dari pembelajaran ini. Hasil assessment tersebut akan di presentasikan saat orientasi pembelajaran kepada mahasiswa untuk memberi gambaran terkait kondisi masalah di daerah pilot project tersebut.

2)      Orientasi Pembelajaran
Pada tahap ini, pendidik memberikan orientasi pembelajaran kepada mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tentang proses pembelajaran yang akan di jalani selama satu semester. Selain itu, mahasiswa diberikan gambaran kondisi daerah pilot project yang akan dilakukan pada tahap implementasi nanti.

3)Materi Proposal Penelitian (review)
Pemberian materi proposal penelitian guna melakukan review terhadap materi metode penelitian dan menyamakan persepsi seluruh mahasiswa rumpun ilmu kesehatan terkait pembuatan proposal penelitian.

4) Pembuatan proposal kelompok
Setelah mendapatkan materi pembuatan proposal penelitian, tahap ini merupakan tahap implementasi dari materi yang telah diberikan. Kemudian mahasiswa membentuk kelompok proposal yang terdiri dari minimal dua bidang profesi dengan jumlah anggota kelompok sebanyak lima orang.

5) Seminar proposal kelompok
Tahap selanjutnya adalah seminar proposal kelompok. Tahap ini dilakukan setelah kelompok Interprofessional Health Student membuat proposal penelitian. Tujuannya adalah sebagai monitoring dan evaluasi hasil proposal penelitian kelompok oleh fasiliator kelas untuk di revisi kembali sebelum melaksanakan penelitian.

6) Tahap implementasi penelitian
Setelah proposal kelompok sudah disetujui oleh fasilitator kelas, semua mahasiswa melakukan tahap implementasi, yaitu pengambilan data penelitian di daerah pilot project yang telah di tentukan sebelumnya.

7) Materi dan pelatihan penulisan jurnal
Tahap berikutnya adalah pemberian materi dan pelatihan penulisan jurnal penelitian. Pendidik memberikan materi singkat terkait penulisan jurnal kemudian memberikan pelatihan proses/cara penulisan jurnal penelitian yang baik dan ilmiah.

8) Tahap Implementasi penulisan jurnal
Mahasiswa dituntut untuk mampu mengimplementasikan dari pengetahuan sebelumnya. Secara berkelompok, mahasiswa membuat jurnal penelitian dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

 9) Evaluasi
Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi. Setelah pembelajaran selesai, mahasiswa memberikan evaluasi terhadap pembelajaran untuk perkembangan dan penyempurnaan pelaksanaan sistem pembelajaran.

Berikut adalah skema implementasi pendidikan formal riset pada Interprofessional Health Student berbasis aplikatif.

Gambar 3. Skema Pendidikan Formal Riset pada Interprofessional Health Student Berbasis Aplikatif.
Hasil keluaran dari gagasan ini adalah berupa fisik dan non-fisik. Hasil keluaran fisik gagasan ini berupa proposal penelitian dan jurnal penelitian. Jurnal penelitian ini dapat digunakan untuk mengikuti kompetisi ilmiah yang berbasis penelitian seperti Call for Paper, Conference, PKM-AI, dan sebagainya.

2.      Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian khusus mahasiswa rumpun ilmu kesehatan menjadi sebuah gagasan lanjutan dari gagasan sebelumnya. Gagasan ini bertujuan sebagai wadah Interprofessional Health Student untuk melakukan penelitian diluar pendidikan formal. UKM ini menjadi sebuah organisasi untuk meningkatkan budaya riset pada Interprofessional Health Student. Penelitian yang dapat dilakukan oleh mahasiswa pada UKM ini terbagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan lingkup daerah penelitian, yaitu penelitian tingkat universitas, daerah lokal universitas, dan luar daerah universitas.

Tahap implementasi pada UKM ini hampir serupa dengan implementasi pada pendidikan formal riset Interprofessional Health Student berbasis aplikatif. Hanya saja terdapat perbedaan pada tahap awal dan akhir. Pada tahap awal implementasi, yaitu adanya kajian penelitian sebagai pengetahuan terkait penelitian kepada anggota organisasi dan pembentukan kepanitiaan untuk mengurus pelaksanaan kegiatan. Sedangkan perbedaan pada tahap akhir, yaitu dapat melakukan pengabdian masyarakat di bidang kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Berikut skema tahap implementasi gagasan UKM Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan.

Gambar 4. Skema Implementasi UKM Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

3.      Perpustakaan Riset Digital Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Gagasan ini  dilatarbelakangi oleh keluhan beberapa mahasiswa yang sulit mencari sumber literatur pada proses pembuatan proposal penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Mujiyah dkk (2001) dalam Januarti (2009) menemukan bahwa kendala terbesar yang dihadapi mahasiswa dalam membuat skripsi adalah pada buku – buku sumber me;iputi kurangnya buku – buku referensi yang focus terhadap permasalahan penelitian, dengan persentasi sebesar 53,3%. Terlebih lagi, tidak ditemukan data jumlah publikasi penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa di Indonesia.

Perpustakaan riset digital mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dibentuk untuk menampung seluruh jurnal penelitian mahasiswa rumpun ilmu kesehatan yang telah terseleksi. Hal ini akan menjadi akses literatur untuk perkembangan penelitian selanjutnya dan juga sebagai referensi penelitian. Perpustakaan ini didesain dalam bentuk digital supaya seluruh mahasiswa di Indonesia, khususnya kesehatan dapat melakukan akses terhadap jurnal-jurnal penelitian yang ada. Berikut adalah skema implementasi gagasan perpustakaan digital riset mahasiswa rumpun ilmu kesehatan.

Gambar 5. Skema Implementasi Perpustakaan Riset Digital Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student (Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan) diharapkan mampu menjadi program yang dapat diimplementasikan pada perguruan tinggi di Indonesia pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Hasil luaran yang diberikan melalui gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student diharapkan mampu meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia serta meningkatkan publikasi ilmiah Indonesia. Dengan begitu, peran mahasiswa dapat dioptimalisasi sebagai strategi dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Kondisi yang diharapkan agar gagasan revitalisasi budaya riset dapat berjalan dengan baik  antara lain, perguruan tinggi dapat membuat regulasi terkait pengadaan pendidikan formal riset kolaborasi kesehatan serta menyediakan fasilitas yang memadai untuk mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dalam melakukan riset agar budaya riset tetap terbangun dan DIKTI beserta LPDP dapat bekerja sama dalam pelaksanaan program guna mendukung dana riset agar perkembangan riset dan kemajuan teknologi Indonesia dapat meningkat dan mampu bersaing secara global.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, Bachtiar. (2013, Oktober). Strategi dan Kinerja Riset Perguruan Tinggi: Pengalaman Universitas Indonesia. DRPM Gazette, 06(4), 6-7.
Badan Pusat Statistik. (2014). Number of Disease Cases by Province and Type of Disease. www.bps.go.id/eng/tab_sub/print.php?id_subyek=30&notab=47 diakses pada 18 September 2014
Hood, Kerry., Robyn Cant, Julie Baulch, Alana Gilbee, Michelle Leech, Amanda Anderson, dan Kate Davies. (2013). Prior experience of interprofessional learning enhances undergraduate nursing and health students’  professional identity and attitudes to teamwork. Nursing Education in practice. Elsevier Mosby Inc.14, 117-122
Januarti, R. (2009). Hubungan antara Persepsi terhadap Dosen Pembimbing dengan Tingkat Stress dalam Menulis Skripsi. [Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Surakarta,
Scopus. (2013). http://www.scimagojr.com/countryrank.php?area=0&category=0&region=all&year=2013&order=it&min=0&min_type=it diakses pada 17 September 2014
Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/17624/UU0122012_Full.pdf diakses pada 19 September 2014
VanderWielen, Lynn M. et al. (2014). Interprofessional Collaboration Led by Health Professional Students: A Case Study of the Inter Health Professionals Alliance at Virginia Commonwealth University. Journal of Research in Interprofessional Practice and Education.
World Health Organization. (2010). Framework for Action on Interprofessional Educaion & Collaborative Practice. Geneva, WHO Press.

World Health Organization. (2013). Weekly Epidemiological Record. 88(35), 365-380. Diakses dari http://www.who.int/wer

Sabtu, 16 Agustus 2014

Tulisan Pertama di Koran

Standard
Hei! Readers! Apa kareba? Semoga sehat selalu ^^
Sudah setahun lamanya tidak menulis di blog, rasanya kayak putri tidur yang baru dibangunin sama pangerannya. hihi..

Let's see. Kali ini saya mau berbagi kebahagiaan. Apa itu?
Seperti yang tertera pada judul postingan ini. AKHIRNYA Tulisan saya di muat di koran! Ah, betapa bahagianya saya :D

Menulis. Satu kata kerja yang mudah saya ketik namun sulit untuk merealisasikannya. Tahu kenapa? Kalian yang jarang menulis seperti saya juga pasti tahu. Betapa sulitnya menemukan ide untuk menulis. Betapa sulitnya memulai kalimat pertama pada sebuah tulisan. Betapa sulitnya mengelaborasikan kalimat-kalimat menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca. Ya, Aku paham itu. Dan pasti kalian pasti paham juga.

Banyak tokoh-tokoh terkemuka mengatakan bahwa menulis adalah penting. Kalau kata Pramoedya Ananta Toer,
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Aku juga sama seperti kalian. Awalnya tidak pernah membuat tulisan, malas untuk membuat sebuah tulisan karena terasa sulit dan tidak bisa menemukan bagaimana caranya memulai dan membuat tulisan yang baik. TAPI, HEY! Ternyata Tulisanku BERHASIL dimuat di salah satu koran yang cukup terkemuka di Indonesia.

Meskipun tulisan saya baru sekali masuk koran, saya akan mencoba bercerita