Minggu, 17 September 2017

Sebuah Refleksi: I Feel Lost on My Real Public Figure

Standard
Bismillahirrahmaanirrahiim...


Ah, kebiasaan memang. Pikiran ini terlalu liar rasanya dalam berpikir. Liar dalam arti sangat acak, dan tiba-tiba saja muncul satu topik yang terpikirkan dalam benak. Topik yang baru saja muncul adalah mengenai tokoh yang kita teladani dalam hidup atau mungkin biasa disebut sebagai figur kehidupan.

Setiap orang punya potensi menjadi pusat perhatian banyak orang atau menjadi teladan dalam hidup kita. Biasanya sih yang sudah terkenal seperti artis-artis. Misalnya saja Syahrini. Sempat viral tentang gaya jilbab dan bajunya Syahrini di kalangan masyarakat. Atau contoh lainnya adalah orang sukses seperti Steve Jobs. Kita bisa telusuri bagaimana karakter dan perjuangannya hingga mencapai titik sukses tertingginya. Setelah memahami pola kehidupannya, kita bisa termotivasi hingga meniru gaya hidupnya yang positif ke dalam kehidupan kita. Atau nggak usah jauh-jauh deh. Teman kita sendiri yang mungkin punya kelebihan dalam hal karakter, kecerdasan, atau gaya hidup. Mungkin akan muncul dalam benak diri, "kok dia bisa jadi seperti itu ya? apa ya rahasianya?". Rasa ingin tahu muncul, dan mencari informasi kepada yang bersangkutan. Setelah mengetahuinya, kita dapat belajar darinya, kemudian kita adopsi hal-hal positif darinya ke dalam kehidupan kita. Lingkup lebih dekat lagi, adalah orang tua kita. Anak-anak akan menirukan apa yang terlihat olehnya di dalam keluarga, oleh ibunya dan ayahnya. Bagi perempuan, setelah dewasa pasti akan belajar dari ibunya bagaiman beliau dulu mengasuh kita sejak kecil hingga sekarang. Bagi laki-laki, akan belajar bagaiman tegar dan kerasnya perjuangan menjadi sosok Ayah yang kita anggap sebagai teladan, dsb.

Hal yang mengganggu dalam benak ini adalah..

"Siapa sih sosok figur yang benar-benar dapat kita ikuti?"

Hayo, siapa? Hehe...

Setelah perenungan, bagi yang muslim, jawabannya adalah Rasulullah SAW.

Merupakan refleksi bahwa diri ini sudah terlalu lama kehilangan dalam ingatan untuk meneladani beliau. Bahkan cenderung tidak terlalu memahaminya secara mendalam.. That's why i feel lost in this world in order to found out the real my public figure is. :( Tidak hanya itu, sepertinya diri ini juga telah lama hilang ingatan bahwa banyak sekali figur-figur teladan dari para tabi'in dan sahabat-sahabiat semasa hidup Rasulullah SAW.

Setelah mendapat beberapa informasi dari ceramah-ceramah, banyak sekali yang seharusnya kita teladani dari Rasulullah SAW. Misalnya, tuntunan dalam menuntut ilmu. Ada pesan-pesan dari beliau bagaiman seharusnya penuntut ilmu belajar agar ilmu tidak cepat lupa dan menjadi ibadah. Mungkin ini yang hilang dari diri ini. Mungkin perasaaan bahwa ilmu yang cepat "dispossible" terjadi karena tidak mengetahui dan mengikuti tuntunan beliau. Contoh lainnya adalah tuntunan dalam berwirausaha, dalam bermuamalah dengan sesama, hingga bersikap dengan hewan dan tumbuhan. Contoh lain lagi, bagaimana dalam menjalani rumah tangga dan mendidik anak *eh*. Semuanya ada. Semuanya benar-benar ada. Hanya saja, diri ini yang terlalu jauh mencari sosok figur dalam hidup.

Ada beberapa kisah menarik dari para tabi'in semasa Rasulullah SAW yang patut diteladani. Ini saya ceritakan kembali kisah yang sangat berkesan dalam hati saya. Kisah dari seorang tabi'i bernama Ibnu Sirin. Beliau adalah seorang pedagang yang kejujurannya patut diteladani. Suatu kali, beliau ditawari segentong besar madu yang pada zaman itu, jika terjual senilai 40.000 dirham, sangat mahal. Suatu kali, Ibnu Sirin lupa menutup gentong tersebut. Hingga keesokan harinya, beliau menemukan satu ekor tikus yang sangat kecil mati di atas permukaan madu tsb. Pertanyaan refleksi, jika diposisikan sebagai Ibnu Sirin, apa yang akan dilakukan? Hehe.. Akan kita buang saja seluruh madu tersebut atau kita buang tikus dan beberapa bagian yang sekiranya terkena bangkai tikus tsb mengingat harga jualnya 40.000 dirham? hehhee....

Hal yang dilakukan Ibnu Sirin adalah membuang seluruh madu ke sungai. Kemudian sekitar 4 atau 8 orang menggotong madu tersebut dan dialirkan ke sungai. Perilaku ini mengundang pertanyaan orang-orang pada saat itu.

"Wahai Ibnu Sirin, mengapa kau buang seluruh madu itu? Tidak bisakah engkau buang saja bagian yang terkena bangkai itu? Madu itu seharga 40.000 dirham!.", tanya seseorang.

"Demi Allah. Bisakah engkau menjamin bahwa satu tetes dari madu tersebut tidak mengandung bakteri dari bangkai tersebut? Aku tidak ingin mendhalimi kaum muslimin.", jawab Ibnu Sirin

"Sungguh, Aku tidak bisa menjamin hal itu.", jawab seseorang.


Kisah tersebut amat sangat berkesan. Terlebih nampaknya sulit menemukan orang sejujur beliau. Akhlak yang sangat terpuji ini nampak karena beliau memahami bahwa sejatinya setiap perbuatan yang kita lakukan senantiasa di awasi oleh Allah. Bahwa pada akhirnya nanti sleuruh perbuatan kita akan dihisab. Ya Allah, wa Innalillahi...

Banyak sekali kisah-kisah para tabi'in dan para sahabat yang menggugah hati dan amat sangat perlu untuk diteladani. Ini yang hilang dalam diri ini. Refleksi diri bahwa sejatinya kita perlu kembali untuk mempelajari tuntunan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari dan mengetahui serta mengambil hikmah atas kisah-kisah para sahabat, ummul mukminin (para istri nabi), tabi'in, dan ulama masyhur dahulu. Semoga senantiasa kita selalu diberi kemudahan untuk mempelajari dan meneledani beliau. Aamiin... Yuk, kembali! :)



Cileungsi,
17 September 2017
20.14


Minggu, 23 Juli 2017

Tadabbur Al-Qur'an (1)

Standard
Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)


Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Begitu pesan baginda Nabi Muhammad SAW.


Sewaktu lebaran kemarin, Mama saya bilang kalau ia kagum sekali dengan ustadzahnya dulu. Ustadzah mama sangat royal terhadap ilmu yang dimilikinya, sekecil, sesedikit apapun ilmu itu. Katanya, ilmu itu harus dibagikan, masalah rezeki, Allah sudah mengaturnya untuk setiap hamba-hambanya. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk berbagi kepada orang lain, terutama ilmu. I was so amazed, jadi ikut kagum dan agak merinding dengarnya. I learned  a lot, after many thoughts running in my head. Thus, I think that it is good to made it as one of principle in life.

Jadi, ceritanya habis dari kajian, dan dapat ilmu ini dari Ustadz Ahmad Ibnu Syam, tentang mengahadapi permasalahan hidup. Permasalahan apapun itu, pekerjaan, per-jodoh-an, per-duit-an (?), de el el. Beliau bilang, jawabannya ada di surat Al-Baqarah ayat 45.


وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
(Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. Q.S Al-Baqarah; 45)

Telusur punya telusur, saya searching di google, keluarnya bukan ayat 45. Tapi ayat 153. Ternyata Allah bilang dua kali, hal yang sama.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
(Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Q.S Al-Baqarah; 153).


The Guide. Petunjuk. Ketika dirundung permasalahan, tindakan pertama adalah sabar. Tapi sabar saja tidak cukup. Maka perintahnya setelah sabar adalah shalat dan meminta pertolongan pada Allah (berdoa). Ustadz bilang kalau memanjatkan do'a itu harus terus-menerus. Jangan kadang doa, kadang nggak. Do'a nya juga harus yakin. Yakin kalau Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan.

Kalau dirasa doa belum dikabulkan? 

Sabar dan tetap yakin, dan terus berdoa. Husnudzan, Allah pasti akan memberikan yang terbaik.

Ingat kisah Nabi Zakaria.....
Ia berkata:”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.
Q.S Maryam ayat 4
Kesimpulannya, hal yang perlu diperhatikan : shalat yang bisa menjadi solusi dalam berbagai permasalahan hidup adalah sholat yang khusyuk, yang baik dan benar, sesuai rukun dan syarat sahnya shalat dan melakukan shalat hajat. Berdo'a di waktu-waktu yang mustajab dan tempat yang mustajab..


In my opinion,  hidup rasanya tentram dan adem kalau bersama Al-Qur'an. Mengamalkannya adalah kunci kebahagiaan yang hakiki. Semangat ber-upgrade diri. Belajar itu sepanjang hayat. #terusbelajar #belajarterus


Wallahu a'lam.

Semoga Bermanfaat. :)



Cileungsi,

23 Juli 2017


Jumat, 21 Juli 2017

Yakin, Masih Bilang Nanti?

Standard
Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)



"In, bisa bantu buat xxxxxxxx ?"
"InsyaAllah bisa, Bu. Kapan dikirimnya, Bu?"
"Jum'at pukul 15. Tk" 


Seraya menerima permintaan tersebut, langsung saja saya menyusun rencana kerja agar sesuai tepat waktu, kalau bisa malah lebih awal dari tenggat waktu serta memasang mindset untuk berusaha mengerjakannya dengan optimal agar tidak mengecewakan. 

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Time flies

Sembari menatap layar laptop, randomly I stopped my work. Kemudian dalam hati bilang, "Eh, kok gw sampai segitu takutnya untuk kirim telat dan mengecewakan manusia? Kalau adzan untuk shalat, gimana? Pernahkah takut kalau Allah kecewa?", konflik batin. *sering banget begini :'D Hey kamu (jodoh) yang entah sekarang ada di mana! Siap-siap nanti jadi tempat curtinku (re: curhat batin) ya! #eh :p*

Shalat. I don't know why pikiran tertuju pada ibadah yang satu itu. Seringnya, ambil wudhu kalau sudah dengar adzan. Atau sesekali shalatnya lewat dari adzan. Atau kalau lagi khilaf banget malah nggak dengar adzan dan shalatnya telat pake banget. Padahal, adzan itu panggilan Allah kepada hambaNya. KataNya, "Hayya 'alash sholah (Mari menunaikan sholat)". Saat panggilan itu datang, di mana kita? di mana saya? di mana kamu?

Berdasarkan perasaan pribadi, paling nggak mau dan sedih kalau buat orang lain kecewa. Sekali lagi, nggak mau buat manusia kecewa. Tapi jarang mikirin gimana caranya biar Allah nggak kecewa. Jarang mikirin perasaan Allah. Astaghfirullah. Nabi Muhammad SAW bilang,

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah Swt.” (HR Bukhari & Muslim).

Hmmmm.....

Pernah juga dengar ceramah ustadz Yusuf Mansur tentang hubungannya kehidupan kita dengan shalat yang kita kerjakan. Beliau bilang kalau suka menunda-nunda shalat, maka wajar bila dalam urusan dunia selalu terlambat. Misalnya, jodohnya lama datang, dapat pekerjaannya lama, dan sebagainya. Padahal, jika shalat dikerjakan tepat waktu atau bahkan lebih awal, urusan dunia juga lebih cepat. Misalnya, belum lulus kuliah sudah punya tawaran kerja dan lain sebagainya. Saya pun meyakini hal itu. Ketika ingin memperbaiki hidup, maka perbaikilah shalatmu. Memperbaiki shalat baik dalam hal ketepatan waktu, pemenuhan rukun dan syarat sahnya shalat, dan sebagainya.

In the end, semoga perenungan dari konflik batin yang diinterpretasikan berupa tulisan ini bisa bermanfaat. Semoga Allah mengampuni saya dalam setiap kata yang tertulis dan meluruskan niat saya. Semangat terus untuk memperbaiki diri, menuju ridhoNya agar termasuk menjadi penghuni jannahNya. Aamiin....

Wassalam.

Cileungsi,
21 Juli 2017

Nb: Jangan lupa, hari ini tayang Kick Andy tentang tulisan yang sudah saya buat klik di sini :p

Rabu, 19 Juli 2017

Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur'an

Standard

Siapapun Anda, Anda adalah pengahafal Al-Qur'an

Judul                   : Rahasia nikmatnya menghafal Al-Qur'an
Pengarang Buku : D.M Makhyaruddin
Penerbit Buku     :Noura Religi
Kota terbit           : Jakarta
Tahun terbit         : 2013
Tebal                   : 292 halaman


Sinopsis

"Sesungguhnya menghafal Al-Qur'an itu tidak membutuhkan metode, tetapi yang dibutuhkan dalam menghafal Al-Qur'an hanyalah niat, mujahadah, dan istiqamah"

Menghafal Al-Qur'an mungkin adalah keinginan kebanyakan muslim dan muslimah. Terlebih lagi, saat ini sudah banyak qari' muda dan hafidz Qur'an, yang menginspirasi banyak kaum muda-mudi. Buku ini berisi pengalaman penulis selama menghafal Al-Qur'an dan banyak pesan-pesan yang memotivasi pembaca untuk tidak pantang menyerah dalam menghafal Al-Qur'an.

Penulis buku ini menghafal 30 juz hanya dalam waktu 56 hari. Tulisannya pun memaparkan hal-hal esensial terkait menghafalkan Al-Qur'an, yaitu dimulai dari alasan mengapa ingin menghafal, cara menghafal, cara menjaga hafalan, dan bagaimana menikmati hafalan Al-Qur'an. Selain itu, buku ini menyadarkan bahwa menghafal tidak hanya sekadar hafal saja namun menghafal yang berkarakter dan berkualitas bagi penghafalnya.

Penulis membagi tulisannya menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama, penulis memaparkan tentang persiapan mengarungi keindahan Al-Qur'an. Hal ini meliputi hal esensial ketika seseorang berniat untuk menghafal serta membahas tentang komitmen ketika sudah niat untuk menghafal. Bagian kedua, penulis memaparkan tentang metode dan unsur-unsur yang diperlukan untuk menghafal. Bagian terakhir, penulis memaparkan tentang penjagaan hafalan Al-Qur'an, termasuk metode secara teknis maupun penjagaan yang berkaitan dengan perilaku yang harus dimiliki penghafal Al-Qur'an agar hafalannya dapat terjaga. Pada setiap bagian ini mengandung kalimat-kalimat yang memotivasi. 

Kelebihan

Kelebihan buku ini adalah pesan-pesan yang disampaikan oleh penulis dapat memotivasi pembaca untuk menjadi penghafal yang berkarakter dan berkualitas. Penulis juga mampu menggugah hati pembaca dengan tulisannya karena disertai dengan cuplikan kisah zaman Rasulullah SAW dan beberapa potongan hadits. Tidak hanya itu, penulis juga memaparkan beberapa tadabbur ayat-ayat Al-Qur'an.

Kekurangan

Catatan kaki pada buku terletak di belakang, sehingga perlu membolak-balikkan lembar buku untuk melihat penjelasannya.


Personal Rate : 8/10

Sabtu, 08 Juli 2017

Menyandang Gelar Sarjana, dan Saya Malu!

Standard
Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Sudah setahun rasanya, gelar sarjana saya peroleh. Tersanding S.Kep di belakang nama. Alhamdulillah 'ala kullihaal... Perasaan saya aman-aman saja dengan adanya tambahan gelar tersebut, sampai pada hari Kamis, 6 Juli 2017 kemarin, membuat saya malu sejadi-jadinya sekaligus rasanya hati bergejolak ingin lakukan ini dan itu (re: timbul semangat).

Kamis, 6 Juli 2017

Saya menghadiri undangan taping acara Kick Andy di Metro TV bersama teman-teman Sobat Bumi dengan tema Pengorbanan tanpa Pamrih. Temanya sangat menarik hati, maka dibela-belain datang langsung lihat pembicaranya meski saya tahu acara akan selesai larut malam. Karena saya yakin kalau vibes nonton langsung dengan via tayangan televisi, getaran dari pembicaranya itu beda. Hehe..

Korelasi judul tulisan ini dengan cerita nonton Kick Andy adalah pada pembicara pertama. Beliau bernama Yoseph Orem Blikololong, asal Lembata, Kupang, NTT. Andy F Noya, membuka sesi pertama dengan perkenalan beliau sebagai seorang pemulung. At first, saya berpikir, seorang pemulung, dengan pengorbanan tanpa pamrih. Dalam hati berspekulasi, okay, mungkin karena jasanya mengambil barang-barang bekas/sampah jadi masuk ke dalam tema acara.

Jeng

Jeng

Jeng

Ternyata saya salah.

Apa yang membuat beliau jadi pembicara di acara Kick Andy ini ternyata sangat luar biasa. Beliau seorang pemulung yang mampu membuat dua sekolah gratis secara mandiri, yaitu PAUD dan SMP. Gimana bisa ya? Itu yang langsung terlintas dalam benak saya.

Beliau membangun sekolah tersebut dari hasil mulung sehari-harinya. Ya Allah... :"(
Tergerak hati beliau untuk membangun sekolah karena melihat dan mengobrol dengan anak-anak jalanan di Kupang. Mengetahui bahwa anak-anak tersebut ingin sekolah, namun keluarga mereka tidak mampu, maka Pak Yoseph bertekad membangun sekolah gratis dari hasil kerja sebagai seorang pemulung. Beliau yang merupakan lulusan SMA ini sudah berkeluarga dan memiliki 6 orang anak. Respon pertama dari istrinya saat mengatakan ingin membangun sekolah adalah marah. Bagaimana mungkin bisa membangun sekolah dengan hasil yang pas-pas-an untuk kebutuhan keluarga. Namun Pak Yoseph ini mampu meyakini istrinya dan akhirnya bisa membangun sekolah sampai saat ini. 

Hal yang saya pelajari dari beliau adalah tentang keyakinan. Beliau seorang pemulung lulusan SMA yang bahkan penghasilannya pas-pasan tapi punya keinginan yang sangat tinggi dan mulia. Rasanya tidak mungkin dengan kondisi seperti itu bisa melakukan hal besar seperti Pak Yoseph lakukan. Banyak sekali pemikiran beliau yang saya sangat suka. Beliau memiliki hati yang sangat mulia dan memiliki keyakinan bahwa meskipun dalam kondis sulit, saat membantu yang sedang kesulitan pasti akan ada bantuan dan jalan keluar. Keyakinan yang begitu besar. Saya pernah baca suatu kutipan yang mengatakan bahwa "Banyak mimpi terbunuh karena keraguan yang kita ciptakan sendiri". Ya, I think it is most common problem. Saat menyimak beliau bercerita, gelar sarjana ini rasanya keciiiiiiil sekali. Malu sekali rasanya.

Random sekali rasanya pikiran ini. Teringat ceramah Ustadz Yusuf Mansur mengenai Sulaiman spirit. Beliau menjabarkan tadabbur Q.S Shad ayat 31-35, yang pada intinya tentang semangat atau spirit Nabi Sulaiman a.s. yaitu memiliki keinginan besar, yang tidak dimiliki oleh seorangpun kecuali dirinya saat kondisinya sedang sejatuh-jatuhnya dan dikabulkan oleh Allah. Menurut saya, inilah yang terjadi pada Pak Yoseph, disaat keadaan yang sulit, beliau malah memiliki keinginan yang sangat besar dan terwujud. Selain itu, Pak Yoseph ini sedang berkuliah mengambil studi hukum. Apa alasan beliau? Supaya bisa membela rakyat-rakyat kecil. Sesederhana itu. 

Ya Allah, semoga Kau jadikan hamba dan yang lain menjadi sebaik-baiknya manusia. Sebaik-baiknya manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya manusia yang bisa membagi ilmu yang diperoleh, mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk orang lain, agar menjadi amal jariyah kelak. Semoga menjadi amanah dengan banyaknya ilmu yang diperoleh. Semoga dengan bertambahnya ilmu, justru semakin merunduk. Aamiin.... :"))

Silakan teman-teman menonton acara Kick Andy ini pada tanggal 21 Juli 2017 pukul 20.00 di Metro TV supaya menyimak langsung apa yang diceritakan oleh Pak Yoseph yang sangat menginspirasi ini. Tulisan ini rasanya tidak cukup untuk menggambarkan perasaan saya saat menyimak langsung. Semoga bermanfaat!


Cileungsi,
8 Juli 2017



Minggu, 06 November 2016

Titik Balik

Standard


Isu akhir-akhir ini, ramai dengan 411, aksi damai umat muslim dalam rangka membela kitab suci kami ummat muslim, Al-Qur'an. Saya memilih bercerita salah satu momen dalam hidup saya yang berkaitan dengan Al-Qur'an. Bagi saya, momen ini adalah titik balik total dalam hidup saya, tepatnya terjadi sejak 4 bulan yang lalu. Mungkin diksi yang menggambarkan adalah "Hijrah". Mungkin orang-orang disekitar saya, sedikit banyak melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada diri saya. Atau orang-orang yang memperhatikan perubahan pola postingan media sosial yang saya miliki. Saya memilih untuk bercerita ada apa di balik semua perubahan yang terjadi.

4 bulan yang lalu, tiba-tiba saya ingin mendalami Al-Qur'an lebih jauh dari sekedar membacanya saja, sampai ada keinginan untuk mulai menghafalkannya. Rasanya iri kalau lihat ada seseorang yang mampu hafal sekian juz Al-Qur'an. Mulai sejak itu, saya menelusuri cara untuk mencapai keinginan saya tersebut. Hingga saya menemukan video dari anak Ustad Yusuf Mansur (UYM) di Youtube dan menemukan website untuk menghafalkan Al-Qur'an, terobosan UYM juga. Karena jiwa telusur saya cukup tinggi, saya malah menelusuri tausyiah-tausyiah UYM di Youtube. Video yang pertama saya tonton membahas tentang ketauhidan kita kepada Allah SWT. Beliau mengisahkan seorang anak SD yang diberi pelajaran tentang tauhid dalam kehidupan sehari-harinya. Kisah tersebut sukses membuat air mata saya jatuh. Sukses membuat saya merefleksikan diri saya. Sukses membuat saya merenungkan masa-masa silam dalam hidup saya. Sukses pula menyadarkan saya bahwa saya terasa jauh sekali denganNya meskipun saya sudah shalat 5 waktu dan membaca firmanNya. Rasa ingin tahu dan telusur saya semakin tinggi, akhirnya saya menonton video yang kedua. Judulnya "10 dosa besar vol.1" di Youtube. Masih teringat jelas sekali, saya menontonnya pada waktu dini hari. Kemudian saya lanjut menonton hingga vol.3. Semua video itu terasa menelanjangi jiwa dan raga saya. Sejak saat itu, saya merasakan hidayahNya datang. Setitik sinar mulai menyinari kehidupan saya yang sebelumnya gelap gulita.

Beberapa bulan berlalu, saya mulai untuk melakukan beberapa perubahan. Beberapa terakhir ini, saya ditemukan kembali kisah Hijrahnya seorang artis Indonesia, sebut saja Peggy Melati Sukma. Menonton kisahnya yang langsug diceritakan olehnya di Youtube, saya dan dia merasakan hal yang sama. Titik balik kami bersumber dari Al-Qur'an. Kesamaan lainnya, kami sama-sama berangkat dari "masa gelap"nya kehidupan yang kami alami. Pengalaman paling pahit dalam hidup mengantarkan kami padaNya. Saya suka statement dari mbak Peggy, bahwa Jangan sampai menunggu rasa pahit dalam hidup untuk berhijrah. Jangan sampai kita merasakan kegelapan dalam hidup dulu untuk berhijrah.

Ya, memang. Hidayah dan kemantapan untuk berhijrah adalah takdirNya. Tetapi, jika kita memunculkan niat untuk terus berubah, mudah-mudahan kita selalu diarahkan untuk semakin dekat denganNya. Mudah-mudahan semua diberikan kesempatan untuk berhijrah dan istiqomah untuk hijrah. Doakan saya juga supaya istiqomah berhijrah, dan semakin dekat denganNya. Aamiin.

Saya suka sekali dengan judul buku Mbak Peggy, "Kujemput Engkau di Sepertiga Malam". Buku tersebut adalah kisah Mbak Peggy dari masa-masa kegelapannya hingga titik balik kehidupannya. Saya berniat untuk estafet buku tersebut untuk teman-teman yang ingin membacanya. Silakan kontak saya jika ada yang ingin membacanya. Mana tahu dari buku tersebut terselip hidayahNya, karena kita tidak tahu dari celah mana rasa "titik balik" itu akan datang. :)

Wassalamualaikum,
Salam Hijrah Sampai Akhir Hayat! :)

6 November 2016

Sabtu, 23 Juli 2016

Undangan Umroh dari Allah, Siapa yang Tak Mau?

Standard

Assalamualaikum, para bloggers, dan blog readers :)

Saya ingin sekali berbagi cerita. Bukan cerita saya ketika Umroh ya, karena belum diundang olehNya ke sana :'D Insya Allah.. (mohon do'anya aja dulu, hehe.. ). Tapi saya ingin berbagi secuil pengetahuan yang saya dapat hari ini dari acara Training Wisata Hati yang temanya : "Training Umroh: Makna dan Manasik". Karena kata Rasul, "Sampaikan dariku walau satu ayat". Jadi, biarpun sedikit ilmunya, yang penting bisa bermanfaat (insyaAllah), hehe :)

Sebagai umat muslim, pengikut Rasul, hambanya Allah, menunaikan ibadah umroh adalah sesuatu hal yang istimewa. Gimana bisa nggak? Kita datang ke rumahNya, bisa berkunjung ke makam Rasulullah langsung dan melantunkan shalawat. Bahkan, tadi kata ustad, ibadah sholat yang kita lakukan di Masjid ketika di tanah suci itu bernilai 1000x lipat pahalanya. Istimewa sekalilah pokoknya ya.

Nah, perkaranya adalah......tidak semua ummat manusia yang berkesempatan untuk ke sana, melakukan ibadah dan berkunjung ke rumahNya. Kalau dinalar secara logis, masalah mayoritas yang menghambat adalah uang. Atau bisa jadi masih tertunda dalam waktu yang lama karena sekarang ada masa tunggu untuk pergi Umroh atau Haji (antri, hehe). Atau bisa jadi, memang belum 'terpatri' di hati atau belum ada niat yang adekuat, baru ada keinginan-keinginan biasa saja (kayak saya sebelum datang ke training ini). Ya, pokoknya kalau di pikir-pikir banyak sekali faktor yang dapat menjadi penghambatnya. Ini hanya berdasarkan opini saya saja ya, bukan berdasarkan survei dan data. Hehe...

Apa yang mau saya bagikan tentang ilmu yang saya dapat hari ini? yaitu tentang keyakinan dari niat kita dan ikhtiar yang kita lakukan untuk pergi ke Tanah Suci dan sesuai dengan tagline acara tadi, #Dream #Pray #Action

1. Niat

Menurut saya, niat adalah pondasi utamanya. Karena kalau ada niat, action atau tindakannya insyaAllah juga akan jalan. Kita harus punya dan berani memiliki mimpi untuk pergi ke sana. Keinginan ini juga harus kuat. Ya, sama aja kayak kita ingin sesuatu barang misalnya, kalau niat nggak niat, keinginan itu akan dengan mudah hilang. Niat juga menjadi salah satu rukun dalam menjalankan ibadah Umroh. Ah, iya. Niatkan Umroh karena Allah, yang paling penting.

2. Doa

Doa adalah salah satu cara kita untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Ini juga merupakan salah satu ikhtiar yang kita lakukan. Sama layaknya ketika kita menginginkan sesuatu, pasti kita berdoa agar keinginan kita dikabulkan. Nah, kita bisa berdoa untuk diri kita sendiri dan berdoa untuk orang lain atau saling mendoakan satu sama lain. Tadi, saat training, saya diajarkan bagaimana cara doa yang tepat. Pertama, pikirkan konten do'a nya, yaitu kita niat untuk Umrohnya kapan (kalau bisa spesifik beserta tanggal, bulan, dan tahun), bersama siapa kita akan berangkat, dan apa yang kita inginkan ketika Umroh. Setelah itu, kita baca basmallah dan mengucapkan shalawat dan ditutup dengan hamdalah. Kita juga bisa banget berbagi mimpi kita ini dengan keluarga atau teman terdekat kita, supaya bisa saling mendoakan satu sama lain. Jadi, misalkan saya mendoakan teman saya begini:

Bismillahirrohmanirrahiim..Ya Allah, ijinkan dan undanglah A untuk pergi Umroh tanggal 17 Agustus 2018 bersama orang tuanya. Dia ingin sekali berkunjung ke rumahMu, bershalawat di rumahMu dan mengunjungi makam Rasulullah, kekasihMu beserta masjid-masjid yang ada di sana. *kemudian baca shalawat* *hamdalah* *aamiin*

Nah, doa ini jangan dilakukan hanya sekali, tapi setiap hari, sesering mungkin. Kenapa sih? Ibarat anak kecil minta mainan sama mamanya, gimana? Pasti merengek-rengek bahkan sampai nangis kan supaya mainan yang diinginkan dibeli sama  mamanya. Begitulah analoginya. Ohiya, satu lagi, sebelum berdoa, diiringi juga sama istighfar. Karena, berdasarkan yang saya baca dan saya pahami dari ceramah Ustad YM, ada beberapa hal yang menghambat doa kita cepat sampai ke Allah, yaitu dosa-dosa yang kita perbuat. Makanya, sebelum berdoa, kita mengucapkan dan meminta ampunan kepada Yang Maha Kuasa.

3. Action (Tindakan Nyata/Konkrit)

Mimpi hanyalah sekedar mimpi kalau kita tidak melakukan usaha. Sebenarnya doa juga merupakan salah satu usaha sih. Tapi banyak cara lainnya yang dapat dilakukan untuk mempercepat keinginan kita agar dikabulkan oleh Allah SWT. Salah satu cara yang mujarab adalah bersedekah. Ada suatu kisah yang sangat menginspirasi saya dan beberapa peserta training tadi. Tidak sedikit yang juga menangis kita kami para peserta memetik hikmah dari kisah ini. Ini adalah kisah dari Mbah Kemih. Teman-teman bisa membaca kisah ini sama persis yang saya baca tadi dari handbook yang dibagikan di Kisah Mbah Kemih (klik aja ya). Saya sangat anjurkan untuk teman-teman baca, dan menyerapi hikmah dari kisah beliau. Kisah beliau juga mengisahkan bahwa sedekah dapat membawa beliau ke tanah suci, tentunya diiringi juga dengan kedekatan beliau dengan Allah SWT.

Satu lagi yang sebenarnya sangat snagat membekas pada diri saya saat training tadi. Ketika kami para peserta telah menuliskan kapan akan pergi Umroh, bersama siapa, dan apa yang diinginkan pergi kesana, kami langsung disuruh melakukan action "sederhana" dengan mengirimkan pesan singkat by sms, Whatsapp, atau BBM ke orang yang kita niatkan untuk pergi bersama. :') Jadi, kalau saya  tadi mengirimkan pesan ini. hehe.. Jujur, saya gemetar, begitupun teman saya. Mungkin teman-teman juga bisa mencobanya. :')


Saya mengakui bahwa kadang kita terlalu takut untuk mengungkapkan mimpi yang begitu spesifik, bahkan dengan Allah sekalipun. Contoh, saya. Kenapa? Saya tidak mencantumkan tanggalnya, hanya bulan dan tahun. Mungkin teman-teman lebih berani? Alhamdulillah. Padahal, idealnya kita harus berani bermimpi se-spesifik mungkin, karena sebegitu yakinnya kita dengan mimpi yang akan terwujud. Begitu juga do'a, harus spesifik. Kalau kita merasa kurang yakin, seharsnya tidak. Karena kita punya Allah SWT yang Maha Kuasa, memiliki seisi jagat raya ini, kata Pak Ustad. Tapi saya setuju sih, hehe :)


Nah, kalau teman-teman sudah membaca kisah Mbah Kemih, maka akan memahami bahwa Umroh atau Haji bukan lagi mimpi bahkan untuk orang yang tidak mampu dalam arti tidak mampu secara ekonomi. Tapi, ketika memang Umroh adalah rejeki yang memang diperuntukkan kepada seseorang, misalnya seperti Mbah Kemih, maka Jadilah sesuatu itu (Kun Fayakun). Maka, memang benar bahwa Umroh merupakan undangan dariNya. Siapapun tidak dapat memanipulasi atau menggagalkannya ketika undangan itu sudah diberikan dari Allah SWT. Nah, jadi sebenarnya, setiap kita ummatNya berhak mendapatkan undangan untuk bertolak ke Tanah Suci. Hanya saja, kalau kata Ustad tadi saat training, kita belum bisa melihat atau undangan itu belum sampai karena frekuensi kita yang berbeda. Ilmu lagi yang saya dapat tadi saat training, ternyata ada loh do'a supaya kita mencapai frekuensi itu. Do'anya ada pada Surah Al-Hadid ayat 1-6 dan Surah Al-Hasyr ayat 22-24 (3 ayat terakhir). InsyaAllah, doa ini dapat membuat kita sampai pada frekuensi yang dimaksudkan. Do'a ini dapat dibaca setelah selesai sholat. :)

Nah, jadi kalau ada teman-teman yang punya keinginan untuk Umroh atau Haji, nggak perlu khawatir akan permasalahan duniawi (uang, kesehatan, dsb), yang penting yakin. Kalau saya simpulkan sih, semua itu dapat terwujud ketika kita memiliki niat yang besar, istiqomah dalam berdoa (jangan bolong-bolong doanya), ikhtiarnya juga jalan, di tambah dengan membaca surat Al-Hadid dan Al-Hasyr tadi, InsyaAllah undangan dari Allah akan sampai. Sekalinya undangan Allah itu kita dapat, maka tiada apapun yang dapat menghalanginya, InsyaAllah. Hehe...

Semoga cerita yang saya bagikan dapat bermanfaat untuk teman-teman. Semoga yang ingin di undang ke Tanah Suci, segera diundang dan semoga yang sudah pernah diundang agar dapat diundang kembali ke Tanah Suci :)

Wassalamualaikum! :)

19 Syawal 1437H