Sabtu, 23 Januari 2016

Keresahan Malam Mingguku

Standard
Perjalanan pulang pada malam kali ini membuatku resah. Keresahan yang membawa hatiku bergelora untuk tergerak membuat tulisan ini.

Dalam perjalanan menuju rumah, kudapati suara sirine semakin jelas terdengar. Dari radius entah berapa km, sayup-sayup suara sirine itu mulai berpadu dengan suara music dari handsfree di telingaku. Sumber suara sirine bagiku antara dua hal, yaitu ambulan atau polisi. Karena aku berkendara sepeda motor bersama ayahku, maka laju kami lebih cepat dibandingkan mobil-mobil yang sudah memadati jalan di sebelah kanan. Ya, teman-teman pasti tahu ruang sepeda motor di jalan raya. Tentu saja di bagian paling kiri dari ruang jalan raya, dan cukup minimalis bila kemacetan terjadi. Hanya beberapa pengendara saja yang melalui ruang tengah jalan raya.

Kami melaju terus tanpa hambatan berarti diikuti dengan suara sirine yang intensitasnya semakin kuat dan besar diterima oleh telingaku. Ternyata, sumber suara tersebut adalah sirine ambulan sebuah rumah sakit di Cibubur. Sirine itu nyaring terdengar, dan aku yakin sekali semua orang yang berada dekat dengan ambulan tersebut mendengarnya, kecuali yang memiliki gangguan pendengaran. Pun semua pengendara kendaraan bermotor mayoritas memiliki fungsi pendengaran yang baik. Kondisi jalan raya dalam keadaan yang cukup padat  namun masih memungkinkan untuk bergerak maju sejauh 2-3 m dengan rentang waktu yang tidak lama. Bagaimana dengan nasib ambulan tadi? Teman-teman mungkin dapat menebaknya. Tentu saja ambulan tersebut bernasib sama dengan mobil-mobil lainnya. Padahal, kita tahu bahwa ada nilai prioritas di sana ketika sirine ambulan berbunyi. Ada keadaan mendesak. Darurat, menyangkut kesehatan manusia, kebutuhan dasar yang vital, dapat pula menyangkut nyawa.

Melihat kondisi tersebut, sontak aku teringat pada postingan di salah satu jejaring sosial. Postingan tersebut menarik perhatianku kala itu, namun hanya sekian detik saja, kemudian berlalu. Tapi kini postingan itu merasuk hati yang sedang resah. Artikel tersebut menceritakan tentang sebuah negara, tepatnya adalah warga negaranya yang memiliki perilaku unik ketika jalan raya sedang padat (macet). Mereka, pengendara kendaraan bermotor (re: mobil) itu hanya menggunakan ruang jalan sebelah kanan dan kiri. Mereka mengosongkan ruang tengah jalan raya tersebut. Makna dari perilaku tersebut adalah memberikan ruang prioritas kepada yang membutuhkannya dalam keadaan darurat, seperti ambulan, pemadam kebakaran, dan yang lainnya. Menarik bukan? Mungkin bagi mereka itu tidak menarik karena menjadi hal yang biasa mereka lakukan. Akan tetapi, bagiku secara pribadi, adalah hal yang menarik karena aku tidak pernah melihat kejadian seperti itu terjadi, di sini, tanah airku. Atau mungkin teman-teman pernah melihatnya? Syukurlah kalau ada yang pernah. Kalau tidak, menjadi sebuah pertanyaan bagiku pribadi dan seharusnya juga kepada teman-teman, karena kita adalah manusia.

Katanya, manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang membutuhkan bantuan orang lain dan tidak dapat hidup sendiri. Makhluk satu-satunya pemilik harta bernama nurani, yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lain, spesial. Itu yang aku pelajari sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Menanggapi fenomena ambulan tadi dan juga adanya penambahan wawasan tentang perilaku yang ditunjukkan oleh warga negara di negara lain tersebut di atas, bagaimana pendapat teman-teman?

Tentu saja pendapatku adalah mungkin sekali kita teladani perilaku memberikan ruang prioritas di jalan. Tentu saja kepada yang berada dalam keadaan darurat untuk kepentingan masyarakat, bukan pribadi apalagi golongan, seperti ambulan tadi. Aku tahu, semua pengguna jalan raya memiliki berbagai keinginan, seperti ingin cepat sampai tujuan, sudah lelah, dan lain hal sehingga belum mampu terpikirkan sebuah solusi untuk memberikan ruang prioritas ketika jalan raya cukup padat. Macet bukan lagi menjadi alasan karena kita telah melihat hal serupa di negara lain. Mengapa kita tidak bisa? Padahal, sebagai pengendara kendaraan bermotor, tentukan saja untuk ambil posisi jalan paling kiri atau paling kanan, selap-selip diantara mobil ketika memiliki kesempatan dan mengosongkan ruang jalan raya bagian tengah.  Jika semua pengendara memikirkan hal ini ketika mulai mendengar sirine sebagai tanda keadaan darurat, makan ruang prioritas dengan mudah tercipta.
Keresahanku ini mungkin adalah puncaknya setelah membaca artikel di sebuah jejaring sosial. Terkait pihak yang menunggu bantuan darurat tersebut, Aku tahu, yang mengatur semuanya adalah Yang Maha Kuasa dengan takdirnya. Tapi, tak bisakah makhluknya berusaha barang sedikit saja untuk merubah nasib/takdir? Karena dari yang aku pelajari pada ajaran agama Islam bahwa kita dapat merubah takdir ketika kita mau berusaha. Ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka (Q.S Ar-Rad: 11).

Terima kasih kepada teman-teman yang mau membaca secuil keresahan dari makhluk Tuhan yang satu ini. Terima kasih banyak bagi yang membaca tulisan ini bila mulai mau melakukan hal tersebut di atas. Hal kecil terkadang memberikan pengaruh yang cukup signifikan meskipun dilakukan seorang diri, apalagi jika dilakukan bersama. Kritik dan saran sangat terbuka demi memperkaya pendapat ini yang cukup mendasar. Tulisan ini dibuat atas dasar emosionil penulis karena keresahannya, sebagai pemilik harta bernama nurani.

Cileungsi, Malam minggu
23 Januari 2015 21.24

Selasa, 12 Januari 2016

BBM: Berani Berbagi Mimpi

Standard
BBM, bukan akronim Bahan Bakar Minyak apalagi Bakso Bakwan Malang ._.
BBM yang dimaksud adalah Berani-Berbagi-Mimpi atau Dare to Share a Dream.

Terlalu lama tidak menulis, membuatku kehabisan kata-kata dan menjadi kaku untuk menulis. Maka, Aku memutuskan untuk menulis sekaligus berbagi tentang salah satu impianku kepada, kamu. Baru-baru ini, sebuah impian sangat mengganggu pikiran dan perasaanku. Perasaan ini yang hendak aku ceritakan kepada, kamu.

Kini Aku sudah berada pada ujung tanduk semester perkuliahan. Maka, skripsi adalah sesuatu hal lumrah bagi calon sarjana sepertiku ini. Jika Tuhan mengijinkan, Aku akan menjadi sarjana pada bulan Agustus 2016 (aamiin). Tapi, tentu skripsi, sebut saja si S itu harus Aku rampungkan hingga tuntas. Kenyataannya, kini Aku masih dalam proses pengerjaan proposal penelitian. Jika diibaratkan sebagai jarak tempuh perjalanan, maka saat ini Aku masih berada pada 1/4 jalan menuju tujuan akhir. 

Aku memilih bidang keperawatan maternitas untuk Si S ini. Tahukah kamu? Intinya, keperawatan maternitas adalah ilmu keperawatan yang berfokus untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan kehamilan atau melingkupi kesehatan ibu dan anak. Lebih spesifik lagi, Si S kepunyaanku akan membahas terkait peran menjadi ibu pada wanita yang baru pertama kali melahirkan (primipara). Sounds interesting, isnt it?

Suatu ketika saat Aku bimbingan dengan dosenku, beliau membuatku sadar akan suatu hal, yaitu kebermanfaatan sebuah penelitian.

"Coba perhatikan semuanya dibagian manfaat. Bagi Masyarakat. Apakah dengan data penelitian yang nanti akan dihasilkan akan memberikan manfaat kepada masyarakat secara langsung? Dengan penelitian ini, kita hanya akan mendapatkan informasi saja dari responden tanpa memberikan manfaat secara langsung. Kecuali kalau penelitiannya dengan memberikan suatu perlakuan eksperimen/intervensi/tindakan kepada responden penelitian kita."

Kalimat di atas tidak sepenuhnya tepat pada setiap kata, namun inti pesannya adalah demikian. Sejujurnya, saat menuliskan bagian manfaat pada Pendahuluan, Aku tidak sampai berpikir sejauh itu. Itulah yang membuatku sadar pada sesuatu hal yang mungkin 'sepele' untuk ditulis. Karena kesadaran itulah, impian untuk menerbitkan sebuah buku mulai mengganggu pikiranku.

Pada sub-bab manfaat di proposal penelitian, kutuliskan manfaat bagi ibu primipara (responden penelitian). Setelah kupikirkan lagi atas perkataan dosenku, ada benarnya juga. Untuk apa Aku tulis jika sebenarnya penelitianku ini tidak memberikan manfaat secara langsung untuk Ibu primipara? Ya memang bisa jadi bermanfaat, tetapi terlalu jauh. Hasil penelitianku ini yang merupakan penelitian studi deskriptif/gambaran hanya dapat memaparkan gambaran data fenomena kepuasan peran menjadi ibu. Data ini dapat bermanfaat untuk tenaga kesehatan atau pihak yang memiliki kepentingan untuk menindaklanjuti data ini. Namun, tidak bagi masyarakat ataupun Ibu primipara.

Kemudian Aku berpikir. *Ting* Buku! Ya, Membuat Buku!

Kata tidak mungkin akan menjadi mungkin bagi Masyarakat atau Ibu primipara untuk mendapat manfaatnya secara langsung melalui sebuah buku. Buku dapat memberikan informasi kepada sasarannya, yaitu pembaca. Maka dari itu, Aku percaya bahwa Impossible dapat bertransformasi menjadi I'm possible. Sejak saat itu, impian ini selalu menghantui dan menggebu.

Pertanyaan besar, muncul. Bagaimana Si S dapat dijadikan sebuah buku?

Ah, Aku jadi ingat perkataan seseorang. Dia bilang, ketika kita hendak mencari cara untuk mencapai sesuatu, mulailah dari kata tanya "Siapa", bukan "Bagaimana". Karena menurutnya, dari jawaban "Siapa" kita akan mendapatkan jawaban "Bagaimana". Dan, Aku sudah tahu jawaban "Siapa", juga Aku sudah mendapatkan jawaban "Bagaimana".

Pada akhirnya, Aku memberanikan diri untuk menulis. Tulisan ini memiliki tujuan sebagai pengingatku sendiri agar Aku tidak lupa bahwa saat ini Aku bersemangat sekali akan mewujudkan impian ini. Si S akan tuntas dalam 4-5 bulan ke depan. Bukan tidak mungkin manusia berubah pikiran, karena Tuhan yang menciptakannya dapat berkehendak untuk membolak-balikan hati manusia dalam sekejap. Pun, tulisan ini juga dapat membantuku sebagai pengingat dan penyemangatku melalui, kamu. :)

Ceritaku ini ternyata sesuai sekali dengan quotes oleh Walt Disney. First, think. Second, believe. Third, dream. And finally, dare. Juga tak lupa bahwa Man propose it, God Dispose it. Kamu juga dapat mencobanya! :)



12 Januari 2016
23.29 WIB

Kamis, 31 Desember 2015

KKN Kebangsaan 2015 Epilogue : Kawan Sabang Merauke

Standard
Beberapa jam lagi, tahun akan berganti. Pada akhir tahun ini, Aku akan menutup serial tulisan Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan ini tentang kawan-kawanku yang berasal dari asal daerah yang berbeda. Pertemuan memang memberikan makna tersendiri yang tidak pernah diprediksi sebelumnya.

Sejak awal berniat mengikuti kuliah kerja nyata (K2N) di kampus, nggak terbayang akan mendapatkan teman baru lintas suku dan daerah karena berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, K2N UI gak pernah bareng mahasiswa universitas lain. Lain ceritanya tahun ini, justru berkolaborasi dengan mahasiswa dari universitas se-nusantara.

Flashback akhir bulan Juli 2015, akhirnya Aku mendapatkan daftar nama-nama teman satu kelompok untuk Kuliah Kerja Nyata tahun ini. Aku, ternyata tergabung bersama 11 orang lainnya untuk selama satu bulan lamanya. Ini dia daftar nama beserta asal universitasnya.


Ya, Aku seorang diri dan juga teman-teman lainnya dari UI bernasib sama. Artinya, harus pandai berkawan. Hehe :D But, at first when I stared the listI had no idea with those my new friends' name, especially with named Petrus Wanggimu. Hehe.. .__.

Kawan pertama yang kontak diriku melalui aplikasi Line, mengaku bernama Joshua Dewantara yang kemudian ku sapa dengan sebutan akrab Jos. Kemudian kami saling berkenalan dan saling mencari kawan yang lainnya agar kemudian dapat membuat grup chat. Kemudian ada friend request di media sosial Facebook bernama Riyan Syah yang tidak lain adalah Hafriyansyah Harahap yang selanjutnya ku sapa Riyan. Kami berkenalan melalu chat message dan bertukar kontak agar mudah berkomunikasi. Aku lebih sering berkomunikasi dengan Jos saat pertama kali karena kami saling bekerja sama untuk mencari kawan kami yang 'entah di mana dia berada'. Kemudian, entah datangnya dari mana, Aku lupa persisnya bagaimana bisa dapat kontak bernama Nico Purwanto di Line. Kemudian Aku, Jos, dan Nico berada dalam satu grup line 'Kelompok 24'. Dan, kami yang sudah dipertemukan masih berusaha untuk mengumpulkan kepingan lain yang belum kami temukan :p

Ku lihat asal Universitas, Riyan harusnya kenal dengan Nurbaini. Akhirnya, kutanyakan padanya melalui chat FB. Yap! Akhirnya ku berteman dengan Nurbaini. Sayangnya, Riyan dan Nur tidak dapat bergabung di Line. Riyan hanya bisa di aplikasi Whatsapp sedangkan Nur pun tidak keduanya. Kemudian kuceritakan perkembangan ini kepada Jos (selalu) haha. Pun akhirnya Jos menemukan Mila Karmila, Santi Ramayani, dan Weny Noralita. Maulia Muzita, teman satu Universitas Jos juga sudah namun dia tidak dapat aktif di line maupun Whatsapp.

Kemudian kulihat lagi asal Universitasnya. Tara! UIN Jakarta. Hemm...Sebenarnya Aku banyak teman di sana, tapi ya sulit juga kan kalau gatau jurusannya. Akhirnya Aku menemukan nama yang sangat Aku kenal di daftar nama peserta KKN Kebangsaan namun di kelompok yang lain, namanya Dwinda Nur Oceani. :D Aku kenal Dwinda sejak kami satu acara kegiatan sosial di Sitanala, Tangerang. What a coincidence! ;) Akhirnya, kuputuskan untuk chat Whatsapp Dwinda menanyakan kontak bernama Hilmi Afif Ar-Rifqi dan mendapatkan kontaknya! Yeay! Berarti......yang belum kami temukan lagi adalah Petrus Wanggimu dan Ihsan Purnama. Iseng-iseng lagi kucari di search engine FB, aku temukan nama Ihsan Purnama kemudian mengiriminya sebuah pesan. Sayangnya, tidak kunjung mendapat balasan, huhu. Pun nama Petrus Wanggimu tidak dapat kutemukan di FB. Ya, sudahlah. 

Setelah berusaha mengumpulkan satu sama lain, akhirnya kami membuat grup di Whatsapp, meskipun pada akhirnya yang aktif cuap-cuap di sana hanya Aku, Jos, Nico, Riyan, Santi, dan Weny. :D Teknologi komunikasi sangat membantu sekali! Luar biasa! Sejak adanya grup itu, kami sering berkomunikasi, saling berkenalan, dan bercanda ria. :D

Dunia ayam (dibalik) sungguh berbeda dengan dunia bukan ayam. Mungkin juga Aku dinilai berbeda ketika chat di grup dengan ketika bertatap muka. Kawan pertama yang bertatap muka denganku adalah Nico. Kami bertemu karena UI dan UNILA pergi bersama menuju Pekanbaru. Kawan kedua justru bernama Petrus Wanggimu yang kemudian disapa Peter! Aku bertemu dan berkenalan dengannya ketika kami makan pagi di LPPM UR sekaligus memberi tahu kalau kami satu kelompok. Responnya cuek sekali, haha.. He even didnt ask about the other friends -_- Ku mulai berspekulasi bagaimana nanti Aku bisa bekerja sama selama satu bulan, meski Aku tahu sepatutnya tidak boleh berasumsi sebelum benar-benar tahu who they really are.

Kawan ketiga, adalah Santi! Aku sering kali chat dengannya sebelum bertemu hingga akhirnya kami janjian bertemu di LPPM UR dan kami berfoto bersama! Foto pertama kami :D Kemudian akhirnya Aku bertemu dan berkenalan dengan Jos, Riyan, Nur, Mila, Weny, Hilmi, dan Maulia (Imul) di Batalyon Infanteri. Kami, tidak bertemu Ihsan Purnama. Ternyata dia tidak ikut kegiatan ini. Kami masih terlihat sungkan satu sama lain, kecuali Aku dan Santi. Kami cepat sekali terlihat akrab dan juga Jos. Kedua orang inilah yang paling banyak bercengkrama denganku pada masa hari pertama bina mental fisik di Batalyon Infanteri. Nur juga cukup sering berbincang denganku. Namun, hari terakhir (hari ketiga) masa Bintal, barulah Aku berbincang dengan Hilmi karena kami satu barisan dan berdekatan (depan-belakang). Mungkin juga faktor posisi urutan barisan selama tiga hari, kami satu kelompok jadi sulit berbincang satu sama lain. Aku selalu berada hampir di barisan paling belakang. -_-

Dont judge the book by its cover! That's it. Seringkali kudengar.

Selama satu bulan lamanya, akhirnya (mungkin) kami saling mengenal satu sama lain. Aku sungguh bersyukur memiliki teman kelompok seperti mereka yang sama-sama berniat tuk membantu masyarakat. They have their uniqueness

Hilmi, paling lawak dan begitu mudahnya bergaul dengan masyarakat, khususnya bapak-bapak, hahaha dan yang paling sering di ajak Bopo (Pak Kades) jalan jalan. Ternyata juga jago mainin musik Hadroh. Selamat, Bro udah berhasil kasih khutbah Jum'at di desa. You, Rock! :D

Nur, yang kini Aku sering panggil dengan sapaan "Wak" atau kadang Kak Ros. "Wak" merupakan sapaan kepada teman sebaya di tanah Melayu, seperti "teh" bagi urang Sunda, ceunah. Nu memiliki logat yang miriiiiiiip banget sama Kak Ros di Upin-Ipin. Makanya, kami semua menyebutnya dengan sebutan Kak Ros. :D Paling cepet kalo mau tidur, haha. :D Paling konsisten ngajar ngaji di desa dan paling sering ngajak Iin sholat berjamaah di Mushola. I'm proud of you! Kak Ros sama kecilnya kayak Aku, tapi dia lebih berani bawa motor gede macam Kawasaki Ninja. Sedangkan Aku, naik motor matic aja masih was-was. :'D

Weny, paling muda diantara kami semua dan calon dokter, partner calon profesiku, perawat. :D Weny, aseli Riau tapi kuliah di Aceh. Aku mudah sekali tertular logatnya. Juga memiliki lantunan yang merdu kalau mengaji. :) Pioneer buat maskeran air beras dan ternyata jago design! So cool! Ah, Aku ingat sekali ketika kami sama-sama menyaksikan proses kelahiran seorang bayi laki-laki. Such a great experience that I ever had. Maybe you too, Wen. :)

Riyan, ketua kelompok! Riyan bagiku adalah seorang yang pendiam. Diamnya mungkin melebihi diamku. :D Calon psikologi yang bisa baca karakter orang melalui tulisan. Katanya, Aku adalah orang yang energik berdasarkan tulisan tanganku di buku catatan harian. Riyan juga yang paling konsisten shalat jamaah di mushola dan ngajar ngaji. Aku baru sadar ketika kami shalat Subuh berjamaah pada hari terakhir banget pas mau pulang, kalau lantunan bacaan ayat Al-Qur'an Riyan itu bagus!

Mila, sama lawaknya kayak Hilmi. Haha..Mila paling suka bercanda sama masyarakat. Ini yang membuat kami menjadi dekat khususnya para stakeholder desa. :)) Aseli Palembang dengan logatnya yang khas. Cuma Mila yang paling sering manggil Aku dengan "ii", panggilanku di rumah. :D Jurunya dokumentasi kalo kegiatan-kegiatan di desa. Milaaaaa, mau foto-foto, hiks. :'(

Nico, si kumis :|) Cuma doi yang berkumis dan sangat bangga dengan kumisnya serta jago membuat design. :D Keliatan paling diplomatis, apalagi kalo ngomongin soal pemerintahan, karena Jurusan Ilmu Pemerintahan. :D Nico, anggota yang punya buku bacaan bikin orang berpikir keras dan pendapatnya cukup kaya. Ternyata, aktipis bidang sosial-politik, hihi.. :3

Santi, yang paling sering cerita-cerita sejak awal kenalan. Jurusan perikanan dan punya misi yang sangat baik sesuai dengan jurusannya. Santi yang paling rajin bawa buku yang ukuranya tidak kecil bagiku. Buku itu tentang kemuslimahan. I feel fortunate, karena dipertemukan dengan orang-orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Bundo dari kami semua dannnnn pintar memasak! :3

Peter! Kini Aku sering sapa dengan sebutan "Pace", aseli Merauke. Kalo kata orang Papua, Pace artinya kakak, benarkan? hehe. Pace adalah orang yang paliiing rajin bangun pagi dan hanya dia yang selalu bangun sekitar jam 4-5 pagi. Sekali Aku pernah minta bangunkan dari jendela supaya bisa pergi jogging. Haha. Rasanya, cum Pace yang paling Anti dengan Cabai. Aku senang sekali karena Pace sering kali bercerita tentang kampung halamannya. :D Kadang juga suka membuat kami tertawa, terlepas kami paham atau tidak dari lelucon yang diceritakannya. Haha.. :D

Jos! Jos yang paling disenangi oleh anak-anak seantero desa Tanjung Damai. Udah kayak Bapaknya anak-anak. :D Jos juga baik hati dan sangat loyal, juga sangat bersih dan rapih. :D Paling tahu banget soal per-kelapa-sawit-an. Ilmunya dari perkuliahan sangat membantu masyarakat karena di desa mayoritas bertanam kelapa sawit. Aku jadi banyak tanya kepadanya dan jadi tahu bermacam-macam bentuk biji sawit. :)

Imul, blasteran Minang-Palembang. Imul orang yang sangat berani mengungkapkan pendapatnya. Aku kagum karena dia banyak tahu soal pertanian padahal jurusannya Kimia. :'D Bahkan dia tahu bagaimana cara mengolah kotoran hewan menjadi pupuk kompos, yang mana informasi tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Imul juga yang paling sering menemaniku membuat denah desa, Thansk a bunch, my adventure partner. :D




Yap! Aku sungguh senang bisa satu kelompok dengan mereka. Kita, saling melengkapi satu sama lain. Meski pernah saling adu pendapat, tapi akhirnya cair juga karena ada yang jago ngelawak. :D Tulisan ini mengakhiri rangkaian cerita tentang KKN Kebangsaan. Aku mengakhirinya meski sebenarnya cerita ini mungkin takkan pernah usai. :'D

Selamat Tahun Baru, 2016 Kawanku! See You, When I See You in Another Chance, in Another Great Place. Hope You Still Healthy and Happy, as Always :)


In One Frame :)


NB: Dari lubuk hati yang paling dalam, penulis meminta maaf kepada orang-orang yang bersangkutan pada tulisan ini jika ada yang kurang berkenan di hati. :)

Selasa, 15 Desember 2015

KKN Kebangsaan 2015 : Masyarakat Peduli Api

Standard
Hujan, sumber air
Hujan, sumber keberkahan
Hujan, pembawa kesejukan di muka bumi
Hujan, paling favorit dan dinanti oleh Masyarakat Peduli Api

Alhamdulillah, musim hujan sudah datang. Jakarta harus waspada akan banjir, namun Sumatera dan Kalimantan menantikannya. Bagi anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), hujan adalah musim yang paling favorit bagi mereka.

Masih dengan cerita tentang KKN Kebangsaan di desa Tanjung Damai. Program terakhir yang saya dan teman kelompok lakukan di desa Tanjung Damai adalah optimalisasi masyarakat peduli api (MPA). Masyarakat Peduli Api (MPA) adalah masyarakat yang secara sukarela peduli terhadap pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang telah dilatih/diberi pembekalan serta dapat diberdayakan untuk membantu kegiatan pengendalian kebakaran hutan. Anggota MPA merupakan bagian dari masyarakat yang rela untuk mengabdikan dirinya untuk masyarakat dalam pemadaman kebakaran lahan. Menurut peraturan menteri, tugas MPA adalah:
1.      Menjadi mitra dalam upaya pencegahan (penyuluhan di lingkungan tempat tinggal, keluarga dan kerabat)
2.      Melakukan patrol swadaya di lingkungan tempat tinggal
3.      Membantu Manggala Agni dalam pemadaman kebakaran
4.      Melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan melalui ketua regu, RT, RW, pemerintah daerah dan BKSDA/Mandala Agni

Kami, peserta KKN Kebangsaan di desa Tanjung Damai melakukan diskusi/ bincang-bincang bersama anggota MPA. Berdasarkan hasil diskusi, diketahui bahwa MPA desa Tanjung Damai telah dibentuk sejak akhir tahun 2012 yang di-inisiasi oleh kecamatan Siak Kecil. Pada tahun 2013, terbentuklah 10 anggota MPA desa Tanjung Damai. Terbentuknya Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa Tanjung Damai sangat membantu masyarakat dan pemerintah dalam penanggulangan kebakaran. Selama dua tahun terbentuk, MPA telah banyak membantu memadamkan kebakaran lahan di desa Tanjung Damai, khususnya ketika terjadi kemarau panjang.

Permukaan memang kadang selalu menipu. Pada kenyataannya, tidak semudah mengetik bahwa "MPA sangat membantu masyarakat". Banyak perjuangan, suka, dan dukanya bagi para anggota MPA. Bagi mereka sendiri, mungkin dukanya lebih banyak daripada sukanya, kecuali ketika musim hujan datang.

Perekrutan anggota MPA desa Tanjung Damai melalui pendekatan sesama teman, alias closed recruitment namun keanggotaan MPA mengalami pasang surut. Pertama kali dibentuk, terdiri atas 10 personil termasuk ketua. Padahal, jika sesuai protokol, anggota MPA minimal 15 orang. Secara bertahap beberapa anggota MPA mengundurkan diri, termasuk ketua pertama. Hal yang membuat anggota tersebut mundur adalah karena tidak sanggup menanggung risiko sebagai anggota MPA. Hingga saat ini, masih tetap dipertahankan dengan jumlah 10 orang.

Bincang-bincang santai bersama MPA
MPA desa Tanjung Damai cukup aktif dalam melakukan kegiatan. Mereka telah banyak membantu memadamkan lahan yang terbakar di area lahan gambut desa Tanjung Damai. Selain itu, mereka juga melakukan patroli rutin seminggu sekali dan turut aktif dalam menghadiri pelatihan-pelatihan. Terhitung sudah tiga kali beberapa anggota MPA yang mengikuti pelatihan bersama Manggala Agni, kelompok pemadam di bawah naungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Saya sangat mengapresiasi kepada semua anggota Masyarakat Peduli Api di Riau. Mereka begitu berani dan memiliki jiwa yang begitu besar dalam hal pengorbanan. Meski balasan dunia tak sebanding apa yang telah mereka lakukan, Tuhan akan membalasnya dengan hal yang setimpal. Aamiin...


Pelatihan Anggota MPA
Performance MPA pada Acara Perpisahan KKN Kebangsaan di Tanjung Damai





Senin, 02 November 2015

Setetes Darah, Kehidupan bagi Penderita Thalassemia

Standard
A life not live for others is not a life - Mother Theresa
Minggu lalu, saya praktik klinik di poli Thalassemia dan ruang Transfusi. Saat praktik, saya banyak melihat anak-anak menderita penyakit ini. Adapula yang sudah remaja hingga dewasa. Tujuan pasien Thalassemia datang ke Poli adalah untuk konsultasi dan tranfusi darah rutin. Rata-rata kadar Hemoglobin (Hb) pasien poli Thalassemia berkisar antara 5-10 g/dL. Wajah mereka tampak pucat. Setiap 3-4 minggu sekali, mereka harus datang untuk dilakukan transfusi darah, seumur hidup

Apa itu Thalassemia?

Thalassemia berasal dari bahasa Yunani, yaitu thalassa yang berarti laut dan haema berarti darah. Thalassemia adalah kelainan genetik sel darah merah yang rantai protein-alpha atau beta (pembentuk utama hemoglobin/sel darah merah) tidak terbentuk sebagian atau semuanya sehingga sel darah merah mudah pecah. Umumnya, sel darah merah bertahan hidup selama 120 hari. Menurut WHO, 6-10% penduduk Indonesia merupakan pembawa sifat Thalassemia. Berdasarkan data dari RSCM, tercatat 80-100 pasien baru /tahun.

Terdapat tiga kategori Thalassemia secara kasat mata, yaitu Thalassemia mayor, intermedia, dan pembawa sifat/karier. Thalassemia mayor membutuhkan transfusi darah secara rutin. Thalassemia Intermedia memiliki gejala ringan, dan membutuhkan transfusi darah namun tidak rutin, sedangkan Thalassemia minor tidak bergejala dan tidak membutuhkan transfusi darah. Gejala klinis bagi penderita Thalassemia diantaranya adalah pucat atau kuning, perut membesar, perubahan bentuk muka, kulit kehitaman, pertumbuhan terhambat, dan maloklusi (gigi condong ke depan atau tonggos).

Sedihnya, sampai saat ini belum ada obat penyembuh Thalassemia. Satu-satunya cara bagi penderita Thalassemia untuk hidup adalah dengan melakukan transfusi darah. Adapula terapi kelasi besi untuk mengeluarkan kelebihan besi dalam tubuh akibat transfusi darah terus-menerus. Biaya pengobatan rutin ini sekitar Rp 200-200 juta/tahun/pasien.
Bagan Penurunan Sifat Thalassemia

Untuk mengetahui apakah kita menderita Thalassemia minor, mayor atau normal adalah dengan melakukan pemeriksaan darah tepi beserta apusan darah tepi. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk melihat ukuran sel darah merah. Untuk memastikannya lagi, dapat dilakukan pemeriksaan analisis Hb. Lalu, pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan tersebut sebagai skrining Thalassemia sebelum menikah. Karena Thalassemia merupakan penyakit turunan. Apabila pasangan merupakan Thalassemia minor, maka anak dari pasangan tersebut dapat menderita Thalassemia mayor.
 

Donor darah adalah salah satu media dan kegiatan yang membantu dalam kelangsungan hidup penderita Thalassemia. Itulah makna dari quotes Mother Theresa sebagai pembuka postingan ini. Bukan kehidupan namanya apabila kita tidak berbagi kepada banyak orang. Saya tidak bisa membayangkan jika saya menjadi penderita atau menjadi orang tua dari penderita Thalassemia. Namun, saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Ya, saya yakin mereka adalah orang-orang pilihan. :')

Sumber informasi: RSCM FK UI. Mengenal lebih dekat Thalassemia. Leaflet.

Minggu, 25 Oktober 2015

KKN Kebangsaan 2015: Akar Tanjung Damai

Standard
Masih dengan isu asap. Riau dipenuhi asap kembali dan terparah ada di provinsi Palembang. Bahkan, asap sudah merambah ke provinsi Lampung. Aku (masih) akan berkisah tentang kegiatan KKN Kebangsaan 2015 di desa Tanjung Damai, Bengkalis, Riau.

Judul tulisan ini dibuat bukan untuk meniru novel Akar-nya Dee. Akan tetapi, Aku memang akan membahas permasalahan kebakaran hutan dan lahan di desa Tanjung Damai dari masyarakat itu sendiri. Kami, peserta KKN Kebangsaan 2015 di desa Tanjung Damai mencoba untuk terjun melalui grass root, akar rumput bersama masyarakat melalui program Edukasi Informal Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Lembaga Masyarakat.

Edukasi informal ini merupakan salah satu program KKN Kebangsaan yang memberikan informasi tentang karlahut kepada masyarakat secara umum dan lembaga masyarakat pada khususnya. Masyarakat dan Lembaga Masyarakat menjadi sasaran program karena dapat berperan aktif untuk mencegah terjadinya karlahut di masyarakat. Kami melakukan diskusi informal ini di lima dusun desa Tanjung Damai, yaitu dusun Sumber Agung, Sumber Makmur, Sumber Rejo, Sumber Rejeki, dan Sumber Sari. Metode yang kami gunakan adalah dengan focus group discussion, yang mana peserta FGD merupakan masyarakat yang menjadi perwakilan dari lembaga masyarakat, seperti BPD, LAM, MPA, PKK, Karang Taruna, Gapoktan, Kelompok Tani, dan sebagainya. Sesungguhnya Aku pribadi berterima kasih sekali karena telah diajarkan komunikasi terapeutik di kampus. Proses komunikasi terapeutik ini digunakan pada pelaksanaan FGD, meliputi fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi. Sehingga, pada pelaksanaan FGD ini dapat berjalan dengan baik.

Dusun Sumber Agung
Dusun Sumber Makmur
Temuan menarik pada hasil diskusi bersama masyarakat adalah bahwa sebenarnya mereka sudah memahami betul tentang lahan gambut yang mudah sekali terbakar. Masyarakat paham sekali bahwa puntung rokok yang masih menyisakan bara api, jika dibuang ke lahan gambut secara sembarangan, maka akan memicu kebakaran. Bahkan, Aku jadi tahu bahwa pohon karet juga berkontribusi terhadap penyebaran menjalarnya api jika api tersebut mengenai getah karet. Selain itu, masyarakat mengeluhkan kurangnya sumber air di parit ketika musim kemarau panjang tiba. Kemudian penyediaan alat-alat pemadam kebakaran yang minim juga menjadi masalah jika terjadi kebakaran hutan. Alat pemadam kebakaran yang dimiliki desa Tanjung Damai adalah 1 robbin dan selang dengan panjang 200m. Maka, jika terjadi kebakaran dengan jangkauan lebih 200m, alat yang dimiliki tidak mampu memadamkan api.

Temuan menarik lainnya adalah pada sisi pelaku pembakar lahan dan terkait hukum. Papan peraturan perundang-undangan mengenai larangan membakar lahan secara sengaja sudah terpasang di dekat kebun sawit warga sejak 2012. Peserta diskusi mengatakan bahwa terjadi penurunan perilaku membakar lahan di desa karena masyarakat takut akan denda akibat pelanggaran hukum, yaitu dipenjara 5-10 tahun dan didenda hingga 10 miliar rupiah. Tidak hanya itu, ada oknum lain yang sengaja membakar lahan, yaitu suruhan pemilik lahan yang mana pemilik lahan merupakan bukan penduduk desa. Sebenarnya, masyarakat mengungkapkan bahwa mereka tidak ingin membakar lahan secara sengaja. Namun mereka tidak memiliki pilihan lain. Cara lainnya untuk membuka lahan adalah dengan menggunakan alat berat. Sedangkan masyarakat tidak mampu menghadirkan alat berat ke desa karena finansial dan juga akses jalan. Selain itu juga, masyarakat desa Tanjung Damai mengaku belum memiliki peraturan daerah (perda) yang mengatur pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan secara khusus yang mana perda ini dapat membantu mencegah terjadinya pembukaan lahan dengan cara dibakar secara sengaja.

Dusun Sumber Rejeki
Diskusi Informal bersama Gabungan Kelompok Tani
Setelah proses diskusi, peserta diskusi merasa senang dengan adanya diskusi informal untuk membahas pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di desa. Hasil yang diperoleh dari proses diskusi ini adalah beberapa solusi yang dikemukakan oleh peserta diskusi yang notabene adalah perwakilan dari masyarakat desa Tanjung Damai. Melalui program ini, masyarakat memetakan permasalahan dan mencari solusinya bersama, secara demokrasi. Berikut adalah poin-poin solusi yang ditawarkan oleh peserta diskusi informal di desa Tanjung Damai.

1. Pembuatan peraturan desa mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan       di Desa Tanjung Damai.
2. Penambahan alat pemadam kebakaran untuk Masyarakat Peduli Api Desa Tanjung Damai
3. Pembuatan tower pemantau titik api dengan tinggi 10-15 m di area rawan kebakaran.
4. Pembuatan bendungan air permanen dari Sungai Puput serta kanal/parit untuk lahan berjarak 400
    m sebagai sumber air ketika musim kemarau panjang.
5. Perbaikan akses jalur pertanian.

Testimoni dari Peserta Edukasi Informal
Proses pelaksanaan program ini mengajarkan Aku banyak hal tentang permasalahan di masyarakat. Bahwasanya, sebagai mahasiswa, standing position adalah sebagai advokator. Ya, statement ini memang sudah dibold ketika pembekalan materi K2N UI 2015. Selain itu, mahasiswa juga dapat menyalurkan ide-idenya untuk mengatasi permasalahan di masyarakat sesuai dengan bidang ilmunya. Aku juga belajar secara langsung bahwa masyarakat dapat menjadi semangat sekali apabila diajak berdiskusi mengenai permasalahan yang ada hingga memunculkan sebuah solusi yang dapat dilaksanakan. Kemudian, Aku juga belajar bahwa seharusnya pemerintah memberikan bantuan atau solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri, bukan melihat kebutuhan dari kacamata pemberi bantuan. Oleh karena itu, diperlukan proses diskusi atau assessment pada masyarakat secara langsung. Langsung ke akarnya.

Opini terakhir dari penulis. Penulis menyadari bahwa tidak banyak jumlah anak yang menempuh pendidikan tinggi di sebuah desa apalagi desa terpencil. Pada pelaksanaan diskusi bersama masyarakat, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat membutuhkan support dan pemicu melalui ide-ide segar sebagai solusi dari berbagai permasalahan. Sebagai penyandang status mahasiswa maupun yang sudah melepaskan statusnya dengan gelar sarjan atau yang lebih tinggi, sebaiknya tidak menjadi kacang lupa pada kulitnya. Kembalilah dan ingat jalan pulang, lalu ciptakan perubahan.













Minggu, 18 Oktober 2015

Kehamilan pada Usia Remaja

Standard

Di Ruang Rawat Khusus Kasus Kesehatan Reproduksi dan Kehamilan

"Selamat Pagi.. :) Saya Suster Iin. *Ragu bilang Ibu* Mbak namanya siapa? Usia mbak berapa?Saya mau periksa tekanan darah, nadi, suhu, dan napas mbak dulu ya.. :)"- saya
"14 tahun suster"- pasien
*muka datar* *senyum lagi**ngasih tau hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV)*
"Pemeriksaannya sudah selesai. Selamat istirahat kembali, X. :)"- saya

Pindah pasien lagi dengan rencana caesarian section (operasi sesar).

"Selamat Pagi.. :) Saya suster Iin. Siapa nama Ibu? Berapa usia Ibu?"- saya
"Y, suster. 15 tahun"- pasien
*glek*
"Wah, masih muda ya.. Suster mau periksa tekanan darah dulu ya... :)"- saya

Begitulah kira-kira kejadian hari pertama praktik klinik pada stase maternitas di suatu rumah sakit. Oleh-olehnya, tidak hanya ilmu dan pengalaman yang diperoleh, tetapi juga bahan renungan. Tentang kehamilan pada usia remaja. Saya cukup dibuat kaget bertemu pasien dengan usia remaja di ruang rawat  khusus maternitas. Renungan yang cukup membuat hati bergetar, sungguh meski agak berlebihan. Menurut saya pribadi, bertemu tiga pasien maternitas dengan usia remaja adalah jumlah yang banyak, tidak sedikit.

Ternyata, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2012, angka kejadian kasus kehamilan pada usia remaja (15-19 tahun) di Indonesia mencapai 48 dari 1000 kehamilan (BKKBN, 2014). Pun Indonesia menempati urutan kedua tertinggi pernikahan usia muda setelah Kamboja (Isfandari & Lolong, 2014). Pada sisi lain, Indonesia belum mencapai target dalam tujuan MDGs pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Kehamilan adalah suatu krisis maturitas yang dapat menimbulkan stres, tetapi berharga karena wanita tersebut menyiapkan diri untuk memberi perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar (Bobak, 2005). Dengan adanya kehamilan, maka wanita mengalami perubahan konsep diri untuk siap menjadi orang tua. Hal ini sesuai dengan tugas perkembangan usia dewasa yang dimulai pada usia 18 sampai 35 tahun, yaitu menentukan pasangan hidup, belajar untuk menyesuaikan diri dan hidup bersama pasangan hidup,  membentuk keluarga, belajar mengasuh anak, mengelola rumah tangga, meniti karir atau melanjutkan pendidikan, mulai bertanggung jawab sebagai warga negara, dan memperoleh kelompok sosial yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya (Havighurst dalam Adranita, 2008).

Sesuai dengan teori, bahwa kehamilan, kelahiran adalah tugas perkembangan usia dewasa dan tentunya berbeda dengan tahap perkembangan usia remaja. Menurut Havighurst dalam Ramadan (2013), tugas perkembangan usia remaja adalah berinteraksi sosial dengan teman sebaya, mengetahui dan menjalankan peran sosial, mengenali dirinya baik secara fisik dan psikologis, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, mencapai kemandirian emosional, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapkan pernikahan dan keluarga (pengetahuan), dan memperoleh nilai sebagai pegangan untuk berperilaku.  Maka, sudah jelas bahwa kehamilan dan pernikahan adalah belum saatnya terjadi bagi usia remaja untuk mengemban tugas perkembangan usia dewasa. Hal ini dapat berakibat pada konflik psikologis bagi usia remaja.

Lalu, kapan usia yang ideal untuk hamil? Menurut BKKBN, usia ideal untuk hamil adalah kisaran 20-30 tahun. Jika hamil di luar rentang usia tersebut, maka akan berisiko. Seorang wanita dikatakan siap apabila sudah siap baik dari aspek psikologis, fisik, dan sosial ekonomi (Bobak, 2005). Pada sisi sudut pandang pria, kesiapan menyambut kehamilan adalah ketika keuangan relatif cukup, hubungan yang stabil dengan pasangan, dan kepuasan dalam hubungan tanpa anak (May, 1982 dalam Bobak, 2005).

Jika sesuatu terjadi pada waktu yang tidak tepat, akan memberikan dampak negatif. Bagi remaja yang sudah mengalami masa kehamilan, maka tugas perkembangan remaja yang seharusnya dilalui, dapat tidak tercapai secara optimal. Pun akan terjadi hal serupa pada penyelesaian tugas perkembangan usia dewasa. Anak tidak dapat melanjutkan pendidikannya, belum siap secara mental, serta kesulitan-kesulitan lainnya. Lebih fatal lagi adalah jika terjadi stress dan depresi pada anak.

Dunia kini sudah sangat terbuka. Terbuka dalam pergaulan hingga menimbulkan kasus kehamilan pada usia remaja. Sebaliknya, keterbukaan dalam informasi harus dimanfaatkan. Informasi mengenai persiapan kehamilan banyak tersedia baik di pelayanan kesehatan maupun media massa dan elektronik. Seyogyanya, bagi pembaca yang dalam hal ini menempati posisi sebagai kerabat dekat, keluarga, dan siapapun yang mengetahui informasi ini, ada baiknya membantu untuk menjaga kesehatan anak remaja baik secara fisik maupun psikologisnya. Bagi anak remaja, sebaiknya menjaga diri sendiri dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai usia. Karena, sesuatu yang berlebihan dan tidak sesuai pada porsinya akan memberikan pengaruh yang mungkin tidak baik. :)

Buat adik-adik,
Stay young, Stay Healthy, Stay Happy! Cheers! 
*Hiks, Masa remajanya udah lewat. :'). Abaikan, Hehehe*

Referensi.
Adranita, M. (2008). Perbedaan Fokus Karir antara Pekerja Dewasa Muda yang Mengalami Pindah    Kerja dan Tidak Pindah Kerja di Jakarta. Diakses dari http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126729-331.702+AND+p+-+Perbedaan+Fokus+-+Literatur.pdf
Bobak, et al. (2005). Maternity & Women Health Care seventh edition. Elsevier Mosby, Inc
BKKBN. (2014). Aktivitas Seksual Remaja. diakses dari http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?     BeritaID=1770
Isfandari,S & Lolong, DB. (2014). Analisa Faktor Risiko dan Status Kesehatan Remaja Indonesia      Pada Dekade Mendatang. Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 42, No. 2
Ramadan, MP. (2013). Hubungan Antara Penerimaan Perkembangan Fisik dengan Kematangan    Emosi pada Remaja Awal. diakses dari http://repository.upi.edu/9377/2/s_psi_0800503_chapter1.pdf