Kamis, 03 September 2020

Milik Siapa?!

Standard

 


Terik matahari membuat logika mendidih, dan bertanya-tanya 

Aku ini milik siapa? 

Apakah orang tuaku memilikiku? 

Saat bayi baru saja melihat dunia, 

Apakah perempuan yang telah melahirkan lantas memiliki bayi itu?

Saat beranjak dewasa, kemudian terjadi akad diantara dua manusia dalam wujud pernikahan, 

Apakah kemudian suami menjadi milik istri dan istri milik suami?

Saat telah menjalani kehidupan sekian lamanya, kerutan wajah semakin tampak dan usia tak lagi muda,

Apakah seorang nenek dan kakek milik cucu dan sebaliknya? 

Atau..bahkan pertanyaan ini menjadi

Apakah aku dimiliki aku? 

Jika dunia ini mengenal hukum sebab - akibat, 

Maka rasa "kepemilikan" akan menghadirkan rasa "kehilangan"

Logika ini mendidihkan nyala nurani

Lalu berkata, 

Ternyata,di dunia ini tidak ada yang saling memiliki, selainNya

Maka, kata "kehilangan" berubah menjadi "pengembalian", 

Seperti yang tertulis, Innaalillahi wa innaa ilaihi rajiun

"Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNyalah kami kembali"

Lalu, untuk apa merumitkan sesuatu yang bukan milik? 

Maka tak seharusnya ada "perebutan" sesuatu/sesiapa dari sesiapa

Bahwa akupun tidak dimiliki oleh diriku

Satu yang pasti, Aku, milikNya..



3 September 2020

Cileungsi

Selasa, 28 Juli 2020

Ruang Baru : Bookpodcasting

Standard




Assalamualaikum wr wb
Ahlan wa sahlan yaaa, Dzulhijjah..  😁

Bersamaan dengan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah ini, turut mengabarkan bahwa aku membuka ruang baru sebagai wadah me-review/mengulas/mengulik konten buku-buku yang kubaca. Ruang baru itu adalah Bookpodcasting! 

Bookpodcasting adalah nama baru untuk podcast yang baru saja aku buat. Sudah terbit satu episode podcast yang membahas sebuah buku. Podcast memang bukan media yang tergolong baru, namun sedang booming dan banyak sekali orang yang memulai podcast, termasuk aku. Bookpodcasting ini sebenarnya hampir serupa dengan audiobook. Hanya saja, tidak membaca text buku kata-perkata dari halaman awal hingga akhir. Hanya membahas konten buku dan menyampaikan beberapa pendapatku pribadi tentang konten buku tersebut. Harapan dengan adanya podcast ini adalah supaya bisa lebih persuasif untuk mengajak teman-teman ikut membaca apa yang menjadi ketertarikanku juga dengan suatu buku.  Sebagai informasi, insyaAllah buku-buku yang akan aku review di podcast ini adalah buku-buku tentang Islam yang ringan untuk dibaca. Semoga ruang baru ini dapat memberikan kebermanfaatan. Aamiin. 

Yuk, mampir! 

Bookpodcasting : 

Rabu, 15 Juli 2020

Bidadari Bumi

Standard


Judul buku : Bidadari Bumi
Pengarang : Halimah Alaydrus
Penerbit : Wafa Production
Tahun terbit : July 2009
Tebal buku : 147 halaman
Harga buku : Rp40.000


Seruanmu memanggil namaKu adalah jawabanKu
Kerinduanmu padaKu adalah pesanKu untukmu
Segala upayamu untuk menggapaiKu ada hakikatnya adalah upayaKu menggapaimu 
Ketakutan dan cintamu adalah simpul untuk mendapati Aku
Dalam keheningan yang mengelilingi setiap seruan "Allah"
menanti seribu jawaban 
"Di sinilah Aku"


Bismillahirrahmanirrahim.. 

Alhamdulillah, kali ini dijodohkan untuk bisa membaca buku Bidadari Bumi karya Ustadzah Halimah Alaydrus. Buku ini membahas tentang kisah pertemuan penulis dengan wanita-wanita shalihah selama menempuh pendidikan di Hadramaut , Tarim,  Yaman. 

Mayoritas buku membahas wanita shalihah di jamam Nabi. Buku ini menawarkan kisah berbeda dengan menyuguhkan berbagai kisah nyata dengan wanita sholihah di jaman now, era akhir zaman, masa setelah Nabi wafat, era modern. Hanya ada 9 kisah yang disajikan penulis. Sebagai pembaca, 9 kisah ini termasuk sedikit dan berharap lebih dari itu. Meski hanya sedikit, tapi hikmah dari setiap kisahnya sangat menggugah dan mampu membuat merubah mindsetku sebagai pembaca.

Kisah-kisah yang suguhkan begitu menarik. Kisah pertama berjudul Hubabah Tillah, ajarkan aku berdoa sepertimu. Kisah kedua berjudul Sang Pembawa Pesan, Ketiga membahas kisah tentang Zuhud, Keempat berjudul Malam Panjang di Mina, Kelima berkisah tentang Wanita di Bis, Keenam berjudul Erika, Ketujuh berjudul Pesta Agung,  Kedelapan berjudul Dokter Hati, Terakhir berkisah tentang Hari-Hari bersama Hubabah Bahiyyah. 

Setiap kisahnya memiliki pesan bermakna dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim/ah. Bagiku, yang paling menarik dari buku ini ada ada kisah pertama, kelima, dan terakhir. Kisah keenam juga menarik. Penulis dengan apiknya menjabarkan kisah dengan cukup detil dan mampu membawa pembaca dalam suasana yang dikisahkan. Penulis juga memberi penjelasan beberapa kosa kata yang sulit dan beberapa istilah yang jarang ditemui dalam bahasa Indonesia. Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Buku ini bagaikan tetes air di tengah gurun pasir, mampu menggugah, menyuburkan dan membangunkan kembali iman yang mulai terasa kering. 

Kali ini, aku mencoba mereview buku ini melalui audio di podcastku:


Personal Rate : 8/10

Selamat membaca dan menyimak, semoga bermanfaat.. 

Selasa, 09 Juni 2020

Pegang Ia Erat

Standard


Hidup tinggallah hidup 
Seringnya tersesat
Seringnya tidak fokus
Ada gundah
Ada gelisah
Hadirnya masalah adalah keharusan
Ada sesal
Ada luka
Entah perkara harta, tahta, atau cinta
Dunia membuat manusia salah arah
Kembalilah.. 
Kembalilah kepada Allah
Pegang erat Al-Qur'an
Maka segala susah menjadi pelita
Ingatkah kamu? 
Dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenang.. 
Hadapilah dengan sabar dan sholat
Bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.. 
Bersabarlah dalam ketaatan
Manisnya hidup kan terasa setelah lelah bersabar
Manisnya iman akan terasa setelah lelah bersabar
Maka, kembalilah.. 
Jangan pernah putus asa.. 
Ingatlah Nabi Zakariya yang tak pernah berhenti berdoa pada Tuhannya
Ingatlah Nabi Ayyub yang tak lelah bersabar dalam sakitnya..
Hidup hanya panggung sandiwara
Dunia bukan akhir segalanya ketika kau ingat bahwa kau masih memiliki akhirat.. 
Tetap teguhlah dan sabar dalam ketaatan..
Jangan biarkan diri tersesat tuk kesekian kalinya..
Pegang teguhlah pada Al-Qur'an
Pegang Ia erat
Jadikan Ia sahabat terbaik, di kala senang dan susah..
Maka, segala penawar hati akan diberikannya..

Senin, 08 Juni 2020

Senandung Shalawat Badar

Standard



Shalatullah Salamullah
'Alaa Thoha Rasulillah.. 
Shalatullah, Salamullah
'Alaa Yasiin,  Habibillah..

Dalam kegelapan menuju sang fajar
Saat menunggu waktu shubuh
Suara lembut dari seberang jendela memecahkan suasana hening
Suara itu melantunkan shalawat badar di tengah kota
Lantunan shalawat badar yang membuka pintu kerinduan
Suara magis yang membawa alam bawah sadar terbang jauh

Shalawat penuh memori dalam kehidupan
Saat seorang Ayah menggendong anaknya yang menangis
Saat seorang Ibu berusaha menidurkan bayinya
Momen kerinduan kampung halaman di tengah perantauan kota
Hingga merindu kekasih Yang Maha Kuasa

Tawassalna Bibismillah
Wabilhadii Rasulillah
Wakullimuja Hidilillah
Bi ahlil badri yaa Allah.. 

Ilaahi sallimil ummah
Minal aafaati wannighmah
Wa min hammin wa min ghummah
Bi ahlil badri yaa Allah.. 



*Coba dibaca sambil mendengarkan shalawat badar*


Credit video : from Youtube (https://youtu.be/x1fk4z4Ozuk)

Sabtu, 30 Mei 2020

Kematian Pasien

Standard


Assalamualaikum readers.. 
Semoga sehat selalu ditengah pandemi Covid-19 yang entah sampai kapan akan berakhir.. 

Judul postinganku kali ini agak mengerikan ya? Membahas kematian pasien.. Sebenarnya bukan untuk membahas bagaimana terjadinya kematian pasien, tetapi lebih kepada respon emosional perawat dalam menghadapi kematian pasien. Ide ini berawal setelah dua hari berturut-turut selama dinas, aku menghadapi kematian pasien di IGD. Meski itu bukan kali pertama, tapi sudah entah keberapa kalinya pengalaman menghadapi kematian pasien dan keluarga yang ditinggalkan. Ketika itu, saat melepas semua alat medis pada pasien yang telah meninggal tersebut, aku selalu bertanya dengan diri sendiri, apakah hatiku akan mati rasa karena terbiasa menghadapi ini? Mengapa aku tidak bisa menangis? Bagaimana seandainya jika yang meninggal adalah kerabat dekatku? Akankah pengalaman yang 'biasa' ini mempengaruhiku dalam berespons terhadap kematian seseorang meskipun terjadi pada orang terdekatku sekalipun?

Sewaktu kecil, aku sangat takut sekali dengan jenazah. Bahkan amat sangat takut hantu, film horror, keranda, dan sejenisnya.  Seiring waktu, rasa itu memudar. Saat menjadi mahasiswa keperawatan, kali pertama aku menghadapi kematian pasien, aku tidak berani untuk melihat perawat membersihkan semua alat medis dari pasien yang meninggal. Aku lebih memilih memberi support emosional pada keluarga yang ditinggalkan, menemaninya, dan memberi ruang untuk mengekspresikan kesedihannya. Kemudian, setelah sekian lama dan aku menjadi perawat, untuk sekian lamanya kembali aku menghadapi kematian pasien. Seketika rasa takut yang dahulu itu hilang, yang ada hanya perasaan bimbang dan tidak bisa lagi menjelaskan apa yang dirasakan saat aku melepas semua alat medis pasien tersebut. Tidak ada lagi yang bisa aku ucapkan kepada keluarganya. Hanya menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Pada momen lain, aku merasa sangat kehilangan dan sedih saat pasienku meninggal. Hingga membuatku bisa menuliskan tiga karya untuknya di blog ini juga. Hal itu terjadi karena interaksiku dengannya cukup dekat dan sering. Setelah berpindah tugas di IGD, aku menjadi lebih sering menghadapi kematian pasien. Setelah sekian kalinya melepas alat medis dan merapihkan tubuh pasien yang meninggal, sudah tidak bisa merasakan apapun. Tidak ada usaha apapun juga dariku untuk mencoba berbicara dengan keluarganya karena memang tidak tahu harus berkata apa. Pun jika aku mencoba bertanya pada diri sendiri, akupun tak tahu bagaimana harus menjawab tentang apa yang kurasakan. 

Pengalaman ini membuatku penasaran, apakah hal ini wajar terjadi? Aku sempat menyampaikan kerisauanku ini pada teman sejawatku yang juga sesama perawat saat melepaskan alat medis pada pasien yang meninggal, bahwa aku takut hal ini membuatku mati rasa. Tapi tak ada jawabnya juga. Akhirnya, aku mencoba mencari riset tentang hal ini, dan ternyata sudah banyak yang melakukannya.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa respon emosional perawat terhadap kematian pasien dapat berbeda tergantung usia pasien,  ekspektasi kondisi pasien menuju kematian, pengalaman pertama menghadapi kematian pasien,  menghubungkan kematian pasien dengan kehidupan personal, dan lamanya interaksi dengan pasien dan keluarganya. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa respon emosional ini juga dapat berbeda antara menghadapi kematian di rawat inap dan IGD. Penelitian menunjukkan bahwa reaksi menghadapi kematian di IGD adalah shock dan terkejut sedangkan di rawat inap, reaksi yang sering muncul adalah perasaan sedih dan berduka mendalam. Reaksi emosi yang mungkin muncul menghadapi kematian pasien di rawat inap: kesedihan, ketidakberdayaan,  berduka, kekecewaan, simpati, tangisan, merasa terganggu, sakit hati,  iritasi, trauma, cemas. Sedangkan di IGD : frustasi, shock,  ketidakberdayaan, bingung, dan kaget. Ditemukan juga dokter mengalami insomnia, kelelahan sebagai akibat dari respon emosional seperti kesedihan dan kekecewaan. 

Banyak studi menemukan bahwa kematian di IGD memberi pengaruh minimal terhadap emosional. Hal ini terjadi karena situasi di IGD unik dn berbeda dari ruang rawat inap, karena umumnya jarang terjadi hubungan yang begitu dekat dengan pasien dan keluarganya. Kematian terjadi secara tiba-tiba, bisa terjadi pada yang muda dan yang sebelumnya sehat-sehat saja. Setelah menghadapi kematian pasien, biasanya segera ke tindakan pasien lainnya. Selain itu, studi lain menunjukkan bahwa yang membuat perawat IGD sulit memberikan perhatian lebih kepada keluarga pasien yang meninggal karena kesibukan lain,  kurangnya privasi, dan diharuskan merawat pasien lainnya. Hal ini menjadi tantangan bagi perawat untuk tetap bisa memberikan perhatian dan memberikan support kepada keluarga pasien yang ditinggalkan. Namun, perawat juga tetap bisa memberikan support dalam bentuk perhatian pada pasien yang meninggal berupa mengijinkan keluarga hadir ketika tindakan resusitasi,  menyediakan ruangan yang nyaman, memberikan privasi bagi pasien dan keluarga pasien untuk melepas duka. Fakta lainnya, penelitian menganjurkan adanya sesi debriefing dan counseling dalam menghadapi kematian di IGD.  

Pada kesimpulannya, respons emosional menghadapi kematian pasien bisa berbeda-beda dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Satu hal positif yang dapat dilakukan sebagai tenaga medis dalam menghadapi kematian pasien adalah meyakini bahwa telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien. Ini salah satu dari hasil penelitian yang kubaca. Kematian memang bukan kuasa manusia. Setelah kupikirkan, pentingnya untuk terus belajar dan mengupgrade ilmu adalah kewajiban sebagai tenaga kesehatan. Hal tersebut juga menjadi salah satu upaya dan tindakan konkrit dalam membuktikan "telah melakukan yang terbaik" untuk menghadapi kematian pasien sebaik-baiknya. Selain itu, hanya diri kita sendiri yang dapat menilai apakah perlu untuk konseling atau tidak. Karena tidak ada salahnya mencari bantuan professional ketika dinilai sudah mengganggu kehidupan pribadi. 

Sumber:

Nicholas J. B., et al. 2017. The effect of patient death on medical students in the emergency department. BMC Medical Education 


Kerry Anne-Hogan, et al. 2016. When someone dies in the Emergency Department: Perspectives of Emergency Nurses. Journal of Emergency Nursing. 



Rabu, 13 Mei 2020

Istiqamahkan Hati, Menjaga Hijrah Hingga Nanti

Standard

Istiqamahkan Hati, Menjaga Hijrah Hingga Nanti
“Hijrah” merupakan kata yang sering digaungkan oleh banyak orang, khususnya kaum pemuda. Bahkan, hijrah juga menjadi salah satu topik kajian yang menarik dan sering dibahas serta diperbincangkan. Terlebih lagi, tidak sedikit artis Indonesia yang juga menggaungkan fenomena hijrah sehingga menambahkan eksistensi kata hijrah itu sendiri. Euforia hijrah tak jarang bagaikan kondisi air laut, kadang pasang, dan kadang pula surut. Pasang saat semua berbondong-bondong menggaungkan semangat untuk hijrah. Surut ketika diri mulai lengah karena begitu banyak tantangan dalam menjaga hakikat hijrah dalam kehidupan, yaitu istiqamah. Seperti kata pepatah, “semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya, semakin kencang anginnya”, maka menjaga ke-istiqamah-an dalam berhijrah sesungguhnya sangat tidak mudah, kecuali memiliki ilmu untuk selalu mengupayakannya.
Hijrah banyak dimaknai dengan berpindah menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam Islam, ada dua jenis hijrah, yaitu hijrah zahir atau fisik dan hijrah jiwa atau spiritual. Hijrah zahir, yaitu berpindah tempat tinggal atau tempat. Hijrah spiritual, yaitu menuju pada perbaikan diri. Adapun Rasulullah SAW bersabda, “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala laranganNya (H.R. Imam Bukhari)”[1]. Maka, hijrah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah hijrah spiritual.
Pembahasan tentang proses hijrah seperti mengulas proses menanam pohon yang berbuah. Pada saat menanam, kita akan memilih bibit terbaik untuk menghasilkan buah yang juga terbaik. Dengan harapan akan memperoleh buah yang baik, maka setiap detik pertumbuhannya akan diperhatikan dan dijaga dengan baik. Jika ada serangga atau hama pada tanaman, makan akan segera dihilangkan. Dalam rangka menjaga tanaman untuk terus bertumbuh, tak jarang diberi pupuk. Segala upaya akan dilakukan hingga buah dari pohon dapat dipetik. Begitu pula dengan proses dalam berhijrah. Hal yang sangat penting sebelum memulai hijrah adalah menentukan niat. Niat diibaratkan pemilihan bibit terbaik sebelum menanam. Rasulullah SAW menegaskan tentang niat dalam berhijrah pada sebuah hadis shahih, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju. (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907)”. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sebaik-baik niat hijrah adalah untuk Allah dan RasulNya.
Buah terbaik dari hijrahnya seseorang adalah istiqamah. Istiqamah berasal dari kata “Qaama” yang artinya tegak lurus, berdiri. Dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah mendefinisikan istiqamah sebagai meniti jalan yang lurus, yaitu agama (Islam) yang lurus, tak bengkok ke kanan dan ke kiri, dan mencakup pelaksanaan semua ketaatan, baik yang zhahir maupun batin, dan menghindari semua larangan-larangan (Allah)[2]. Ibnul Qayyim menambahkan makna tentang istiqamah dalam kitabnya Madarijus Salikin, bahwa istiqamah itu terkait dengan ucapan, perbuatan dan niat[3]. Istiqamah dalam berhijrah, artinya upaya terus-menerus dalam meniti dan menegakkan jalan yang lurus serta bentuk sinergi antara batin dan zahir melalui akhlak yang mulia.
Apabila buah dari hakikat proses hijrah adalah istiqamah, maka pokok dasar istiqamah adalah tentang hati. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Tidak akan istiqamah (tegak) iman seorang hamba hingga hatinya istiqamah (HR. Ahmad dalam al-Musnad No.13048, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)”. Hadits Nabi SAW juga menyebutkan, “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baik pulalah seluruh jasad dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Segumpal daging itu adalah qalbu (hati).” (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599). Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah pun mengatakan bahwa “Pokok istiqamah adalah istiqamahnya hati di atas tauhid”. Pentingnya aspek hati dalam mencapai istiqamah ini pula menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan kondisi hati dalam proses hijrah.
Pada kenyataannya, urusan tentang hati dalam proses hijrah untuk mewujudkan istiqamah merupakan tantangan yang tidak mudah. Hal yang menyebabkan ini menjadi tidak mudah adalah manusia memiliki hawa nafsu yang membuat iman berada pada kondisi pasang-surut. Keadaan pasang-surut iman seseorang ini menggambarkan kondisi hatinya, apakah dia dalam keadaan qalbun salim (hati yang bersih) atau keadaan qalbun maridh (hati yang sakit) atau bahkan qalbun mayyit (hati yang mati). Saat kondisi hati sedang baik, maka yang akan muncul adalah semangat dalam beribadah, menuntut ilmu agama, dan berusaha menjauhi segala maksiat. Sebaliknya, apabila hati dalam keadaan sakit, maka akan timbul rasa malas, mungkin saja kembali lagi pada kondisi saat sebelum hijrah. Hal lebih buruk dari kondisi hati yang sakit adalah matinya hati. Saat hati dalam kondisi mati, maka tidak dapat menerima nasihat apapun dan hal paling buruk yang mungkin terjadi adalah berpalingnya dari Allah SWT.
Beruntung sekali Indonesia memiliki banyak komunitas dan tokoh-tokoh influencer serta lingkungan yang mengajak pada jalan kebaikan menuju proses hijrah. Komunitas pemuda muslim di Jakarta, seperti Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) Menteng, YukNgaji!, Muzammil Hasballah sebagai salah satu influencer, dan masih banyak lagi. Peluang-peluang kebaikan tersebut adalah salah satu upaya menjaga kondisi hati tetap sehat dan menyembuhkan hati yang sakit. Akan tetapi, kita juga perlu belajar dari kisah orang lain yang telah hijrah namun hatinya dipalingkan atas kehendak Allah SWT. Dapat kita ambil contoh salah satu selebgram Indonesia yang sebelumnya berbusana serba terbuka hingga hijrah dan mengenakan hijab menutupi lekuk tubuhnya. Namun, kini selebgram yang telah hijrah tersebut, telah berpaling dari agama Allah SWT. Tidak sedikit pula tokoh terkenal yang keluar dari agama Allah setelah mendapat petunjuk dariNya. Hal ini menunjukkan bahwa urusan hati dalam proses hijrah sangat tidak bisa diremehkan. Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa, “Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140][4]. Selama proses hijrah, kita tidak boleh lupa bahwa yang menggenggam dan berkuasa terhadap hati manusia adalah Allah, Dialah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW senantiasa berdo'a sekaligus mengajarkan kepada ummatnya agar hati kita selalu teguh dalam agama Allah, yaitu 
يا مقلب القلوب ثبت قلبي علي دينك
yang artinya, “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.”
Selain mendawamkan do'a yang diajarkan Rasulullah SAW, kita juga perlu melakukan beberapa upaya dalam menjaga istiqamahnya hati dalam proses hijrah. Syekh Al Buthi, dalam kitabnya yang berjudul Bathin al-Itsm menyebutkan solusi dalam permasalahan hati/dosa batin yang tersembunyi, yaitu senantiasa melakukan refleksi diri dengan merenungi tujuan hidup atau hakikat hidup manusia dan senantiasa mengingat adanya pengawasan Allah SWT terhadap segala perbuatan manusia, membiasakan diri mengingat Allah dengan berdzikir, wirid, dan/atau tilawah Al-Qur'an, memperbanyak do'a, dan menghindari memakan sesuatu yang haram[5]. Sayid Abu Bakr dalam kitabnya yang berjudul Kifayatul Atqiya menambahkan tentang upaya mengobati hati, yaitu dengan berkumpul bersama orang-orang yang shaleh, yang dapat membimbing dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik. Selain itu, Syekh Al-Buthi juga menyebutkan bahwa diantara sebab matinya hati adalah penyakit hati dan maksiat yang dilakukan dari ujung kaki hingga ujung kepala manusia. Hal ini sesuai dengan ancaman Allah dalam surat Al -Muthaffifin ayat 14, yang berfirman bahwa “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”.
Sejatinya, proses hijrah terus berlangsung selama kita masih bernapas. Apabila dikembalikan pada analogi proses menanam tanaman, maka kondisi saat tanaman mati itulah menggambarkan pula kondisi saat ajal menjemput kita. Apakah kita ingin tanaman itu mati dengan meninggalkan banyak buah yang manis atau sebaliknya? Tanpa ragu, setiap hambaNya pasti menginginkan malaikat pencabut nyawa mengambil nyawa kita dalam sebaik-baiknya keadaan, yaitu husnul khotimah. Oleh karena hakikat dari sebuah hijrah adalah istiqamah, dan pokoknya dari istiqamah adalah hati, maka jagalah kondisi hati agar tetap sehat (qalbun salim) hingga saatnya kita kembali padaNya. Karena sesungguhnya, hal yang paling menyakitkan dari upaya hijrahnya seseorang adalah dipalingkan hatinya setelah Allah beri petunjuk dalam hidupnya.
Wallahu A'lam Bisshowabi.
Sumber :
[1]https://www.nu.or.id/post/read/81402/hijrah-sebuah-renungan
[2] https://muslim.or.id/32376-10-kiat-istiqamah-5.html
[3]https://muslim.or.id/33387-10-kiat-istiqomah-10.html
[4] https://muslim.or.id/31345-10-kiat-istiqamah-3.html
[5] Al-Buthi, M. Said Ramadhan. (2019). Dosa (Batin) yang Tersembunyi. Yogyakarta: Penerbit Layar.

Tulisan ini telah diikutsertakan pada lomba Milad YISC Al-Azhar ke-49 dan dapat di akses juga pada https://www.yisc-alazhar.or.id/juara-lomba-karya-tulis-desain-logo-milad-49-tahun-yisc-al-azhar/ .

Semoga bermanfaat..