Minggu, 27 Desember 2020

Titik Langkah

Standard




Pernahkah kamu berhenti sejenak dalam sebuah perjalanan?

Pada satu titik, langkah terhenti

Seketika ada rasa ingin mundur

Seketika pula berdesir rasa untuk melangkah maju


Kemudian menghela napas panjang,

Menyadari bahwa kamu menghadapi satu persimpangan,

Dan menghantuimu dengan segala rasa ketidakpastian

Juga terpaksa untuk membuat sebuah pilihan

Jalan mana yang kemudian kan dipilih?

Risiko apa yang harus dihadapi?

Baikkah itu untukku?

Burukkah itu untukku?

Lalu, semua itu akan bermuara pada : "Bagaimana menurutNya?"


Terkadang, hidup itu terkesan bagai perjudian

Kadang merasa beruntung, kadang pula naas

Tapi Dia mengingatkan bahwa dunia adalah permainan, tempat senda gurau

Lalu, mengapa kita harus terlalu serius meratapinya?


Pada satu titik langkah,

Hidup itu semudah melakukan napas dalam secara spontan,

Cukup dijalani pada satu tarikan napas dan disyukuri setiap hembusannya,

Meski terkadang manusia itu sendiri yang membuatnya rumit bagai puting beliung.


Cileungsi,

27 Desember 2020

Selasa, 15 Desember 2020

My Sincere Apology

Standard

 



Di tengah sunyinya malam, semua terasa jernih
Satu kata yang menguasai kejernihan ini adalah "Maaf"
Aku tahu, ini bukan momen idul fitri
Juga bukan momen yang lazim untuk saling memaafkan
Namun, dengan penuh kesadaran,
Ingin kusampaikan permohonan maafku untuk mu,

Untuk mu, wahai Tuhanku,yang Maha Segalanya..
Atas segala kelalaianku,
Iman yang selalu naik dan turun,
Selalu meminta tanpa tahu diri,
Maafkan..

Untuk mu, diriku sendiri..
Yang berulang kali melakukan kesalahan,
Yang berulang kali ingkar janji,
Juga yang kadang menyalahkan diri sendiri,
Maafkan..

Untuk mu, Bapak dan Mama..
Atas segala keterbatasanku,
Ketidakmampuanku dalam menemukan "titik temu",
Yang mungkin juga kadang berat sebelah,
Juga belum maksimal menjadi anak yang berbakti,
Maafkan..

Untukmu, kerabat dekat..
Atas kehadiranku,yang mungkin antara ada dan tiada,
Presensiku yang hilang timbul,
Seperti singa yang terjebak dalam kandangnya,
Rasa malu yang lebih besar untuk sekadar mengatakan "Hai, apa kabar?"
Maafkan..

Untukmu, guru..
atas segala kelancangan diri dalam bersikap,
yang lebih percaya pendapat sendiri dan mengesampingkan nasihatmu,
Segala keluhan dan rintihan terhadap perintahmu,
Maafkan..


Untukmu, partner hidup..
atas kurangnya kepekaan,
segala arogansi dan ekspektasi,
juga inkonsistensi upaya diri,
Maafkan..


Untukmu, sahabat, kakak,teman-teman, rekan kerja..
Canda-tawa yang mungkin menyakiti hati,
lancangnya diri dalam bersikap,
lenturnya lidah dalam berkata-kata,
kurangnya akhlak dalam bersikap,
Maafkan...

Aku tidak tahu kapan napas ini terhenti,
juga tidak tahu bagaimana aku akan mati..
apakah sempat mengucapkan permohonan maafku?
aku tidak tahu..
aku hanya ingin menyampaikan,
aku telah dan akan melepaskan segala rasa sakitku terhadapmu,
maka aku berharap kamu juga melepas segala rasa sakit yang disebabkan karenaku..
Agar perkara ini hanya tersisa antara Aku dan Tuhanku..
Maafkanlah aku..



Cileungsi,
15 Desember 2020

Rabu, 02 Desember 2020

Dede Ganteng

Standard

 


Dede Ganteng


Wajahnya pucat pasi, 

Terkadang kulitnya tampak menguning, 

Rumah sakit menjadi destinasinya setiap bulan, 

Sebab transfusi darah adalah makanan pokoknya yang kedua, 

Thalasemia lekat dalam tubuhnya, 

Jalan hidupnya harus bergantung pada darah orang lain, 

Sudah puluhan kali dan harus berdamai dengan tusukan jarum suntik, 

Kala itu, saat akan melakukan transfusi, ku tanya.. 

Siapa namanya? 

Dia menjawab, 

Dede anteng (baca : ganteng). ☺


NB : Yuk, donor darah!  Banyak penderita Thalasemia yang membutuhkan darah kita. Tulisanku tentang Thalasemia bisa di baca di sini --> Setetes Darah, Kehidupan Bagi Penderita Thalasemia. ☺




Kamis, 03 September 2020

Milik Siapa?!

Standard

 


Terik matahari membuat logika mendidih, dan bertanya-tanya 

Aku ini milik siapa? 

Apakah orang tuaku memilikiku? 

Saat bayi baru saja melihat dunia, 

Apakah perempuan yang telah melahirkan lantas memiliki bayi itu?

Saat beranjak dewasa, kemudian terjadi akad diantara dua manusia dalam wujud pernikahan, 

Apakah kemudian suami menjadi milik istri dan istri milik suami?

Saat telah menjalani kehidupan sekian lamanya, kerutan wajah semakin tampak dan usia tak lagi muda,

Apakah seorang nenek dan kakek milik cucu dan sebaliknya? 

Atau..bahkan pertanyaan ini menjadi

Apakah aku dimiliki aku? 

Jika dunia ini mengenal hukum sebab - akibat, 

Maka rasa "kepemilikan" akan menghadirkan rasa "kehilangan"

Logika ini mendidihkan nyala nurani

Lalu berkata, 

Ternyata,di dunia ini tidak ada yang saling memiliki, selainNya

Maka, kata "kehilangan" berubah menjadi "pengembalian", 

Seperti yang tertulis, Innaalillahi wa innaa ilaihi rajiun

"Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNyalah kami kembali"

Lalu, untuk apa merumitkan sesuatu yang bukan milik? 

Maka tak seharusnya ada "perebutan" sesuatu/sesiapa dari sesiapa

Bahwa akupun tidak dimiliki oleh diriku

Satu yang pasti, Aku, milikNya..



3 September 2020

Cileungsi

Selasa, 28 Juli 2020

Ruang Baru : Bookpodcasting

Standard




Assalamualaikum wr wb
Ahlan wa sahlan yaaa, Dzulhijjah..  😁

Bersamaan dengan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah ini, turut mengabarkan bahwa aku membuka ruang baru sebagai wadah me-review/mengulas/mengulik konten buku-buku yang kubaca. Ruang baru itu adalah Bookpodcasting! 

Bookpodcasting adalah nama baru untuk podcast yang baru saja aku buat. Sudah terbit satu episode podcast yang membahas sebuah buku. Podcast memang bukan media yang tergolong baru, namun sedang booming dan banyak sekali orang yang memulai podcast, termasuk aku. Bookpodcasting ini sebenarnya hampir serupa dengan audiobook. Hanya saja, tidak membaca text buku kata-perkata dari halaman awal hingga akhir. Hanya membahas konten buku dan menyampaikan beberapa pendapatku pribadi tentang konten buku tersebut. Harapan dengan adanya podcast ini adalah supaya bisa lebih persuasif untuk mengajak teman-teman ikut membaca apa yang menjadi ketertarikanku juga dengan suatu buku.  Sebagai informasi, insyaAllah buku-buku yang akan aku review di podcast ini adalah buku-buku tentang Islam yang ringan untuk dibaca. Semoga ruang baru ini dapat memberikan kebermanfaatan. Aamiin. 

Yuk, mampir! 

Bookpodcasting : 

Rabu, 15 Juli 2020

Bidadari Bumi

Standard


Judul buku : Bidadari Bumi
Pengarang : Halimah Alaydrus
Penerbit : Wafa Production
Tahun terbit : July 2009
Tebal buku : 147 halaman
Harga buku : Rp40.000


Seruanmu memanggil namaKu adalah jawabanKu
Kerinduanmu padaKu adalah pesanKu untukmu
Segala upayamu untuk menggapaiKu ada hakikatnya adalah upayaKu menggapaimu 
Ketakutan dan cintamu adalah simpul untuk mendapati Aku
Dalam keheningan yang mengelilingi setiap seruan "Allah"
menanti seribu jawaban 
"Di sinilah Aku"


Bismillahirrahmanirrahim.. 

Alhamdulillah, kali ini dijodohkan untuk bisa membaca buku Bidadari Bumi karya Ustadzah Halimah Alaydrus. Buku ini membahas tentang kisah pertemuan penulis dengan wanita-wanita shalihah selama menempuh pendidikan di Hadramaut , Tarim,  Yaman. 

Mayoritas buku membahas wanita shalihah di jamam Nabi. Buku ini menawarkan kisah berbeda dengan menyuguhkan berbagai kisah nyata dengan wanita sholihah di jaman now, era akhir zaman, masa setelah Nabi wafat, era modern. Hanya ada 9 kisah yang disajikan penulis. Sebagai pembaca, 9 kisah ini termasuk sedikit dan berharap lebih dari itu. Meski hanya sedikit, tapi hikmah dari setiap kisahnya sangat menggugah dan mampu membuat merubah mindsetku sebagai pembaca.

Kisah-kisah yang suguhkan begitu menarik. Kisah pertama berjudul Hubabah Tillah, ajarkan aku berdoa sepertimu. Kisah kedua berjudul Sang Pembawa Pesan, Ketiga membahas kisah tentang Zuhud, Keempat berjudul Malam Panjang di Mina, Kelima berkisah tentang Wanita di Bis, Keenam berjudul Erika, Ketujuh berjudul Pesta Agung,  Kedelapan berjudul Dokter Hati, Terakhir berkisah tentang Hari-Hari bersama Hubabah Bahiyyah. 

Setiap kisahnya memiliki pesan bermakna dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim/ah. Bagiku, yang paling menarik dari buku ini ada ada kisah pertama, kelima, dan terakhir. Kisah keenam juga menarik. Penulis dengan apiknya menjabarkan kisah dengan cukup detil dan mampu membawa pembaca dalam suasana yang dikisahkan. Penulis juga memberi penjelasan beberapa kosa kata yang sulit dan beberapa istilah yang jarang ditemui dalam bahasa Indonesia. Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Buku ini bagaikan tetes air di tengah gurun pasir, mampu menggugah, menyuburkan dan membangunkan kembali iman yang mulai terasa kering. 

Kali ini, aku mencoba mereview buku ini melalui audio di podcastku:


Personal Rate : 8/10

Selamat membaca dan menyimak, semoga bermanfaat.. 

Selasa, 09 Juni 2020

Pegang Ia Erat

Standard


Hidup tinggallah hidup 
Seringnya tersesat
Seringnya tidak fokus
Ada gundah
Ada gelisah
Hadirnya masalah adalah keharusan
Ada sesal
Ada luka
Entah perkara harta, tahta, atau cinta
Dunia membuat manusia salah arah
Kembalilah.. 
Kembalilah kepada Allah
Pegang erat Al-Qur'an
Maka segala susah menjadi pelita
Ingatkah kamu? 
Dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenang.. 
Hadapilah dengan sabar dan sholat
Bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.. 
Bersabarlah dalam ketaatan
Manisnya hidup kan terasa setelah lelah bersabar
Manisnya iman akan terasa setelah lelah bersabar
Maka, kembalilah.. 
Jangan pernah putus asa.. 
Ingatlah Nabi Zakariya yang tak pernah berhenti berdoa pada Tuhannya
Ingatlah Nabi Ayyub yang tak lelah bersabar dalam sakitnya..
Hidup hanya panggung sandiwara
Dunia bukan akhir segalanya ketika kau ingat bahwa kau masih memiliki akhirat.. 
Tetap teguhlah dan sabar dalam ketaatan..
Jangan biarkan diri tersesat tuk kesekian kalinya..
Pegang teguhlah pada Al-Qur'an
Pegang Ia erat
Jadikan Ia sahabat terbaik, di kala senang dan susah..
Maka, segala penawar hati akan diberikannya..

Senin, 08 Juni 2020

Senandung Shalawat Badar

Standard



Shalatullah Salamullah
'Alaa Thoha Rasulillah.. 
Shalatullah, Salamullah
'Alaa Yasiin,  Habibillah..

Dalam kegelapan menuju sang fajar
Saat menunggu waktu shubuh
Suara lembut dari seberang jendela memecahkan suasana hening
Suara itu melantunkan shalawat badar di tengah kota
Lantunan shalawat badar yang membuka pintu kerinduan
Suara magis yang membawa alam bawah sadar terbang jauh

Shalawat penuh memori dalam kehidupan
Saat seorang Ayah menggendong anaknya yang menangis
Saat seorang Ibu berusaha menidurkan bayinya
Momen kerinduan kampung halaman di tengah perantauan kota
Hingga merindu kekasih Yang Maha Kuasa

Tawassalna Bibismillah
Wabilhadii Rasulillah
Wakullimuja Hidilillah
Bi ahlil badri yaa Allah.. 

Ilaahi sallimil ummah
Minal aafaati wannighmah
Wa min hammin wa min ghummah
Bi ahlil badri yaa Allah.. 



*Coba dibaca sambil mendengarkan shalawat badar*


Credit video : from Youtube (https://youtu.be/x1fk4z4Ozuk)

Sabtu, 30 Mei 2020

Kematian Pasien

Standard


Assalamualaikum readers.. 
Semoga sehat selalu ditengah pandemi Covid-19 yang entah sampai kapan akan berakhir.. 

Judul postinganku kali ini agak mengerikan ya? Membahas kematian pasien.. Sebenarnya bukan untuk membahas bagaimana terjadinya kematian pasien, tetapi lebih kepada respon emosional perawat dalam menghadapi kematian pasien. Ide ini berawal setelah dua hari berturut-turut selama dinas, aku menghadapi kematian pasien di IGD. Meski itu bukan kali pertama, tapi sudah entah keberapa kalinya pengalaman menghadapi kematian pasien dan keluarga yang ditinggalkan. Ketika itu, saat melepas semua alat medis pada pasien yang telah meninggal tersebut, aku selalu bertanya dengan diri sendiri, apakah hatiku akan mati rasa karena terbiasa menghadapi ini? Mengapa aku tidak bisa menangis? Bagaimana seandainya jika yang meninggal adalah kerabat dekatku? Akankah pengalaman yang 'biasa' ini mempengaruhiku dalam berespons terhadap kematian seseorang meskipun terjadi pada orang terdekatku sekalipun?

Sewaktu kecil, aku sangat takut sekali dengan jenazah. Bahkan amat sangat takut hantu, film horror, keranda, dan sejenisnya.  Seiring waktu, rasa itu memudar. Saat menjadi mahasiswa keperawatan, kali pertama aku menghadapi kematian pasien, aku tidak berani untuk melihat perawat membersihkan semua alat medis dari pasien yang meninggal. Aku lebih memilih memberi support emosional pada keluarga yang ditinggalkan, menemaninya, dan memberi ruang untuk mengekspresikan kesedihannya. Kemudian, setelah sekian lama dan aku menjadi perawat, untuk sekian lamanya kembali aku menghadapi kematian pasien. Seketika rasa takut yang dahulu itu hilang, yang ada hanya perasaan bimbang dan tidak bisa lagi menjelaskan apa yang dirasakan saat aku melepas semua alat medis pasien tersebut. Tidak ada lagi yang bisa aku ucapkan kepada keluarganya. Hanya menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Pada momen lain, aku merasa sangat kehilangan dan sedih saat pasienku meninggal. Hingga membuatku bisa menuliskan tiga karya untuknya di blog ini juga. Hal itu terjadi karena interaksiku dengannya cukup dekat dan sering. Setelah berpindah tugas di IGD, aku menjadi lebih sering menghadapi kematian pasien. Setelah sekian kalinya melepas alat medis dan merapihkan tubuh pasien yang meninggal, sudah tidak bisa merasakan apapun. Tidak ada usaha apapun juga dariku untuk mencoba berbicara dengan keluarganya karena memang tidak tahu harus berkata apa. Pun jika aku mencoba bertanya pada diri sendiri, akupun tak tahu bagaimana harus menjawab tentang apa yang kurasakan. 

Pengalaman ini membuatku penasaran, apakah hal ini wajar terjadi? Aku sempat menyampaikan kerisauanku ini pada teman sejawatku yang juga sesama perawat saat melepaskan alat medis pada pasien yang meninggal, bahwa aku takut hal ini membuatku mati rasa. Tapi tak ada jawabnya juga. Akhirnya, aku mencoba mencari riset tentang hal ini, dan ternyata sudah banyak yang melakukannya.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa respon emosional perawat terhadap kematian pasien dapat berbeda tergantung usia pasien,  ekspektasi kondisi pasien menuju kematian, pengalaman pertama menghadapi kematian pasien,  menghubungkan kematian pasien dengan kehidupan personal, dan lamanya interaksi dengan pasien dan keluarganya. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa respon emosional ini juga dapat berbeda antara menghadapi kematian di rawat inap dan IGD. Penelitian menunjukkan bahwa reaksi menghadapi kematian di IGD adalah shock dan terkejut sedangkan di rawat inap, reaksi yang sering muncul adalah perasaan sedih dan berduka mendalam. Reaksi emosi yang mungkin muncul menghadapi kematian pasien di rawat inap: kesedihan, ketidakberdayaan,  berduka, kekecewaan, simpati, tangisan, merasa terganggu, sakit hati,  iritasi, trauma, cemas. Sedangkan di IGD : frustasi, shock,  ketidakberdayaan, bingung, dan kaget. Ditemukan juga dokter mengalami insomnia, kelelahan sebagai akibat dari respon emosional seperti kesedihan dan kekecewaan. 

Banyak studi menemukan bahwa kematian di IGD memberi pengaruh minimal terhadap emosional. Hal ini terjadi karena situasi di IGD unik dn berbeda dari ruang rawat inap, karena umumnya jarang terjadi hubungan yang begitu dekat dengan pasien dan keluarganya. Kematian terjadi secara tiba-tiba, bisa terjadi pada yang muda dan yang sebelumnya sehat-sehat saja. Setelah menghadapi kematian pasien, biasanya segera ke tindakan pasien lainnya. Selain itu, studi lain menunjukkan bahwa yang membuat perawat IGD sulit memberikan perhatian lebih kepada keluarga pasien yang meninggal karena kesibukan lain,  kurangnya privasi, dan diharuskan merawat pasien lainnya. Hal ini menjadi tantangan bagi perawat untuk tetap bisa memberikan perhatian dan memberikan support kepada keluarga pasien yang ditinggalkan. Namun, perawat juga tetap bisa memberikan support dalam bentuk perhatian pada pasien yang meninggal berupa mengijinkan keluarga hadir ketika tindakan resusitasi,  menyediakan ruangan yang nyaman, memberikan privasi bagi pasien dan keluarga pasien untuk melepas duka. Fakta lainnya, penelitian menganjurkan adanya sesi debriefing dan counseling dalam menghadapi kematian di IGD.  

Pada kesimpulannya, respons emosional menghadapi kematian pasien bisa berbeda-beda dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Satu hal positif yang dapat dilakukan sebagai tenaga medis dalam menghadapi kematian pasien adalah meyakini bahwa telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien. Ini salah satu dari hasil penelitian yang kubaca. Kematian memang bukan kuasa manusia. Setelah kupikirkan, pentingnya untuk terus belajar dan mengupgrade ilmu adalah kewajiban sebagai tenaga kesehatan. Hal tersebut juga menjadi salah satu upaya dan tindakan konkrit dalam membuktikan "telah melakukan yang terbaik" untuk menghadapi kematian pasien sebaik-baiknya. Selain itu, hanya diri kita sendiri yang dapat menilai apakah perlu untuk konseling atau tidak. Karena tidak ada salahnya mencari bantuan professional ketika dinilai sudah mengganggu kehidupan pribadi. 

Sumber:

Nicholas J. B., et al. 2017. The effect of patient death on medical students in the emergency department. BMC Medical Education 


Kerry Anne-Hogan, et al. 2016. When someone dies in the Emergency Department: Perspectives of Emergency Nurses. Journal of Emergency Nursing. 



Rabu, 13 Mei 2020

Istiqamahkan Hati, Menjaga Hijrah Hingga Nanti

Standard

Istiqamahkan Hati, Menjaga Hijrah Hingga Nanti
“Hijrah” merupakan kata yang sering digaungkan oleh banyak orang, khususnya kaum pemuda. Bahkan, hijrah juga menjadi salah satu topik kajian yang menarik dan sering dibahas serta diperbincangkan. Terlebih lagi, tidak sedikit artis Indonesia yang juga menggaungkan fenomena hijrah sehingga menambahkan eksistensi kata hijrah itu sendiri. Euforia hijrah tak jarang bagaikan kondisi air laut, kadang pasang, dan kadang pula surut. Pasang saat semua berbondong-bondong menggaungkan semangat untuk hijrah. Surut ketika diri mulai lengah karena begitu banyak tantangan dalam menjaga hakikat hijrah dalam kehidupan, yaitu istiqamah. Seperti kata pepatah, “semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya, semakin kencang anginnya”, maka menjaga ke-istiqamah-an dalam berhijrah sesungguhnya sangat tidak mudah, kecuali memiliki ilmu untuk selalu mengupayakannya.
Hijrah banyak dimaknai dengan berpindah menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam Islam, ada dua jenis hijrah, yaitu hijrah zahir atau fisik dan hijrah jiwa atau spiritual. Hijrah zahir, yaitu berpindah tempat tinggal atau tempat. Hijrah spiritual, yaitu menuju pada perbaikan diri. Adapun Rasulullah SAW bersabda, “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala laranganNya (H.R. Imam Bukhari)”[1]. Maka, hijrah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah hijrah spiritual.
Pembahasan tentang proses hijrah seperti mengulas proses menanam pohon yang berbuah. Pada saat menanam, kita akan memilih bibit terbaik untuk menghasilkan buah yang juga terbaik. Dengan harapan akan memperoleh buah yang baik, maka setiap detik pertumbuhannya akan diperhatikan dan dijaga dengan baik. Jika ada serangga atau hama pada tanaman, makan akan segera dihilangkan. Dalam rangka menjaga tanaman untuk terus bertumbuh, tak jarang diberi pupuk. Segala upaya akan dilakukan hingga buah dari pohon dapat dipetik. Begitu pula dengan proses dalam berhijrah. Hal yang sangat penting sebelum memulai hijrah adalah menentukan niat. Niat diibaratkan pemilihan bibit terbaik sebelum menanam. Rasulullah SAW menegaskan tentang niat dalam berhijrah pada sebuah hadis shahih, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju. (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907)”. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sebaik-baik niat hijrah adalah untuk Allah dan RasulNya.
Buah terbaik dari hijrahnya seseorang adalah istiqamah. Istiqamah berasal dari kata “Qaama” yang artinya tegak lurus, berdiri. Dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah mendefinisikan istiqamah sebagai meniti jalan yang lurus, yaitu agama (Islam) yang lurus, tak bengkok ke kanan dan ke kiri, dan mencakup pelaksanaan semua ketaatan, baik yang zhahir maupun batin, dan menghindari semua larangan-larangan (Allah)[2]. Ibnul Qayyim menambahkan makna tentang istiqamah dalam kitabnya Madarijus Salikin, bahwa istiqamah itu terkait dengan ucapan, perbuatan dan niat[3]. Istiqamah dalam berhijrah, artinya upaya terus-menerus dalam meniti dan menegakkan jalan yang lurus serta bentuk sinergi antara batin dan zahir melalui akhlak yang mulia.
Apabila buah dari hakikat proses hijrah adalah istiqamah, maka pokok dasar istiqamah adalah tentang hati. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Tidak akan istiqamah (tegak) iman seorang hamba hingga hatinya istiqamah (HR. Ahmad dalam al-Musnad No.13048, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)”. Hadits Nabi SAW juga menyebutkan, “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baik pulalah seluruh jasad dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Segumpal daging itu adalah qalbu (hati).” (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599). Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah pun mengatakan bahwa “Pokok istiqamah adalah istiqamahnya hati di atas tauhid”. Pentingnya aspek hati dalam mencapai istiqamah ini pula menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan kondisi hati dalam proses hijrah.
Pada kenyataannya, urusan tentang hati dalam proses hijrah untuk mewujudkan istiqamah merupakan tantangan yang tidak mudah. Hal yang menyebabkan ini menjadi tidak mudah adalah manusia memiliki hawa nafsu yang membuat iman berada pada kondisi pasang-surut. Keadaan pasang-surut iman seseorang ini menggambarkan kondisi hatinya, apakah dia dalam keadaan qalbun salim (hati yang bersih) atau keadaan qalbun maridh (hati yang sakit) atau bahkan qalbun mayyit (hati yang mati). Saat kondisi hati sedang baik, maka yang akan muncul adalah semangat dalam beribadah, menuntut ilmu agama, dan berusaha menjauhi segala maksiat. Sebaliknya, apabila hati dalam keadaan sakit, maka akan timbul rasa malas, mungkin saja kembali lagi pada kondisi saat sebelum hijrah. Hal lebih buruk dari kondisi hati yang sakit adalah matinya hati. Saat hati dalam kondisi mati, maka tidak dapat menerima nasihat apapun dan hal paling buruk yang mungkin terjadi adalah berpalingnya dari Allah SWT.
Beruntung sekali Indonesia memiliki banyak komunitas dan tokoh-tokoh influencer serta lingkungan yang mengajak pada jalan kebaikan menuju proses hijrah. Komunitas pemuda muslim di Jakarta, seperti Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) Menteng, YukNgaji!, Muzammil Hasballah sebagai salah satu influencer, dan masih banyak lagi. Peluang-peluang kebaikan tersebut adalah salah satu upaya menjaga kondisi hati tetap sehat dan menyembuhkan hati yang sakit. Akan tetapi, kita juga perlu belajar dari kisah orang lain yang telah hijrah namun hatinya dipalingkan atas kehendak Allah SWT. Dapat kita ambil contoh salah satu selebgram Indonesia yang sebelumnya berbusana serba terbuka hingga hijrah dan mengenakan hijab menutupi lekuk tubuhnya. Namun, kini selebgram yang telah hijrah tersebut, telah berpaling dari agama Allah SWT. Tidak sedikit pula tokoh terkenal yang keluar dari agama Allah setelah mendapat petunjuk dariNya. Hal ini menunjukkan bahwa urusan hati dalam proses hijrah sangat tidak bisa diremehkan. Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa, “Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140][4]. Selama proses hijrah, kita tidak boleh lupa bahwa yang menggenggam dan berkuasa terhadap hati manusia adalah Allah, Dialah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW senantiasa berdo'a sekaligus mengajarkan kepada ummatnya agar hati kita selalu teguh dalam agama Allah, yaitu 
يا مقلب القلوب ثبت قلبي علي دينك
yang artinya, “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.”
Selain mendawamkan do'a yang diajarkan Rasulullah SAW, kita juga perlu melakukan beberapa upaya dalam menjaga istiqamahnya hati dalam proses hijrah. Syekh Al Buthi, dalam kitabnya yang berjudul Bathin al-Itsm menyebutkan solusi dalam permasalahan hati/dosa batin yang tersembunyi, yaitu senantiasa melakukan refleksi diri dengan merenungi tujuan hidup atau hakikat hidup manusia dan senantiasa mengingat adanya pengawasan Allah SWT terhadap segala perbuatan manusia, membiasakan diri mengingat Allah dengan berdzikir, wirid, dan/atau tilawah Al-Qur'an, memperbanyak do'a, dan menghindari memakan sesuatu yang haram[5]. Sayid Abu Bakr dalam kitabnya yang berjudul Kifayatul Atqiya menambahkan tentang upaya mengobati hati, yaitu dengan berkumpul bersama orang-orang yang shaleh, yang dapat membimbing dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik. Selain itu, Syekh Al-Buthi juga menyebutkan bahwa diantara sebab matinya hati adalah penyakit hati dan maksiat yang dilakukan dari ujung kaki hingga ujung kepala manusia. Hal ini sesuai dengan ancaman Allah dalam surat Al -Muthaffifin ayat 14, yang berfirman bahwa “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”.
Sejatinya, proses hijrah terus berlangsung selama kita masih bernapas. Apabila dikembalikan pada analogi proses menanam tanaman, maka kondisi saat tanaman mati itulah menggambarkan pula kondisi saat ajal menjemput kita. Apakah kita ingin tanaman itu mati dengan meninggalkan banyak buah yang manis atau sebaliknya? Tanpa ragu, setiap hambaNya pasti menginginkan malaikat pencabut nyawa mengambil nyawa kita dalam sebaik-baiknya keadaan, yaitu husnul khotimah. Oleh karena hakikat dari sebuah hijrah adalah istiqamah, dan pokoknya dari istiqamah adalah hati, maka jagalah kondisi hati agar tetap sehat (qalbun salim) hingga saatnya kita kembali padaNya. Karena sesungguhnya, hal yang paling menyakitkan dari upaya hijrahnya seseorang adalah dipalingkan hatinya setelah Allah beri petunjuk dalam hidupnya.
Wallahu A'lam Bisshowabi.
Sumber :
[1]https://www.nu.or.id/post/read/81402/hijrah-sebuah-renungan
[2] https://muslim.or.id/32376-10-kiat-istiqamah-5.html
[3]https://muslim.or.id/33387-10-kiat-istiqomah-10.html
[4] https://muslim.or.id/31345-10-kiat-istiqamah-3.html
[5] Al-Buthi, M. Said Ramadhan. (2019). Dosa (Batin) yang Tersembunyi. Yogyakarta: Penerbit Layar.

Tulisan ini telah diikutsertakan pada lomba Milad YISC Al-Azhar ke-49 dan dapat di akses juga pada https://www.yisc-alazhar.or.id/juara-lomba-karya-tulis-desain-logo-milad-49-tahun-yisc-al-azhar/ .

Semoga bermanfaat.. 

Sabtu, 02 Mei 2020

Selamat Datang di IGD!

Standard



Assalamualaikum kawans.. Alhamdulillah berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan meskipun dalam keadaan pandemi Covid-19.

Pada saat yang sama pula, seperti biasa, diriku ingin merekam jejak kehidupan yang fana ini. Ya, barangkali ada manfaat yang bisa dipetik.. 

Di tengah pandemi Covid-19 ini, genap setahun sudah aku menjadi perawat di sebuah instansi pelayanan kesehatan di pusat kota Jakarta. Secara tidak kebetulan, tempatku bekerja kini ditetapkan sebagai salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta. Aku ingin mengatakan, "Bersemangatlah dan teruslah berjuang" untuk teman-teman sejawat. Aku juga sungguh ingin mengatakan "Terima kasih" yang sebesar-besarnya atas semua perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap para tenaga kesehatan. Beragam bentuk perhatian, seperti Alat Pelindung Diri (APD),  akomodasi hotel, transportasi, video/karya musik sebagai apresiasi, makanan sehat, vitamin, kopi, susu, madu, jamu, dan semuanya yang bertujuan untuk membantu menjaga stamina dan kesehatan kami, para tenaga kesehatan yang bersinggungan langsung dengan virus bernama Corona. 

Genap setahun sudah menjalani hidup sebagai perawat, lebih tepatnya adalah perawat anak. (Baca tulisan sebelumnya : Menemukan Oase di Bangsal Anak). Seringkali kita menemukan plot twist dalam kehidupan. Plot twist kali ini adalah wabah Covid-19 dan pemindahanku dari bangsal anak menjadi unit gawat darurat alias IGD. Adalah sebuah tantangan baru saat menjadi perawat garda terdepan ketika wabah Covid-19 sedang terjadi. Risiko menjadi lebih besar saat bekerja di IGD dibandingkan dengan unit sebelumnya. Ritme dan rekan kerja menjadi berubah. Sebagai perawat memang harus siap ditempatkan di unit yang dibutuhkan ketika terjadi kejadian luar biasa, baik wabah seperti saat ini ataupun kecelakaan besar yang memakan banyak korban. 

Kini sudah hampir genap sebulan aku menjadi perawat di unit IGD. Aku jadi teringat pada momen wawancara saat seleksi pekerjaan ini. Saat itu, pewawancara bertanya, "kamu inginnya ditempatkan di mana?". Aku langsung menjawab, "saya maunya di IGD karena bisa mengasah kemampuan saya". Katanya, jawaban itu adalah jawaban mainstream dan idealis para perawat saat wawancara rekrutmen pegawai baru. Haha.. Pada akhirnya, takdir berkata aku harus ditempatkan di bangsal anak. Ketika aku sudah sangat nyaman menjalani hidup sebagai perawat anak,  keinginanku yang dulu baru terwujudkan olehNya. Sungguh sangat belum aku mengerti tentang skenario hidup ini. Tapi, hal yang kuyakini adalah sesuatu yang kita inginkan memang belum tentu yang kita butuhkan. Allah jugalah sebaik-baiknya perencana.

Bekerja di bangsal anak dan IGD sangatlah berbeda. Aku harus mengganti mindset bekerja di ruang perawatan menjadi bekerja saat kejadian emergency. Saat di ruang perawatan, mayoritas pasien dalam keadaan stabil meskipun terkadang juga menemukan kondisi/kasus emergency.  Fokusnya adalah life rehabilitation dan menjaga keadaan pasien menjadi lebih stabil. Berbeda halnya saat di IGD, kita harus selalu siap memberikan tindakan dengan protokol gawat darurat, dengan cepat, tepat, dan akurat karena fokusnya adalah life saving, menyelamatkan nyawa dan mencegah bertambahnya kerusakan fungsi tubuh. Personally, bekerja di bangsal anak sangat memuaskan sisi emosional karena pasien-pasien anak sangat memberikan hiburan tersendiri. Sedangkan di IGD memberikan kepuasan di sisi lainnya, yaitu sisi intelektual karena dituntut berpikir dan bertindak kritis, cepat, dan tepat.

Di tengah pandemi Covid-19, sebagai perawat IGD, pesanku untukmu, kalau bukan kasus emergency dan jika sangat tidak terpaksa sebaiknya hindari  IGD rumah sakit, terlebih lagi rumah sakit rujukan Covid-19. Lebih baik mendatangi pelayanan kesehatan dengan jenjang dari puskesmas, poliklinik terkait di rumah sakit tipe D, C, B, atau A. Jika memang sangat terpaksa datang ke IGD karena kasus emergency seperti sesak berat, nyeri dada menjalar ke punggung/nyeri dada dengan riwayat sakit jantung, pasien tidak sadarkan diri, dan kasus dehidrasi, kejang atau demam lebih dari 3 hari pada anak, pilihlah IGD rumah sakit yang bukan rujukan Covid-19, kecuali jika memang mengenai keluhan terkait Covid-19 seperti demam disertai sesak napas, mual/muntah, mencret dengan riwayat bepergian ke zona merah dan kontak dengan Covid-19. Untuk kondisi stabil namun memiliki keluhan merujuk pada Covid-19 pun dapat mendatangi poliklinik ODP/PDP pada rumah sakit rujukan Covid-19. 


Berikut adalah list rumah sakit rujukan Covid-19 secara nasional versi Kemenkes dan di Jakarta dengan tambahan dari SK Gubernur DKI Jakarta.



Stay safe everyone.  Jaga jarak aman 1 meter, stay at home, jika harus bepergian keluar rumah pakailah masker, jaga kebersihan tangan, dan jaga stamina tubuh dengan makan teratur dan yang sehat, banyak makan buah dan sayur, jika perlu konsumsi vitamin tambahan, dan jangan lupa bahagia! Selamat menjalankan ibadah puasa.. 




Jakarta, 2 Mei 2020
D'Arcici Al Hijra

Kamis, 26 Maret 2020

Ruang Diskusi #1

Standard

Dua Sisi Kehidupan

Mengapa kura-kura tidak pernah bimbang ketika dia bisa hidup di dua alam, daratan dan perairan?

Kemudian aku berpikir,

Bisakah menikmati lagu "Munajat Cinta" dan murottal Q.S Al-Furqan ayat 74 secara bersamaan?

Bisakah hidup seperti kura-kura, dapat menikmati dua sisi alam yang berbeda tanpa perlu bimbang?

Seperti menikmati alunan musik dan makna dari lagu "Jika Surga dan Neraka tak pernah ada" ?

Bagaimana mungkin bisa menyelaraskan keinginan hawa nafsu untuk menikmati kehidupan dunia dan suara hati yang ingin menjalani kehidupan dengan tasawwuf?

Bagaimana bisa seorang hafidz Al-Qur'an mempunyai hobi mendengarkan musik?

Haruskah kita tinggalkan salah satunya dalam menjalani hidup?

Ekspektasi berkata bisa menjalani keduanya, namun akal berkata hal itu tidak mungkin terjadi. Apakah hal ini sama dengan pertanyaan : "Bagaimana bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat dalam kehidupan kita?"

Adakah yang bisa memberikan pandangan lain tentang hal ini? Tolong berikan pandanganmu melalui komentar di bawah ini. 



Terima kasiiiiiiiiih



tertanda,


manusia ulung yang suka overthinking

Rabu, 04 Maret 2020

Bintang Kecil

Standard





Bintang kecil, di langit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa
Aku ingin, terbang dan menari
Jauh tinggi, ke tempatmu berada

Ku temui satu bintang di tempatku bekerja
Dia tidak di langit angkasa
Dia juga tidak menghias angkasa
Dia berteman dengan pangeran kecilku
Dialah si bintang kecil

Kau masih ingat dengan pangeran kecilku?
Ku rasa, dia sudah amat sangat tenang di sana
Kini, aku bertemu bintang kecil
Serupa, tapi tak sama
Mereka sama-sama spesial

Kalau kau lihat senyumnya, runtuh seisi hati
Kalau kau tatap matanya, bulir air akan jatuh dari mata
Kalau kau perhatikan tingkahnya, sungging bibirmu akan membuncah
Kalau kau lihat air matanya, hatimu ingin memeluknya
Dialah si bintang kecil

Hei, bintang kecil, tetaplah bersinar
Aku tau, kau sekuat pangeran kecilku
Kau mampu melewati masa kritis itu bukan?
Meski kau merasa tiada lagi pelukan ibu untukmu setelahnya
Serta tiada lagi sumber air susu ibu bagimu
Semoga pada waktunya nanti kau akan bertemu di surga sana

Hei, bintang kecil, bersemangatlah
Tenanglah, kau masih memiliki pelukan seorang ayah
Ayah yang selalu berjuang untukmu
Aku menjadi saksi atas sebagian perjuangan dan kelelahannya

Hei, bintang kecil, tetaplah tersenyum
Inilah dunia, yang hanya sementara
Kau amat disayang Tuhan, Nabi, dan seluruh umat
Kau selalu dalam lindunganNya
Kilaukan sinarmu, jangan biarkan ia redup di tengah kehidupan

Aku dan Bintang Kecil






Minggu, 01 Maret 2020

Penghujung Februari

Standard


Sunyi, itulah aku
Malam, itulah aku
Senyap, juga itulah aku
Hening, itu juga aku

Katanya, menulis adalah obat
Menulis juga mengekspresikan emosi
Setiap kata dalam tulisan adalah penawar
Malam, hening, dan sunyi adalah sahabatnya
Maka, menulis juga adalah aku

Lantas, siapakah aku?
Akupun bertanya, siapa aku?
Untuk apa eksistensiku?
Untuk apa jiwaku?
Pertanyaan yang sebetulnya bisa kujawab
Aku adalah abdi Tuhanku
Aku ada untuk mengabdi padaNya

Tak ada yang khusus pada penghujung Februari
Hanya sebagai pengingat bahwa kesempatan hidupku telah berkurang
Selebrasi dan kata-kata sudah tak lagi bermakna
Tak ada pula yang ditunggu seperti saat remaja
Hanya aku, jiwaku, dan Tuhanku
Sampai jumpa, penghujung Februari~


Kamis, 30 Januari 2020

Hikayat Shalihin

Standard

HIKAYAT SHALIHIN


Judul buku : Hikayat Shalihin
Pengarang : Muhsin Basyaiban & Zaky Amrullah
Penerbit : Penerbit Layar
Tahun terbit : Desember 2018
Tebal buku : 196 halaman
Harga buku : Rp 59.000


"Jika kamu mencintai orang-orang shaleh, maka ketahuilah bahwa di dalam dirimu ada kebaikan, dan jika orang-orang shaleh mencintaimu maka ketahuilah bahwa di dalam dirimu ada sirr." (Kalam Shalihin)

Resensi ketigaku terhadap buku terbitan Penerbit Layar. Buku ini berisi 40 kisah orang-orang shaleh yang jarang terjadi. Alhamdulillah, setelah sekian lama mencari buku yang menyajikan kisah teladan para salafusshaleh...dijodohkan dengan buku ini. Semua kisah yang disajikan penulis memberikan ibrah/pelajaran berharga kepada para pembaca. Berikut 40 judul kisah yang disajikan penulis:

Kisah 1. Suatu yang membedakan di hadapan Allah adalah ketakwaannya
Kisah 2. Anjuran untuk meminta doa kepada sang waliyullah
Kisah 3. Keberkahan orang shaleh
Kisah 4. Waspadalah Murka Allah sebab maksiat yang kita lakukan
Kisah 5. Pentingnya untuk selalu berupaya khusyu' dalam shalat
Kisah 6. Bahaya dosa perzinaan
Kisah 7. Mengingat kematian
Kisah 8. Pentingnya menjaga niat
Kisah 9.  Wanita shalehah yang berbicara hanya dengan Al-Qur'an
Kisah 10. Pentingnya shalat berjama'ah dan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi
Kisah 11. Tentang shalat malam
Kisah 12. Penulisan kitab "Aqidatul Awwam"
Kisah 13. Penyebab terhalangnya rahmat dan anugerah Allah
Kisah 14. Ajakan mencintai Ahlul Bait tanpa terkecuali
Kisah 15. Pentingnya Akhlak Iffah
Kisah 16. Sebab bersihnya hati ucapan menghujam ke setiap pendengarnya
Kisah 17. Pentingnya musyawarah  ketika menghadapi persoalan
Kisah 18. Tentang suami-istri
Kisah 19. Bersikaplah Qana'ah dalam menjalani hidup
Kisah 20. Contoh Akhlak Salafush Shaleh
Kisah 21. Akibat tidak punya rasa hormat kepada para wali Allah
Kisah 22. Beradablah kepada guru meski sedikit atau banyaknya ilmu yang diajarkannya
Kisah 23. Pentingnya sikap wara'
Kisah 24. Pentingnya beradab kepada guru
Kisah 25. Memuliakan anak yatim
Kisah 26. Doa yang mustajab
Kisah 27. Tentang firasat mukmin
Kisah 28. Dosa seorang yang suka mengadu domba
Kisah 29. Ajakan mencintai kaum shalihin
Kisah 30. Pentingnya punya rasa malu kepada Allah
Kisah 31. Perhatian Allah kepada para kekasihnya (Auliya' illah)
Kisah 32. Wasiat berharga dari sang khalifah
Kisah 33. Jangan pernah menganggap rendah seseorang
Kisah 34. Pentingnya memberikan pendidikan agama sejak dini
Kisah 35. Baik-buruknya perangai anak tergantung pula kepada orang tuanya
Kisah 36. Larangan mengungkit kebaikan
Kisah 37. Gunakanlah kenikmatan pemberian Allah dengan bijak
Kisah 38. Jadilah hakim yang Adil
Kisah 39. Bergaulah dengan kaum shalihin
Kisah 40. Perhatikanlah penyakit hati yang ada pada diri kita

Aku mengutip beberapa kalam shalihin dari beberapa kisah di atas, yaitu 

"Obat hati ada lima: membaca Al-Qur'an dengan merenungkan isinya, mengosongkan perut, bangun malam, bermunajat di waktu sahur, dan berkumpul dengan kaum shalihin. "(Kisah 27).

"Wahai Amirul Mukminin! Apakah seorang anak mempunyai hak dari ayahnya? Sayyidina Umar menjawab, "Iya, haknya adalah memilih calon ibu, artinya tidak menikah dengan perempuan hina, agar anak tidak mendapat dampak buruk, kemudian memberikan anak dengan nama yang baik dan mengajarinya belajar Al-Qur'an." (Kisah 35)

"Penyakit jasad akan sembuh di saat mati menjemputnya, tetapi penyakit hati akan semakin terasa menyiksa saat di alam kubur nanti." (Kisah 40)

dan masih banyak lagi kalam-kalam yang menggugah hati untuk merenungi diri agar menjadi lebih baik dan meneladani kaum shalihin dalam setiap kisahnya.

Hal yang disukai dalam buku ini adalah penulis menyajikan fadilah dan hikmah pada setiap kisah, sehingga membuat pembaca menangkap pesan-pesan inti dari setiap kisah. Hal ini berkaitan dengan salah satu kekurangan buku ini, yaitu ada beberapa kisah yang alur ceritanya sulit dicerna untuk mendapat pesan/hikmah yang terkandung di dalam kisah tersebut. Dengan sangat baiknya penulis juga memberikan kesimpulan poin-poin tentang akhlak kaum shalihin yang dapat diteladani pada akhir bagian buku.

Personal Rate : 8/10

Available on podcast : #13 Hikayat Shalihin