Senin, 20 Oktober 2014

Sudut Lain Kota Metropolitan

Standard
Sebulan belakangan ini sibuk dengan tugas-tugas kampus. Udah kayak lagunya Rhoma Irama: Gali Tugas Tutup Tugas. Eh maksudnya gali lobang tutup lobang. Hehe.. :-D Kalau sebulan kemarin sibuk nugas, dua minggu belakangan ini berasa produktif. Hari minggu yang lalu saya ikut kegiatan edukasi lingkungan yang diusung oleh Sobat Bumi Regional Jakarta. Nah, Hari minggu pekan ini saya ikut kegiatan Desa Penelitian yang diusung oleh Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya UI. Kedua kegiatan tersebut dilaksanakan di daerah Jakarta, namun saya menyebutnya sebagai sudut lain kota karena tidak menggambarkan perkotaan yang mewah di Jakarta pada umumnya.

12 Oktober 2014

Aku melihat kehidupan lain yang belum pernah aku tahu sebelumnya. Ternyata memang ada yang seperti ini, bukan hanya fiktif belaka seperti di sinetron. Bagi mereka, mungkin kehidupan sangat keras. Tetapi mereka masih mempunyai harapan. Ya, harapan di masa depan. 

Teman, satu minggu yang lalu, saya pergi ke Rumah Susun Pinus Elok di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Saya kesana karena memang ada kegiatan edukasi lingkungan kepada anak-anak sebagai aksi perdana kami, para penerima beasiswa Sobat Bumi angkatan 4. Saya belum pernah ke lokasi dimana kegiatan akan dilaksanakan. Saya membayangkan kalau lokasi tersebut merupakan suatu perumahan padat hampir mirip dengan pedesaan ditengah kota. Namun, pada kenyataannya tidak. Lokasi tersebut memang rumah susun, seperti yang ada di sinetron dan film. Jika dilihat dari luar, Rumah Susun ini terlihat seperti bangunan apartemen karena bertingkat. Ketika saya mulai memasuki area dalam Rusun......... *okay*. 

Kebersihan lingkungan  kurang terjaga dengan baik. Banyak anak-anak bermain tanpa menggunakan sandal. Mereka terlihat sangat agresif dan aktif. Banyak fenomena yang membuat hati terasa sedih. Ada anak yang tidur di lantai, tetapi terlihat seperti tidak diperhatikan oleh sekelilingnya. Ada satu sampai tiga anak yang sedang makan satu nasi bungkus bersama di lantai dengan kondisi kotor. Ya, mereka anak-anak, masa depan bangsa... Adapula ibu-ibu yang sedang masak, bapak-bapak yang sedang santai didepan pintu rumahnya, dan lain-lain.

Kemudian, acara dimulai. Saya beserta dua orang teman saya memegang satu kelompok yang terdiri dari beberapa anak. Cara kami memberi edukasi kepada mereka, yaitu dengan memutarkan sebuah video yang menceritakan tentang dampak membuang sampah sembarangan. Mereka antusias sekali. Lalu, kami beranjak keluar ruangan untuk mempraktikkan secara langsung. Kami menunjukkan kenyataan yang ada bahwa sampah ada di sembarang tempat. Kemudian secara bersama-sama, kami berlomba mengumpulkan sampah yang berserakan itu untuk dibuang ke tempatnya. Hey, mereka tidak mengeluh sama sekali. Padahal saat itu panas matahari terik sekali. Setelah selesai, kami hendak mencuci tangan. Tetapi...air yang kami gunakan untuk cuci tanganpun tidak bersih... Pada saat itu, saya berpikir bahwa kebersihan lingkungan menjadi suatu permasalahan umum perkotaan di Jakarta.



Gambaran luar Rusun Pinus Elok

19 Oktober 2014

Lagi-lagi aku dibuat 'merunduk' dengan kondisi lingkungan sudut lain kota Jakarta yang belum pernah Aku tahu sebelumnya. Lagi-lagi ada anak-anak di sana sebagai salah satu korbannya. Lagi-lagi kesehatan dan lingkungan, permasalahan yang sangat jelas terlihat......Sampai kapan, Jakarta?

Pagi tadi saya ikut kegiatan Desa Penelitian yang diadakan oleh KSM EP UI. Lokasi kegiatan ini berada di daerah Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara. Saya beserta teman-teman yang lain melakukan assessment dan observasi terhadap permasalahan yang terjadi di lokasi tersebut. Hey, tahukah kamu bagaimana gambaran kondisi di sana?

Lokasi ini merupakan perumahan padat di dekat Laut utara Jakarta, Ancol, dan Muara Angke. Tahukah kamu? Rumah-rumah disini berada di atas air, tepatnya air laut! Eits, kalau mendengar kata laut, mungkin bisa dibayangkan betapa indahnya terumbu karang, ikan-ikan berenang riang, dan warnanya yang biru tenang, serta ombak yang berdesir indah. Akan tetapi, ini sungguh berbeda. Warna air laut ini berwarna kecoklatan, dengan beberapa sampah yang mengapung di atasnya dan tampak bahan bakar kapal di atas permukaan air laut itu. Betapa sedihnya ketika kalian ikut melihatnya secara langsung. Rumah-rumah itu berdiri diatas air yang sedemikian kotornya.

Gambaran Lingkungan Perumahan di Pasar Ikan

Dengan kondisi lingkungan yang buruk, pasti akan memberikan dampak kepada penduduk di sana. Ya, memang ada. Diperoleh informasi bahwa disana sering terjadi wabah demam berdarah hingga menewaskan satu remaja perempuan di sana. Kemudian, penduduk di sana sebagian besar membayar 60 ribu/bulan untuk ketersediaan air bersih. Apakah teman-teman bertanya dari mana sumber sampah-sampah tersebut? Menurut salah seorang pemuda di sana, sampah yang ada merupakan sampah kiriman, entah datangnya dari mana. 

Sampah kiriman? Apakah teman-teman senang membuang sampah sembarangan? Terlebih lagi di kali atau sungai? Tidakkah terbayang dengan kondisi saudara-saudara di Pasar Ikan? Bisa jadi sampah yang dibuang secara sembarangan di kali atau sungai menjadi sampah kiriman ke laut di daerah Pasar Ikan. Jika memang iya, artinya secara tidak disadari perbuatan tersebut membuat orang lain menderita, seperti yang dialami masyarakat di Pasar Ikan tersebut.

Untuk kedua kalinya saya diperlihatkan kondisi yang serupa. Tuhan, terima kasih atas nikmat yang Kau berikan.


Cileungsi - Asrama UI, 20 Oktober 2014