Senin, 30 September 2019

Benang Kusut

Standard


Penghujung malam akhir September
Kata Green Day, "Wake me up, when September Ends"
Tampaknya pikiranku masih tidur
Sengaja tidur karena enggan untuk bangun
Berharap ada yang membangunkan
Nyatanya tidak ada
Memang sebaik-baik pengingat diri adalah diri sendiri


Pikiran bagai benang kusut
Kamu tahu benang kusut?
Berantakan, tak beraturan, tanpa makna
Perlu waktu untuk mengurainya
Perlu kesabaran untuk menyusunnya kembali
Tak perlu banyak tangan untuk mengatasinya
Hanya sepasang tangan penuh niat sebagai penyelesaian
Banyak tangan kadang semakin membuatnya kusut
Tak jarang suara lain mengatakan untuk mengguntingnya saja sebagai solusi instan
Apakah itu penyelesaian terbaik?


Seutas benang saja perlu di jaga agar tidak kusut
Terlebih lagi soal pikiran
Memang perlu dikuliti satu persatu
Mana yang berkelok, mana yang lurus
Yang berkelok perlu diluruskan
Yang lurus harus dijaga agar tetap pada koridornya
Kemudian disinergikan agar menjadi satu kesatuan yang utuh

Cinta, Harta, Tahta
Tiga kata bisa menjadi petaka atau pelita
Ketika salah satunya masuk tanpa izin dan syarat
Siap menerima petaka untuk menjadi kusut kembali
Memang sebaiknya menjadi selektif dan mawas diri
Demi akal dan pikiran agar tetap terawat dan terjaga

Merindu Hujan

Standard



Penghujung September tiba
Bukankah seharusnya hujan siap menyapa?
Suasana sendu saat hujan sudah kurindu

Dalam lamunanku, sepertinya aku mendengar suara rintik hujan
Langkah kaki penuh harap mengintip awan langit
Ternyata matahari masih dengan beraninya menyinari wajahku
Awan putih masih juga bertandang di langit biru
Kapan tiba saatnya hujan?

Kemarin langit mendung mewarnai sore hariku
Seketika anganku siap menyambut suasana sendu saat hujan
Namun rupanya hujan belum juga ingin menampakkan dirinya
Harapan dan kenyataan tidak bersinergi untuk diriku

Andai hujan tiba
Anganku akan bersorak dengan gembira
Berbaur dengan basahnya air hujan
Meringankan diri, menari bersama hujan
Seakan tiap tetes hujan yang jatuh meluruhkan semuanya

Hujan mampu menyamarkan air mata
Hujan mampu meluruhkan luka
Hujan mampu menghipnotis hati yang bimbang
Hujan mampu membawa jiwa melirik hati yang terdalam

Aku ingin diriku sendu bersama hujan
Hujan, aku merindukanmu

Jumat, 19 Juli 2019

Menemukan Oase di Bangsal Anak

Standard

Halooooooooo readers!
Apa kabar? Jumpa lagi dengan tulisanku.

Pesan pengantar tulisan ini adalah "Buruk belum tentu buruk, baik belum tentu baik".


Ide utama tulisan ini merupakan hasil perenungan selama menjadi perawat di bangsal anak sejak 3,5 bulan yang lalu.

Sesungguhnya, menjadi perawat di bangsal anak adalah hal yang sangat tidak aku harapkan. Sejak awal proses keputusan menjadi perawat di rumah sakit, yang kuharapkan adalah menjadi perawat di ruang gawat darurat atau bangsal dewasa. Alasannya adalah sulitnya membangun trust dengan anak ketika mereka tau bahwa perawat akan membuat mereka merasa sakit.

Beberapa tahun lalu saat praktik klinik di bangsal anak pada masa perkuliahan, kali pertama aku merasa bahwa kehadiranku sebagai perawat, tidak dibutuhkan. Saat ingin mengukur tanda vital (suhu, nadi, dan pernapasan) anak, sudah disambut tangisan. Padahal, itu bukan tindakan invasif yang membuat mereka merasa sakit. Apalagi kalau menyentuh tubuhnya, tak jarang mereka menepis dan berontak. Lain halnya di bangsal dewasa, bantuan perawat justru dicari karena mereka merasa memerlukannya. Tak ada bentuk penolakan dan tangisan, yang ada adalah penerimaan. That's why bangsal anak menjadi salah satu yang sangat aku hindari.

Ternyata oh ternyata, sekarang justru ditenggelamkan sebagai perawat di bangsal anak. Saat hari pertama penempatan ruangan untuk orientasi kerja, benakku berkata, "Oh, Man. Kenapa aku harus di sini?". Karena aku tidak punya pilihan, yang terjadi adalah aku harus bisa beradaptasi.

Time flies....ternyata sudah tiga bulan lebih dua minggu aku jadi perawat di bangsal anak. Finally I  could say, " Alhamdulillah. Untung ditempatin di bangsal anak!!". Nah lho..........

Beberapa hal yang membuatku beruntung jadi perawat di bangsal anak. Pertama, aku belajar untuk jadi orang yang mudah memberikan apresiasi. Anak lebih senang kalau dipuji. Jadi, sedikit hal positif yang kita temukan, harus diapresiasi. Semua bentuk apresiasi yang kita berikan akan membuat mereka senang. Membuat mereka senang adalah poin bagus untuk membangun trust. Kedua, aku jadi orang yang mudah mengungkapkan rasa sayang. Entah dengan memanggil mereka dengan sebutan "sayang", mengelus rambutnya, menggendong, mengusap dahinya, senyum dan sebagainya. Kalo di bangsal dewasa kan nggak mungkin manggil mereka "sayang", nanti jadi baper pasiennya, hahha... :D Ketiga, aku jadi lebih banyak bersyukur kalau lihat anak-anak yang sehat di luar sana, meskipun bukan anak atau adik sendiri. Biasanya, kalau lihat anak sehat, biasa aja. Sekarang jadi suka nyeletuk, Alhamdulillah dia jadi anak yang sehat. Keempat, belajar tentang pengorbanan orang tua khususnya ibu. Bagaimana orang tua sangat rela berkorban ketika anak sakit. Khususnya bagi anak dengan penyakit-penyakit tertentu. Lelahnya menjaga dan merawat anak sakit. Setiap tiga jam harus memberikan susu, ganti diapers, dan seringnya sedikit tidur. Kadang suka memperhatikan raut wajah mereka semua dan ingin bertanya bagaimana perasaan dan apa yang sedang dipikirkan. Secara tidak langsung, mereka semua memberikanku gambaran tentang keikhlasan perjuangan orangtua ketika anaknya sedang sakit. Dan mungkin masih banyak hal yang bisa dipelajari kalau lebih direnungi lagi lebih dalam.

Belajar bukan hanya di lingkungan pendidikan. Guru bukan hanya untuk mereka yang punya titel profesi guru. Semua orang yang memberi pelajaran adalah guru. Jadi, semua pasien dan keluarga di bangsal anak adalah guruku. Mereka adalah oaseku di bangsal anak. Terima kasihku untuk Allah dan mereka yang mengajariku banyak hal. :") Semoga semua anak bisa sehat selaluuuu~~ Aamiin!


Cileungsi, 19 Juli 2019

Selasa, 11 Juni 2019

Pilih Jatuh Cinta atau Bangun Cinta?

Standard
Halo, readers! Mohon maaf lahir dan batin yaaa.. 😊

Ini adalah postingan pertamaku tentang asmara. Aku bukan pakar asmara. Sebagai manusia biasa, aku juga pernah jatuh cinta, sakit hati, dan menjalani proses yang namanya move on. Well, kata utama dalam tulisan ini adalah cinta. Cinta bermakna luas, ada cinta dengan Tuhan, makhluk hidup ataupun benda mati. Cinta yang ingin aku tulis adalah cinta dengan sesama insan manusia lawan jenis, pria dengan wanita, dan sebaliknya.

Suatu hari, aku sedang mendengarkan radio dan ada satu lagu yang diputar, judulnya Bangun Cinta oleh 3 Composers. Lalu, aku putar ulang di Yutub sembari menghayati lirik-liriknya. Responku saat itu adalah “Bener juga ya. Hmmm...”. Nah, yang penasaran, liriknya tuh begini.

Kata pujangga, cinta itu luka yang tertunda 
Walau awalnya selalu indah 
Bila bukan jodohnya siap-siap tuk terluka 
Kata pujangga, bangun cinta itu tak semudah tak secepat hati jatuh cinta 
Namun bila jodohnya kita pasti bahagia 
Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta 
Jatuh itu sakit, bangun itu semangat 
Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta 
Meski tak mudah namun cinta jadi  punya tujuan

Adakah yang setuju dengan pernyataan “lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta”?

Akuuuuuuu!! 🤗🤗🙋🙋

Aku punya beberapa alasan kenapa pilih bangun cinta. 

Based on my own experience, jatuh cinta dengan seseorang itu menyenangkan hati pada awalnya. Akan menjadi lebih menyenangkan jikalau seseorang tersebut merespon balik dengan perasaan yang sama. Lalu, muncullah terminologi pacaran atau teman tapi mesra atau hubungan tanpa status. 😁 dan mayoritas endingnya adalah sakit hati dalam bentuk putus dengan pacar, pacaran lama sama siapa, eh nikahnya sama siapa. Kalau kata banyak orang sih namanya jagain jodoh orang. Lalu kita harus move on karena life is go  on, ya kan? Ada yang move on nya cepat, ada juga yang bertahun-tahun baru berhasil move on atau bahkan sampai sekarang belum totally move on dari si Dia. Ehem. Akhirnya, membuang-buang waktu dengan sia-sia.

Buya Yahya membagi ilmu tentang proses mencintai seseorang dalam Islam. Ada empat tahap dalam proses mencintai seseorang. Pertama adalah tahap mengagumi. Yes, ada sesuatu yang membuat kita tertarik atau kagum. Kedua, tahap memiliki kecenderungan. Tahap ketiga, memutuskan AKAN mencintai diikuti tahap terakhir, yaitu mengabadikan cinta dengan pernikahan. Sekali aku hadir acara seminar pranikah, pembicara memberi pesan bahwa keputusan untuk menikah dengan seseorang sebaiknya pada saat tahap kecenderungan. Sebab, kalau sudah terlanjur cinta, manusia cenderung menjadi irasional dalam membuat keputusan dan dinamakan cinta buta.

Jika sudah terlanjur cinta, pilihannya adalah halalkan atau tinggalkan. Karena cinta tanpa tujuan pernikahan, pada akhirnya hanya syahwat semata dan berujung patah hati. Mungkin 1 banding 1000 kejadian jatuh cinta dan berlanjut bangun cinta dalam pernikahan. Tapi aku tim yang nggak mau lagi berani untuk hadapi sakit hati. Jadi, memilih bangun cinta daripada jatuh cinta.

In case pada akhirnya harus jatuh cinta, aku pilih nasihat “Jadikan akal menguasai perasaanmu. Jangan perasaanmu menguasai akalmu.”, untuk menata cinta sebelum jatuh terlalu dalam di waktu yang salah. Karena perasaan cinta dan kasih sayang juga anugrah dari Yang Maha Kuasa. 😙 Jadi, kamu pilih apa? Jatuh cinta atau bangun cinta? :)



Senin, 31 Desember 2018

Buku Nursing Untold Stories

Standard
ﺑﺳﻢ ﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻢ


Hai, apa kabar? Hehe

Postinganku terakhir di blog ini adalah tentang pengalamanku di pondok. Anyway, aku sudah berhenti belajar di sana. Bukan telah selesai programnya, tapi memutuskan untuk berhenti di 3/4 jalan. Yah, pokoknya gitu deh. Sedih. Soon, mau cerita soal itu juga. Tunggu aja! Dalam postingan ini, aku mau cerita tentang karyaku bersama teman-temanku yang udah sejak setahun lalu ada. Yeay! 

Apa itu?

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeng jeng jeng
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini dia!!!





Buku Nursing Untold Stories.

Buku ini adalah buah karya kami, aku dan teman-teman kampus.  Ya, bisa ditebak sih, bukunya ini tentang keperawatan. Lebih tepatnya adalah kumpulan kisah yang kami alami selama menjalani masa pendidikan keperawatan di kampus, khususnya di masa-masa pendidikan profesi. Kisah-kisahnya beragam, ada yang kisahnya berfokus pada perasaan si penulis, dan ada juga yang fokus pada kejadian bermakna bagi si penulis. Semuanya adalah true story, artinya kejadian yang diceritain memang benar adanya dialami oleh masing-masing penulis. Kami harap, dengan adanya buku ini dapat sedikit menggambarkan bagaimana perjuangannya menjadi seorang perawat. Well, gak sedikit juga pandangan negatif soal profesi yang satu ini. Ada yang bilang juteklah, pembantu dokterlah, sampe kasus yang di grebek gubernur Jambi. Nah, di buku ini, kami mencoba untuk menyeimbangkan hal itu. Kami mencoba untuk memberikan pandangan kami terhadap profesi perawat dan harapan-harapan kami terhadap profesi kami.

Buku ini sebenarnya sudah lahir setahun yang lalu, yaitu sejak 27 Oktober 2017. Hehe.. Tapi baru sempat buat tulisan ini sekarang karena harus karantina di pondok sejak 25 Oktober 2017. Alhamdulillah, buku ini sudah terjual lebih dari 40 eksemplar. Hihi..... Bersyukur karena akhirnya punya buku! Bersyukur karena akhirnya kita berani publish tulisan-tulisan kita. Aku ingat sekali pesan Abi Qurasih Shihab, beliau berkata jangan pernah takut untuk menulis dan jangan pernah takut salah dalam menulis. Well, we deserve it! Meskipun yang terjual tak sebanyak penulis-penulis kondang, tapi yang terpenting, we have done it!

Dalam postingan kali ini juga aku amat sangat berterima kasih kepada teman-temanku yang keren abis promosinya. Jujur, merasa bersalah karena ninggalin project ini duluan sebelum bukunya launching. Rasanya kayak ninggalin tanggung jawab. Padahal udah dirancang timelinenya sedemikian rupa supaya launching sebelum minggat ke pondok. Dan....kenyataannya berkata lain. Tapi, melihat perkembangan postingan di instagram, dll itu rasanya...............................bahagia.  Bersyukur banget Allah udah kirim kalian sebagai para penulis di buku Nursing Untold Stories ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dan semoga saja buku ini bermanfaat dan niat kita selalu diluruskan, ya untuk lahirnya buku ini. Sekali lagi, terima kasih banyak kepada Nim, Nisrina, Pipit, Nabila, Yiyi, Nur, Dewi, Devi, Thifa, dan Asul.

Pengalaman sampai buku ini lahir, pertama pasang niat dan tujuan. Setelah itu, cari orang! Haha.. Maksudnya ajak teman-teman kita buat terlibat dalam pembuatan buku. Entah itu untuk sumbang tulisan, buat design cover, jadi editor, dan lain-lain. Ketiga, pilih mau terbit di mana. Pilih self publishing atau di penerbit kondang. Kita pilih self publishing karena lebih available buat buku ini lahir bagi para penulis pemula. Lalu, terpilihlah nulisbuku.com sebagai wadah untuk menerbitkan buku ini. Terakhir, doa biar lancar jaya. Proses pembuatan buku ini kira-kira tiga bulan sudah sampai di publish di web nulisbuku.com.

Yang belum punya bukunya, bisa pesan di sini yaaaaaaaaaaaaa --> Nursing: Untold Stories
Harganya 51.000 aja kok, tapi belum ongkos kirimnya. Hehehehee
Cara pesannya, harus jadi member nulisbuku.com dulu. Atau kamu bisa e-mail langsung ke admin@nulisbuku.com
Pokoknya harus beli! *Lah, maksa* Haha.... Buku ini bisa dikonsumsi oleh umum kok, nggak cuma buat yang berkecimpung di dunia keperawatan aja. Jadi, jangan ragu untuk membelinya. :D

Kalau udah baca, jangan lupa kasih komen atau review. Bisa di webnya nulisbuku.com atau di goodreads atau buat di blog sendiri juga boleh. :3

Terakhir, terima kasih, kamu. :) Semoga tahun baru sudah punya buku ini, :D

Wassalam.

Sabtu, 12 Mei 2018

Pasca 6 Bulan Mondok : Saya Menyesal!

Standard
Bismillahirrahmanirrahim..

Setengah tahun sudah, saya icip icip jadi santri. Ehm..gimana ya rasanya.. as you can read in the title of this post: Regretness alias penyesalan. Kok? Terus mau berhenti? Eits...

Jawaban lengkapnya yang sebenarnya adalah...saya menyesal, kenapa saya nggak mondok dr jaman dulu :( jaman pas masih SMP atau SMA gituuu.. That's what i feel! Dari postingan sebelumnya, which is saya masih baru icip-icip jadi santri selama sebulan, rasanya masih perasaan senang biasa aja. Nah, setelah 6 bulan ini, rasanya lebih dari itu. Kenapa? Karena sudah merasakan manfaat yang teramat banyak dari ilmu yang ada, bahkan masih banyaaaaaak banget ilmu yang belum dipelajari. I addicted!

Manfaatnya jadi santri itu.....banyak! Membentuk pribadi yang mandiri, belajar menerima keadaan yang sederhana, menjadi pribadi yang tawadhu dan hidup sederhana, khususnya yang paling penting adalah dipahamkan tentang agama. Sepengalaman pendidikan tentang agama sejak saya TK sampai kuliah, dari TK islam, SD negeri, SMP Negeri, Madrasah Aliyah, sampai Kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN), pemahaman agama terbaik yang saya peroleh itu didapat di pondok pesantren ini.

Jadi, selama 6 bulan yang telah berlalu, apa yang sudah diperoleh? Banyak! Pertama, lebih dikuatin tentang rukun islam, khususnya pada poin tentang sholat. Di pondok amat sangat menekankan terkait implementasi syarat sahnya solat, rukun solat, hal yang membatalkan solat, termasuk rukun wudhu, hal yang membatalkan wudhu, dan bacaan sholat. Tentang najis, cara membersihkan najis, dsb. Well, dari jaman saya sekolah TK sampai kuliah, materi itu udah pernah diajarin. Tapi rasanya lain. Kurang ada penekanan kalau aspek itu tuh penting banget.

Kedua, bacaan Qur'an. Dari jaman saya TK sampai kuliah, ada pelajaran tajwid sih, tapi praktik pemahamannya kurang. Kalau nggak belajar lagi di luar sekolah formal, mungkin nggak banyak ngerti soal tajwid.


Ketiga, dipahamkan soal problematika darah wanita, dalam hal ini adalah haid/menstruasi. Anyway, pelajaran tentang menstruasi yang pernah saya pelajari cuma ada di biologi jaman SMA dan di masa kuliah (maklum, jurusan keperawatan). Lain halnya di pondok. Perspektif pengetahuannya lebih kepada hukum masa suci-tidaknya. Dan ini ternyata penting banget buat para kaum hawa. Salah satu faktor banyaknya kaum hawa sebagai penghuni neraka nanti karena kurang hati-hati terkait masalah ini. Kok bisa? Ya bisa. Soalnya masa suci setelah haid berpengaruh kapan boleh solat dan puasa. Apakah ada yang harus di qadha shalatnya atau puasanya karena masalah istihadhoh (darah selain haid dan nifas). Well, hukum-hukum istihadhoh ini banyak! Dan seharusnya diketahui oleh kaum hawa. Pengetahuan ini, nggak ada di pendidikan formal selain di pondok pesantren (cmiiw).

Keempat, belajar nahwu shorrof dengan metode yang mudah dipahami dan kitab kuning. Ilmu nahwu shorrof adalah alat untuk bisa memahami grammatical bahasa Arab, yang secara nggak langsung sama dengan belajar bahasa Al-Qur'an. Kalau sudah mahir nahwu dan shorrof, insyaAllah bisa baca kitab gundul/kitab kuning/ kitab yang gak ada harakatnya. Dan dari banyaknya ilmu-ilmu lain ada di kitab tersebut. Misalnya: Kitab Fathul Qarib tentang ilmu Fiqih, kitab Risalatul Mahid tentang problematika darah wanita, Kitab Ta'limul muta'allim tentang Adab mencari ilmu, dsb. Kalau sekarang sudah banyak kitab yang diterjemahkan, misalnya kitab Tafsir Jalalain, Kitab AlHikam, dsb. Banyak banget kitab-kitab lainnya yang bukan hanya soal ilmu fiqih, tauhid, bahkan tentang bisnis, kesehatan juga ada. Di pondok pesantrenlah tempatnya bagi kamu yang mau banget mendalami ilmu-ilmu terasebut, karena memang masuk ke dalam kurikulum pendidikan pesantren (khusus pesantren salafiyyah) yang mempelajari kitab kuning.

Dan masih banyak lagi! That's why I called my regretness. Di usia yang sudah bukan lagi remaja alias dewasa ini, rasanya ingiiiiin banget paham semua-muanya, tapi rasanya membutuhkan waktu yang lama. Which is saya harus menerima dan mengakui bahwa usia ini sudah harus berpikir tentang karir dan masa depan kelak alias pernikahan dan soal keturunan (uhuk). Makanyaaaaa, saya menyesal kenapa mondoknya nggak dari dulu yaaaa? Hahahaha! Sampai pada kesimpulan dari hasil perenungan yang cukup visioner, yaitu kalau nanti punya anak (aamiin), pokoknya dia harus pernah jadi santri! Atau kalau nanti cari menantu, kalau bisa yang backgroundnya anak santri. Hahaha (Terlalu visioner ya, ya ampun. Nikah juga belum. :'D). Tapi yang paling penting sih, di mana aja bisa belajar untuk meningkatkan pemahaman agama dan yang nggak kalah pentingnya adalah implementasi! Percuma kalau paham sebanyak kitab-kitab yang ada tapi implementasinya nol. Bahkan, slogan dari pondok tempat saya belajar : "Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan", yang penting akhlak, itu maksudnya.


Yaudah, sekian. Semoga berfaedah. Hehe..

Jumat, 08 Desember 2017

Keputusan 180 Derajat

Standard
http://www.gambar-katakata.com/gambar-islami-lucu/

Bismillahirrahmanirrahimi..

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan tentang keputusan menimba ilmu di sebuah pesantren. Kalau pakai bahasa legislatif, saya telah menimbang, memutuskan untuk menjadi seorang santri pascakampus. Setelah lulus profesi, kalau “lurus” dalam dunia karir, mungkin pilihan berikutnya antara bekerja sebagai perawat atau tenaga kesehatan profesional di sebuah instansi, atau melanjutkan kuliah lagi. Pokoknya seputar lanjut kerja atau meraih pendidikan lebih tinggi lagi.

Keputusan menjadi seorang santri setelah lulus sarjana adalah keputusan 180 derajat dalam hidup. Opsi ini muncul ketika saya duduk di semester delapan karena dipicu oleh suatu alasan. Alasan yang sayapun tidak memahami bagaimana prosesnya itu bisa saja hadir dalam pikiran dan terpatri dalam hati. Can we call it as Hidayah? Surely, I’m not sure. Maybe yes. And I feel blessed of that.

Kalau dalam dunia perdebatan, istilahnya banyak yang pro dan kontra. Heran juga ya, yang mau nyantri siapa, yang banyak komentar siapa. But I called it as sign of loveliness. Bukti banyak yang perhatian. Hehe.. Alhamdulillah untuk ke-sekian kalinya, Mama dan Bapak justru mendukung. Sisanya, beragam pendapat bermunculan, baik dari kerabat dekat, teman dekat, atau yang mungkin saya aja bahkan nggak kenal dengan ybs. Apa saja pendapatnya?

Mak pojur be’en ende monduk (Kok beruntung kamu mau mondok).”

Mak gik monduk mon la a sarjana? (Kok masih mondok kalau udah sarjana?).”

“Jangan lama-lama. Emang nggak mau lanjut S2?.”

“Kamu nggak mau kerja?”

“Emang kamu bakal betah di pondok?”

Dst...

Alhamdulillah Allah ciptakan bibir untuk bisa memberikan senyuman dalam menghadapi berbagai pendapat itu. Hehe.. :D

Pada akhirnya, meski hati sedikit goyah, tapi qadarullah dan pada akhirnya saya sudah merasakan jadi santri selama sebulan. Apa rasanya? Nano-nano. Ada asamnya, ada manisnya, ada pahitnya. Pokoknya segala macam rasa. Kok cuma sebulan? Iya, saya masuk pondok tanggal 25 Oktober dan dapat libur Maulid Nabi selama sepuluh hari terhitung dari tanggal 29 November 2017 – 8 Desember 2017. Jadi, besok saya akan kembali lagi. Ulala~

Pertanyaan berikutnya yang teramat sering ditanyakan sepulang dari pondok yang sebulan itu.

“Kamu betah?”

Jangankan sebelum pulang, baru tiga hari di pondok aja udah di tanya, “Betah?” oleh ustadzah di pondok. Dalam hati ingin bilang, “Ustadzah, ini masih tiga hari, saya butuh yang namanya proses adaptasi.”. :’D Teman-teman di pondok yang bahkan udah mondok 3 bulan, setahun, bahkan dua tahun aja masih bilang belum betah. Wkwkwk.

Perkara betah atau nggak betah, akhirnya saya jawab, “InsyaAllah.”. Maknanya, ya dengan izin Allah saya mudah-mudahan bisa betah. Karena sesungguhnya ada sisi yang membuat saya nyaman dan tidak nyaman. Nyaman karena banyak ilmu yang bisa didapat, insyaAllah. Sepanjang waktu rasanya dominan untuk ibadah, jauh dari handphone, karena saya merasa sudah terkena sindrom adiksi terhadap penggunaan HP yang tidak pada tempat dan waktunya. Jadi, ibaratnya kalau di rumah, if you have so much time, you have many options to do, whether to check your gadget (handphone or laptop) or read some books or novels. Kalau di pondok, you don't have that kind of choice. Pilihannya cuma baca Al-Qur’an, baca kitab pelajaran, tidur, atau ngobrol sama teman karena di Pondok tidak diperbolehkan membawa HP dan buku bacaan selain pelajaran. Opsi dua terakhir ini kurang cocok sama saya. Jadi itulah mengapa saya justru merasa nyaman dengan dibuat kondisi yang seperti itu.

Aspek ketidaknyamanannya menyangkut kebutuhan dasar manusia, seperti mandi, makan, tidur. Sebenarnya bukan tidak nyaman sih, tetapi karena faktor pembanding saat kenyamanan di rumah. Kalau tidak dibandingkan, it’s okay. Those condition thought me how to live a humble life. Semua tentang hidup dengan sederhana. Hidup dengan menerima apa yang ada. Di saat kamu cuma dapat nasi sepiring tanpa lauk, ya Alhamdulillah. Di saat kamu cuma dapat lauknya aja tanpa nasi, ya Alhamdulillah. Saat kamu kehilangan sabun, ya Alhamdulillah juga. Mau kesal juga percuma, ya kan? Kalau pikiran lagi sehat, obatnya dengan kalimat, “Emang sabun punyamu? Kamu punya apa di dunia ini? Orang semuanya pinjaman dari Allah, ya kan?”. Terima kasih kepada ustadz YM, karena ceramahnya yang dapat memberikan pandangan pada saya, bahwa sejatinya manusia itu hanya meminjam. Terima kasih kepada ustadz Adi yang juga menambahkan pandangan itu, kalau kita diberikan kelebihan, orientasikan bagaimana barang/sesuatu itu dapat menjadi ladang pahala bagi kita.

Tentang pertemanan juga. Alhamdulillahnya meskipun badan saya agak mungil wkwk, tapi berdasarkan teori tumbuh kembang sih katanya udah dewasa. Haha.. Jadi, ya cukup bisa menilai mana yang patut dan tidak untuk ditiru. Kadang suka kasihan sama yang udah di suruh mondok sejak kecil. Saya bingung sih sebenarnya, apakah itu termasuk beruntung karena sudah dipahamkan tentang agama sejak kecil atau nggak. Karena mereka masih teramat sangat belia sekali, usia TK sudah di pondok. Antara salut atau kasihan. Ini cuma pendapat dan ini hal yang amat sangat debatable, menurut saya. Tapi belum berani kasih pendapat tegas karena belum banyak baca dan merenungi riset-riset atau literatur ilmiah mengenai usia belia di pondok pesantren dari segi tumbuh kembang, sosial, dsb. Seems like interesting, right? Karena kalau punya anak nanti, jadi bisa buat bahan pertimbangan seandainya ingin menempatkan anak di pondok pesantren, sebaiknya pada usia berapa sih idealnya untuk bisa mondok? Sebenarnya itu pertanyaan pribadi, wkwkkw. Yang punya pendapat, boleh banget lho. Hehe.. Very pleased to discuss.

Oke, kayaknya udah kepanjangan. Pada kesimpulannya, saya memutuskan menuntut ilmu agama supaya lebih paham lagi karena masih merasa bodoh dan merasa butuh itu. Ternyata setelah selama sebulan ini, memang benar masih bodoh dan sangat dibutuhkan ilmunya, terbukti banyak yang belum saya ketahui. Innalillahi, Astaghfirullah, wa Alhamdulillah. Hehe.. kayaknya ini tergolong terlambat. Late is better than never, right? Mengutip nasihat dari Imam Asy-Syafi'i, bahwa "Hakikat seorang pemuda adalah ilmu dan taqwa". Doa'kan semoga saya diteguhkan hatinya, dan semoga Allah meneguhkan hati pembaca dalam iman dan taqwa. Aamiin.

 Sekian, semoga berfaedah. Wassalam..