Minggu, 20 Oktober 2019

Pangeran Kecilku (Lagi)

Standard



Selamat datang, Pangeran kecilku
Alam semesta menyambutmu dengan sorak sorai
Betapa bahagianya saat wajahmu ada di hadapanku lagi
Tatap matamu yang kurindu, kini kembali

Tanpa celah untuk ragu, aku percaya
Kamu bisa melewati masa kritis itu
Ketika banyak orang menggantungkan berbagai macam ekspektasi
Ketika banyak orang menyelipkan kata ragu
Aku hanya ingin percaya, kamu pasti kembali

Pangeran kecilku, terima kasih
Terima kasih sudah berjuang
Terima kasih telah bertahan
Terima kasih karena tidak menyerah pada keadaan
Meski tanpa kata, hati dan tatap matamu banyak mengukir kata

Meski saat itu napasmu tak bekerja sepenuhnya,
Beragam alat terpasang di tubuhmu
Darahmu pun tak mencukupi kebutuhan tubuhmu,
Aku tau, kamu ingin berkata
Aku sanggup bertahan

Pangeran kecilku,
Selamat mengarungi indahnya dunia, kembali
Meski banyak orang berkata dunia itu kejam
Percayalah, banyak harapan untuk kebahagiaanmu
Semangatmu adalah semangatku
Bahagiamu adalah bahagiaku
Sampai jumpa ketika kamu sudah bertumbuh lagi~




Selasa, 01 Oktober 2019

Pangeran Kecilku

Standard

Pangeran kecilku
Aku ingat betul saat kali pertama kita bertemu
Rupamu, senyummu, dan tawamu
Aku ingat sekali kala itu

Raut wajahmu tidak asing bagiku
Tanpa ragu aku tahu kalau kamu down syndrome
Apakah kamu tahu?
Kamulah satu-satunya yang membuatku sedikit lebih memahami tentang down syndrome
Apakah kamu tahu?
Aku begitu takjub saat kamu menyambut tanganku untuk kau cium
Hati ini luluh dan seketika runtuh melihat tingkahmu yang lucu
Apakah kamu tahu?
Kamu salah satu sumber inspirasi dalam hidupku

Pengeran kecilku,
Tahukah kamu?
Kamu selalu aku rindukan
Bukan, bukannya aku berharap kamu ada saatku bekerja
Karena artinya kamu sedang tidak baik-baik saja
Tapi, ketika kamu ada saatku bekerja, kamu selalu menarik perhatianku
Keluguanmu, keceriaanmu, membuat bibirku menyimpulkan senyum dengan mudahnya
Kamu selalu menyambut hadirku dengan keceriaanmu

Pangeran kecilku,
Hari ini aku melihatmu sedang tidak baik-baik saja
Tatapanmu tidak seperti biasanya
Napasmupun berirama lebih cepat
Hangat tubuhmu melebihi dari biasanya
Kemarin kamu menyambut tanganku dengan ciumanmu
Hari ini, aku meraih tangan mungilmu untuk kucium
Hati ini terasa memeluk hatimu
Raga ini ingin sekali mendekap tubuh mungilmu

Pangeran kecilku,
Kamu adalah anak terkuat yang kutemui
Aku ingin sekali melihatmu berdendang dengan nada-nada
Aku ingin sekali melihatmu tertawa riang kembali
Aku ingin kamu selalu menatap mataku tanpa jeda
Tatapan matamu hari ini seakan berkata padaku, aku kuat, tenang saja

Pangeran kecilku,
Cepatlah sembuh
Meski tak terucap lewat bibirku,
Tatap mataku selalu tertuju padamu,
Untuk mengatakan bahwa aku sungguh menyayangimu

Senin, 30 September 2019

Benang Kusut

Standard


Penghujung malam akhir September
Kata Green Day, "Wake me up, when September Ends"
Tampaknya pikiranku masih tidur
Sengaja tidur karena enggan untuk bangun
Berharap ada yang membangunkan
Nyatanya tidak ada
Memang sebaik-baik pengingat diri adalah diri sendiri


Pikiran bagai benang kusut
Kamu tahu benang kusut?
Berantakan, tak beraturan, tanpa makna
Perlu waktu untuk mengurainya
Perlu kesabaran untuk menyusunnya kembali
Tak perlu banyak tangan untuk mengatasinya
Hanya sepasang tangan penuh niat sebagai penyelesaian
Banyak tangan kadang semakin membuatnya kusut
Tak jarang suara lain mengatakan untuk mengguntingnya saja sebagai solusi instan
Apakah itu penyelesaian terbaik?


Seutas benang saja perlu di jaga agar tidak kusut
Terlebih lagi soal pikiran
Memang perlu dikuliti satu persatu
Mana yang berkelok, mana yang lurus
Yang berkelok perlu diluruskan
Yang lurus harus dijaga agar tetap pada koridornya
Kemudian disinergikan agar menjadi satu kesatuan yang utuh

Cinta, Harta, Tahta
Tiga kata bisa menjadi petaka atau pelita
Ketika salah satunya masuk tanpa izin dan syarat
Siap menerima petaka untuk menjadi kusut kembali
Memang sebaiknya menjadi selektif dan mawas diri
Demi akal dan pikiran agar tetap terawat dan terjaga

Merindu Hujan

Standard



Penghujung September tiba
Bukankah seharusnya hujan siap menyapa?
Suasana sendu saat hujan sudah kurindu

Dalam lamunanku, sepertinya aku mendengar suara rintik hujan
Langkah kaki penuh harap mengintip awan langit
Ternyata matahari masih dengan beraninya menyinari wajahku
Awan putih masih juga bertandang di langit biru
Kapan tiba saatnya hujan?

Kemarin langit mendung mewarnai sore hariku
Seketika anganku siap menyambut suasana sendu saat hujan
Namun rupanya hujan belum juga ingin menampakkan dirinya
Harapan dan kenyataan tidak bersinergi untuk diriku

Andai hujan tiba
Anganku akan bersorak dengan gembira
Berbaur dengan basahnya air hujan
Meringankan diri, menari bersama hujan
Seakan tiap tetes hujan yang jatuh meluruhkan semuanya

Hujan mampu menyamarkan air mata
Hujan mampu meluruhkan luka
Hujan mampu menghipnotis hati yang bimbang
Hujan mampu membawa jiwa melirik hati yang terdalam

Aku ingin diriku sendu bersama hujan
Hujan, aku merindukanmu

Jumat, 19 Juli 2019

Menemukan Oase di Bangsal Anak

Standard

Halooooooooo readers!
Apa kabar? Jumpa lagi dengan tulisanku.

Pesan pengantar tulisan ini adalah "Buruk belum tentu buruk, baik belum tentu baik".


Ide utama tulisan ini merupakan hasil perenungan selama menjadi perawat di bangsal anak sejak 3,5 bulan yang lalu.

Sesungguhnya, menjadi perawat di bangsal anak adalah hal yang sangat tidak aku harapkan. Sejak awal proses keputusan menjadi perawat di rumah sakit, yang kuharapkan adalah menjadi perawat di ruang gawat darurat atau bangsal dewasa. Alasannya adalah sulitnya membangun trust dengan anak ketika mereka tau bahwa perawat akan membuat mereka merasa sakit.

Beberapa tahun lalu saat praktik klinik di bangsal anak pada masa perkuliahan, kali pertama aku merasa bahwa kehadiranku sebagai perawat, tidak dibutuhkan. Saat ingin mengukur tanda vital (suhu, nadi, dan pernapasan) anak, sudah disambut tangisan. Padahal, itu bukan tindakan invasif yang membuat mereka merasa sakit. Apalagi kalau menyentuh tubuhnya, tak jarang mereka menepis dan berontak. Lain halnya di bangsal dewasa, bantuan perawat justru dicari karena mereka merasa memerlukannya. Tak ada bentuk penolakan dan tangisan, yang ada adalah penerimaan. That's why bangsal anak menjadi salah satu yang sangat aku hindari.

Ternyata oh ternyata, sekarang justru ditenggelamkan sebagai perawat di bangsal anak. Saat hari pertama penempatan ruangan untuk orientasi kerja, benakku berkata, "Oh, Man. Kenapa aku harus di sini?". Karena aku tidak punya pilihan, yang terjadi adalah aku harus bisa beradaptasi.

Time flies....ternyata sudah tiga bulan lebih dua minggu aku jadi perawat di bangsal anak. Finally I  could say, " Alhamdulillah. Untung ditempatin di bangsal anak!!". Nah lho..........

Beberapa hal yang membuatku beruntung jadi perawat di bangsal anak. Pertama, aku belajar untuk jadi orang yang mudah memberikan apresiasi. Anak lebih senang kalau dipuji. Jadi, sedikit hal positif yang kita temukan, harus diapresiasi. Semua bentuk apresiasi yang kita berikan akan membuat mereka senang. Membuat mereka senang adalah poin bagus untuk membangun trust. Kedua, aku jadi orang yang mudah mengungkapkan rasa sayang. Entah dengan memanggil mereka dengan sebutan "sayang", mengelus rambutnya, menggendong, mengusap dahinya, senyum dan sebagainya. Kalo di bangsal dewasa kan nggak mungkin manggil mereka "sayang", nanti jadi baper pasiennya, hahha... :D Ketiga, aku jadi lebih banyak bersyukur kalau lihat anak-anak yang sehat di luar sana, meskipun bukan anak atau adik sendiri. Biasanya, kalau lihat anak sehat, biasa aja. Sekarang jadi suka nyeletuk, Alhamdulillah dia jadi anak yang sehat. Keempat, belajar tentang pengorbanan orang tua khususnya ibu. Bagaimana orang tua sangat rela berkorban ketika anak sakit. Khususnya bagi anak dengan penyakit-penyakit tertentu. Lelahnya menjaga dan merawat anak sakit. Setiap tiga jam harus memberikan susu, ganti diapers, dan seringnya sedikit tidur. Kadang suka memperhatikan raut wajah mereka semua dan ingin bertanya bagaimana perasaan dan apa yang sedang dipikirkan. Secara tidak langsung, mereka semua memberikanku gambaran tentang keikhlasan perjuangan orangtua ketika anaknya sedang sakit. Dan mungkin masih banyak hal yang bisa dipelajari kalau lebih direnungi lagi lebih dalam.

Belajar bukan hanya di lingkungan pendidikan. Guru bukan hanya untuk mereka yang punya titel profesi guru. Semua orang yang memberi pelajaran adalah guru. Jadi, semua pasien dan keluarga di bangsal anak adalah guruku. Mereka adalah oaseku di bangsal anak. Terima kasihku untuk Allah dan mereka yang mengajariku banyak hal. :") Semoga semua anak bisa sehat selaluuuu~~ Aamiin!


Cileungsi, 19 Juli 2019

Selasa, 11 Juni 2019

Pilih Jatuh Cinta atau Bangun Cinta?

Standard
Halo, readers! Mohon maaf lahir dan batin yaaa.. 😊

Ini adalah postingan pertamaku tentang asmara. Aku bukan pakar asmara. Sebagai manusia biasa, aku juga pernah jatuh cinta, sakit hati, dan menjalani proses yang namanya move on. Well, kata utama dalam tulisan ini adalah cinta. Cinta bermakna luas, ada cinta dengan Tuhan, makhluk hidup ataupun benda mati. Cinta yang ingin aku tulis adalah cinta dengan sesama insan manusia lawan jenis, pria dengan wanita, dan sebaliknya.

Suatu hari, aku sedang mendengarkan radio dan ada satu lagu yang diputar, judulnya Bangun Cinta oleh 3 Composers. Lalu, aku putar ulang di Yutub sembari menghayati lirik-liriknya. Responku saat itu adalah “Bener juga ya. Hmmm...”. Nah, yang penasaran, liriknya tuh begini.

Kata pujangga, cinta itu luka yang tertunda 
Walau awalnya selalu indah 
Bila bukan jodohnya siap-siap tuk terluka 
Kata pujangga, bangun cinta itu tak semudah tak secepat hati jatuh cinta 
Namun bila jodohnya kita pasti bahagia 
Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta 
Jatuh itu sakit, bangun itu semangat 
Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta 
Meski tak mudah namun cinta jadi  punya tujuan

Adakah yang setuju dengan pernyataan “lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta”?

Akuuuuuuu!! 🤗🤗🙋🙋

Aku punya beberapa alasan kenapa pilih bangun cinta. 

Based on my own experience, jatuh cinta dengan seseorang itu menyenangkan hati pada awalnya. Akan menjadi lebih menyenangkan jikalau seseorang tersebut merespon balik dengan perasaan yang sama. Lalu, muncullah terminologi pacaran atau teman tapi mesra atau hubungan tanpa status. 😁 dan mayoritas endingnya adalah sakit hati dalam bentuk putus dengan pacar, pacaran lama sama siapa, eh nikahnya sama siapa. Kalau kata banyak orang sih namanya jagain jodoh orang. Lalu kita harus move on karena life is go  on, ya kan? Ada yang move on nya cepat, ada juga yang bertahun-tahun baru berhasil move on atau bahkan sampai sekarang belum totally move on dari si Dia. Ehem. Akhirnya, membuang-buang waktu dengan sia-sia.

Buya Yahya membagi ilmu tentang proses mencintai seseorang dalam Islam. Ada empat tahap dalam proses mencintai seseorang. Pertama adalah tahap mengagumi. Yes, ada sesuatu yang membuat kita tertarik atau kagum. Kedua, tahap memiliki kecenderungan. Tahap ketiga, memutuskan AKAN mencintai diikuti tahap terakhir, yaitu mengabadikan cinta dengan pernikahan. Sekali aku hadir acara seminar pranikah, pembicara memberi pesan bahwa keputusan untuk menikah dengan seseorang sebaiknya pada saat tahap kecenderungan. Sebab, kalau sudah terlanjur cinta, manusia cenderung menjadi irasional dalam membuat keputusan dan dinamakan cinta buta.

Jika sudah terlanjur cinta, pilihannya adalah halalkan atau tinggalkan. Karena cinta tanpa tujuan pernikahan, pada akhirnya hanya syahwat semata dan berujung patah hati. Mungkin 1 banding 1000 kejadian jatuh cinta dan berlanjut bangun cinta dalam pernikahan. Tapi aku tim yang nggak mau lagi berani untuk hadapi sakit hati. Jadi, memilih bangun cinta daripada jatuh cinta.

In case pada akhirnya harus jatuh cinta, aku pilih nasihat “Jadikan akal menguasai perasaanmu. Jangan perasaanmu menguasai akalmu.”, untuk menata cinta sebelum jatuh terlalu dalam di waktu yang salah. Karena perasaan cinta dan kasih sayang juga anugrah dari Yang Maha Kuasa. 😙 Jadi, kamu pilih apa? Jatuh cinta atau bangun cinta? :)



Senin, 31 Desember 2018

Buku Nursing Untold Stories

Standard
ﺑﺳﻢ ﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻢ


Hai, apa kabar? Hehe

Postinganku terakhir di blog ini adalah tentang pengalamanku di pondok. Anyway, aku sudah berhenti belajar di sana. Bukan telah selesai programnya, tapi memutuskan untuk berhenti di 3/4 jalan. Yah, pokoknya gitu deh. Sedih. Soon, mau cerita soal itu juga. Tunggu aja! Dalam postingan ini, aku mau cerita tentang karyaku bersama teman-temanku yang udah sejak setahun lalu ada. Yeay! 

Apa itu?

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeng jeng jeng
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini dia!!!





Buku Nursing Untold Stories.

Buku ini adalah buah karya kami, aku dan teman-teman kampus.  Ya, bisa ditebak sih, bukunya ini tentang keperawatan. Lebih tepatnya adalah kumpulan kisah yang kami alami selama menjalani masa pendidikan keperawatan di kampus, khususnya di masa-masa pendidikan profesi. Kisah-kisahnya beragam, ada yang kisahnya berfokus pada perasaan si penulis, dan ada juga yang fokus pada kejadian bermakna bagi si penulis. Semuanya adalah true story, artinya kejadian yang diceritain memang benar adanya dialami oleh masing-masing penulis. Kami harap, dengan adanya buku ini dapat sedikit menggambarkan bagaimana perjuangannya menjadi seorang perawat. Well, gak sedikit juga pandangan negatif soal profesi yang satu ini. Ada yang bilang juteklah, pembantu dokterlah, sampe kasus yang di grebek gubernur Jambi. Nah, di buku ini, kami mencoba untuk menyeimbangkan hal itu. Kami mencoba untuk memberikan pandangan kami terhadap profesi perawat dan harapan-harapan kami terhadap profesi kami.

Buku ini sebenarnya sudah lahir setahun yang lalu, yaitu sejak 27 Oktober 2017. Hehe.. Tapi baru sempat buat tulisan ini sekarang karena harus karantina di pondok sejak 25 Oktober 2017. Alhamdulillah, buku ini sudah terjual lebih dari 40 eksemplar. Hihi..... Bersyukur karena akhirnya punya buku! Bersyukur karena akhirnya kita berani publish tulisan-tulisan kita. Aku ingat sekali pesan Abi Qurasih Shihab, beliau berkata jangan pernah takut untuk menulis dan jangan pernah takut salah dalam menulis. Well, we deserve it! Meskipun yang terjual tak sebanyak penulis-penulis kondang, tapi yang terpenting, we have done it!

Dalam postingan kali ini juga aku amat sangat berterima kasih kepada teman-temanku yang keren abis promosinya. Jujur, merasa bersalah karena ninggalin project ini duluan sebelum bukunya launching. Rasanya kayak ninggalin tanggung jawab. Padahal udah dirancang timelinenya sedemikian rupa supaya launching sebelum minggat ke pondok. Dan....kenyataannya berkata lain. Tapi, melihat perkembangan postingan di instagram, dll itu rasanya...............................bahagia.  Bersyukur banget Allah udah kirim kalian sebagai para penulis di buku Nursing Untold Stories ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dan semoga saja buku ini bermanfaat dan niat kita selalu diluruskan, ya untuk lahirnya buku ini. Sekali lagi, terima kasih banyak kepada Nim, Nisrina, Pipit, Nabila, Yiyi, Nur, Dewi, Devi, Thifa, dan Asul.

Pengalaman sampai buku ini lahir, pertama pasang niat dan tujuan. Setelah itu, cari orang! Haha.. Maksudnya ajak teman-teman kita buat terlibat dalam pembuatan buku. Entah itu untuk sumbang tulisan, buat design cover, jadi editor, dan lain-lain. Ketiga, pilih mau terbit di mana. Pilih self publishing atau di penerbit kondang. Kita pilih self publishing karena lebih available buat buku ini lahir bagi para penulis pemula. Lalu, terpilihlah nulisbuku.com sebagai wadah untuk menerbitkan buku ini. Terakhir, doa biar lancar jaya. Proses pembuatan buku ini kira-kira tiga bulan sudah sampai di publish di web nulisbuku.com.

Yang belum punya bukunya, bisa pesan di sini yaaaaaaaaaaaaa --> Nursing: Untold Stories
Harganya 51.000 aja kok, tapi belum ongkos kirimnya. Hehehehee
Cara pesannya, harus jadi member nulisbuku.com dulu. Atau kamu bisa e-mail langsung ke admin@nulisbuku.com
Pokoknya harus beli! *Lah, maksa* Haha.... Buku ini bisa dikonsumsi oleh umum kok, nggak cuma buat yang berkecimpung di dunia keperawatan aja. Jadi, jangan ragu untuk membelinya. :D

Kalau udah baca, jangan lupa kasih komen atau review. Bisa di webnya nulisbuku.com atau di goodreads atau buat di blog sendiri juga boleh. :3

Terakhir, terima kasih, kamu. :) Semoga tahun baru sudah punya buku ini, :D

Wassalam.