Kamis, 11 September 2014

Acceptance Letter, China!

Standard
        Going abroad. Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata 'going abroad'? Kalau saya sih langsung teringat masa SMA, yaitu waktu kali pertama saya mendengar kata 'going abroad'. Ya, sebatas cukup tahu tetapi belum saya jadikan sebagai salah satu impian hidup. Belum terpikirkan sebelumnya kalau saya akan bisa 'going abroad'. Dua tahun kemudian, setelah saya sudah menjadi mahasiswa tingkat pertama, tak sengaja saya melihat dua senior SMA saya yang sudah 'going abroad'. Dalam hati saya berkata, "Wah, keren sekali mereka. Kapan ya saya bisa seperti itu?". Sejak saat itu, saya bermimpi untuk bisa keliling Indonesia, bahkan dunia dengan membawa 'sesuatu' yang bermanfaat. 
          Satu tahun kemudian (Januari 2013), saya tergabung kedalam sebuah komunitas di UI, bernama Leprosy Care Community (LCC). Nah, di sana saya kenal dekat dengan salah seorang senior yang sudah beberapa kali 'going abroad' ke Vietnam, Hongkong, Jepang, dan saat itu sedang dalam proses persiapan ke Korea. Hey! Semudah itukah bisa 'going abroad'? Karena sangat curious, saya banyak bertanya kepadanya, bagaimana bisa seperti itu? Apa usaha yang dilakukan? Bagaimana biayanya? d-l-l. Inti jawabannya adalah koneksi (networking), perjuangan, usaha, dan do'a. Waktu terus bergulir, kemudian saya membaca ini di timeline facebook saya (Juni 2013):
"Teman-teman semua-muanya.. kita dapat undangan rapat ni namanya Annual General Meeting (AGM) dari Joy In Action (JIA) saudara LCC UI di China. Tanggal : 22-25 Agustus 2013tempat : di Guilin, China ; anggota rapat : staff JIA . Campers dari China, Jepang, India, Vietnam jadi LCC UI akan mengirimkan perwakilan yang dari pengurus dan volunteer LCC UI sebanyak 3-4 orang.penjelasan tentang AGM dan formulir aplikasi bagi yang berminat bisa diunduh dipahami dan diresapi kemudian diisi dan dikirim deh."
Ketika itu, saya merasa excited. Saya merasa bahwa mimpi saya untuk keliling dunia dengan membawa manfaat, perlahan bisa menjadi nyata. Kemudian saya mendaftarkan diri di hari terakhir pengumpulan berkas. Lalu seleksi wawancara, dan akhirnya saya terpilih sebagai delegasi LCC UI di acara tersebut. Alhamdulillah, senang luar biasa. Akibatnya, saya jadi mempunyai paspor. Hehe.. :-)

          Pertama kali mengurus administrasi untuk keluar negeri, ternyata tidak terlalu sulit. Pembuatan paspor memakan waktu seminggu. Pembuatan Visa China hanya sekitar 4 hari. Ketika itu, saya merasa sangat mudah dalam membuat visa China. Tidak terpikirkan sama sekali untuk menggunakan jasa Travel Agent. Mengurus sendiri memang mempunyai sense tersendiri. Berkas yang disiapkan, yaitu application form, paspor asli, foto 4 x 6, invitation letter (jika ada), fotokopi paspor, dan fotocopi KTP. Untuk application form Visa China, saya membuatnya di website Chinese Visa Application Service Center. Di website itu, kita hanya mengisi saja, kemudian bisa langsung jadi dokumen .pdf dari yang sudah di-isi. Mudah kan? Oh ya! Saat itu biaya pembuatan visa sebesar Rp 540.000. Setelah 4 hari sejak memasukan dokumen, jadilah visa pertama saya.


       Mengenai keberangkatan, saya tidak perlu memikirkan biaya untuk berangkat karena tiket pesawat dan akomodasi selama disana sudah di sponsori oleh Sasakawa Memorial Health Foundation. Karena tanggungan biaya inilah sebagai alasan saya untuk mendaftarkan diri. Hanya saja, saya perlu menyiapkan biaya untuk paspor, visa, asuransi, airport tax, dan akomodasi selepas tanggal 22-25 Agustus. Karena di luar dari acara AGM, kami, delegasi LCC diajak untuk mengunjungi perkampungan kusta di China selama 2 malam 3 hari. Saya hanya menukar uang sejumlah satu juta menjadi 210 Yuan (kalau tidak salah ingat). Dan itu sangat pas-pasan sekali. 

Paspor dan Visa sudah siap, persiapan untuk kegiatan AGM juga sudah siap, saya siap untuk menjejaki tanah Negeri Bambu..... (to be continued)
Lokasi: Cileungsi, Cileungsi, Bogor, West Java, Indonesia