Sabtu, 08 November 2014

Baguan Village, China

Standard
Hai, readers! Jumpa lagi dengan jejak perjalanan saya.. :-D

Postingan sebelumnya, saya bercerita tentang kegiatan Annual General Meeting di China. Nah, kali ini saya akan bercerita tentang satu desa koloni orang yang pernah mengalami kusta di China. Jadi, cerita ini merupakan lanjutan ceritera dari yang sebelumnya. Satu minggu saya berada di China, terbagi menjadi 4 hari dengan event AGM dan 3 hari dengan event Home Visit di Baguan Village.

Sebagai introduction, Joy In Action, Organisasi Kusta di China sudah memiliki 8 district atau 8 daerah perluasan untuk melakukan Workcamp. Workcamp adalah kegiatan sosial dengan tinggal bersama orang-orang yang pernah mengalami kusta di suatu koloni kusta. Kegiatannya bermacam-macam, diantaranya adalah work, home visit, lomba-lomba, dan sebagainya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghapus jarak antara orang sehat dan sakit, mengurangi stigma diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta. 

Pasca AGM, setelah check out dari hotel, saya, Kak Detia, dan Kak Isti kembali melanjutkan perjalanan & petualangan kami di negeri bamboo ini. Nah, kemudian kami bersama beberapa teman-teman volunteer China yang lain akan berkunjung ke salah satu districtnya JIA, yaitu Nanning. Nama desa koloninya adalah Baguan. Lokasi Desa Baguan ini sangat terpencil, berada di dalam pedesaaan China, diantara gunung-gunung kapur putih yang besar dan kebun-kebun. Menurut saya, lokasi Desa Baguan ini lebih pelosok dibandingkan Desa Banyumanis di Jepara yang juga merupakan salah satu desa koloni kusta di Indonesia.

Setelah check out dari hotel, Saya, Kak Detia, dan Kak Isti beserta beberapa volunteer China lain menuju kantor sekretariat JIA di Nanning. Kami pergi dengan menggunakan taksi. Tidak ada yang spesial sih dalam perjalanan menuju sekretariat JIA ini. Tapi, ada kejadian spesial ketika kami, volunteer LCC Indonesia, volunteer Vietnam, dan seorang volunteer China berniat untuk mencari makan siang. Kami mencari makanan yang halal karena ada kami bertiga yang tidak bisa konsumsi makanan tertentu. Kami melewati pasar tradisional pasar dan mencicipi makanan halal di China. Sayuran di China berukuran jumbo jika dibandingkan dengan di Indonesia. Makanan paling mudah dijangkau memang di negara sendiri. :(


Gambar kiri: penjual sedang membuat mie Gambar kanan: mie yang sudah jadi :D

Berbicara orang yang pernah mengalami kusta, ya diskriminasi adalah kata yang sangat dekat dengan mereka. Menghela napas, ketika saya berada dalam perjalanan menuju desa koloni kusta di Nanning, China. Perjalanan yang sangat panjang harus di tempuh. Kira-kira sekitar 6 jam baru bisa tiba di sana.

Gambaran perjalanan kami menuju desa koloni kusta di Nanning

Kami sudah hampir sampai dengan desa Baguan, salah satu desa koloni kusta. Saat itu, suasana sudah hampir gelap dan mendung. Saat itu, saya merasa bahwa saya sedang terdampar di suatu daerah terpencil dimana jarang sekali orang melewati daerah tersebut. Satu kata, sepi. Untuk sampai di desanya, kami harus menyusuri jalan panjang diantara kebun-kebun tebu yang cukup tinggi (melebihi tinggi badanku -_-). Suasanan semakin gelap, diiringi gemuruh sesekali. Tanah yang kami pijak adalah tanah merah, sudah basah oleh rintik-rintik air hujan. Ya, pengalaman pertama sekali saya berada pada kondisi separah itu. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, akhirnya kami sampai. Fiuh...

Tahukah kalian? sesampainya kami disana, GELAP. Gelap sekali, tanpa pencahayaan sedikit pun, hanya ada cahaya kecil yang bersumber dari handphone kami semua. Kemudian kami mencuci kaki, karena kaki kami sudah berlumuran dengan tanah merah. Usut punya usut, di desa ini sudah mati listrik sejak 2 hari yang lalu. Ah iya! Di desa ini hanya ada 4 baris rumah yang berjajar. Setiap baris ada 5 rumah yang berdampingan, dimana masing-masing rumah dihuni oleh orang yang pernah mengalami kusta berusia diatas 50-60 tahun.

                                            Gambar kiri: pemandangan sekeliling desa. Gambar kanan: Pemukiman Warga

Setelah kami mencuci kaki, salah satu dari kami (Chinese) masuk ke salah satu kamar warga dan membawa lilin kemudian mengantarkan kami ke satu kamar yang kosong untuk kami bermalam disana selama 3 hari 2 malam. Setiap langkah yang saya tapakkan, saya melihat sekeliling dengan sedikit rasa khawatir. Saya agak terkejut dengan suara anjing yang menggongong di sana. Tidak hanya itu, suara gemuruh menjadi semakin sering dan hujan menjadi lebih deras. Disusul ada suara ledakan seperti petir yang menyambar ke lantai dimana kami berpijak, terlihat garis putih menyambar dibawah kaki saya. Seketika rasa panik memuncak. Ya, itulah perasaan dan kondisi ketika saya pertama kali sampai di sana. Masih teringat jelas hingga kini.

Peristiwa yang mencengangkan telah berlalu, kemudian kami bersama-sama diajak mengunjungi salah satu warga disana untuk makan malam dan mengobrol. Warga desa berbicara dengan bahasa China yang tidak saya mengerti artinya apa. Saya hanya bisa senyum saja. Beruntungnya kami, Indonesian campers, ada yang bersedia untuk menerjemahkannya kedalam bahasa Inggris. Kesan pertama saat itu adalah kekeluargaan dan penerimaan yang luar biasa ramah. Kami berbeda budaya, berbeda agama, tidak mengerti bahasa satu sama lain, tapi kami diterima dengan ramah sekali. Hanya hati yang bisa bermain ketika bahasa verbal tidak bisa dimengerti.. :') 

Gambar kiri: suasana makan malam pertama bersama warga. Gambar kanan: tempat tidur selama di desa

Hari-hari kami lalui dengan mengobrol dengan warga, makan bersama, dan mengikuti aktivitas warga dengan bersama-sama. Saya terharu ketika salah seorang warga (wanita lansia) mengatakan kalau meskipun kita berbeda bangsa, tetapi kita sesama manusia yang harus saling menyayangi, dan jangan pernah melupakan mereka (orang yang pernah mengalami kusta). Ada lagi, karena mereka diberitahu kalau kami, Indonesian campers tidak bisa makan babi, mereka rela untuk menyembelih ayamnya untuk kami makan. Saya belajar bahwa perbedaan bukan menjadi suatu tabir dalam membangun persaudaraan.

Pekerjaan mereka disana panen kelengkeng, menjual hewan ternak (ayam), dan kelengkeng kering. Ohiya, satu hal yang menarik, saya menonton film Sun gokong asli di sana. Hahaha :'D
Hal yang membuat saya senang lagi adalah saya bisa melihat bintang-bintang bertaburan dengan jelas sekali. Lihat rasi scorpio dan crux disana dengan posisi lintang yang berbeda dari Indonesia. :')

Gambar kanan: makan bersama warga. Gambar kiri: kelengkeng kering

Hari terakhir, kami bepamitan kepada warga untuk pulang. Ada peristiwa yang menyedihkan. Salah satu kakek disana mengantar kami sampai jalan raya. Beliau melambaikan tangannya hingga mobil yang kami tumpangi hilang dari pandangan. Rasanya sedih.. Entahlah... Semoga kalian semua sehat selalu. Senang bisa bertemu kalian semua di tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. kalian memberikan saya perlajaran hidup yang berarti. Xie-Xie!
Cuaca Cerah Mengantar Kami Pulang dari Desa Baguan

Pulangnya kami dari desa Baguan, waktunya kami (Indonesian campers) juga pulang menuju tanah air tercinta. Dari Nanning, kami harus kembali ke Ghuangzou untuk smapai di bandara. Kami menggunakan kereta eksklusif dengan bed dalam menuju destinasi akhir karena lama perjalanan seperti dari Jakarta menuju Surabaya. Ini pengalaman pertama saya menumpangi kereta macam seperti ini. Rasanya konyol sekali saat itu. haha..

Sesampainya di Ghuangzou, kami di guide oleh seorang Chinese, bernama Mumu. Dia yang menemani kami makan siang dan mengantarkan kami sampai bandara. Xie-Xie, Mumu!
Itulah jejak perjalanan hidup saya ketika di desa Baguan, China. sampai jumpa di perjalanan berikutnya, Goes to Seoul! ;-)

Suasana Kereta Ekslusif Bed, Nanning-Ghuangzou

Kami bersama Mumu, Chinese camper



Lokasi: Chongzuo, Guangxi, China