Minggu, 08 Februari 2015

Sudahkah Saya Merdeka?

Standard

Merdeka, Saya ingin sekali mengulas satu kata tersebut. 

Sebenarnya, kata 'merdeka' ini terlintas ketika saya memerhatikan seorang pemudi dan ibunya di dalam kereta Commuterline Tanah Abang-Serpong. Kalau saya taksir, pemudi tersebut sekitar usia 16-17 tahun dengan perawakan yang cukup gemuk dan menggunakan pakaian tertutup serta jilbab hitam. Pemudi ini duduk disamping ibunya. Sedangkan saya berdiri menggantungkan tangan kanan pada pegangan kereta untuk mencegah ketidakseimbangan posisi akibat laju kereta yang begitu cepat, di depan mereka.

Hal yang membuat tatapan saya lebih lama kepada pemudi tersebut adalah raut wajah serta cara pandangnya. Setiap orang memang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Saya juga paham kalau kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Tapi, raut wajah yang saya lihat kini berbeda. Raut wajahnya menampakkan kesedihan. Saat itu tatapannya menunduk, bahkan dengan Ibunya sendiri. 

Kala itu, pemudi itu sedang asyik dengan tab-nya dan menunduk. Kemudian, Ibunya mencoba untuk meraih tab yang dipegangnya. Namun, pemudi tersebut mengelak. Kalau saya terjemahkan, mungkin dia berkata "Sebentar Ma, lagi seru.", dalam hatinya. Faktanya, pemudi itu tidak berkata sepatah kata apapun. Hanya menghindar. Berkali-kali Ibunya mencoba untuk meraih tab-nya, namun pemudi itu memberi isyarat untuk tidak mengambil tab dari genggamannya. Saya melihat tatapan Ibu terhadap pemudi, terlihat mengancam. Namun, pandangan pemudi itu ke bawah, sehingga tidak melihat sorotan mata ibunya. Saya yang melihatnya. Hingga akhirnya pemudi itu menyerah. Menyerahkan tab yang dipegangnya kepada Ibunya. Saya melihat lekuk bibirnya semakin merunduk (re: manyun). Gerakan pipi dan sekitar wajah yang dapat saya perhatikan bergerak menampakkan kesedihan. Entah kenapa, saya menafsirkan rasa sedih yang ditampakkan begitu dalam dari pemudi tersebut.

Kereta yang saya tumpangi akhirnya sampai di stasiun Kebayoran. Saya meninggalkan pemudi dan Ibu yang ada dihadapan saya dan menuju pintu keluar kereta Commuterline sambil merenungi peristiwa tersebut. Hingga kata "kebebasan" terlintas dipikiran saya, kemudian muncul kata "merdeka".

Kalau menilik dari KBBI, merdeka memiliki arti 1. bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb; berdiri sendiri. 2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Jelas sekali makna merdeka dari KBBI tersebut. Jika melihat kasus yang saya ceritakan, sudahkah pemudi itu merdeka? Sayapun tidak tahu. Namun banyak sekali fenomena-fenomena yang menunjukkan ke-tidak-merdeka-an di sekeliling saya. Banyak di lingkungan saya yang memiliki suatu grup yang biasa disebut dengan "geng", entah itu di SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Tak jarang sekali, saya merasa bahwa banyak diantara mereka yang belum merdeka. Kenapa? Karena saya melihat raut wajah itu palsu. Kesenangan didapat hanya semu. Menurut saya, kasus tersebut sangat melekat sekali namun banyak yang tidak sadar.

Merdeka juga didapatkan dari diri sendiri. Kalau menurut Bung Karno, “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno). Sama halnya dengan diri kita sendiri. Ketika kita tidak percaya pada diri sendiri, artinya diri kita terbelenggu. Contoh hal kecil kemerdekaan diri sendiri adalah berani melawan ketakutan dari diri sendiri. Kalau saya, dulu pernah tidak merdeka untuk mengungkapkan pendapat. Kini, saya telah bermetamorfosis hingga rasa belenggu itu mulai pudar. 

Indonesia memang sudah merdeka. Namun, merdeka yang seperti apa? Hakikikah kemerdekaan itu? Banyak sekali fenomena-fenomena belenggu kemerdekaan dari mulai yang paling jelas terlihat hingga samar-samar. Sudahkah saya merdeka? Pertanyaan refleksi yang wajib diupdate. Semoga saya dan semua yang membaca merasa merdeka secara hakiki, serta dapat memerdekakan banyak orang. Karena.................................
“Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”  Pramoedya Ananta Toer