Minggu, 18 Oktober 2015

Kehamilan pada Usia Remaja

Standard

Di Ruang Rawat Khusus Kasus Kesehatan Reproduksi dan Kehamilan

"Selamat Pagi.. :) Saya Suster Iin. *Ragu bilang Ibu* Mbak namanya siapa? Usia mbak berapa?Saya mau periksa tekanan darah, nadi, suhu, dan napas mbak dulu ya.. :)"- saya
"14 tahun suster"- pasien
*muka datar* *senyum lagi**ngasih tau hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV)*
"Pemeriksaannya sudah selesai. Selamat istirahat kembali, X. :)"- saya

Pindah pasien lagi dengan rencana caesarian section (operasi sesar).

"Selamat Pagi.. :) Saya suster Iin. Siapa nama Ibu? Berapa usia Ibu?"- saya
"Y, suster. 15 tahun"- pasien
*glek*
"Wah, masih muda ya.. Suster mau periksa tekanan darah dulu ya... :)"- saya

Begitulah kira-kira kejadian hari pertama praktik klinik pada stase maternitas di suatu rumah sakit. Oleh-olehnya, tidak hanya ilmu dan pengalaman yang diperoleh, tetapi juga bahan renungan. Tentang kehamilan pada usia remaja. Saya cukup dibuat kaget bertemu pasien dengan usia remaja di ruang rawat  khusus maternitas. Renungan yang cukup membuat hati bergetar, sungguh meski agak berlebihan. Menurut saya pribadi, bertemu tiga pasien maternitas dengan usia remaja adalah jumlah yang banyak, tidak sedikit.

Ternyata, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2012, angka kejadian kasus kehamilan pada usia remaja (15-19 tahun) di Indonesia mencapai 48 dari 1000 kehamilan (BKKBN, 2014). Pun Indonesia menempati urutan kedua tertinggi pernikahan usia muda setelah Kamboja (Isfandari & Lolong, 2014). Pada sisi lain, Indonesia belum mencapai target dalam tujuan MDGs pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Kehamilan adalah suatu krisis maturitas yang dapat menimbulkan stres, tetapi berharga karena wanita tersebut menyiapkan diri untuk memberi perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar (Bobak, 2005). Dengan adanya kehamilan, maka wanita mengalami perubahan konsep diri untuk siap menjadi orang tua. Hal ini sesuai dengan tugas perkembangan usia dewasa yang dimulai pada usia 18 sampai 35 tahun, yaitu menentukan pasangan hidup, belajar untuk menyesuaikan diri dan hidup bersama pasangan hidup,  membentuk keluarga, belajar mengasuh anak, mengelola rumah tangga, meniti karir atau melanjutkan pendidikan, mulai bertanggung jawab sebagai warga negara, dan memperoleh kelompok sosial yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya (Havighurst dalam Adranita, 2008).

Sesuai dengan teori, bahwa kehamilan, kelahiran adalah tugas perkembangan usia dewasa dan tentunya berbeda dengan tahap perkembangan usia remaja. Menurut Havighurst dalam Ramadan (2013), tugas perkembangan usia remaja adalah berinteraksi sosial dengan teman sebaya, mengetahui dan menjalankan peran sosial, mengenali dirinya baik secara fisik dan psikologis, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, mencapai kemandirian emosional, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapkan pernikahan dan keluarga (pengetahuan), dan memperoleh nilai sebagai pegangan untuk berperilaku.  Maka, sudah jelas bahwa kehamilan dan pernikahan adalah belum saatnya terjadi bagi usia remaja untuk mengemban tugas perkembangan usia dewasa. Hal ini dapat berakibat pada konflik psikologis bagi usia remaja.

Lalu, kapan usia yang ideal untuk hamil? Menurut BKKBN, usia ideal untuk hamil adalah kisaran 20-30 tahun. Jika hamil di luar rentang usia tersebut, maka akan berisiko. Seorang wanita dikatakan siap apabila sudah siap baik dari aspek psikologis, fisik, dan sosial ekonomi (Bobak, 2005). Pada sisi sudut pandang pria, kesiapan menyambut kehamilan adalah ketika keuangan relatif cukup, hubungan yang stabil dengan pasangan, dan kepuasan dalam hubungan tanpa anak (May, 1982 dalam Bobak, 2005).

Jika sesuatu terjadi pada waktu yang tidak tepat, akan memberikan dampak negatif. Bagi remaja yang sudah mengalami masa kehamilan, maka tugas perkembangan remaja yang seharusnya dilalui, dapat tidak tercapai secara optimal. Pun akan terjadi hal serupa pada penyelesaian tugas perkembangan usia dewasa. Anak tidak dapat melanjutkan pendidikannya, belum siap secara mental, serta kesulitan-kesulitan lainnya. Lebih fatal lagi adalah jika terjadi stress dan depresi pada anak.

Dunia kini sudah sangat terbuka. Terbuka dalam pergaulan hingga menimbulkan kasus kehamilan pada usia remaja. Sebaliknya, keterbukaan dalam informasi harus dimanfaatkan. Informasi mengenai persiapan kehamilan banyak tersedia baik di pelayanan kesehatan maupun media massa dan elektronik. Seyogyanya, bagi pembaca yang dalam hal ini menempati posisi sebagai kerabat dekat, keluarga, dan siapapun yang mengetahui informasi ini, ada baiknya membantu untuk menjaga kesehatan anak remaja baik secara fisik maupun psikologisnya. Bagi anak remaja, sebaiknya menjaga diri sendiri dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai usia. Karena, sesuatu yang berlebihan dan tidak sesuai pada porsinya akan memberikan pengaruh yang mungkin tidak baik. :)

Buat adik-adik,
Stay young, Stay Healthy, Stay Happy! Cheers! 
*Hiks, Masa remajanya udah lewat. :'). Abaikan, Hehehe*

Referensi.
Adranita, M. (2008). Perbedaan Fokus Karir antara Pekerja Dewasa Muda yang Mengalami Pindah    Kerja dan Tidak Pindah Kerja di Jakarta. Diakses dari http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126729-331.702+AND+p+-+Perbedaan+Fokus+-+Literatur.pdf
Bobak, et al. (2005). Maternity & Women Health Care seventh edition. Elsevier Mosby, Inc
BKKBN. (2014). Aktivitas Seksual Remaja. diakses dari http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?     BeritaID=1770
Isfandari,S & Lolong, DB. (2014). Analisa Faktor Risiko dan Status Kesehatan Remaja Indonesia      Pada Dekade Mendatang. Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 42, No. 2
Ramadan, MP. (2013). Hubungan Antara Penerimaan Perkembangan Fisik dengan Kematangan    Emosi pada Remaja Awal. diakses dari http://repository.upi.edu/9377/2/s_psi_0800503_chapter1.pdf