Selasa, 12 Januari 2016

BBM: Berani Berbagi Mimpi

Standard
BBM, bukan akronim Bahan Bakar Minyak apalagi Bakso Bakwan Malang ._.
BBM yang dimaksud adalah Berani-Berbagi-Mimpi atau Dare to Share a Dream.

Terlalu lama tidak menulis, membuatku kehabisan kata-kata dan menjadi kaku untuk menulis. Maka, Aku memutuskan untuk menulis sekaligus berbagi tentang salah satu impianku kepada, kamu. Baru-baru ini, sebuah impian sangat mengganggu pikiran dan perasaanku. Perasaan ini yang hendak aku ceritakan kepada, kamu.

Kini Aku sudah berada pada ujung tanduk semester perkuliahan. Maka, skripsi adalah sesuatu hal lumrah bagi calon sarjana sepertiku ini. Jika Tuhan mengijinkan, Aku akan menjadi sarjana pada bulan Agustus 2016 (aamiin). Tapi, tentu skripsi, sebut saja si S itu harus Aku rampungkan hingga tuntas. Kenyataannya, kini Aku masih dalam proses pengerjaan proposal penelitian. Jika diibaratkan sebagai jarak tempuh perjalanan, maka saat ini Aku masih berada pada 1/4 jalan menuju tujuan akhir. 

Aku memilih bidang keperawatan maternitas untuk Si S ini. Tahukah kamu? Intinya, keperawatan maternitas adalah ilmu keperawatan yang berfokus untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan kehamilan atau melingkupi kesehatan ibu dan anak. Lebih spesifik lagi, Si S kepunyaanku akan membahas terkait peran menjadi ibu pada wanita yang baru pertama kali melahirkan (primipara). Sounds interesting, isnt it?

Suatu ketika saat Aku bimbingan dengan dosenku, beliau membuatku sadar akan suatu hal, yaitu kebermanfaatan sebuah penelitian.

"Coba perhatikan semuanya dibagian manfaat. Bagi Masyarakat. Apakah dengan data penelitian yang nanti akan dihasilkan akan memberikan manfaat kepada masyarakat secara langsung? Dengan penelitian ini, kita hanya akan mendapatkan informasi saja dari responden tanpa memberikan manfaat secara langsung. Kecuali kalau penelitiannya dengan memberikan suatu perlakuan eksperimen/intervensi/tindakan kepada responden penelitian kita."

Kalimat di atas tidak sepenuhnya tepat pada setiap kata, namun inti pesannya adalah demikian. Sejujurnya, saat menuliskan bagian manfaat pada Pendahuluan, Aku tidak sampai berpikir sejauh itu. Itulah yang membuatku sadar pada sesuatu hal yang mungkin 'sepele' untuk ditulis. Karena kesadaran itulah, impian untuk menerbitkan sebuah buku mulai mengganggu pikiranku.

Pada sub-bab manfaat di proposal penelitian, kutuliskan manfaat bagi ibu primipara (responden penelitian). Setelah kupikirkan lagi atas perkataan dosenku, ada benarnya juga. Untuk apa Aku tulis jika sebenarnya penelitianku ini tidak memberikan manfaat secara langsung untuk Ibu primipara? Ya memang bisa jadi bermanfaat, tetapi terlalu jauh. Hasil penelitianku ini yang merupakan penelitian studi deskriptif/gambaran hanya dapat memaparkan gambaran data fenomena kepuasan peran menjadi ibu. Data ini dapat bermanfaat untuk tenaga kesehatan atau pihak yang memiliki kepentingan untuk menindaklanjuti data ini. Namun, tidak bagi masyarakat ataupun Ibu primipara.

Kemudian Aku berpikir. *Ting* Buku! Ya, Membuat Buku!

Kata tidak mungkin akan menjadi mungkin bagi Masyarakat atau Ibu primipara untuk mendapat manfaatnya secara langsung melalui sebuah buku. Buku dapat memberikan informasi kepada sasarannya, yaitu pembaca. Maka dari itu, Aku percaya bahwa Impossible dapat bertransformasi menjadi I'm possible. Sejak saat itu, impian ini selalu menghantui dan menggebu.

Pertanyaan besar, muncul. Bagaimana Si S dapat dijadikan sebuah buku?

Ah, Aku jadi ingat perkataan seseorang. Dia bilang, ketika kita hendak mencari cara untuk mencapai sesuatu, mulailah dari kata tanya "Siapa", bukan "Bagaimana". Karena menurutnya, dari jawaban "Siapa" kita akan mendapatkan jawaban "Bagaimana". Dan, Aku sudah tahu jawaban "Siapa", juga Aku sudah mendapatkan jawaban "Bagaimana".

Pada akhirnya, Aku memberanikan diri untuk menulis. Tulisan ini memiliki tujuan sebagai pengingatku sendiri agar Aku tidak lupa bahwa saat ini Aku bersemangat sekali akan mewujudkan impian ini. Si S akan tuntas dalam 4-5 bulan ke depan. Bukan tidak mungkin manusia berubah pikiran, karena Tuhan yang menciptakannya dapat berkehendak untuk membolak-balikan hati manusia dalam sekejap. Pun, tulisan ini juga dapat membantuku sebagai pengingat dan penyemangatku melalui, kamu. :)

Ceritaku ini ternyata sesuai sekali dengan quotes oleh Walt Disney. First, think. Second, believe. Third, dream. And finally, dare. Juga tak lupa bahwa Man propose it, God Dispose it. Kamu juga dapat mencobanya! :)



12 Januari 2016
23.29 WIB