Kamis, 31 Desember 2015

KKN Kebangsaan 2015 Epilogue : Kawan Sabang Merauke

Standard
Beberapa jam lagi, tahun akan berganti. Pada akhir tahun ini, Aku akan menutup serial tulisan Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan ini tentang kawan-kawanku yang berasal dari asal daerah yang berbeda. Pertemuan memang memberikan makna tersendiri yang tidak pernah diprediksi sebelumnya.

Sejak awal berniat mengikuti kuliah kerja nyata (K2N) di kampus, nggak terbayang akan mendapatkan teman baru lintas suku dan daerah karena berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, K2N UI gak pernah bareng mahasiswa universitas lain. Lain ceritanya tahun ini, justru berkolaborasi dengan mahasiswa dari universitas se-nusantara.

Flashback akhir bulan Juli 2015, akhirnya Aku mendapatkan daftar nama-nama teman satu kelompok untuk Kuliah Kerja Nyata tahun ini. Aku, ternyata tergabung bersama 11 orang lainnya untuk selama satu bulan lamanya. Ini dia daftar nama beserta asal universitasnya.


Ya, Aku seorang diri dan juga teman-teman lainnya dari UI bernasib sama. Artinya, harus pandai berkawan. Hehe :D But, at first when I stared the listI had no idea with those my new friends' name, especially with named Petrus Wanggimu. Hehe.. .__.

Kawan pertama yang kontak diriku melalui aplikasi Line, mengaku bernama Joshua Dewantara yang kemudian ku sapa dengan sebutan akrab Jos. Kemudian kami saling berkenalan dan saling mencari kawan yang lainnya agar kemudian dapat membuat grup chat. Kemudian ada friend request di media sosial Facebook bernama Riyan Syah yang tidak lain adalah Hafriyansyah Harahap yang selanjutnya ku sapa Riyan. Kami berkenalan melalu chat message dan bertukar kontak agar mudah berkomunikasi. Aku lebih sering berkomunikasi dengan Jos saat pertama kali karena kami saling bekerja sama untuk mencari kawan kami yang 'entah di mana dia berada'. Kemudian, entah datangnya dari mana, Aku lupa persisnya bagaimana bisa dapat kontak bernama Nico Purwanto di Line. Kemudian Aku, Jos, dan Nico berada dalam satu grup line 'Kelompok 24'. Dan, kami yang sudah dipertemukan masih berusaha untuk mengumpulkan kepingan lain yang belum kami temukan :p

Ku lihat asal Universitas, Riyan harusnya kenal dengan Nurbaini. Akhirnya, kutanyakan padanya melalui chat FB. Yap! Akhirnya ku berteman dengan Nurbaini. Sayangnya, Riyan dan Nur tidak dapat bergabung di Line. Riyan hanya bisa di aplikasi Whatsapp sedangkan Nur pun tidak keduanya. Kemudian kuceritakan perkembangan ini kepada Jos (selalu) haha. Pun akhirnya Jos menemukan Mila Karmila, Santi Ramayani, dan Weny Noralita. Maulia Muzita, teman satu Universitas Jos juga sudah namun dia tidak dapat aktif di line maupun Whatsapp.

Kemudian kulihat lagi asal Universitasnya. Tara! UIN Jakarta. Hemm...Sebenarnya Aku banyak teman di sana, tapi ya sulit juga kan kalau gatau jurusannya. Akhirnya Aku menemukan nama yang sangat Aku kenal di daftar nama peserta KKN Kebangsaan namun di kelompok yang lain, namanya Dwinda Nur Oceani. :D Aku kenal Dwinda sejak kami satu acara kegiatan sosial di Sitanala, Tangerang. What a coincidence! ;) Akhirnya, kuputuskan untuk chat Whatsapp Dwinda menanyakan kontak bernama Hilmi Afif Ar-Rifqi dan mendapatkan kontaknya! Yeay! Berarti......yang belum kami temukan lagi adalah Petrus Wanggimu dan Ihsan Purnama. Iseng-iseng lagi kucari di search engine FB, aku temukan nama Ihsan Purnama kemudian mengiriminya sebuah pesan. Sayangnya, tidak kunjung mendapat balasan, huhu. Pun nama Petrus Wanggimu tidak dapat kutemukan di FB. Ya, sudahlah. 

Setelah berusaha mengumpulkan satu sama lain, akhirnya kami membuat grup di Whatsapp, meskipun pada akhirnya yang aktif cuap-cuap di sana hanya Aku, Jos, Nico, Riyan, Santi, dan Weny. :D Teknologi komunikasi sangat membantu sekali! Luar biasa! Sejak adanya grup itu, kami sering berkomunikasi, saling berkenalan, dan bercanda ria. :D

Dunia ayam (dibalik) sungguh berbeda dengan dunia bukan ayam. Mungkin juga Aku dinilai berbeda ketika chat di grup dengan ketika bertatap muka. Kawan pertama yang bertatap muka denganku adalah Nico. Kami bertemu karena UI dan UNILA pergi bersama menuju Pekanbaru. Kawan kedua justru bernama Petrus Wanggimu yang kemudian disapa Peter! Aku bertemu dan berkenalan dengannya ketika kami makan pagi di LPPM UR sekaligus memberi tahu kalau kami satu kelompok. Responnya cuek sekali, haha.. He even didnt ask about the other friends -_- Ku mulai berspekulasi bagaimana nanti Aku bisa bekerja sama selama satu bulan, meski Aku tahu sepatutnya tidak boleh berasumsi sebelum benar-benar tahu who they really are.

Kawan ketiga, adalah Santi! Aku sering kali chat dengannya sebelum bertemu hingga akhirnya kami janjian bertemu di LPPM UR dan kami berfoto bersama! Foto pertama kami :D Kemudian akhirnya Aku bertemu dan berkenalan dengan Jos, Riyan, Nur, Mila, Weny, Hilmi, dan Maulia (Imul) di Batalyon Infanteri. Kami, tidak bertemu Ihsan Purnama. Ternyata dia tidak ikut kegiatan ini. Kami masih terlihat sungkan satu sama lain, kecuali Aku dan Santi. Kami cepat sekali terlihat akrab dan juga Jos. Kedua orang inilah yang paling banyak bercengkrama denganku pada masa hari pertama bina mental fisik di Batalyon Infanteri. Nur juga cukup sering berbincang denganku. Namun, hari terakhir (hari ketiga) masa Bintal, barulah Aku berbincang dengan Hilmi karena kami satu barisan dan berdekatan (depan-belakang). Mungkin juga faktor posisi urutan barisan selama tiga hari, kami satu kelompok jadi sulit berbincang satu sama lain. Aku selalu berada hampir di barisan paling belakang. -_-

Dont judge the book by its cover! That's it. Seringkali kudengar.

Selama satu bulan lamanya, akhirnya (mungkin) kami saling mengenal satu sama lain. Aku sungguh bersyukur memiliki teman kelompok seperti mereka yang sama-sama berniat tuk membantu masyarakat. They have their uniqueness

Hilmi, paling lawak dan begitu mudahnya bergaul dengan masyarakat, khususnya bapak-bapak, hahaha dan yang paling sering di ajak Bopo (Pak Kades) jalan jalan. Ternyata juga jago mainin musik Hadroh. Selamat, Bro udah berhasil kasih khutbah Jum'at di desa. You, Rock! :D

Nur, yang kini Aku sering panggil dengan sapaan "Wak" atau kadang Kak Ros. "Wak" merupakan sapaan kepada teman sebaya di tanah Melayu, seperti "teh" bagi urang Sunda, ceunah. Nu memiliki logat yang miriiiiiiip banget sama Kak Ros di Upin-Ipin. Makanya, kami semua menyebutnya dengan sebutan Kak Ros. :D Paling cepet kalo mau tidur, haha. :D Paling konsisten ngajar ngaji di desa dan paling sering ngajak Iin sholat berjamaah di Mushola. I'm proud of you! Kak Ros sama kecilnya kayak Aku, tapi dia lebih berani bawa motor gede macam Kawasaki Ninja. Sedangkan Aku, naik motor matic aja masih was-was. :'D

Weny, paling muda diantara kami semua dan calon dokter, partner calon profesiku, perawat. :D Weny, aseli Riau tapi kuliah di Aceh. Aku mudah sekali tertular logatnya. Juga memiliki lantunan yang merdu kalau mengaji. :) Pioneer buat maskeran air beras dan ternyata jago design! So cool! Ah, Aku ingat sekali ketika kami sama-sama menyaksikan proses kelahiran seorang bayi laki-laki. Such a great experience that I ever had. Maybe you too, Wen. :)

Riyan, ketua kelompok! Riyan bagiku adalah seorang yang pendiam. Diamnya mungkin melebihi diamku. :D Calon psikologi yang bisa baca karakter orang melalui tulisan. Katanya, Aku adalah orang yang energik berdasarkan tulisan tanganku di buku catatan harian. Riyan juga yang paling konsisten shalat jamaah di mushola dan ngajar ngaji. Aku baru sadar ketika kami shalat Subuh berjamaah pada hari terakhir banget pas mau pulang, kalau lantunan bacaan ayat Al-Qur'an Riyan itu bagus!

Mila, sama lawaknya kayak Hilmi. Haha..Mila paling suka bercanda sama masyarakat. Ini yang membuat kami menjadi dekat khususnya para stakeholder desa. :)) Aseli Palembang dengan logatnya yang khas. Cuma Mila yang paling sering manggil Aku dengan "ii", panggilanku di rumah. :D Jurunya dokumentasi kalo kegiatan-kegiatan di desa. Milaaaaa, mau foto-foto, hiks. :'(

Nico, si kumis :|) Cuma doi yang berkumis dan sangat bangga dengan kumisnya serta jago membuat design. :D Keliatan paling diplomatis, apalagi kalo ngomongin soal pemerintahan, karena Jurusan Ilmu Pemerintahan. :D Nico, anggota yang punya buku bacaan bikin orang berpikir keras dan pendapatnya cukup kaya. Ternyata, aktipis bidang sosial-politik, hihi.. :3

Santi, yang paling sering cerita-cerita sejak awal kenalan. Jurusan perikanan dan punya misi yang sangat baik sesuai dengan jurusannya. Santi yang paling rajin bawa buku yang ukuranya tidak kecil bagiku. Buku itu tentang kemuslimahan. I feel fortunate, karena dipertemukan dengan orang-orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Bundo dari kami semua dannnnn pintar memasak! :3

Peter! Kini Aku sering sapa dengan sebutan "Pace", aseli Merauke. Kalo kata orang Papua, Pace artinya kakak, benarkan? hehe. Pace adalah orang yang paliiing rajin bangun pagi dan hanya dia yang selalu bangun sekitar jam 4-5 pagi. Sekali Aku pernah minta bangunkan dari jendela supaya bisa pergi jogging. Haha. Rasanya, cum Pace yang paling Anti dengan Cabai. Aku senang sekali karena Pace sering kali bercerita tentang kampung halamannya. :D Kadang juga suka membuat kami tertawa, terlepas kami paham atau tidak dari lelucon yang diceritakannya. Haha.. :D

Jos! Jos yang paling disenangi oleh anak-anak seantero desa Tanjung Damai. Udah kayak Bapaknya anak-anak. :D Jos juga baik hati dan sangat loyal, juga sangat bersih dan rapih. :D Paling tahu banget soal per-kelapa-sawit-an. Ilmunya dari perkuliahan sangat membantu masyarakat karena di desa mayoritas bertanam kelapa sawit. Aku jadi banyak tanya kepadanya dan jadi tahu bermacam-macam bentuk biji sawit. :)

Imul, blasteran Minang-Palembang. Imul orang yang sangat berani mengungkapkan pendapatnya. Aku kagum karena dia banyak tahu soal pertanian padahal jurusannya Kimia. :'D Bahkan dia tahu bagaimana cara mengolah kotoran hewan menjadi pupuk kompos, yang mana informasi tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Imul juga yang paling sering menemaniku membuat denah desa, Thansk a bunch, my adventure partner. :D


Aku bersama (dari kiri atas) Hilmi, Nur, Weny, Imul, Santi, Mila, Ryan, Peter, Jos, dan Nico! 


Yap! Aku sungguh senang bisa satu kelompok dengan mereka. Kita, saling melengkapi satu sama lain. Meski pernah saling adu pendapat, tapi akhirnya cair juga karena ada yang jago ngelawak. :D Tulisan ini mengakhiri rangkaian cerita tentang KKN Kebangsaan. Aku mengakhirinya meski sebenarnya cerita ini mungkin takkan pernah usai. :'D

Selamat Tahun Baru, 2016 Kawanku! See You, When I See You in Another Chance, in Another Great Place. Hope You Still Healthy and Happy, as Always :)


In One Frame :)


NB: Dari lubuk hati yang paling dalam, penulis meminta maaf kepada orang-orang yang bersangkutan pada tulisan ini jika ada yang kurang berkenan di hati. :)

2 komentar :

Weny Noralita mengatakan... Reply Comment

Btw, fotoku dan dirimundi atas aku gak punya hiks :(

Maufiroh mengatakan... Reply Comment

Iyaaa ada dikamera hp ku Wennn. Ku kirim deh! :)