Selasa, 09 Juni 2015

Aku, Asumsi, dan Kakek

Standard

Dua malam, Aku bertemu dengan seorang Kakek dengan tongkat yang selalu menemaninya…

Pertemuan pertama, Aku, Kakek, memiliki dunia yang berbeda.
Malam hari sekitar pukul setengah sepuluh di Terminal. Kini, sudah rutinitasku setiap hari Selasa dan Kamis. Aku mengajar di salah satu daerah, perbatasan antara Depok dan Jakarta Selatan. Rutinitasku menunggu angkutan umum yang datangnya se-abad karena Aku berada pada titik pemberhentian akhir. Aku selalu berada di waktu kritis, antara angkutan itu datang karena sopirnya ingin pulang, atau bahkan ada karena memang sudah keberuntunganku. Alhamdulillah, selama ini Aku selalu beruntung, meski harus jalan kaki beberapa meter. Ceritanya sih mau sambil ikhtiar, daripada harus berdiri mematung dalam gelapnya malam. Hal itulah yang menyebabkan Aku sampai di Terminal hingga pukul setengah sepuluh malam.

Disebuah terminal.
Angkutan umum dengan kapasitas maksimum 14 penumpang malam itu sedang sepi. Hanya ada seorang Kakek yang sudah menempati posisinya yang kulihat nyaman baginya di belakang supir. Kulihat dirinya bersandar pasrah, memangku tas punggung, dan sepasang tongkat yang disandarkan ke pembatas zona depan angkutan dengan zona belakang. Aku, seperti biasa. Di pojokan, mencari jendela, menikmati angin, dan bersandar. Kala itu, duniaku, duniamu. Aku, sibuk dengan handphone, meski beberapa kali melihat sekeliling, termasuk Kakek itu, dan berlalu begitu saja.

Pertemuan Kedua, Aku menyelam dalam pikiran tentang Kakek.
Tadi malam, kedua kalinya Aku bertemu dengan Kakek. Akan tetapi, suasana pertemuan yang kedua sangat jauh berbeda dengan yang pertama. Aku, tiba terlebih dahulu daripada kakek. Kondisi angkutan sudah cukup penuh. Posisi pojok belakang supir sudah ada yang menempati, dan pojok-pojok juga sudah ada yang menempati. Aku, duduk diapit oleh 3 orang di sebelah kiriku dan 2 orang di sebelah kananku. Tinggalah posisi duduk untuk dua orang di dekat pintu, di belakang kursi zona depan angkutan. Sekitar pukul sembilan malam, seorang Kakek datang. Ternyata, Kakek yang pernah kulihat sebelumnya.

Kakek datang, masuk angkutan dengan cukup sulit upayanya untuk duduk dan cukup ribet dengan sepasang tongkat yang di pegangnya.

Eh, takut jatoh itu. Ntar kalo jatoh, tanggung jawab lu”, seru tukang parkir terminal.
Ki, naik yang di belakang aja.
Udah , gapapa. Jalan aja jalan. Nih, masih ada satu, biar saya yang di tepi.”, kata Kakek
Udah gapapa bang. Kita Cuma mau numpang kok.”, sahut dua pengamen muda.
Udah jalan aja. Nggak jatoh nggak, kan pegangan ini nih. Coba saya yang di tepi, kan lebih enak. Bisa. Kalo nggak bisa, nggak mungkin saya bisa sampai sini.”, kata Kakek dan mulai menggeser badannya menjauhi tepi pintu angkutan dengan cukup sulit.
Mbak, mbak, tukeran aja mbak”, seruku kepada mbak-mbak yang duduk di belakang supir, tempat duduk Kakek ketika saya melihat pertama kali. Namun, tak ada respon. Entah suara saya yang terlalu kecil, atau lembut, atau halus :p atau si mbak-mbak yang tidak dengar atau apatis (eh?). Saya, ge-re-ge-tan. Akhirnya angkutan melaju dengan keadaan penuh penumpang.
Kayak nggak biasa aja, Baru ketemu ya? Saya mau baca dulu.”, sahut Kakek.

Kemudian, kakek yang sudah memangku tas punggungnya dan menggantungkan tongkatnya di lengan, mengeluarkan buku agenda berwarna hitam dengan tulisan “excecutive agenda” di covernya. Lalu, kakek dengan kacamatanya memegang pulpen serta menggenggam handphone. Sesekali Kakek menjepit handphone dengan mulutnya, kemudian menulis. Aku, tidak tahu. Apakah Kakek itu sedang membaca atau menulis sesuatu hal. Yang pasti, menulis di dalam angkot itu sulit sekali karena Aku pernah melakukan hal itu.

Bang, kiri bang.”, sahut penumpang.

Beberapa penumpang turun, termasuk dua pengamen yang tadi menumpang. Namun, kursi pojok belakang supir masih ditempati seorang penumpang. Kakek mulai kesulitan mengendalikan pegangan tongkatnya. Namun, ia berhasil.

Kiri bang.”, sahut lagi penumpang. Kali ini, banyak penumpang turun, termasuk dua orang di sampingku. Pojok belakang supir pun, kosong. 

Nah, pindah tuh Ki ke belakang”, sahut supir.
Apa? Ki? Kayak nggak pernah ketemu aja. Pung. Hahaha..”, seru Kakek yang sambil memundurkan badannya ke tempat nyamannya. Sekarang, sudah berada tepat di sampingku.

Aku, masih memegang dan membaca buku kecilku yang berwarna hijau, memangku tas punggung, dan handphone. Tidak ingin menoleh ke arah Kakek. Tapi, yang Aku tahu, Kakek masih sibuk menulis, melihat handphone, dan menulis lagi. Kemudian, sesekali aku menoleh, melihat tulisan Kakek. Kemudian, Aku bingung, Aku berpikir. Tahukah apa tulisannya? Satu kata yang dapat Aku baca dan ingat, “esia” dan beberapa kata yang lain.

Aku ingin bertanya, tapi Aku ragu. Asumsiku adalah Kakek sedang belajar menulis. Kakek menuliskan setiap kata yang ada di handphonenya. Lebih tepatnya, message di inboxnya. Ya, sekali lagi, itu asumsi karena Aku tidak bertanya. Asumsi itu berputar-putar di pikiranku.

Kalau menurut KBBI, asumsi adalah dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir karena diangggap benar. Cohen (2000) mengatakan bahwa asumsi adalah kepercayaan, gagasan, dugaan, atau pemikiran yang dimiliki oleh seseorang, sekelompok orang, atau para ahli internal atau eksternal mengenai suatu subjek. 

Ibarat penelitian, maka asumsi yang muncul merupakan hipotesis penelitian. Hipotesis muncul dari serangkaian hasil observasi dan harus diteliti untuk mengetahui apakah hipotesis itu benar atau tidak. Ya, asumsi saya muncul dari hasil observasi, pengamatan yang saya lihat. Namun, memang asumsi tidak selamanya benar atau valid, hanya apa yang kita yakini. Langkah strateginya adalah bertanya, maka tidak akan tersesat ke dalam pemikiran diri sendiri. Sperti mengupas bawang, asumsi berada pada layer bawang paling luar. Kita harus menggali sumber hingga inti, baru bisa temukan jawaban atas kebenaran asumsi. Masalahnya adalah, “malu bertanya, sesat di jalan”.

Semoga saja Aku dipertemukan dengan Kakek lagi. Sehingga Aku bisa menguji dan mempertanyakan asumsiku, benar ataukah salah. Jika benar, maka Aku dapat melakukan sesuatu hal untuknya. Jika salah, artinya aku harus belajar untuk sampai tahap action, bukan hanya berputar pada pemikiran yang dapat menyesatkan. Itulah caring, bukan kepo. :)


Sumber:
Cohen, WA. (2000). A Class with Drucker. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 


8 Juni 2015
 Ruang Rutinitas