Selasa, 15 Desember 2015

KKN Kebangsaan 2015 : Masyarakat Peduli Api

Standard
Hujan, sumber air
Hujan, sumber keberkahan
Hujan, pembawa kesejukan di muka bumi
Hujan, paling favorit dan dinanti oleh Masyarakat Peduli Api

Alhamdulillah, musim hujan sudah datang. Jakarta harus waspada akan banjir, namun Sumatera dan Kalimantan menantikannya. Bagi anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), hujan adalah musim yang paling favorit bagi mereka.

Masih dengan cerita tentang KKN Kebangsaan di desa Tanjung Damai. Program terakhir yang saya dan teman kelompok lakukan di desa Tanjung Damai adalah optimalisasi masyarakat peduli api (MPA). Masyarakat Peduli Api (MPA) adalah masyarakat yang secara sukarela peduli terhadap pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang telah dilatih/diberi pembekalan serta dapat diberdayakan untuk membantu kegiatan pengendalian kebakaran hutan. Anggota MPA merupakan bagian dari masyarakat yang rela untuk mengabdikan dirinya untuk masyarakat dalam pemadaman kebakaran lahan. Menurut peraturan menteri, tugas MPA adalah:
1.      Menjadi mitra dalam upaya pencegahan (penyuluhan di lingkungan tempat tinggal, keluarga dan kerabat)
2.      Melakukan patrol swadaya di lingkungan tempat tinggal
3.      Membantu Manggala Agni dalam pemadaman kebakaran
4.      Melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan melalui ketua regu, RT, RW, pemerintah daerah dan BKSDA/Mandala Agni

Kami, peserta KKN Kebangsaan di desa Tanjung Damai melakukan diskusi/ bincang-bincang bersama anggota MPA. Berdasarkan hasil diskusi, diketahui bahwa MPA desa Tanjung Damai telah dibentuk sejak akhir tahun 2012 yang di-inisiasi oleh kecamatan Siak Kecil. Pada tahun 2013, terbentuklah 10 anggota MPA desa Tanjung Damai. Terbentuknya Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa Tanjung Damai sangat membantu masyarakat dan pemerintah dalam penanggulangan kebakaran. Selama dua tahun terbentuk, MPA telah banyak membantu memadamkan kebakaran lahan di desa Tanjung Damai, khususnya ketika terjadi kemarau panjang.

Permukaan memang kadang selalu menipu. Pada kenyataannya, tidak semudah mengetik bahwa "MPA sangat membantu masyarakat". Banyak perjuangan, suka, dan dukanya bagi para anggota MPA. Bagi mereka sendiri, mungkin dukanya lebih banyak daripada sukanya, kecuali ketika musim hujan datang.

Perekrutan anggota MPA desa Tanjung Damai melalui pendekatan sesama teman, alias closed recruitment namun keanggotaan MPA mengalami pasang surut. Pertama kali dibentuk, terdiri atas 10 personil termasuk ketua. Padahal, jika sesuai protokol, anggota MPA minimal 15 orang. Secara bertahap beberapa anggota MPA mengundurkan diri, termasuk ketua pertama. Hal yang membuat anggota tersebut mundur adalah karena tidak sanggup menanggung risiko sebagai anggota MPA. Hingga saat ini, masih tetap dipertahankan dengan jumlah 10 orang.

Bincang-bincang santai bersama MPA
MPA desa Tanjung Damai cukup aktif dalam melakukan kegiatan. Mereka telah banyak membantu memadamkan lahan yang terbakar di area lahan gambut desa Tanjung Damai. Selain itu, mereka juga melakukan patroli rutin seminggu sekali dan turut aktif dalam menghadiri pelatihan-pelatihan. Terhitung sudah tiga kali beberapa anggota MPA yang mengikuti pelatihan bersama Manggala Agni, kelompok pemadam di bawah naungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Saya sangat mengapresiasi kepada semua anggota Masyarakat Peduli Api di Riau. Mereka begitu berani dan memiliki jiwa yang begitu besar dalam hal pengorbanan. Meski balasan dunia tak sebanding apa yang telah mereka lakukan, Tuhan akan membalasnya dengan hal yang setimpal. Aamiin...


Pelatihan Anggota MPA
Performance MPA pada Acara Perpisahan KKN Kebangsaan di Tanjung Damai





Senin, 02 November 2015

Setetes Darah, Kehidupan bagi Penderita Thalassemia

Standard
A life not live for others is not a life - Mother Theresa
Minggu lalu, saya praktik klinik di poli Thalassemia dan ruang Transfusi. Saat praktik, saya banyak melihat anak-anak menderita penyakit ini. Adapula yang sudah remaja hingga dewasa. Tujuan pasien Thalassemia datang ke Poli adalah untuk konsultasi dan tranfusi darah rutin. Rata-rata kadar Hemoglobin (Hb) pasien poli Thalassemia berkisar antara 5-10 g/dL. Wajah mereka tampak pucat. Setiap 3-4 minggu sekali, mereka harus datang untuk dilakukan transfusi darah, seumur hidup

Apa itu Thalassemia?

Thalassemia berasal dari bahasa Yunani, yaitu thalassa yang berarti laut dan haema berarti darah. Thalassemia adalah kelainan genetik sel darah merah yang rantai protein-alpha atau beta (pembentuk utama hemoglobin/sel darah merah) tidak terbentuk sebagian atau semuanya sehingga sel darah merah mudah pecah. Umumnya, sel darah merah bertahan hidup selama 120 hari. Menurut WHO, 6-10% penduduk Indonesia merupakan pembawa sifat Thalassemia. Berdasarkan data dari RSCM, tercatat 80-100 pasien baru /tahun.

Terdapat tiga kategori Thalassemia secara kasat mata, yaitu Thalassemia mayor, intermedia, dan pembawa sifat/karier. Thalassemia mayor membutuhkan transfusi darah secara rutin. Thalassemia Intermedia memiliki gejala ringan, dan membutuhkan transfusi darah namun tidak rutin, sedangkan Thalassemia minor tidak bergejala dan tidak membutuhkan transfusi darah. Gejala klinis bagi penderita Thalassemia diantaranya adalah pucat atau kuning, perut membesar, perubahan bentuk muka, kulit kehitaman, pertumbuhan terhambat, dan maloklusi (gigi condong ke depan atau tonggos).

Sedihnya, sampai saat ini belum ada obat penyembuh Thalassemia. Satu-satunya cara bagi penderita Thalassemia untuk hidup adalah dengan melakukan transfusi darah. Adapula terapi kelasi besi untuk mengeluarkan kelebihan besi dalam tubuh akibat transfusi darah terus-menerus. Biaya pengobatan rutin ini sekitar Rp 200-200 juta/tahun/pasien.
Bagan Penurunan Sifat Thalassemia

Untuk mengetahui apakah kita menderita Thalassemia minor, mayor atau normal adalah dengan melakukan pemeriksaan darah tepi beserta apusan darah tepi. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk melihat ukuran sel darah merah. Untuk memastikannya lagi, dapat dilakukan pemeriksaan analisis Hb. Lalu, pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan tersebut sebagai skrining Thalassemia sebelum menikah. Karena Thalassemia merupakan penyakit turunan. Apabila pasangan merupakan Thalassemia minor, maka anak dari pasangan tersebut dapat menderita Thalassemia mayor.
 

Donor darah adalah salah satu media dan kegiatan yang membantu dalam kelangsungan hidup penderita Thalassemia. Itulah makna dari quotes Mother Theresa sebagai pembuka postingan ini. Bukan kehidupan namanya apabila kita tidak berbagi kepada banyak orang. Saya tidak bisa membayangkan jika saya menjadi penderita atau menjadi orang tua dari penderita Thalassemia. Namun, saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Ya, saya yakin mereka adalah orang-orang pilihan. :')

Sumber informasi: RSCM FK UI. Mengenal lebih dekat Thalassemia. Leaflet.

Minggu, 25 Oktober 2015

KKN Kebangsaan 2015: Akar Tanjung Damai

Standard
Masih dengan isu asap. Riau dipenuhi asap kembali dan terparah ada di provinsi Palembang. Bahkan, asap sudah merambah ke provinsi Lampung. Aku (masih) akan berkisah tentang kegiatan KKN Kebangsaan 2015 di desa Tanjung Damai, Bengkalis, Riau.

Judul tulisan ini dibuat bukan untuk meniru novel Akar-nya Dee. Akan tetapi, Aku memang akan membahas permasalahan kebakaran hutan dan lahan di desa Tanjung Damai dari masyarakat itu sendiri. Kami, peserta KKN Kebangsaan 2015 di desa Tanjung Damai mencoba untuk terjun melalui grass root, akar rumput bersama masyarakat melalui program Edukasi Informal Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Lembaga Masyarakat.

Edukasi informal ini merupakan salah satu program KKN Kebangsaan yang memberikan informasi tentang karlahut kepada masyarakat secara umum dan lembaga masyarakat pada khususnya. Masyarakat dan Lembaga Masyarakat menjadi sasaran program karena dapat berperan aktif untuk mencegah terjadinya karlahut di masyarakat. Kami melakukan diskusi informal ini di lima dusun desa Tanjung Damai, yaitu dusun Sumber Agung, Sumber Makmur, Sumber Rejo, Sumber Rejeki, dan Sumber Sari. Metode yang kami gunakan adalah dengan focus group discussion, yang mana peserta FGD merupakan masyarakat yang menjadi perwakilan dari lembaga masyarakat, seperti BPD, LAM, MPA, PKK, Karang Taruna, Gapoktan, Kelompok Tani, dan sebagainya. Sesungguhnya Aku pribadi berterima kasih sekali karena telah diajarkan komunikasi terapeutik di kampus. Proses komunikasi terapeutik ini digunakan pada pelaksanaan FGD, meliputi fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi. Sehingga, pada pelaksanaan FGD ini dapat berjalan dengan baik.

Dusun Sumber Agung
Dusun Sumber Makmur
Temuan menarik pada hasil diskusi bersama masyarakat adalah bahwa sebenarnya mereka sudah memahami betul tentang lahan gambut yang mudah sekali terbakar. Masyarakat paham sekali bahwa puntung rokok yang masih menyisakan bara api, jika dibuang ke lahan gambut secara sembarangan, maka akan memicu kebakaran. Bahkan, Aku jadi tahu bahwa pohon karet juga berkontribusi terhadap penyebaran menjalarnya api jika api tersebut mengenai getah karet. Selain itu, masyarakat mengeluhkan kurangnya sumber air di parit ketika musim kemarau panjang tiba. Kemudian penyediaan alat-alat pemadam kebakaran yang minim juga menjadi masalah jika terjadi kebakaran hutan. Alat pemadam kebakaran yang dimiliki desa Tanjung Damai adalah 1 robbin dan selang dengan panjang 200m. Maka, jika terjadi kebakaran dengan jangkauan lebih 200m, alat yang dimiliki tidak mampu memadamkan api.

Temuan menarik lainnya adalah pada sisi pelaku pembakar lahan dan terkait hukum. Papan peraturan perundang-undangan mengenai larangan membakar lahan secara sengaja sudah terpasang di dekat kebun sawit warga sejak 2012. Peserta diskusi mengatakan bahwa terjadi penurunan perilaku membakar lahan di desa karena masyarakat takut akan denda akibat pelanggaran hukum, yaitu dipenjara 5-10 tahun dan didenda hingga 10 miliar rupiah. Tidak hanya itu, ada oknum lain yang sengaja membakar lahan, yaitu suruhan pemilik lahan yang mana pemilik lahan merupakan bukan penduduk desa. Sebenarnya, masyarakat mengungkapkan bahwa mereka tidak ingin membakar lahan secara sengaja. Namun mereka tidak memiliki pilihan lain. Cara lainnya untuk membuka lahan adalah dengan menggunakan alat berat. Sedangkan masyarakat tidak mampu menghadirkan alat berat ke desa karena finansial dan juga akses jalan. Selain itu juga, masyarakat desa Tanjung Damai mengaku belum memiliki peraturan daerah (perda) yang mengatur pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan secara khusus yang mana perda ini dapat membantu mencegah terjadinya pembukaan lahan dengan cara dibakar secara sengaja.

Dusun Sumber Rejeki
Diskusi Informal bersama Gabungan Kelompok Tani
Setelah proses diskusi, peserta diskusi merasa senang dengan adanya diskusi informal untuk membahas pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di desa. Hasil yang diperoleh dari proses diskusi ini adalah beberapa solusi yang dikemukakan oleh peserta diskusi yang notabene adalah perwakilan dari masyarakat desa Tanjung Damai. Melalui program ini, masyarakat memetakan permasalahan dan mencari solusinya bersama, secara demokrasi. Berikut adalah poin-poin solusi yang ditawarkan oleh peserta diskusi informal di desa Tanjung Damai.

1. Pembuatan peraturan desa mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan       di Desa Tanjung Damai.
2. Penambahan alat pemadam kebakaran untuk Masyarakat Peduli Api Desa Tanjung Damai
3. Pembuatan tower pemantau titik api dengan tinggi 10-15 m di area rawan kebakaran.
4. Pembuatan bendungan air permanen dari Sungai Puput serta kanal/parit untuk lahan berjarak 400
    m sebagai sumber air ketika musim kemarau panjang.
5. Perbaikan akses jalur pertanian.

Testimoni dari Peserta Edukasi Informal
Proses pelaksanaan program ini mengajarkan Aku banyak hal tentang permasalahan di masyarakat. Bahwasanya, sebagai mahasiswa, standing position adalah sebagai advokator. Ya, statement ini memang sudah dibold ketika pembekalan materi K2N UI 2015. Selain itu, mahasiswa juga dapat menyalurkan ide-idenya untuk mengatasi permasalahan di masyarakat sesuai dengan bidang ilmunya. Aku juga belajar secara langsung bahwa masyarakat dapat menjadi semangat sekali apabila diajak berdiskusi mengenai permasalahan yang ada hingga memunculkan sebuah solusi yang dapat dilaksanakan. Kemudian, Aku juga belajar bahwa seharusnya pemerintah memberikan bantuan atau solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri, bukan melihat kebutuhan dari kacamata pemberi bantuan. Oleh karena itu, diperlukan proses diskusi atau assessment pada masyarakat secara langsung. Langsung ke akarnya.

Opini terakhir dari penulis. Penulis menyadari bahwa tidak banyak jumlah anak yang menempuh pendidikan tinggi di sebuah desa apalagi desa terpencil. Pada pelaksanaan diskusi bersama masyarakat, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat membutuhkan support dan pemicu melalui ide-ide segar sebagai solusi dari berbagai permasalahan. Sebagai penyandang status mahasiswa maupun yang sudah melepaskan statusnya dengan gelar sarjan atau yang lebih tinggi, sebaiknya tidak menjadi kacang lupa pada kulitnya. Kembalilah dan ingat jalan pulang, lalu ciptakan perubahan.













Minggu, 18 Oktober 2015

Kehamilan pada Usia Remaja

Standard

Di Ruang Rawat Khusus Kasus Kesehatan Reproduksi dan Kehamilan

"Selamat Pagi.. :) Saya Suster Iin. *Ragu bilang Ibu* Mbak namanya siapa? Usia mbak berapa?Saya mau periksa tekanan darah, nadi, suhu, dan napas mbak dulu ya.. :)"- saya
"14 tahun suster"- pasien
*muka datar* *senyum lagi**ngasih tau hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV)*
"Pemeriksaannya sudah selesai. Selamat istirahat kembali, X. :)"- saya

Pindah pasien lagi dengan rencana caesarian section (operasi sesar).

"Selamat Pagi.. :) Saya suster Iin. Siapa nama Ibu? Berapa usia Ibu?"- saya
"Y, suster. 15 tahun"- pasien
*glek*
"Wah, masih muda ya.. Suster mau periksa tekanan darah dulu ya... :)"- saya

Begitulah kira-kira kejadian hari pertama praktik klinik pada stase maternitas di suatu rumah sakit. Oleh-olehnya, tidak hanya ilmu dan pengalaman yang diperoleh, tetapi juga bahan renungan. Tentang kehamilan pada usia remaja. Saya cukup dibuat kaget bertemu pasien dengan usia remaja di ruang rawat  khusus maternitas. Renungan yang cukup membuat hati bergetar, sungguh meski agak berlebihan. Menurut saya pribadi, bertemu tiga pasien maternitas dengan usia remaja adalah jumlah yang banyak, tidak sedikit.

Ternyata, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2012, angka kejadian kasus kehamilan pada usia remaja (15-19 tahun) di Indonesia mencapai 48 dari 1000 kehamilan (BKKBN, 2014). Pun Indonesia menempati urutan kedua tertinggi pernikahan usia muda setelah Kamboja (Isfandari & Lolong, 2014). Pada sisi lain, Indonesia belum mencapai target dalam tujuan MDGs pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Kehamilan adalah suatu krisis maturitas yang dapat menimbulkan stres, tetapi berharga karena wanita tersebut menyiapkan diri untuk memberi perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar (Bobak, 2005). Dengan adanya kehamilan, maka wanita mengalami perubahan konsep diri untuk siap menjadi orang tua. Hal ini sesuai dengan tugas perkembangan usia dewasa yang dimulai pada usia 18 sampai 35 tahun, yaitu menentukan pasangan hidup, belajar untuk menyesuaikan diri dan hidup bersama pasangan hidup,  membentuk keluarga, belajar mengasuh anak, mengelola rumah tangga, meniti karir atau melanjutkan pendidikan, mulai bertanggung jawab sebagai warga negara, dan memperoleh kelompok sosial yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya (Havighurst dalam Adranita, 2008).

Sesuai dengan teori, bahwa kehamilan, kelahiran adalah tugas perkembangan usia dewasa dan tentunya berbeda dengan tahap perkembangan usia remaja. Menurut Havighurst dalam Ramadan (2013), tugas perkembangan usia remaja adalah berinteraksi sosial dengan teman sebaya, mengetahui dan menjalankan peran sosial, mengenali dirinya baik secara fisik dan psikologis, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, mencapai kemandirian emosional, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapkan pernikahan dan keluarga (pengetahuan), dan memperoleh nilai sebagai pegangan untuk berperilaku.  Maka, sudah jelas bahwa kehamilan dan pernikahan adalah belum saatnya terjadi bagi usia remaja untuk mengemban tugas perkembangan usia dewasa. Hal ini dapat berakibat pada konflik psikologis bagi usia remaja.

Lalu, kapan usia yang ideal untuk hamil? Menurut BKKBN, usia ideal untuk hamil adalah kisaran 20-30 tahun. Jika hamil di luar rentang usia tersebut, maka akan berisiko. Seorang wanita dikatakan siap apabila sudah siap baik dari aspek psikologis, fisik, dan sosial ekonomi (Bobak, 2005). Pada sisi sudut pandang pria, kesiapan menyambut kehamilan adalah ketika keuangan relatif cukup, hubungan yang stabil dengan pasangan, dan kepuasan dalam hubungan tanpa anak (May, 1982 dalam Bobak, 2005).

Jika sesuatu terjadi pada waktu yang tidak tepat, akan memberikan dampak negatif. Bagi remaja yang sudah mengalami masa kehamilan, maka tugas perkembangan remaja yang seharusnya dilalui, dapat tidak tercapai secara optimal. Pun akan terjadi hal serupa pada penyelesaian tugas perkembangan usia dewasa. Anak tidak dapat melanjutkan pendidikannya, belum siap secara mental, serta kesulitan-kesulitan lainnya. Lebih fatal lagi adalah jika terjadi stress dan depresi pada anak.

Dunia kini sudah sangat terbuka. Terbuka dalam pergaulan hingga menimbulkan kasus kehamilan pada usia remaja. Sebaliknya, keterbukaan dalam informasi harus dimanfaatkan. Informasi mengenai persiapan kehamilan banyak tersedia baik di pelayanan kesehatan maupun media massa dan elektronik. Seyogyanya, bagi pembaca yang dalam hal ini menempati posisi sebagai kerabat dekat, keluarga, dan siapapun yang mengetahui informasi ini, ada baiknya membantu untuk menjaga kesehatan anak remaja baik secara fisik maupun psikologisnya. Bagi anak remaja, sebaiknya menjaga diri sendiri dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai usia. Karena, sesuatu yang berlebihan dan tidak sesuai pada porsinya akan memberikan pengaruh yang mungkin tidak baik. :)

Buat adik-adik,
Stay young, Stay Healthy, Stay Happy! Cheers! 
*Hiks, Masa remajanya udah lewat. :'). Abaikan, Hehehe*

Referensi.
Adranita, M. (2008). Perbedaan Fokus Karir antara Pekerja Dewasa Muda yang Mengalami Pindah    Kerja dan Tidak Pindah Kerja di Jakarta. Diakses dari http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126729-331.702+AND+p+-+Perbedaan+Fokus+-+Literatur.pdf
Bobak, et al. (2005). Maternity & Women Health Care seventh edition. Elsevier Mosby, Inc
BKKBN. (2014). Aktivitas Seksual Remaja. diakses dari http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?     BeritaID=1770
Isfandari,S & Lolong, DB. (2014). Analisa Faktor Risiko dan Status Kesehatan Remaja Indonesia      Pada Dekade Mendatang. Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 42, No. 2
Ramadan, MP. (2013). Hubungan Antara Penerimaan Perkembangan Fisik dengan Kematangan    Emosi pada Remaja Awal. diakses dari http://repository.upi.edu/9377/2/s_psi_0800503_chapter1.pdf



KKN Kebangsaan 2015: Bung Karno Bertitah....

Standard
"Beri Aku 1000 orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri Aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"- Bung Karno


Masih dengan isu kebakaran hutan dan lahan serta bagian dari cerita perjalanan Kuliah Kerja Nyata di Riau pada Agustus lalu. Ceritanya, penulis masih menyimpan rasa rindu *tsah*. Hehe..

Masalah kebakaran hutan dan lahan serta bencana kabut asap masih menjadi isu nasional yang hangat diperbincangkan di media massa. Pada kegiatan KKN Kebangsaan bulan Agustus lalu, salah satu program yang dilakukan adalah edukasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan pada pendidikan dasar dan menengah.

Program edukasi yang disasarkan pada pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan khususnya kasus kebakaran hutan dan lahan pada generasi muda melalui pendidikan. Ya, generasi muda memang menjadi sasaran strategis jika dikorelasikan dengan titah Bung Karno. Dengan catatan bahwa generasi muda yang mampu membawa perubahan ke arah positif.

Hal yang telah dilakukan oleh kelompokku di desa Tanjung Damai adalah edukasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan melalui kegiatan dongeng, menonton video, dan kegiatan outbond. Melalui kegiatan dongeng, diharapkan anak-anak dapat memahami penyebab dan dampak dari kebakaran hutan dan lahan melalui cerita fabel. Sedangkan melalui video, anak-anak diperkenalkan apa itu lahan gambut serta langkah pencegahan. Anak-anak khusyuk menyimak dan memahami kegiatan yang dilakukan. :)


Suasana Menonton Video dan Dongeng
Kiri: Si Ular, salah satu tokoh dongeng. Kanan: Pertanyaan terkait isi video dan dongeng

Selain itu, kami juga melakukan kegiatan outdoor, yaitu penanaman pohon di depan halaman sekolah dan pelaksanaan outbond. Penanaman pohon merupakan bagian dari program revegetasi (baca tulisan sebelumnya) dan outbond bertujuan untuk menumbuhkan karakter kerja sama, saling tolong menolong, cinta alam melalui kegiatan bermain. Ada 6 jenis permainan yang kami lakukan, diantaranya adalah memindahkan air secara kelompok, estafet air, memindahkan masker, estafet gambar, teka-teki bom, titanic dan ular mencari teman. Anak-anak terlihat sangat gembira karena jarang sekali melakukan permainan semacam ini.
Outbond Memindahkan Air, Bekal Bintal K2N UI 2015 :p
Sebenarnya, target pencapaian program edukasi pada pendidikan dasar dan menengah adalah menyentuh kegiatan ekstrakurikuler dan kurikulum muatan lokal. Harapannya, melalui kedua aspek tersebut, edukasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dapat sustainable alias bekelanjutan. Sayangnya, kegiatan esktrakurikuler di SDN 20 Tanjung Damai belum cukup optimal serta kami belum sampai assessment ke arah sana. 

Pada proses ini, Aku belajar bagaimana kami satu tim merancang program kerja bersama dan menyatukan pendapat. Memang sebaiknya merencanakan program kepada masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan hanya untuk menjalankan program tertentu yang ditargetkan. Sebenarnya, banyak sekali permasalahan yang perlu diatasi terkait pendidikan. Sebenarnya (lagi) Aku tidak ingin sekali-kali mengucapkan kata "keterbatasan", tapi apadaya. Keterbatasan waktu yang dimiliki memang alasan paling normatif untuk tidak dapat melakukan berbagai kegiatan solutif dalam waktu satu bulan. Rasanya ingin lebih dari itu. Akan tetapi, semoga saja diberi kesempatan kembali untuk meningkatkan pendidikan di sana. Tuhan yang Maha Tahu dan Merencanakan. :)


Kebahagiaan Anak-Anak SDN 20 Tanjung Damai :)

Credit photo: Dokumentasi Mila Karmila

Kamis, 17 September 2015

KKN Kebangsaan 2015 : TSR, Stop Jerebu!

Standard
Di Sini Kita Bertemu Muka
Cegah Jerebu Melanda
Di Sini Kita Bertemu Muka
Untuk Hijau Bumi Kita

Jerebu alias Asap. Kini, Riau tidak lagi sendiri dalam menghadapi bencana Asap. Palembang dan Jambi telah menemaninya. Sayangnya, bukan ini yang diharapkan oleh manusia yang memiliki hati nurani.

Sudah tak terhitung lagi jumlah korban bencana Asap. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut telah menghantui seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang usia, bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia. Kegiatan belajar-mengajar tertunda. Aktivitas ekonomi masyarakat terhambat. Seluruh bangsa telah mengetahuinya.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2015 bulan Agustus lalu, tujuan kami adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Ratusan mahasiswa dari Sabang hingga Merauke bergerak bersama dengan tujuan yang sama. Berbagai upaya telah kami lakukan selama satu bulan di lokasi masing-masing. Salah satu upayanya adalah melakukan program revegetasi pada lahan gambut bekas terbakar.
Batu dan Lahan Gambut Habis Terbakar di Tanjung Damai

Menurut Peraturan Pemerintah RI No.76 tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, revegetasi adalah usaha untuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan. Jadi, upaya kami di desa Tanjung Damai khususnya adalah melakukan penanaman beberapa jenis bibit tanaman, yaitu mahoni, pulai, dan trembesi. Aku dan 10 teman lainnya melakukan program revegetasi bersama masyarakat desa Tanjung Damai. Kami menanam kurang lebih 200 bibit tanaman di beberapa fasilitas umum, seperti lapangan, sekolah dasar, TK dan PAUD, balai desa, posyandu, poskesdes, dan kuburan.

Peresmian oleh Sekretaris Desa (kanan) & Bupati Bengkalis (kiri)
Meskipun kami tidak melakukan penanaman pada lahan bekas terbakar seperti pada gambar paling atas, harapannya bahwa bibit tanaman tersebut dapat tumbuh besar. Kita tahu bahwa pohon berfungsi sebagai paru-paru dunia. Pohon berfungsi sebagai alat konversi gas CO2 (karbon monoksida) menjadi O2 (oksigen), udara yang kita hirup. Ya, semoga saja dengan sejumlah tanaman yang telah ditanam mampu untuk membantu penyediaan oksigen, mengurangi asap, dan penghijauan.

Bibit tanaman yang telah tertanam akan berguna apabila tumbuh dengan baik karena disiram air dan dirawat dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, kami juga berpesan agar masyarakat dapat merawat tanaman tersebut, khususnya pada anak-anak. Kami berpesan kepada anak-anak untuk selalu menjaga tanaman mereka hingga tumbuh menjadi pohon yang besar. Apabila diantara kami kembali (pulang) ke desa, bibit tanaman tersebut telah tumbuh besar dan siap menyapa dengan senyum segarnya. 

Tanam (T) !
---------------------------------------------------------------------------
Siram (S) !
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rawat (R) Bersama! Yeay! Go Green! :)
Untuk apa cinta bila tanpa pembuktian? :p

Jadilah Pemuda dan Pemudi
Bekerja Sepenuh Hati
Untuk Alam Bestari
Hingga Bumi Hijau Berseri


credit photo: Mila Karmila, Dokumentasi Pribadi
Kutipan : Mars KKN Kebangsaan 2015


Minggu, 06 September 2015

KKN Kebangsaan 2015: Tanjung Damai, Rumah Kita

Standard
Lama tidak posting tulisan setelah beberapa bulan lamanya. Perjalanan baru telah kulalui satu bulan yang lalu. Kini segudang cerita masih kusimpan dengan hangatnya rindu dan mungkin akan menjadi memori indah dalam hidup.

Satu bulan lamanya, Aku 'dititipkan' bersama 10 teman lainnya di desa yang sama. Desa itu bernama Tanjung Damai. Sebelum sampai lokasi, Aku melayangkan imajinasiku tentang desa ini. Sepertinya desa ini dekat pantai, karena namanya mengandung kata "Tanjung". Kalau mengingat materi IPS waktu SD, katanya sih Tanjung itu kan artinya daratan yang menjorok ke laut. Jadi, wajar kan kalau berasumsi demikian? Penasaran terus berlanjut. Biasanya mbah google punya semua jawaban pertanyaan. Eh, pas searching dengan keyword "tanjung damai, Riau", nggak ada tuh gambaran desanya. Adanya hanya gambar bapak-bapak yang mungkin itu lagi ada acara di desa Tanjung Damai. Nggak muncul pemandangan desa tok. Eh, tapi dapat gambar plang SDN 20 Tanjung Damai di google. Ini dia! Ya, cuma ini dan kurang memberikan gambaran lokasi desa. -____-



Terus, coba searching di google maps. Kalau lihat dari panah lokasinya sih....jauh dari laut ternyata. Akhirnya, berhenti dan memutuskan untuk menerima apa adanya.

Setelah sampai di desa........

Desa Tanjung Damai merupakan desa yang sangat rapi tata kelola desanya!!

Kalau dari segi geografisnya, Desa Tanjung Damai berbatasan langsung dengan beberapa desa lainnya diantaranya, Desa Sumber Jaya di sebelah utara, Langkat di sebelah selatan, Lubuk Gaung di sebelah Timur dan desa Sungai Linau di sebelah baratnya. Total luas wilayah desa Tanjung Damai adalah 2000 ha/m2, dengan luas wilayah pemukiman sekitar 54 ha/m2, 175 ha/m2 wilayah persawahan, 1749 ha/m2 luas perkebunan, dan luas wilayah prasarana umum desa  sekitar 21 ha/m2.  Dengan kendaraan bermotor, desa Tanjung Damai dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dari ibukota kecamatan Siak Kecil (sumber: data dari Balai Desa).

Desa Tanjung Damai terdiri atas lima dusun diantaranya adalah Sumber Agung, Sumber Rejeki, Sumber Makmur, Sumber Sumber Rejo, dan Sumber Sari. Desa ini memiliki Kantor desa, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), sekolah dasar (SDN 20 Tanjung Damai), TK dan PAUD (TK. Tunas Harapan), Posyandu, Masjid, Mushola, dan lapangan. Desa dengan jumlah penduduk 340 KK ini mayoritas penduduknya bersuku Jawa. Hal ini karena desa Tanjung Damai adalah salah satu desa eks transmigran pada tahun 1982.


sekolah dasar, TK, dan PAUD
Awalnya, pada tahun 1982,
desa ini bernama Siak A Absen. Desa ini memiliki pengalaman pahit karena sering terjadi pencurian dan tidak adanya kedamaian di lingkungan desa. Masyarakat mencita-citakan desa yang damai, sehingga muncullah gagasan kata 'damai' untuk dijadikan nama desa ini. Kemudian, terdapat sebuah sungai yang jika dilihat serupa dengan tanjung sehingga tercipta nama Tanjung Damai dan masyarakat sepakat dengan nama tersebut dengan harapan desa akan menjadi damai. Sungguh, kini (2015) desa ini memang sangatlah damai selama aku dan teman-teman melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sini.

Poskesdes & Lapangan
Pemandangan desa juga indah, namun agak berbeda jika dibandingkan dengan pemandangan di Jawa. Sejauh mata memandang, yang paling sering terlihat adalah pohon sawit. Ya, memang sawit merupakan sumber perekonomian utama bagi masyarakat desa. Namun, tidak hanya sawit, banyak pula pohon yang berbuah seperti rambutan, mangga, nangka, cempedak, pisang, apel, lengkeng, jeruk, jambu, kelapa, dll. Adapula pohon pinang, tanaman obat, serta bunga-bunga-an. Masyarakat desa begitu mencintai kegiatan berkebun. Pada saat pelaksanaan KKN, pohon rambutan semua sedang berbuah. Alhasil, hampir setiap hari kami makan buah rambutan dari rumah-rumah warga. Indahnya hidup di desa, meski listrik hanya ada dari pukul 18.00-06.00.... :3

Masjid & Mushola
Desa Tanjung Damai juga memiliki banyak lembaga masyarakat. Beberapa lembaga yang kuketahui diantaranya adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Lembaga Adat Melayu (LAM), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Masyarakat Peduli Api (MPA), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Tani, Kelompok Usaha Bersama (Kube), Karang Taruna, Kelompok wirid dan yasinan, dan lain-lain. Secara pribadi, beberapa nama lembaga tersebut merupakan nama yang asing di telingaku. Inilah yang bisa menjadi kunci jika melaksanakan kegiatan bermasyarakat. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di perkotaan, individualis meski rumah sudah tidak memiliki jarak lagi karena memiliki kesibukan masing-masing.

Balai Desa
Terima kasih, Tanjung Damai. Kau dan seluruh alam telah menerimaku dan teman-teman. Damai nian tempatmu, sesuai dengan apa yang kau sandang. Semoga Tuhan selalu melindungi alam dan seluruh isinya dan menjauhkanmu dari bencana asap. Selamat bertumbuh dan berkembang menjadi desa yang maju! :)