Kamis, 17 September 2015

KKN Kebangsaan 2015 : TSR, Stop Jerebu!

Standard
Di Sini Kita Bertemu Muka
Cegah Jerebu Melanda
Di Sini Kita Bertemu Muka
Untuk Hijau Bumi Kita

Jerebu alias Asap. Kini, Riau tidak lagi sendiri dalam menghadapi bencana Asap. Palembang dan Jambi telah menemaninya. Sayangnya, bukan ini yang diharapkan oleh manusia yang memiliki hati nurani.

Sudah tak terhitung lagi jumlah korban bencana Asap. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut telah menghantui seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang usia, bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia. Kegiatan belajar-mengajar tertunda. Aktivitas ekonomi masyarakat terhambat. Seluruh bangsa telah mengetahuinya.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2015 bulan Agustus lalu, tujuan kami adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Ratusan mahasiswa dari Sabang hingga Merauke bergerak bersama dengan tujuan yang sama. Berbagai upaya telah kami lakukan selama satu bulan di lokasi masing-masing. Salah satu upayanya adalah melakukan program revegetasi pada lahan gambut bekas terbakar.
Batu dan Lahan Gambut Habis Terbakar di Tanjung Damai

Menurut Peraturan Pemerintah RI No.76 tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, revegetasi adalah usaha untuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan. Jadi, upaya kami di desa Tanjung Damai khususnya adalah melakukan penanaman beberapa jenis bibit tanaman, yaitu mahoni, pulai, dan trembesi. Aku dan 10 teman lainnya melakukan program revegetasi bersama masyarakat desa Tanjung Damai. Kami menanam kurang lebih 200 bibit tanaman di beberapa fasilitas umum, seperti lapangan, sekolah dasar, TK dan PAUD, balai desa, posyandu, poskesdes, dan kuburan.

Peresmian oleh Sekretaris Desa (kanan) & Bupati Bengkalis (kiri)
Meskipun kami tidak melakukan penanaman pada lahan bekas terbakar seperti pada gambar paling atas, harapannya bahwa bibit tanaman tersebut dapat tumbuh besar. Kita tahu bahwa pohon berfungsi sebagai paru-paru dunia. Pohon berfungsi sebagai alat konversi gas CO2 (karbon monoksida) menjadi O2 (oksigen), udara yang kita hirup. Ya, semoga saja dengan sejumlah tanaman yang telah ditanam mampu untuk membantu penyediaan oksigen, mengurangi asap, dan penghijauan.

Bibit tanaman yang telah tertanam akan berguna apabila tumbuh dengan baik karena disiram air dan dirawat dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, kami juga berpesan agar masyarakat dapat merawat tanaman tersebut, khususnya pada anak-anak. Kami berpesan kepada anak-anak untuk selalu menjaga tanaman mereka hingga tumbuh menjadi pohon yang besar. Apabila diantara kami kembali (pulang) ke desa, bibit tanaman tersebut telah tumbuh besar dan siap menyapa dengan senyum segarnya. 

Tanam (T) !
---------------------------------------------------------------------------
Siram (S) !
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rawat (R) Bersama! Yeay! Go Green! :)
Untuk apa cinta bila tanpa pembuktian? :p

Jadilah Pemuda dan Pemudi
Bekerja Sepenuh Hati
Untuk Alam Bestari
Hingga Bumi Hijau Berseri


credit photo: Mila Karmila, Dokumentasi Pribadi
Kutipan : Mars KKN Kebangsaan 2015


Minggu, 06 September 2015

KKN Kebangsaan 2015: Tanjung Damai, Rumah Kita

Standard
Lama tidak posting tulisan setelah beberapa bulan lamanya. Perjalanan baru telah kulalui satu bulan yang lalu. Kini segudang cerita masih kusimpan dengan hangatnya rindu dan mungkin akan menjadi memori indah dalam hidup.

Satu bulan lamanya, Aku 'dititipkan' bersama 10 teman lainnya di desa yang sama. Desa itu bernama Tanjung Damai. Sebelum sampai lokasi, Aku melayangkan imajinasiku tentang desa ini. Sepertinya desa ini dekat pantai, karena namanya mengandung kata "Tanjung". Kalau mengingat materi IPS waktu SD, katanya sih Tanjung itu kan artinya daratan yang menjorok ke laut. Jadi, wajar kan kalau berasumsi demikian? Penasaran terus berlanjut. Biasanya mbah google punya semua jawaban pertanyaan. Eh, pas searching dengan keyword "tanjung damai, Riau", nggak ada tuh gambaran desanya. Adanya hanya gambar bapak-bapak yang mungkin itu lagi ada acara di desa Tanjung Damai. Nggak muncul pemandangan desa tok. Eh, tapi dapat gambar plang SDN 20 Tanjung Damai di google. Ini dia! Ya, cuma ini dan kurang memberikan gambaran lokasi desa. -____-



Terus, coba searching di google maps. Kalau lihat dari panah lokasinya sih....jauh dari laut ternyata. Akhirnya, berhenti dan memutuskan untuk menerima apa adanya.

Setelah sampai di desa........

Desa Tanjung Damai merupakan desa yang sangat rapi tata kelola desanya!!

Kalau dari segi geografisnya, Desa Tanjung Damai berbatasan langsung dengan beberapa desa lainnya diantaranya, Desa Sumber Jaya di sebelah utara, Langkat di sebelah selatan, Lubuk Gaung di sebelah Timur dan desa Sungai Linau di sebelah baratnya. Total luas wilayah desa Tanjung Damai adalah 2000 ha/m2, dengan luas wilayah pemukiman sekitar 54 ha/m2, 175 ha/m2 wilayah persawahan, 1749 ha/m2 luas perkebunan, dan luas wilayah prasarana umum desa  sekitar 21 ha/m2.  Dengan kendaraan bermotor, desa Tanjung Damai dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dari ibukota kecamatan Siak Kecil (sumber: data dari Balai Desa).

Desa Tanjung Damai terdiri atas lima dusun diantaranya adalah Sumber Agung, Sumber Rejeki, Sumber Makmur, Sumber Sumber Rejo, dan Sumber Sari. Desa ini memiliki Kantor desa, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), sekolah dasar (SDN 20 Tanjung Damai), TK dan PAUD (TK. Tunas Harapan), Posyandu, Masjid, Mushola, dan lapangan. Desa dengan jumlah penduduk 340 KK ini mayoritas penduduknya bersuku Jawa. Hal ini karena desa Tanjung Damai adalah salah satu desa eks transmigran pada tahun 1982.


sekolah dasar, TK, dan PAUD
Awalnya, pada tahun 1982,
desa ini bernama Siak A Absen. Desa ini memiliki pengalaman pahit karena sering terjadi pencurian dan tidak adanya kedamaian di lingkungan desa. Masyarakat mencita-citakan desa yang damai, sehingga muncullah gagasan kata 'damai' untuk dijadikan nama desa ini. Kemudian, terdapat sebuah sungai yang jika dilihat serupa dengan tanjung sehingga tercipta nama Tanjung Damai dan masyarakat sepakat dengan nama tersebut dengan harapan desa akan menjadi damai. Sungguh, kini (2015) desa ini memang sangatlah damai selama aku dan teman-teman melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sini.

Poskesdes & Lapangan
Pemandangan desa juga indah, namun agak berbeda jika dibandingkan dengan pemandangan di Jawa. Sejauh mata memandang, yang paling sering terlihat adalah pohon sawit. Ya, memang sawit merupakan sumber perekonomian utama bagi masyarakat desa. Namun, tidak hanya sawit, banyak pula pohon yang berbuah seperti rambutan, mangga, nangka, cempedak, pisang, apel, lengkeng, jeruk, jambu, kelapa, dll. Adapula pohon pinang, tanaman obat, serta bunga-bunga-an. Masyarakat desa begitu mencintai kegiatan berkebun. Pada saat pelaksanaan KKN, pohon rambutan semua sedang berbuah. Alhasil, hampir setiap hari kami makan buah rambutan dari rumah-rumah warga. Indahnya hidup di desa, meski listrik hanya ada dari pukul 18.00-06.00.... :3

Masjid & Mushola
Desa Tanjung Damai juga memiliki banyak lembaga masyarakat. Beberapa lembaga yang kuketahui diantaranya adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Lembaga Adat Melayu (LAM), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Masyarakat Peduli Api (MPA), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Tani, Kelompok Usaha Bersama (Kube), Karang Taruna, Kelompok wirid dan yasinan, dan lain-lain. Secara pribadi, beberapa nama lembaga tersebut merupakan nama yang asing di telingaku. Inilah yang bisa menjadi kunci jika melaksanakan kegiatan bermasyarakat. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di perkotaan, individualis meski rumah sudah tidak memiliki jarak lagi karena memiliki kesibukan masing-masing.

Balai Desa
Terima kasih, Tanjung Damai. Kau dan seluruh alam telah menerimaku dan teman-teman. Damai nian tempatmu, sesuai dengan apa yang kau sandang. Semoga Tuhan selalu melindungi alam dan seluruh isinya dan menjauhkanmu dari bencana asap. Selamat bertumbuh dan berkembang menjadi desa yang maju! :)





Senin, 29 Juni 2015

Resume Pre-K2N UI

Standard
Halo, readers! Selamat menempuh ibadah puasa di hari ke-11 Ramadhan! :)

Beberapa bulan silam, saya memutuskan untuk menempuh perjalanan dan yang pasti petualangan baru dalam hidup saya yang sudah melewati 21 tahun di dunia yang fana ini. Keputusan itu adalah daftar K2N UI 2015! Ya, keputusan itu sudah saya timbang-timbang. Kalau lolos, syukur Alhamdulillah. Kalau ndak lolos, yasudah, berarti belum waktunya atau mungkin akan ada hal yang lebih penting lagi untuk di urus. Alhamdulillah, Allah memperkenankan saya untuk bertualang pada perjalanan baru di K2N UI 2015. :)

Jadi, saya ingin sekali me-resume kegiatan-kegiatan seleksi untuk menjadi peserta sah K2N UI 2015. Ya! K2N UI ini punya seleksi yang cukup ketat dan membutuhkan usaha serta ke-istiqamah-an (konsistensi) dari calon pesertanya untuk sah menjadi peserta.

1. Lolos Seleksi Berkas!

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa seleksi K2N UI ini cukup panjang. Menurut pandangan saya, gerbang utama untuk menjadi peserta sah adalah lolos berkas. Apa syaratnya? Bisa dicek di web K2N UI. Ini penting dan harus disiapkan sebaik mungkin. Alhamdulillah, saya lolos berkas bersama 128 peserta lainnya. Banyak ya? ya! Tapi, tetap saja ada yang terseleksi di tahap ini. What's next?

2. Uji Konsistensi

Sebenarnya, tahap berikutnya adalah tahap pembekalan selama satu bulan. Pembekalan materi setiap hari Sabtu dan Minggu. Pembekalan ini masuk dalam penilaian dan salah satu pra-syarat lulus jadi peserta sahnya K2N UI 2015. Selain harus mengobarkan waktu weekend ini, calon peserta harus menulis materi di logbook harian dan masuk penilaian juga. Maka dari itu, saya menyebut tahap ini sebagai tahap Uji Konsistensi. Ya, tahap ini memang sangat penting karena memberikan materi-materi yang sekiranya sangat penting untuk turun di lapangan nanti dan sebagai bekal juga nantinya. Calon peserta, mulai berguguran dengan alasannya masing-masing. Berlakulah seleksi alam.

3. Bina Mental

Tahap terkahir, bina mental dan fisik! Tahap ini ibarat harga mati untuk lulus K2N UI. Puncak dari segala tahapan seleksi. Bina mental dan fisik ini dilaksanakan tanggal 12-16 Juni 2015 bertempat di Grup 3 Kopassus Cijantung. Lima hari kami, calon peserta ditempa untuk di beri nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, nasionalisme, jiwa corsa (rasa solidaritas), dan keyakinan. Saya akan bercerita tentang 5 hari Bina Mental Fisik pada chapter khusus. :3

Btw, Alhamdulillah sudah pengumuman penempatan. Saya ditempatkan di Riau, bersama 41 peserta lainnya. FYI, peserta lolos K2N UI sejumlah 81 orang dari 129 calon peserta. Ya, untuk mengabdi pada masyarakat perlu kesungguhan dan keteguhan hati. Bersama Masyarakat Memberi Manfaat! Sampai Jumpa pada ceritera berikutnya. ;)

Spoiler Chapter Khusus Bintal K2N :3

Selasa, 09 Juni 2015

Aku, Asumsi, dan Kakek

Standard

Dua malam, Aku bertemu dengan seorang Kakek dengan tongkat yang selalu menemaninya…

Pertemuan pertama, Aku, Kakek, memiliki dunia yang berbeda.
Malam hari sekitar pukul setengah sepuluh di Terminal. Kini, sudah rutinitasku setiap hari Selasa dan Kamis. Aku mengajar di salah satu daerah, perbatasan antara Depok dan Jakarta Selatan. Rutinitasku menunggu angkutan umum yang datangnya se-abad karena Aku berada pada titik pemberhentian akhir. Aku selalu berada di waktu kritis, antara angkutan itu datang karena sopirnya ingin pulang, atau bahkan ada karena memang sudah keberuntunganku. Alhamdulillah, selama ini Aku selalu beruntung, meski harus jalan kaki beberapa meter. Ceritanya sih mau sambil ikhtiar, daripada harus berdiri mematung dalam gelapnya malam. Hal itulah yang menyebabkan Aku sampai di Terminal hingga pukul setengah sepuluh malam.

Disebuah terminal.
Angkutan umum dengan kapasitas maksimum 14 penumpang malam itu sedang sepi. Hanya ada seorang Kakek yang sudah menempati posisinya yang kulihat nyaman baginya di belakang supir. Kulihat dirinya bersandar pasrah, memangku tas punggung, dan sepasang tongkat yang disandarkan ke pembatas zona depan angkutan dengan zona belakang. Aku, seperti biasa. Di pojokan, mencari jendela, menikmati angin, dan bersandar. Kala itu, duniaku, duniamu. Aku, sibuk dengan handphone, meski beberapa kali melihat sekeliling, termasuk Kakek itu, dan berlalu begitu saja.

Pertemuan Kedua, Aku menyelam dalam pikiran tentang Kakek.
Tadi malam, kedua kalinya Aku bertemu dengan Kakek. Akan tetapi, suasana pertemuan yang kedua sangat jauh berbeda dengan yang pertama. Aku, tiba terlebih dahulu daripada kakek. Kondisi angkutan sudah cukup penuh. Posisi pojok belakang supir sudah ada yang menempati, dan pojok-pojok juga sudah ada yang menempati. Aku, duduk diapit oleh 3 orang di sebelah kiriku dan 2 orang di sebelah kananku. Tinggalah posisi duduk untuk dua orang di dekat pintu, di belakang kursi zona depan angkutan. Sekitar pukul sembilan malam, seorang Kakek datang. Ternyata, Kakek yang pernah kulihat sebelumnya.

Kakek datang, masuk angkutan dengan cukup sulit upayanya untuk duduk dan cukup ribet dengan sepasang tongkat yang di pegangnya.

Eh, takut jatoh itu. Ntar kalo jatoh, tanggung jawab lu”, seru tukang parkir terminal.
Ki, naik yang di belakang aja.
Udah , gapapa. Jalan aja jalan. Nih, masih ada satu, biar saya yang di tepi.”, kata Kakek
Udah gapapa bang. Kita Cuma mau numpang kok.”, sahut dua pengamen muda.
Udah jalan aja. Nggak jatoh nggak, kan pegangan ini nih. Coba saya yang di tepi, kan lebih enak. Bisa. Kalo nggak bisa, nggak mungkin saya bisa sampai sini.”, kata Kakek dan mulai menggeser badannya menjauhi tepi pintu angkutan dengan cukup sulit.
Mbak, mbak, tukeran aja mbak”, seruku kepada mbak-mbak yang duduk di belakang supir, tempat duduk Kakek ketika saya melihat pertama kali. Namun, tak ada respon. Entah suara saya yang terlalu kecil, atau lembut, atau halus :p atau si mbak-mbak yang tidak dengar atau apatis (eh?). Saya, ge-re-ge-tan. Akhirnya angkutan melaju dengan keadaan penuh penumpang.
Kayak nggak biasa aja, Baru ketemu ya? Saya mau baca dulu.”, sahut Kakek.

Kemudian, kakek yang sudah memangku tas punggungnya dan menggantungkan tongkatnya di lengan, mengeluarkan buku agenda berwarna hitam dengan tulisan “excecutive agenda” di covernya. Lalu, kakek dengan kacamatanya memegang pulpen serta menggenggam handphone. Sesekali Kakek menjepit handphone dengan mulutnya, kemudian menulis. Aku, tidak tahu. Apakah Kakek itu sedang membaca atau menulis sesuatu hal. Yang pasti, menulis di dalam angkot itu sulit sekali karena Aku pernah melakukan hal itu.

Bang, kiri bang.”, sahut penumpang.

Beberapa penumpang turun, termasuk dua pengamen yang tadi menumpang. Namun, kursi pojok belakang supir masih ditempati seorang penumpang. Kakek mulai kesulitan mengendalikan pegangan tongkatnya. Namun, ia berhasil.

Kiri bang.”, sahut lagi penumpang. Kali ini, banyak penumpang turun, termasuk dua orang di sampingku. Pojok belakang supir pun, kosong. 

Nah, pindah tuh Ki ke belakang”, sahut supir.
Apa? Ki? Kayak nggak pernah ketemu aja. Pung. Hahaha..”, seru Kakek yang sambil memundurkan badannya ke tempat nyamannya. Sekarang, sudah berada tepat di sampingku.

Aku, masih memegang dan membaca buku kecilku yang berwarna hijau, memangku tas punggung, dan handphone. Tidak ingin menoleh ke arah Kakek. Tapi, yang Aku tahu, Kakek masih sibuk menulis, melihat handphone, dan menulis lagi. Kemudian, sesekali aku menoleh, melihat tulisan Kakek. Kemudian, Aku bingung, Aku berpikir. Tahukah apa tulisannya? Satu kata yang dapat Aku baca dan ingat, “esia” dan beberapa kata yang lain.

Aku ingin bertanya, tapi Aku ragu. Asumsiku adalah Kakek sedang belajar menulis. Kakek menuliskan setiap kata yang ada di handphonenya. Lebih tepatnya, message di inboxnya. Ya, sekali lagi, itu asumsi karena Aku tidak bertanya. Asumsi itu berputar-putar di pikiranku.

Kalau menurut KBBI, asumsi adalah dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir karena diangggap benar. Cohen (2000) mengatakan bahwa asumsi adalah kepercayaan, gagasan, dugaan, atau pemikiran yang dimiliki oleh seseorang, sekelompok orang, atau para ahli internal atau eksternal mengenai suatu subjek. 

Ibarat penelitian, maka asumsi yang muncul merupakan hipotesis penelitian. Hipotesis muncul dari serangkaian hasil observasi dan harus diteliti untuk mengetahui apakah hipotesis itu benar atau tidak. Ya, asumsi saya muncul dari hasil observasi, pengamatan yang saya lihat. Namun, memang asumsi tidak selamanya benar atau valid, hanya apa yang kita yakini. Langkah strateginya adalah bertanya, maka tidak akan tersesat ke dalam pemikiran diri sendiri. Sperti mengupas bawang, asumsi berada pada layer bawang paling luar. Kita harus menggali sumber hingga inti, baru bisa temukan jawaban atas kebenaran asumsi. Masalahnya adalah, “malu bertanya, sesat di jalan”.

Semoga saja Aku dipertemukan dengan Kakek lagi. Sehingga Aku bisa menguji dan mempertanyakan asumsiku, benar ataukah salah. Jika benar, maka Aku dapat melakukan sesuatu hal untuknya. Jika salah, artinya aku harus belajar untuk sampai tahap action, bukan hanya berputar pada pemikiran yang dapat menyesatkan. Itulah caring, bukan kepo. :)


Sumber:
Cohen, WA. (2000). A Class with Drucker. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 


8 Juni 2015
 Ruang Rutinitas 

Minggu, 19 April 2015

Bertolak ke Pulau Dewata, Bali

Standard
Siapa yang tidak kenal Bali? Yang bahkan Pulau ini lebih terkenal daripada pada negaranya sendiri di kalangan orang luar negeri. Nah, saya akan mengajak teman-teman untuk mengeksplor Bali lebih dekat! Yuk! ;)

1. Pura Taman Ayun

Pura Taman Ayun, khas Bali
Destinasi pertama adalah Pura Taman Ayun. Pura merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu di Bali. Lokasi Pura Taman Ayun berada di Desa mengwi, Kabupaten Badung. Tahukah kamu? Pura ini masuk ke dalam list World Heritagenya UNESCO loh. Tempat ini begitu bagus, rapi, bersih, dan tentunya bersejarah. Wajar saja sih, kan tempat beribadat ya. Hehe.. Namun, tempat ini boleh dikunjungi oleh masyarakat dengan membayar sekian rupiah, kecuali penduduk Bali, gratis. So, kamu harus jadi warga Bali dulu kalau mau ke sini dengan cuma-cuma. :p Ahya, satu lagi. Kalau bisa, kalau ingin berkunjung ke sini, pastikan kamu yang kaum hawa tidak sedang menstruasi, karena dilarang masuk. Ya, karena pura tempat suci untuk beribadah. :))

2. Tanah Lot

Itu lubang di bawahnya yang unik :)
Destinasi kedua, Tanah Lot! Tanah Lot ini sangat terkenal sekali di Bali. Pemandangannya sangat indah. Perpaduan antara laut, langit, bumi, dan pura. Sebenarnya Tanah Lot ini merupakan Pura. Pura Tanah Lot berada di pinggir pantai. Tanah lot ini terdiri dari dua kata, yaitu Tanah yang ditafsirkan sebagai karang tampak seperti gili atau pulau dan Lot atau Lod yang memiliki makna laut. Jadi, Tanah Lot berarti pulau kecil mengambang di laut. Uniknya Pura Tanah Lot ini adalah karena letaknya yang berada di atas laut. Menarik bukan? :)

Panas loh di sini!

3.  Sawah Terasering

Siapa bilang Bali cuma punya pantai, laut, atau Pura? Bali juga punya sawah loh! Sawah Terasering ini ada d Tegalalang, dekat Ubud. Penampilan sawahnya begitu cantik undakan-undakan sawah. Saya mengenalnya sebagai Terasering. Sebenarnya pengunjung bisa turun ke sawah tersebut. Namun, saya tidak melakukannya karena ingin berkunjung ke tempat lainnya. Tapi, rasanya dulu waktu tahun 2012 pernah turun juga sih. rasanya kayak di pedesaan gitu. Mendengar gemericik aliran air sungai. Sejuk. Selain itu, banyak juga pengrajin dan toko-toko yang menjual hasil kerajinan tangan. Salah satu contohnya adalah kaca perca. Kamu harus berkunjung ke sini. :)

Ini dia! Sawah Terasering

 4. Don Antonio Blanco Museum

Pintu masuk museum
Kalau kamu tertarik terhadap sejarah seni lukis di Bali, kamu harus mengunjungi Museum Blanco ini. Lokasinya berada di Ubud. Tiket masuk ke museum ini sejumlah Rp 30.000 saja sudah mendapatkan drink. :) Kalau dilihat ke dalam, sebenarnya museum ini seperti rumah dari pelukis yang dijadikan museum. Tempat ini juga mengadakan pertunjukkan tarian Bali di waktu-waktu tertentu. Kamu juga bisa berfoto dengan burung-burung jinak yang cantik di luar museum ini. :3 Mau tahu lebih lanjut? Klik di sini! :) 

Mau? ;)


5. Monkey Forest

Destinasi terakhir, yaitu Monkey Forest! Sudah ketahuan ya dari namanya, hutan monyet. Haha..Saya paling suka tempat ini dari 5 tempat yang saya kunjungi, entah kenapa. Lebih banyak tertawa karena melihat tingkah makhluk-makhluk lucu yang bernama monyet. :3 FYI, monyet di tempat wisata ini di lepas loh. Nggak dikurungin kayak di kebun binatang. Setting tempat ini seperti hutan. Ada sungai juga di dalamnya. Alami sekali~ Kadang kamu akan merasa terancam karena banyak monyet di sekelilingmu. Kadang pula kamu akan tertawa secara tidak sadar akibat tingkahnya yang lucu. Kalau ke Bali, mesti berkunjung ke sini! :))
Jalan di Monkey Forest
Indonesia, negeri alam ku cinta
Indonesia kaya raya alam-nya
Indonesia kaya budaya
Indonesiaku!
*Photo credit: Sabila
*PIC : Maheswari dan temannya :3

Kamis, 19 Februari 2015

Esai Kritis OIM UI 2014

Standard
REVITALISASI BUDAYA RISET PADA INTERPROFESSIONAL HEALTH STUDENT SEBAGAI STRATEGI MAHASISWA KESEHATAN MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI
           Oleh Maufiroh, Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2012
Juara II Esai Kritis ajang Olimpiade Ilmiah Mahasiswa Universitas Indonesia Tahun 2014

         Kesehatan menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena merupakan kunci dari produktivitas. Pada kenyatannya,  Indonesia masih memiliki banyak permasalahan kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011, sejumlah 1.321.451 penduduk mengalami malaria dan sebanyak 316.562 penduduk mengalami Tuberkulosis (TBC) (Badan Pusat Statistik, 2014). Indonesia juga menduduki peringkat ketiga terbanyak penderita kusta di dunia setelah Brazil dan India (WHO, 2013). Sehubungan dengan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia, permasalahan kesehatan di Indonesia harus diselesaikan dalam menghadapi tantangan globalisasi secara global.
           Berdasarkan permasalahan kesehatan yang ada, Indonesia mulai menerapkan Interprofessional Practice and Education (IPE) di beberapa perguruan tinggi negeri. Interprofessional Practice and Education (IPE) dicetuskan oleh World Health Organization pada tahun 2006 sebagai strategi dunia untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan (WHO, 2010). Namun, perguruan tinggi yang menerapkan sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) masih sedikit. Di Indonesia, perguruan tinggi yang telah mengadopsi sistem ini, diantaranya Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
             Dari beberapa hasil penelitian di luar negeri, sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) menunjukan hasil yang positif terhadap pelaksanaan sistem. Penelitian yang dilakukan oleh Hood et al (2013), menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki sikap positif terhadap Interprofessional Practice and Education (IPE) dan semua mahasiswa bersedia untuk menjalankan pembelajaran secara profesional. Lynn et al (2014), juga menyebutkan pada penelitiannya bahwa dengan antusiasme dan dukungan, mahasiswa dapat mentransformasikan pengalaman sistem IPE untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di abad ke-21. Hal ini menunjukkan bahwa sistem Interprofessional Education menjadi sistem yang potensial untuk menciptakan Interprofessional Health Student yang dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan di Indonesia.
       Dalam menghadapi tantangan globalisasi, disamping mengedepankan kualitas sumber daya manusia, Indonesia juga harus memperhatikan perkembangan riset dan kemajuan teknologi. Hal ini perlu dilakukan karena riset dan teknologi menunjukkan kemajuan suatu bangsa di bidang pendidikan dan teknologi. Namun, pada kenyataannya Indonesia memiliki jumlah publikasi ilmiah (bukti riset) dengan jumlah yang rendah dibandingkan negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand (Scopus, 2013).
       Dari data Scopus (2013), jumlah publikasi ilmiah pada tahun 2013, Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2011 dengan jumlah 2.741 publikasi menjadi 4.175 dan menduduki peringkat ke 55. Amerika menduduki posisi pertama sebanyak 563.292, diikuti oleh China dengan jumlah publikasi 425.677, dan United Kingdom diurutan ketiga dengan jumlah 162.574 publikasi ilmiah. Sedangkan untuk beberapa negara-negara ASEAN, Malaysia menduduki peringkat 23 dunia dengan jumlah 23.190, Singapore peringkat 30 dengan jumlah 17.052, Thailand peringkat 42 dengan jumlah 11.313, dan Vietnam peringkat 58 dengan jumlah 3.443. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal jauh untuk menghadapi tantangan globalisasi dilihat dari kesiapan di bidang riset dan teknologi.
        Upaya dalam meningkatkan riset sudah dilakukan pemerintah pada sumber daya manusia strategis, yaitu mahasiswa. Melalui Undang – Undang No. 12 Tahun 2012, Pemerintah mewajibkan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Undang Undang No. 12 tahun 2012 menyebutkan pada pasal 45 ayat (1) bahwa  penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Dalam hal ini, mahasiswa baik sarjana, magister, dan doktor memiliki peran penting yang diwajibkan pemerintah untuk melakukan riset dan diharapkan dapat menciptakan, menemukan, dan memberikan kontribusi bagi penerapan, pengembangan, serta pengamalan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah (UU No. 12 tahun 2012).
Gambar 1. Grafik Jumlah Publikasi Ilmiah Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura Sejak 1996 – 2011 (Alam, 2013)
        Upaya revitalisasi di bidang riset tidak cukup hanya dari kebijakan pemerintah kepada perguruan tinggi, tetapi juga dilakukan revitalisasi dari perguruan tinggi terhadap mahasiswa sebagai pemegang peranan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Upaya revitalisasi yang sudah dilakukan terhadap mahasiswa, yaitu melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Tidak hanya itu, beberapa perguruan tinggi telah berupaya dengan memberikan dana hibah riset kepada mahasiswa dengan jumlah yang cukup besar. Salah satu contohnya adalah Universitas Indonesia.
            Upaya revitalisasi di bidang riset sudah cukup banyak dilakukan, namun upaya-upaya tersebut dirasa belum cukup efektif bagi mahasiswa untuk meningkatkan publikasi ilmiah dalam menghadapi persaingan secara global. Hal ini dibuktikan dari minimnya jumlah publikasi yang dihasilkan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Scopus, jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh UI, ITB, UGM, dan IPB dalam kurun waktu 2007 – 2013 mengalami peningkatan dengan jumlah kurang dari 250 publikasi per tahun dari masing-masing perguruan tinggi (Alam, 2013). Bukti lainnya adalah terjadi penurunan jumlah publikasi ilmiah secara drastis pada tahun 2013, dengan jumlah publikasi kurang dari 100 pada masing-masing perguruan tinggi  (gambar 2).
Gambar 2. Jumlah publikasi UI, ITB, UGM, dan IPB pada tahun 2007 – 2013 (Scopus dalam Alam, 2013)

Melihat potensi pada implementasi sistem Interprofessional Practice and Education (IPE) terhadap inovasi riset dan teknologi di bidang kesehatan, kebutuhan Indonesia untuk menghadapi tantangan globalisasi di bidang riset dan teknologi serta belum efektifnya upaya revitalisasi riset yang sudah ada, maka dibutuhkan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student sebagai strategi mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dalam menghadapi tantangan globalisasi. Berikut adalah gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student.

1.      Pendidikan Formal Riset Interprofessional Health Student berbasis Aplikatif
Riset – riset yang diterapkan pada umumnya adalah riset sesuai bidang profesi masing – masing. Sedangkan riset pada Interprofessional Health Student (minimal terdiri dari dua bidang profesi) belum diterapkan di Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan formal khusus riset pada Interprofessional Health Student berbasis aplikatif agar mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dapat memahami baik secara teoritis maupun aplikatif.
Pada umumnya, pelaksanaan pembelajaran pada pendidikan formal riset ini sama seperti pembelajaran metode penelitian. Namun, terdapat perbedaan antara pembelajaran metode penelitian dengan riset Interprofessional Health Student, yaitu dari segi aplikatifnya pembelajaran. Setelah mendapatkan pengetahuan tentang penelitian, mahasiswa langsung mengimplementasikan dari ilmu pengetahuan yang didapat. Berikut tahap – tahap pelaksanaan pendidikan formal riset Interprofessional Health Student berbasis aplikatif.

1)      Pra-Orientasi Pembelajaran
Tahap pra-orientasi pembelajaran ditekankan kepada pendidik, yaitu dosen pengajar. Sebelum melakukan tahap orientasi kepada mahasiswa, dosen melakukan orientasi terlebih dahulu terkait modul pembelajaran riset Interprofessional Student berbasis aplikatif. Pada tahap ini juga sebagai tahap assessment pada daerah yang akan dilakukan penelitian sebagai pilot project dari pembelajaran ini. Hasil assessment tersebut akan di presentasikan saat orientasi pembelajaran kepada mahasiswa untuk memberi gambaran terkait kondisi masalah di daerah pilot project tersebut.

2)      Orientasi Pembelajaran
Pada tahap ini, pendidik memberikan orientasi pembelajaran kepada mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tentang proses pembelajaran yang akan di jalani selama satu semester. Selain itu, mahasiswa diberikan gambaran kondisi daerah pilot project yang akan dilakukan pada tahap implementasi nanti.

3)Materi Proposal Penelitian (review)
Pemberian materi proposal penelitian guna melakukan review terhadap materi metode penelitian dan menyamakan persepsi seluruh mahasiswa rumpun ilmu kesehatan terkait pembuatan proposal penelitian.

4) Pembuatan proposal kelompok
Setelah mendapatkan materi pembuatan proposal penelitian, tahap ini merupakan tahap implementasi dari materi yang telah diberikan. Kemudian mahasiswa membentuk kelompok proposal yang terdiri dari minimal dua bidang profesi dengan jumlah anggota kelompok sebanyak lima orang.

5) Seminar proposal kelompok
Tahap selanjutnya adalah seminar proposal kelompok. Tahap ini dilakukan setelah kelompok Interprofessional Health Student membuat proposal penelitian. Tujuannya adalah sebagai monitoring dan evaluasi hasil proposal penelitian kelompok oleh fasiliator kelas untuk di revisi kembali sebelum melaksanakan penelitian.

6) Tahap implementasi penelitian
Setelah proposal kelompok sudah disetujui oleh fasilitator kelas, semua mahasiswa melakukan tahap implementasi, yaitu pengambilan data penelitian di daerah pilot project yang telah di tentukan sebelumnya.

7) Materi dan pelatihan penulisan jurnal
Tahap berikutnya adalah pemberian materi dan pelatihan penulisan jurnal penelitian. Pendidik memberikan materi singkat terkait penulisan jurnal kemudian memberikan pelatihan proses/cara penulisan jurnal penelitian yang baik dan ilmiah.

8) Tahap Implementasi penulisan jurnal
Mahasiswa dituntut untuk mampu mengimplementasikan dari pengetahuan sebelumnya. Secara berkelompok, mahasiswa membuat jurnal penelitian dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

 9) Evaluasi
Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi. Setelah pembelajaran selesai, mahasiswa memberikan evaluasi terhadap pembelajaran untuk perkembangan dan penyempurnaan pelaksanaan sistem pembelajaran.

Berikut adalah skema implementasi pendidikan formal riset pada Interprofessional Health Student berbasis aplikatif.

Gambar 3. Skema Pendidikan Formal Riset pada Interprofessional Health Student Berbasis Aplikatif.
Hasil keluaran dari gagasan ini adalah berupa fisik dan non-fisik. Hasil keluaran fisik gagasan ini berupa proposal penelitian dan jurnal penelitian. Jurnal penelitian ini dapat digunakan untuk mengikuti kompetisi ilmiah yang berbasis penelitian seperti Call for Paper, Conference, PKM-AI, dan sebagainya.

2.      Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian khusus mahasiswa rumpun ilmu kesehatan menjadi sebuah gagasan lanjutan dari gagasan sebelumnya. Gagasan ini bertujuan sebagai wadah Interprofessional Health Student untuk melakukan penelitian diluar pendidikan formal. UKM ini menjadi sebuah organisasi untuk meningkatkan budaya riset pada Interprofessional Health Student. Penelitian yang dapat dilakukan oleh mahasiswa pada UKM ini terbagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan lingkup daerah penelitian, yaitu penelitian tingkat universitas, daerah lokal universitas, dan luar daerah universitas.

Tahap implementasi pada UKM ini hampir serupa dengan implementasi pada pendidikan formal riset Interprofessional Health Student berbasis aplikatif. Hanya saja terdapat perbedaan pada tahap awal dan akhir. Pada tahap awal implementasi, yaitu adanya kajian penelitian sebagai pengetahuan terkait penelitian kepada anggota organisasi dan pembentukan kepanitiaan untuk mengurus pelaksanaan kegiatan. Sedangkan perbedaan pada tahap akhir, yaitu dapat melakukan pengabdian masyarakat di bidang kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Berikut skema tahap implementasi gagasan UKM Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan.

Gambar 4. Skema Implementasi UKM Penelitian Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

3.      Perpustakaan Riset Digital Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Gagasan ini  dilatarbelakangi oleh keluhan beberapa mahasiswa yang sulit mencari sumber literatur pada proses pembuatan proposal penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Mujiyah dkk (2001) dalam Januarti (2009) menemukan bahwa kendala terbesar yang dihadapi mahasiswa dalam membuat skripsi adalah pada buku – buku sumber me;iputi kurangnya buku – buku referensi yang focus terhadap permasalahan penelitian, dengan persentasi sebesar 53,3%. Terlebih lagi, tidak ditemukan data jumlah publikasi penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa di Indonesia.

Perpustakaan riset digital mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dibentuk untuk menampung seluruh jurnal penelitian mahasiswa rumpun ilmu kesehatan yang telah terseleksi. Hal ini akan menjadi akses literatur untuk perkembangan penelitian selanjutnya dan juga sebagai referensi penelitian. Perpustakaan ini didesain dalam bentuk digital supaya seluruh mahasiswa di Indonesia, khususnya kesehatan dapat melakukan akses terhadap jurnal-jurnal penelitian yang ada. Berikut adalah skema implementasi gagasan perpustakaan digital riset mahasiswa rumpun ilmu kesehatan.

Gambar 5. Skema Implementasi Perpustakaan Riset Digital Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan

Gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student (Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan) diharapkan mampu menjadi program yang dapat diimplementasikan pada perguruan tinggi di Indonesia pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Hasil luaran yang diberikan melalui gagasan revitalisasi budaya riset pada Interprofessional Health Student diharapkan mampu meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia serta meningkatkan publikasi ilmiah Indonesia. Dengan begitu, peran mahasiswa dapat dioptimalisasi sebagai strategi dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Kondisi yang diharapkan agar gagasan revitalisasi budaya riset dapat berjalan dengan baik  antara lain, perguruan tinggi dapat membuat regulasi terkait pengadaan pendidikan formal riset kolaborasi kesehatan serta menyediakan fasilitas yang memadai untuk mahasiswa rumpun ilmu kesehatan dalam melakukan riset agar budaya riset tetap terbangun dan DIKTI beserta LPDP dapat bekerja sama dalam pelaksanaan program guna mendukung dana riset agar perkembangan riset dan kemajuan teknologi Indonesia dapat meningkat dan mampu bersaing secara global.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, Bachtiar. (2013, Oktober). Strategi dan Kinerja Riset Perguruan Tinggi: Pengalaman Universitas Indonesia. DRPM Gazette, 06(4), 6-7.
Badan Pusat Statistik. (2014). Number of Disease Cases by Province and Type of Disease. www.bps.go.id/eng/tab_sub/print.php?id_subyek=30&notab=47 diakses pada 18 September 2014
Hood, Kerry., Robyn Cant, Julie Baulch, Alana Gilbee, Michelle Leech, Amanda Anderson, dan Kate Davies. (2013). Prior experience of interprofessional learning enhances undergraduate nursing and health students’  professional identity and attitudes to teamwork. Nursing Education in practice. Elsevier Mosby Inc.14, 117-122
Januarti, R. (2009). Hubungan antara Persepsi terhadap Dosen Pembimbing dengan Tingkat Stress dalam Menulis Skripsi. [Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Surakarta,
Scopus. (2013). http://www.scimagojr.com/countryrank.php?area=0&category=0&region=all&year=2013&order=it&min=0&min_type=it diakses pada 17 September 2014
Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/17624/UU0122012_Full.pdf diakses pada 19 September 2014
VanderWielen, Lynn M. et al. (2014). Interprofessional Collaboration Led by Health Professional Students: A Case Study of the Inter Health Professionals Alliance at Virginia Commonwealth University. Journal of Research in Interprofessional Practice and Education.
World Health Organization. (2010). Framework for Action on Interprofessional Educaion & Collaborative Practice. Geneva, WHO Press.

World Health Organization. (2013). Weekly Epidemiological Record. 88(35), 365-380. Diakses dari http://www.who.int/wer

Minggu, 08 Februari 2015

Sudahkah Saya Merdeka?

Standard

Merdeka, Saya ingin sekali mengulas satu kata tersebut. 

Sebenarnya, kata 'merdeka' ini terlintas ketika saya memerhatikan seorang pemudi dan ibunya di dalam kereta Commuterline Tanah Abang-Serpong. Kalau saya taksir, pemudi tersebut sekitar usia 16-17 tahun dengan perawakan yang cukup gemuk dan menggunakan pakaian tertutup serta jilbab hitam. Pemudi ini duduk disamping ibunya. Sedangkan saya berdiri menggantungkan tangan kanan pada pegangan kereta untuk mencegah ketidakseimbangan posisi akibat laju kereta yang begitu cepat, di depan mereka.

Hal yang membuat tatapan saya lebih lama kepada pemudi tersebut adalah raut wajah serta cara pandangnya. Setiap orang memang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Saya juga paham kalau kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Tapi, raut wajah yang saya lihat kini berbeda. Raut wajahnya menampakkan kesedihan. Saat itu tatapannya menunduk, bahkan dengan Ibunya sendiri. 

Kala itu, pemudi itu sedang asyik dengan tab-nya dan menunduk. Kemudian, Ibunya mencoba untuk meraih tab yang dipegangnya. Namun, pemudi tersebut mengelak. Kalau saya terjemahkan, mungkin dia berkata "Sebentar Ma, lagi seru.", dalam hatinya. Faktanya, pemudi itu tidak berkata sepatah kata apapun. Hanya menghindar. Berkali-kali Ibunya mencoba untuk meraih tab-nya, namun pemudi itu memberi isyarat untuk tidak mengambil tab dari genggamannya. Saya melihat tatapan Ibu terhadap pemudi, terlihat mengancam. Namun, pandangan pemudi itu ke bawah, sehingga tidak melihat sorotan mata ibunya. Saya yang melihatnya. Hingga akhirnya pemudi itu menyerah. Menyerahkan tab yang dipegangnya kepada Ibunya. Saya melihat lekuk bibirnya semakin merunduk (re: manyun). Gerakan pipi dan sekitar wajah yang dapat saya perhatikan bergerak menampakkan kesedihan. Entah kenapa, saya menafsirkan rasa sedih yang ditampakkan begitu dalam dari pemudi tersebut.

Kereta yang saya tumpangi akhirnya sampai di stasiun Kebayoran. Saya meninggalkan pemudi dan Ibu yang ada dihadapan saya dan menuju pintu keluar kereta Commuterline sambil merenungi peristiwa tersebut. Hingga kata "kebebasan" terlintas dipikiran saya, kemudian muncul kata "merdeka".

Kalau menilik dari KBBI, merdeka memiliki arti 1. bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb; berdiri sendiri. 2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Jelas sekali makna merdeka dari KBBI tersebut. Jika melihat kasus yang saya ceritakan, sudahkah pemudi itu merdeka? Sayapun tidak tahu. Namun banyak sekali fenomena-fenomena yang menunjukkan ke-tidak-merdeka-an di sekeliling saya. Banyak di lingkungan saya yang memiliki suatu grup yang biasa disebut dengan "geng", entah itu di SD, SMP, SMA, bahkan Universitas. Tak jarang sekali, saya merasa bahwa banyak diantara mereka yang belum merdeka. Kenapa? Karena saya melihat raut wajah itu palsu. Kesenangan didapat hanya semu. Menurut saya, kasus tersebut sangat melekat sekali namun banyak yang tidak sadar.

Merdeka juga didapatkan dari diri sendiri. Kalau menurut Bung Karno, “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno). Sama halnya dengan diri kita sendiri. Ketika kita tidak percaya pada diri sendiri, artinya diri kita terbelenggu. Contoh hal kecil kemerdekaan diri sendiri adalah berani melawan ketakutan dari diri sendiri. Kalau saya, dulu pernah tidak merdeka untuk mengungkapkan pendapat. Kini, saya telah bermetamorfosis hingga rasa belenggu itu mulai pudar. 

Indonesia memang sudah merdeka. Namun, merdeka yang seperti apa? Hakikikah kemerdekaan itu? Banyak sekali fenomena-fenomena belenggu kemerdekaan dari mulai yang paling jelas terlihat hingga samar-samar. Sudahkah saya merdeka? Pertanyaan refleksi yang wajib diupdate. Semoga saya dan semua yang membaca merasa merdeka secara hakiki, serta dapat memerdekakan banyak orang. Karena.................................
“Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”  Pramoedya Ananta Toer