Selasa, 27 Januari 2015

LKMM Nasional: Rasa Gado-Gado

Standard
Om Swastyastu...!

Yap! Kini Aku sedang berada di Bali (lagi), sejak dua tahun yang lalu pertama kali Aku ke Bali untuk menghadiri Konferensi Budaya Nasional di Udayana dan Ubud. Alhamdulillah Aku diberi kesempatan lagi untuk ke Bali dalam rangka menghadiri Latihan Kepemimpinan dan Manajerial Mahasiswa Ilmu Keperawatan yang diadakah oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) se-Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. :)

Kenapa judul postingannya rasa gado-gado? Karena ini kali pertama Aku menghadiri event keperawatan se-Indonesia dan Aku tak bisa mengungkapkan satu jenis rasa ketika bertemu dengan  mereka, teman-teman sejawat (mahasiswa keperawatan) se-Indonesia. Sesungguhnya, alasan utama mengikuti kegiatan ini karena ingin direct meeting dengan teman-teman Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (BIMIKI). Ya, Aku telah bergabung ke dalam BIMIKI sebagai staff redaksi yang mengurus artikel-artikel penelitian keperawatan untuk diterbitkan. Ya, penelitian, itu passionku. Haha :) Alasan lainnya lagi adalah karena Aku ingin menemukan sensasi seperti apa yang dapat Aku rasa ketika duduk bersama, berdiskusi, dan berbincang dengan teman sesama ilmu keperawatan se-Indonesia. Selain itu, Aku juga membawa satu misi untuk project yang sedang Aku kerjakan bersama dosen dan temanku tentang kasus Needlestick Injury. Yeah, survei kasus itu menambah ruh semangatku untuk hadir ke dalam acara ini. :)

Aku berangkat dari Jakarta bersama temanku, Abel. Hal yang menarik bagiku pada hari ini adalah teman-teman satu kamarku, teman-teman sebelahku, opening ceremony, dan pemateri dari Prof. Irawan Yusuf. :)

Teman satu kamarku ada tiga orang. Mereka adalah Putri (Universitas Jember), Ain (Universitas jember), dan Puput (STIKES Surya Global Jogja). apa yang menarik bagiku? Mereka masih muda *eh bukan*. Mereka sangat ekstrovert dan ekspresif, terlebih lagi Putri. Haha.. Mereka seperti adikku saja. Gimana bukan adik? Mereka masih semester satu guys, kecuali Puput, semester tiga. *sok tua, emang tua -_-* :D
Apalagi yang menarik? Mereka semua memiliki mimik yang sangat ceria. Aku suka! Haha :)) Dan, Ain ternyata orang Madura tetapi dia di Bangkalan, kampungku di Pamekasan. Then, Bapaknya Putri orang Pamekasan. Oh my..Apa maksudMu membuat kami satu kamar ya Tuhan? Apakah engkau memberiku isyarat untuk Aku belajar akif bahasa Madura? Selama ini Aku cenderung pasif bahasa Madura, hanya bisa memahami apa yang di bicarakan tetapi tidak bisa lancar membalasnya. Heuheu :3

Hal menarik kedua, opening ceremony. Aku belajar tentang kearifan lokal disini. Setiap memulai acara, Aku dibuat merasa bahwa "Oh, Ini di Bali". Hal ini Aku rasakan karena kostum panitia, ornamen khas Bali, serta salam "Om Swastyastu" yang tak pernah luput pada permulaan acara. Selain itu, Aku duduk di apit oleh mahasiswa semester satu dari Universitas Jember (Faizah) dan Universitas Muhamadyah Malang (Agus) ketika opening ceremony di dalam Aula. Aku pun berkenalan dengan dua orang lainnya disebelah Agus, yaitu Jajar dan Atiq namun mereka cenderung diam saja. Setelah berkenalan dan berbincang-bincang, tetiba Aku mendengar percakapan antara Agus dengan salah satu dari dua orang yang diam tadi menggunakan bahasa yang Aku kenal. Ya, bahasa Madura. Sontak Aku bertanya pada Agus, ternyata dia berasal dari Pamekasan. Hey! LKMM ini rasa Madura-Bali bagiku, wkwk.. Seketika Aku mengaku kalau Aku juga dari Pamekasan, dan tiba-tiba Atiq langsung memberikan tangannya untuk berjabat tangan padaku, Padahal sebelumnya dia terlihat acuh tak acuh. Peristiwa ini tetiba membuat Aku menyimpulkan bahwa budaya dapat membuat orang menjadi saudara dengan cepat sekali. Entahlah, Akupun tak mengerti akan kekuatan budaya yang seperti itu. Menarik memang, Indonesia.

Hal menarik terakhir, yaitu pemateri bernama Prof. Irawan Yusuf. Beliau memberikan pengetahuan kepada kami tentang "Strategi Membangun Komunikasi Efektif Antar Organisasi Mahasiswa Nasional". Ya, beliau menyampaiakn bahwa komunikasi efektif itu sangatlah penting baik bagi organisasi mahasiswa maupun dalam pelayanan kesehatan. Hal yang Aku garis bawahi dalam penyampaian materi beliau adalah komunikasi efektif itu dapat terwujud ketika kita memahami karakteristiknya sebagai lawan bicara atau teman berkomunikasi. I think he was right. Kalau kita berbicara dengan bayi, pasi kita akan mengikuti cara bayi. Kalau kita hendak berkomunikas dengan remaja atau orang tua, pasti kita akan menyesuaikan dengan mereka. Pun sama halnya dengan teman kita ketika mereka curhat. 

Iseng punya iseng, Aku browsing tentang profil beliau. Haha...Dan wow! Beliau punya rekam jejak yang luar biasa di bidang penelitian. Kontribusinya pada penelitian kesehatan di Indonesia sangat luar biasa. Beliau berkiprah di Komite Etik Nasional Penelitian Kesehatan Indonesia. Seketika Aku ingin sekali bertanya padanya supaya beliau setidaknya peernah berkomunikasi denganku. Haha..But I couldnt reach it karena gak ada sesi tanya jawab. Huhuhu...

Begitulah hari pertama yang telah kulalui di Bali. Di sini Aku harus menyelesaikan beberapa tugas kedepan. Tugas pertamaku telah selesai, yaitu membuat sebuah tulisan tentang konsep/ide tentang beberapa topik pilihan, yaitu Konflik dan Survei Isu; Fundraising; Media sosial, Internet, dan Teknologi; dan Buletin. Alhamdulillah tugasku sudah rampung. Aku berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Jika kamu mengenalku, maka kamu akan tahu topik apa yang telah Aku pilih. haha...

Sampai jumpa! Aku harus bangun pukul 04.30 WITA untuk memulai aktivitas kembali. Namun semangatku masih ada hingga Aku tidak merasa ngantuk tapi harus istirahat juga. Sampai jumpa di tulisan berikutnya! Foto menyusul ya! Hihi... :))

27 Januari 2015
02.44 WITA dari Bali, Indonesia

Minggu, 25 Januari 2015

Korea Selatan #4 : Seoul City!

Standard
Konbanwa Minna-san !~~

Sapaan kali ini dengan bahasa Jepang, karena tahun ini Aku ingin sekali pergi ke sana. Doakan saja ya, sedang dalam tahap ikhtiar. :")

Tahu drama korea Boys Before Flower? Tahu dimana lokasi foto dibawah ini? Ya! Namsan Tower! :") Aku mau cerita hari terakhirku di negeri gingseng ini. Mengakhirinya dengan memutuskan untuk mengunjungi Namsan Tower bersama Lili dan Chika. Alright then~


25 Agustus 2014
Hari terakhirku di Korea Selatan. Menuju Namsan Tower adalah perjalanan yang panjang, meletihkan, namun membahagiakan!  Setelah Aku, Lili, dan Chika menyelesaikan conference day di Daejeon, pagi hari kami segera bertolak ke kota Seoul. Pagi itu, di Daejeon hujan cukup deras. Kami kesulitan mencari taksi untuk menuju halte bus yang akan mengantarkan kami ke Seoul. Sekitar satu jam kemudian, dengan bantuan Oppa-Oppa di Yuseong Youth Hostel, taksi datang dan mengantarkan kami ke Yoosung Gumho Express Bus Terminal. Naik bus di Korea gak bisa sembarangan. Kita mesti beli tiket di loket dan menunggu di halte bus. Fufufu~

Kami sampai di terminal bus pukul 9.30 dan membeli tiket bus Daejeon-Seoul seharga 9.700 Won dengan jenis small seat (paling murah). Sedangkan bis masih akan tiba pukul 10.40. So, kami harus menunggu di halte ini. Sambil menunggu, Aku memandangi pemandangan luar terminal, rintik hujan yang membasahi jalan, serta hiruk pikuk orang korea di dalam dan luar terminal. Ya, orang Korea dan HANYA KAMI yang dari Indonesia. "Ini baru berasa di Korea!", sahutku pada Lili. Tak ada lagi orang lain yang menggunakan bahasa selain kami. Beberapa dari mereka melirik kami bertiga yang menggunakan kerudung colorful dengan tas jinjingan yang besar. Haha...

Suatu ketika, ada seorang Ajhumma di depan kami. Kalau bisa Aku taksir, mungkin sekitar usia 50an tahun. Aku, Lili, dan Chika berurut duduk di belakang beliau. Kebetulan, kami sedang sangat bingung akan naik bus yang mana karena kami tidak tahu dan takut ketinggalan. Akhirnya Lili yang sambil memegang buku ajaibnya (buku saku Korea), mencari-cari kalimat pertanyaan dan dengan berani sekali mencolek Ajhumma dan melontarkan pertanyaan yg ada di buku saku. Hahaha.. Aku lupa detail percakapan kami, tetapi Ajhumma itu baik sekali. Beliau bilang "Katci". Kemudian, Lili dengan sigap membuka handphonenya yang ternyata ada kamus bahasa Korea. Wkwkwk..."Katci" berarti bersama-sama. Nah, artinya Ajhumma tersebut juga satu tujuan dengan kami. Yeah! Asik sekali bertemu dengan Ajhumma. Beliau sepertinya sangat ingin sekali berbicara kepada kami. Beliau berbicara dengan bahasa Korea sambil memegang kerudungku, mengusap pipiku dan pipinya, namun kami tidak mengerti. Hahaha.. Sepertinya dia ingin bertanya tentang kerudung kami.. Sayang sekali kami tidak bisa bercakap-cakap.. hanya bisa pakai non-verbal alias sungging bibir dan tunjukkan gigi.. :) Kemudian, Ajhumma masuk mini market dan memberikan kami tiga minuman kotak rasa anggur. Aaaah~ Ghamsahamnida Ajhumma... Gomawo~~ :3

Halte Bus, Ada Ajhumma. Tapi bukan Ajhumma yang di foto. Hehe :D
Singkat cerita, kami sampai di Seoul terminal city dan segera mencari yang namanya T-money. Kalau kata kak Rhesa, T-money ini sangat berguna untuk transportasi di Seoul, khususnya pengguna subway! Akhirnya kami temukan dia di sebuah mini market bernama "With Me", bukan with you. wkwk...T-money ini ibarat kartu Multitripnya KRL Jabodetabek gitu deh. Kami beli kartu seharga 2.500 Won ditambah top up 10.000 Won yang akan cukup bahkan lebih untuk satu hari pakai Subway. Wow! Lalu kemana kita?? Yes, kita bingung cari rute subway. Bingung juga cari orang yang bisa bahasa inggris sebagai sasaran untuk bertanya. Akhirnya kami bertemu dengan sekumpulan pemuda yang tepat dan kami mendapat arah. Bolang banget! 
T-money ku~
Dezing~~~~
Suasana  bawah tanah dengan hiruk pikuk orang Korea dan suara otomatis yang keluar dari setiap tap kartu kartu T-money membuatku berkata, "Ini baru Korea (lagi)!". Berdasarkan alamat hostel yang tertera pada kertas print yang Chika bawa, kami akan kami menuju Itaewon. Namanya hostelnya adalah SP Itaewon Guesthouse. Hanya berbekal informasi dari kak Rhesa dan melihat peta Subway, akhirnya kami tiba di Itaewon (masih di bawah tanah). Kami berjalan menuju panah exit dan........kita menemukan 5 atau 6 jalur exit dengan nama Itaewon di setiap exit. Nahlo~~~ kemudian ngecek alamat detailnya, yaitu 112-11 Itaewon-Dong, Yongsan-Gu, 140-863 Seoul, South Korea. Kami cocokkan dengan nama-nama yang tertera di exit tersebut, tetapi gak ada yang benar-benar tepat. Akhirnya kami gambling untuk pilih exit nomor 4. 

Keluar dari bawah tanah subway, kami melihat jalan raya besar, etalase-etalase, restauran, orang-orang ramai, kendaraan besar, dan kami....masih tak tau arah harus kemana lagi untuk sampai ke Itaewon guesthouse. Akhirnya kami bertanya dengan menunjukkan alamat di kertas. Dan...bukan sampai di Itaewon guesthouse, tapi malah sampai di G-guesthhouse, tempat menginap kak Rhesa sebelumnya. Dengan sangat baik hati, pemilik G-guesthouse menunjukkan arah kepada kami dari GPSnya. waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, akhirnya kami mencari masjid. Katanya didekat G-guesthouse ada masjid. Huwaaaa~~

Kami berjalan mengikuti arah GPS dan melihat ujung kubah masjid. Semakin jalan mendekat, kubah itu menghilang dan kami tak tahu lagi bagaimana sampai ke masjid. :( Modal bertanya, malah ditunjukkan ke dalam satu gedung bertingkat tiga yang terlihat seperti ruko. Kami masuk, tidak ada orang, hanya sandal-sandal di rak dan melihat sajadah terbentang. Sepertinya tempat berkumpul orang-orang muslim, dan tertera "Islamic Culture Center" di pintu paling depan. Nggak jadi lihat masjid di Seoul. :( 

Selepas sholat dzuhur di sana, kami keluar dan disapa oleh tiga pemudi Korea. Mereka meminta waktu untuk interview about Islam. Sepertinya mereka menduga hal itu karena kami bertiga berkerudung. Sebenarnya kami antara ingin dan tidak karena mengingat waktu sudah hampir sore. Soalnya kami belum sampai ke guesthouse dan rencana awal kami setelah sampai di guesthouse adalah pergi ke Myeondong dan Namsan Tower. Akhirnya kami memutuskan untuk berbincang-bincang dengan mereka sekitar 10 menit. Di dunkin donut, mereka bertanya kenapa kami ke Korea, Background kami, kebebasan kami dalam Islam, penggunaan jilbab, dan poligami. Mereka excited sekali karena baru lihat muslim menggunakan jilbab warna-warni seperti kami. They said "you are so colourfull, different with others". Wkwkwk..

Akhirnya, sampai di SP Itaewon Guesthouse pukul 16.00. Kamarnya nyaman sekali, sangat menggoda untuk tidur dan memberikan ruang untuk badan di kasur. Kami bergegas ke subway menuju Myeondong dan Namsan Tower, bersiap untuk ngebolang lagi. Yeay! Berbekal map dari Itewon Guesthouse, kami berdiskusi di ruang tunggu subway untuk menentukan stasiun akan kami singgahi. Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita muda bersama seorang teman laki-lakinya. Wanita muda itu menyapa kami dan berbahasa Indonesia, bernama kak Chusna dan temannya adalah orang Thailand. Akhirnya kami bilang ingin ke Namsan Tower dan mereka bersedia mengantar kami ke sana. Yeay! :)

Dari gate Itaewon, kami naik subway di line 6 ke tujuan stasiun Samgakji, lalu kami transit ke line 4, stasiun Myeondong. Mereka hanya bisa mengantar kami sampai gang dimana kami masih harus berjalan kaki untuk sampai ke Namsan Tower. Thanks a lot kak Chusna dan temannya! :)

Gang dmana kami berpisah dengan kak Chusna. Di ujung jauh sanalah tempat Namsan Tower berada.
Menurut penjelasan kak Chusna, kami bisa menempuh dengan tiga cara untuk sampai ke Namsan Tower, yaitu jalan kaki, naik mobile car, dan bus. Mengingat dompet semakin tipis, akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki, sembari menikmati udara yang sejuk-sejuk dingin dan alam sekitar. Kami tak tahu seberapa jauh harus kami tempuh. Tapi kami terus berjalan, hingga akhirnya melihat puncak Namsan Tower. Uhyeah! :))

Itu Puncak Namsan Tower! Cheese dulu biar semangat! :)
Daki....daki...daki..! Gerak..gerak...!
Udah kayak Nenek-Nenek saking jauhnya!
See? Masih harus jalan kaki sejauh 1,4 km panjangnya! -__-


Semangat!! Bahagianya udah semakin dekat, padahal masih beberapa KILOMETER tanjakan lagi -_-

Pemandangan kota Seoul dari atas, dan belum sampai ke Tower -_-"
Well, ternyata jalan kaki dari bawah menuju Namsan Tower itu suangat jauh sekali. Harus nanjak dan menaiki ratusan anak tangga untuk sampai di puncak! Suasana di sepanjang jalan sangat sejuk, dikelilingi pohon rindang nan hijau. Seperti berada di area pegunungan. Setelah menempuh berkilo-kilo meter, akhirnya kami tiba! :)


Suasana malam hari di Namsan Tower!
Yes! We do it! We Arrived! Anything is Possible! Together we can! :)
 Ah, bahagia rasanya bisa sampai di Namsan Tower. Padahal dulu ketika nonton drama korea cuma bergumam dalam hati ingin kesana. Allah SWT Maha Mengetahui! :) Malam tiba dan akhirnya Aku harus pergi, meninggalkan Seoul, sendirian, ke Incheon Int'l Airport pukul 23.00 naik subway tanpa Chika ataupun Lili. Hanya ditemani tas berwarna peach muda di punggung dan menggenggam T-money. Sampailah Aku dengan selamat meskipun sempat nyasar sedikit, hehe! How another awesome experience!
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman) :)

Sampai jumpa di Jejak Perjalanan berikutnya! ;)


Jumat, 02 Januari 2015

Korea Selatan #3 : Conference Day!

Standard
Happy holiday and Happy New Year ! :)

Sebelumnya Aku bercerita tentang Trip di Daejeon. Kali ini, Aku akan bercerita tentang kegiatanku selama konferensi di Daejeon. Tapi, sebelum itu, Aku ingin memberi tahu dimana Aku, Chika, dan Lili tinggal selama di Daejeon. Kami tinggal di sebuah hostel bernama Yuseong Youth Hostel. Lokasi hostel kami lumayan jauh dengan lokasi acara CISAK di University Science and Technology (UST). Kami perlu menggunakan taksi dari hostel untuk menuju UST sekitar 2.500 Won. Biaya ini terasa murah kalau berangkatnya 4-5 orang sekaligus. 

Penginapannya cukup nyaman dan bisa dibilang murah. Untuk dua malam, 1 kamar yang cukup untuk 4 orang ini sejumlah 90.000 Won. Kami sekamar dengan Kak Resa dari UPN Surabaya yang juga ikut CISAK. Jadi biaya penginapan menjadi lebih murah. Alhamdulillah... :)
Cuaca saat itu tidak cerah, mendung dan gerimis kecil. Namun, dibalik jendela kamar kami terlihat gunung dan beberapa pohon rindang. Kalau kata Kak Resa, yang sudah bertolak ke Itaewon dan Seoul city, di sini merupakan tempat yang bisa dibilang "ndeso". Menurutku, Daejeon ini memang bukan kota metropolitannya Korea Selatan. Ah, Aku tidak peduli apakah ini desa atau kota, yang penting bisa tidur dengan nyaman ala ala Korea! :')

Kita Tidur di sana! :)
Sesampainya di penginapan, kami bebenah diri dan melakukan persiapan untuk presentasi besok! Ya, lebih tepatnya Aku yang melakukan presentasi besok (o.O). Kali pertama Aku presentasi in english di ajang konferensi seperti ini. Kala itu, Aku tidak bisa membayangkannya dan hanya bisa latihan presentasi di hadapan Chika dan Lili dengan sebaik-baiknya. Whoaaa fighting! Rasanya dag dig dug!

24 Agustus 2014
D-Day! Hati semakin bergemuruh mengingat harus presentasi. :")
Siap-siap berangkat dengan pakaian dan kesiapan paling baik! Bismillah..
Datang ke lokasi pukul 8 pagi dan mendapatkan seperangkat aksesoris Conference. :) Acara pertama adalah seminar yang di isi oleh Kang Goris Mustaqim dan Pak Wawan Gunawan. Sebenarnya Aku kecewa karena keynote speaker yang seharusnya di-isi oleh Pak Habibie digantikan oleh orang lain. Huhu.... Tapi, tak apa, yang penting kan ilmunya! Hehe... 
Kaos, Nametag, Goodie bag, Pulpen, etc!
Pembicara pertama, Kang Goris adalah seorang Entrepreneur lulusan ITB. Beliau ini menyampaikan presentasi dengan judul "Ingat Kampung, Pulang Kampung, Bangun Kampung". Seketika membaca judulnya saja Aku merasa tertohok. Kenapa Aku merasa tertohok? Aku ini di lahirkan di Madura. Kedua orangtuaku asli Madura. Tapi, Aku sejak kecil sekolah di Jakarta (TK, SD, SMA)-Bogor (SD,SMP)-Depok (PT). Tinggalpun di Kabupaten Bogor. Budaya mana yang Aku bawa dan menjadi identitasku? Fufufu... Bahasa Madura pun Aku pasif. :'(. Maka, sesi pertama ini sukses membuatku semangat untuk membangun kampung halamanku suatu saat nanti. :')
Pembicara Pertama dan Kedua
Pembicara kedua, Pak Wawan Gunawan, Professor ITB. Berbeda halnya dari Kang Goris, Pak Wawan berbicara lebih tentang Perkembangan Riset dan Teknologi di Indonesia. Judul presentasi yang dibawa beliau berjudul " ERI- Indonesian Landscape to Enhance Nation Self-Sustainable in Science and Technology Education Research & Innovation". Pada sesi ini, membuatku tersadar akan masih kurangnya Indonesia dalam bidang riset dan perkembangan teknologi. Dalam sesi tanya jawab, ada hal yang menarik dari salah satu penanya. Dia menanyakan "Mungkinkah ada pulau penelitian di Indonesia?". Ah, dia benar juga ya. Indonesia kan punya banyak pulau. Kenapa gak ada satu pulau khusus untuk penelitian? Pemikiran yang bagus. :)) Aku jadi semakin termotivasi untuk menjadi seorang peneliti. Hanya saja masih banyak PR yang harus Aku tempuh untuk mencapainya. Fighting! (9^.^)9
Foto Bersama!
Sesi seminar usai sudah. Saatnya sesi presentasi! Aaaakkkkkk.... jantung kembali berdegup kencang. Untung saja ada Lili dan Chika yang selalu memberi support. Sesi presentasi terbagi ke dalam beberapa ruang yang berbeda sesuai cluster rumpun ilmu, yaitu Food & Agriculture, Energy, Natural Science, Applied Science and Technology, Interdiciplinary Social Science, Healthcare & Pharmacy, and Electronics, Communications, and Informtics. Sebelum presentasi tiba, kami melakukan rehearsal dulu di dekat ruang kami presentasi, cluter Health & Pharmacy. Thanks a bunch for my beloved friends, Lili and Chika! Saat presentasi, semua mata di dalam ruangan seolah-olah menusuk mataku. Ihik. Well, usai presentasi selesai, semua beban pikiran hilang sudah. Degup jantung kembali normal sepertinya. Haha...Alhamdulillah.. :') Aku juga mendapatkan ilmu di dalam ruangan presentasi. Banyak sekali ilmu yang Aku dapat.

Ada hal yang membuatku agak terkejut di dalam ruangan, yaitu ada salah satu presentan yang mempresentasikan hasil penelitiannya di Talango, Madura. hey, Madura? Apakah dia berasal dari Madura? dan ternyata kami satu asal Universitas beda jurusan! -_-" Ah, rasanya saat itu seperti ketemu saudara dan semangat membangun kampung halaman semakin meningkat dengan dipertemukannya Aku dengan kakak itu. Ya, Allah..Inikah rencanaMu? Semoga saja! Pikirku saat itu. :') Usai sesi presentasi, kami tak lupa mengabadikan momen acara dengan berfoto ria! Kemudian kami semua peserta CISAK pergi menuju KAIST untuk Gala Dinner sebagai penutupan acara. Gala Dinner ini menurutku makan sore meskipun waktu menunjukkan pukul 7 malam dan karena masih terlihat sore. :'D 


Gala Dinner dengan sendok Jumbo! Ada Kimchi tapi gak ke foto. -_-"
Acara Conference telah berakhir, lalu kami pulang menuju hostel. Hari itu adalah malam terakhir kami di Daejeon yang menakjubkan. Kami berbincang-bincang dengan Kak Resa sebelum esok pagi berpetualang ke Seoul City. Kami semua sangat awam dengan keadaan Seoul. Beruntungnya kami bisa satu kamar dengan Kak Resa yang sudah keliling Seoul sebelum ke Daejeon bertemu dengan kami. Kami banyak bertanya ini itu dan di jelaskan serta diberi modal alamat di kertas untuk menuju Seoul. Ya, kami sengaja spare waktu beberapa hari untuk berkunjung ke Seoul city. Aku hanya spare waktu satu hari sedangkan Chika dan Lili spare waktu lebih lama satu hari dariku. Jadi, Aku pulang ke Indonesia sendiri tanpa mereka. :")

Ini modal/kunci utama kami pergi ke Seoul! :)
Begitulah cerita selama satu hari Conference! Ternyata konferensi internasional seperti itu adanya. Alhamdulillah diberikan kesempatan punya pengalaman! I thought you can also, just try and try! :)) Sampai Jumpa di cerita berikutnya tetap bersama Aku, Lili, dan Chika di kota Seoul! :)

Spoiler: Korea Selatan #4: Seoul City!








Jumat, 26 Desember 2014

Korea Selatan #2 : Trip Day!

Standard
Libur telah tiba! Hore! Hatiku gembira! Teroreroreroret! :D

(episode sebelumnya)

Disinilah, perjalanan kami di Korea akan segera dimulai... (klik disini untuk membaca postingan sebelumnya)


Yeps! Trip day di Daejeon, Korea Selatan! Kenapa Daejeon? karena event The 7th Conference of Indonesian Student Association in Korea dilaksanakan di Daejeon! Tapi, kalau alasan lainnya, mungkin karena Daejeon adalah salah satu kota pendidikan di Korsel, ibarat Jogjanya Indonesia gitu deh.

Ahya, sebelum lupa, mau kasih saran untuk kalian yang mau ke Korsel. Sebaiknya tukarkan uang Anda di Incheon Int'l Airport karena nilai tukarnya lebih murah. :-)

23 Agustus 2014

Hari pertama sampai di Korea Selatan langsung jalan-jalan di Daejeon. Tidak heran kalau perjalanan kami memakan waktu yang cukup lama dari Incheon menuju Daejeon. Di peta saja sudah jauh. -_-" Kalau kata Lili, perjalanan kita seperti dari Jakarta-Jawa. Wkwkwk
Peta Incheon-Daejeon
Bis seharga 23.100 Won dari Incheon ke Daejeon ini cukup bagus. Aku selalu berusaha melihat secara detail di sekelilingku. Bapak supirnya ada di sebelah kiri. Aku duduk di kanan paling depan. Aku selalu memandangi panorama di luar kaca bis (duduk di pinggir, sengaja. hehe). Tidak ingin melewatkan kesempatan emas melihat seluruh penampakan yang ada di Korea sepanjang perjalanan *Gak mau rugi, padahal ngantuk pas di Bis*. Aku melihat jembatan yang mirip jembatan Suramadu loh tapi lebih lebar. Bedanya, air laut dibawahnya berwarna coklat seperti pasir, tapi semakin jauh, air laut berwarna biru. Aku tidak bisa menebak nama lautnya.. Lalu, jauh di seberang laut sana, aku melihat daratan. Teringat peta, Korea tetanggaan sama Jepang. Apakah itu Jepang? Tapi Aku ragu, haha.. Ah, Aku ingin sekali ke sana! :')

Hari itu, langit tampak mendung. Langitnya berwarna abu-abu. Kemudian banyak gedung vertikal seperti di Jakarta namun lebih sedikit jumlahnya. Dan, macet! Ternyata macet ada dimana-mana ya. Di China juga sama, pernah macet. -_-" Aku melihat sawah, petani, kuburan, di Korea! *norak, maapin*. Satu hal, tol disana tidak pakai penjaga ataupun e-card, tetapi pakai sensor. Whuaaa canggihnya! 

Singkat cerita, kami sampai di Daejeon hampir jam 1 siang waktu bagian Korea Selatan. Bedanya hanya 2 jam *thanks Lili :))* lebih cepat dari Indonesia. Lalu, kami naik taksi menuju University of Science and Technology untuk bertemu dengan peserta lain dan juga panitia CISAK. Sampai disana, jengjengjeng......semuanya pakai bahasa Indonesia. Jadi belum terasa "Korea"nya. Huhuhu... FYI, CISAK ini diadakan oleh PPI Korea, alias Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea. So, we still use Indonesian language to communicate each other.

Aku, Lili, dan Chika segera tunaikan solat Zuhur, belum mandi, masih jet lag, dan belum makan siang. Kami dikasih makan siang, bentuknya kayak lontong (lonjong) dibungkus aluminium foil dengan satu sumpit, tapi udah disegerakan berangkat Field Trip. Hahaha.. Ruar biasa!


Makan siang, Kimbab!
Tol di Korea
1. Geological Museum Daejeon

Destinasi pertama kami adalah museum geology. Yeay! Museum ini letaknya di Yuseong-gu, Daejeon-si. Tampak luar, museumnya bagus banget! Masuk ke dalam, Subhanallah, keren! Ini ibarat makan kue sus yang tampilannya cantik, di gigit, kenikmatannya semakin terasa di dalam dengan lelehan coklat *slurp*. Isi museumnya tentang bebatuan, mineral, kebumian, astronomi, dan fosil-fosil. Namanya juga Geological yaps. Hal yang membuatku amaze adalah kecanggihan teknologinya di dalam museum ini. Kapan ya Indonesia punya museum canggih dan semenarik museum ini? :( Aku suka sekali di sini karena Aku suka Astronomi. Di dalamnya ada miniatur bola bumi, galaksi, dan kawan-kawannya. Pentingnya lagi, masuknya GRATIS! Cuma, kalau dari Indonesia, ya bayar tiket pesawat dulu, kekekkeke.... Kalau mau tahu lebih lanjut, bisa visit websitenya klik disini!
Tampak Luar


Guider Museum
2. National Science Museum

Tadi habis dari museum, destinasi kedua museum lagi. Haha.. Itulah kenapa Daejeon merupakan kota pendidikannya Korea, karena di kota ini gudangnya museum sains. Tapi tetap asyik kok! Aku suka sains. :) Isinya berbagai macam hal sains ada di sini. Kami disambut oleh patung Newton dengan Apelnya, tokoh fisika yang saya yakin kamu pasti tahu dan tokoh Jang Young-Sil dengan temuannya, jam Matahari. :) Selalu saja, tampak luar membuatku amaze. Semakin kedalam, semakin amaze. Aku melihat miniatur pesawat antariksa yang cukup besar, semuanya terlihat menarik bagiku. Penataan museum ini seperti dibuat untuk anak-anak, lucu dan atraktif! Sangat cocok untuk bermain ala sains. Tak jarang Aku melihat anak-anak bersama keluarganya di museum ini. Akupun sangat suka kesini, karena di dalam museum ini ada observatoriumnya~ :3 Tapi sedih, planetariumnya tutup. :( Kalau mau tahu lebih detail lagi, bisa klik disini!
Pengunjung!


Papan Planetarium tinggal kenangan :(
3. EXPO Park

Destinasi terakhir kami sebelum kembali dan menuju penginapan! Kali ini bukan museum, melainkan sebuah taman yang menggambarkan perkembangan teknologi sains *tetep aja sains*. Baru tahu kalau ada taman yang berbau sains. heuheu.. Ya, Korea memang pantas disebut negara dengan teknologi tinggi! Indonesiaku, bagaimana riwayatmu kini? :')

EXPO Park dan Foto Peserta CISAK 2014 :)
Begitulah, perjalanan Field Trip CISAK 2014 di Daejeon, Korea Selatan. Banyak yang Aku pelajari dan melihat keadaan kemajuan di luar sana. Semangat Indonesia! Kita pasti bisa! :)

Setelah itu, kami kembali dan menuju penginapan dan ada cerita menarik lagi di hari berkutnya. Sampai Jumpa di postingan selanjutnya! :D




Kamis, 11 Desember 2014

Sobi Camp #2 : Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan

Standard
Dear readers, mohon maaf sekali tidak bisa memenuhi janji untuk posting kegiatan Sobi Camp setiap hari karena kendala waktu dan jaringan internet. Fyuh~

Pagi hari, sayang sekali rasanya kalau tidak dimanfaatkan untuk menikmati alam dalam sejuknya udara pagi di Trawas kala itu. Akhirnya Aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan pagi bersama Nezha dan Yare. Pemandangan disana sangat indah. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan empat orang lainnya, yaitu Andini, temannya Nezha, Sam, dan Jimmy. Lalu, kami pergi ke situs prasati Batu yang tersembunyi. Menarik sekali! Ini dia potretnya! :)




Tema kegiatan hari kedua Sobi Camp adalah "Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan" atau bisa disebut dengan MHMMD. MHMMD adalah tim yang dikhususkan untuk melakukan training kepada sekelompok orang untuk mengelola kehidupan dan merencakan masa depannya. Singkatnya, tim MHMMD di inisiasi oleh seorang wanita yang luar biasa bernama Marwah Daud Ibrahim atau biasa dikenal dengan Bunda Marwah. Kami, para peserta Sobi Camp diberikan pelatihan dan ditempa oleh tim MHMMD untuk menjadikan pribadi kami yang lebih baik.

Aku merasa beruntung mengikuti gathering nasional Sobi Camp 2014 meskipun meninggalkan 1 Ujian Akhir Semester dan 1 pengambilan nilai role play Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Perkotaan. Kami, para Sobat Bumi Angkatan 4 diarahkan oleh Tim MHMMD untuk menemukan potensi dan arah tujuan masa depan kami. Selama dua hari berturut-turut kami di training dan di bimbing untuk menemukan "Apa potensi diri kami?". Kami harus melewati 12 langkah yang sudah disusun oleh tim MHMMD. Kami diajak untuk menganalisis kelebihan dan passion kami. Tidak hanya itu, kami juga diajak untuk menyelam kedalam masa lalu dan mengingat siapa tokoh paling berpengaruh dalam hidup kita.

Pada sesi sharing tentang mimpi kami masing-masing, Aku menyimpulkan bahwa sesi tersebut mengajarkan kami untuk berani berbicara tentang mimpi besar kita. Saling percaya dan mendoakan akan apa yang telah kita impikan. Ya, itulah yang jarang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, sulit menemukan suatu kondisi dimana kita berada dalam satu wadah yang memiliki visi misi yang sama dan saling mendukung. Unforgottable moment. Aku mau cerita tentang mimpi partner sharingku. Dia mempunyai mimpi untuk menjadi bussiness woman. Akan tetapi, tidak hanya sekadar bussiness woman biasa, Dia akan mengembangkan usahanya berdasarkan potensi daerahnya di Sumbawa. Alih-alih cerita, Aku baru tahu kalau di Sumbawa terkenal dengan air susu kuda liar loh. Susu sapi kalah terkenal di Sumbawa. Bahkan ada produk permen susu kudanya! Jadi semakin semangat buat keliling Indonesia buat melihat kekayaan alam yang Allah berikan. :')

Sesi Sharing Impian
Lalu, ada pemateri yang sangat menginspirasi Aku secara pribadi, yaitu Mas Farid Gaban. Beliau ini adalah jurnalis The Geo Times dan Jamrud Foundation. Beliau ini mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda motor bekas bersama seorang temannya. Dari hasil ekspedisinya mengelilingi Indonesia dari Sabang hingga Merauke, beliau membuat sebuah buku berjudul "Meraba Indonesia" dan "Taman Laut". Dengan begitu banyak keterbatasan yang ada, beliau berhasil membuatku iri untuk mengelilingi Indonesia.Ya, termasuk salah satu impianku. :") Beliau berkata bahwa modal terbesar untuk keliling Indonesia adalah modal nekat. Aku belajar darinya bahwa kita harus meniadakan keterbatasan yang ada untuk menggapa mimpi. Kalau kata pepatah, yakinlah bahwa masih banyak jalan menuju Roma. :)

Meraba Indonesia
Sesi Sharing Mas Farid Gaban

Hari itu merupakan waktu dimana Aku bisa me-recharge semangatku kembali di sela-sela padatnya perkuliahan dan sebagai bahan bakar untuk menjalani UAS. Allah tahu mana yang paling baik untuk ummatnya. :)

Kamis, 04 Desember 2014

Sobi Camp #1 : Saudara Satu Tanah Air

Standard
Selamat dini hari dari Trawas, Mojokerto! ;-)

Postingan blog kali ini edisi spesial live report acara Sobat Bumi Camp yang sebelumnya masih coming soon. :-D

Sobat Bumi Camp 2014 adalah acara gathering nasional seluruh penerima beasiswa Sobat Bumi dari Sabang hingga Merauke. Acara ini dilaksanakan di Ubaya Training Center (UTC), Trawas, Mojokerto dari tanggal 1 Desember hingga 5 Desember nanti. Aku berencana untuk berbagi cerita setiap hari pada pelaksanaan Sobi Camp ini, alias live report melalui blog. Ah ya, sebenarnya agak sedih juga karena port handphone rusak alhasil tidak bisa di charger. Jadi, sudah dua hari ini handphoneku mati karena hal tersebut. Aku sudah tidak tahu lagi kabar dan informasi terbaru. Padahal Aku berencana tethering koneksi internet untuk live report Sobi Camp sejak hari pertama hingga hari terakhir.. :-(  Tapi, Alhamdulillah di cottage ada wifi meskipun netbookku hanya menangkap satu sinyal sehingga Aku bisa live report Sobi Camp. Yeay! :)

Aku berangkat dari Jakarta, tepatnya dari Gedung Pertamina Foundation naik bis bersama teman-teman lainnya. Mereka berasal dari Unuversitas Negeri Jakarta, Institut Pertanian Bogor, Swiss German University, Laskar Pelangi, dan Universitas Nasional. Pun, Aku dan Nartri masih berkutat dengan tugas kami sebelum keberangkatan jam 12 siang. Ya nasib mahasiswi semester lima yang rela meninggalkan rutinitas kuliah untuk bertemu dengan teman-teman satu nusantara di acara Sobi Camp 2014.

Di dalam bis, Aku duduk berdua dengan Nartri. Alhamdulillah tugasku sudah rampung sebelum bisa datang. Tapi, Nartri masih saja berkutat dengan tugasnya. Semangat, kawan! Ah ya! Ada kejadian yang mau Aku ceritakan kepada kalian. Jadi, Seorang bernama Budi sedang melakukan presensi di bis sebelum berangkat. Dia menyebutkan asal universitas dan nama kami satu persatu. Kemudian......

"Laskar Pelangi, dua" teriak Budi

Lalu, Nartri dan Aku bertatatapan penasaran tentang kampus Laskar Pelangi. 

"Emang ada ya kampus Laskar Pelangi?" tanya Nartri padaku
"Emmmm...gatau deh. Mungkin iya. Tuh tadi di absen disebutin Laskar Pelangi." jawabku

Percakapan berlalu tanpa kejelasan yang pasti. Lalu, pada sore hari dan masih di dalam bis. Aku pindah tempat duduk paling depan untuk charger handphone. Lalu, ada seorang laki-laki paling aktif didalam bisa kami yang tidak ku ketahui namanya.

"Mau kacang?", tanya laki-laki itu
"Nggak ah, tadi udah. Masih kenyang."
"Hey, kita belum kenalan.", sambil menjulurkan tangan dengan wajahnya yang kocak abis.
"Iin.", jawabku sambil setengah tertawa akibat tingkahnya selama di dalam bis
"Verrys"
"Oh..."

Kemudian berlalu....Nartri yang kini duduk dibelakangku memulai percakapan tentang kampus Laskar Pelangi lagi.

"In, Laskar Pelangi itu bukan kampus. Tapi mereka berdua itu pemain laskar pelangi, Mahar dan    Kucai.", jelas Nartri.
"Hah? Iya? Masa' sih? Kok gak mirip?"
"Iya, dia verrys yamarno yang jadi Mahar. Terus yang keriting itu Kucai."
"Serius? Kok gak mirip sih?", masih gak percaya
"Ih, mirip tau......."

Jeng..Jeng....Ternyata setelah di lihat-lihat memang agak mirip. Karena dulu Aku lihatnya waktu mereka masih kecil jadinya kurang sadar. Padahal beberapa bulan yang lalu Aku melihat mereka di Perpustakaan Pusat UI saat rapat Sobat Bumi Regional Jakarta. Sudahlah..Wkwkwk..

Bis Pahala Kencana menuju terminal Purabaya ini berisi karakteristik orang yang beraneka ragam. Ada yang aktif sekali hingga pasif sekali. Ada yang dominan sekali hingga hawa keberadaannya tidak terasa. Namun, perjalanan panjang selama di bis sangat ramai dan heboh karena tingkahnya Mahar dan kawan baruku, Santi dari UNJ. Tidak hanya itu, Aku juga berkenalan dengan sesosok yang terlihat cuek dan pendiam, namun aslinya tidak seperti apa yang kau lihat dari luar. Ya, seperti kata pepatah "Don't Judge The Book by Its Cover". Aku dan Nartri menyebutnya sebagai Buyut.

Perjalanan sekitar 16-18 jam mengantarkan kami sampai di Terminal Purabaya. Dari sana, kami harus naik bis satu kali lagi untuk sampai di Trawas. Singkat cerita, kami tiba di lokasi sekitar pukul 10 pagi. Ternyata, tempatnya WOW! Pemandangan indah sekali. Kami harus berjalan kaki dahulu untuk sampai di cottage. Nah, di perjalanan, Aku melihat gunung yang cukup besar. Gunung itu adalah gunung Penanggungan.

Pemandangan Gunung Penanggungan dekat cottage
Sampai di UTC, peserta Sobi Camp registrasi dan mendapatkan seperangkat perlengkapan selama 5 hari kedepan. Ada notes, bolpoin, tas ransel, jaket, kaos, dll.  Aku berada di kamar Cassava 4 bersama teman baruku! Hey, ternyata Aku satu kamar dengan Nezha. Nezha adalah temanku sewaktu mengikuti Jepara Workcamp 2014. Bahkan kami satu kelompok pula. Sepertinya jodoh pertemanan nih >.< Aku bertemu dengan teman-teman baru, yaitu Yolla (ITB), Silvi (UNDIP), Nonik (Universitas Udayana), Dian (Universitas Mulawarman), Yare (Universitas Cendrawasih), Fira,  Yanti, Agnes (Universitas Mataram) dan Santi (UNJ). Menyenangkan sekali! ;)

Seperangkat kegiatan Sobi Camp 2014


Kegiatan pada hari pertama adalah opening ceremony dan dua talkshow inspiratif mengenai pertamina foundation dan kiprah sobat bumi angkatan sebelumnya. Yang membuatku menarik pada hari pertama adalah bertemu dengan kawan satu tanah air dari sabang sampai merauke. Aku bertemu teman baru dari Makassar, Samarinda, Jayapura, Bandung, dan lain-lain. Hey, yang membuatku bahagia lagi adalah bisa bertemu dengan Dea, kawan dunia mayaku sekaligus ketua pengurus BIMIKI angkatan 3 yang sudah mengajakku menyelam dan berjuang bersama untuk BIMIKI 3. ;-)

Sesi talkshow bersama petinggi-petinggi Pertamina juga memberiku banyak pengetahuan dan menambah list buku bacaan yang harus Aku baca, diantaranya The Earth of Balance dan The Smallest Beautiful. Aku percaya, buku bacaan mewakili pemikiran orang yang membaca. Yeay! Semangat untuk beberapa hari kedepan yang akan menjadi pengalaman menarik diperjalanan hidupku.

Cerita Sobi Camp #2


Trawas, Mojokerto
4 Desember 2014