Minggu, 18 Oktober 2015

Kehamilan pada Usia Remaja

Standard

Di Ruang Rawat Khusus Kasus Kesehatan Reproduksi dan Kehamilan

"Selamat Pagi.. :) Saya Suster Iin. *Ragu bilang Ibu* Mbak namanya siapa? Usia mbak berapa?Saya mau periksa tekanan darah, nadi, suhu, dan napas mbak dulu ya.. :)"- saya
"14 tahun suster"- pasien
*muka datar* *senyum lagi**ngasih tau hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV)*
"Pemeriksaannya sudah selesai. Selamat istirahat kembali, X. :)"- saya

Pindah pasien lagi dengan rencana caesarian section (operasi sesar).

"Selamat Pagi.. :) Saya suster Iin. Siapa nama Ibu? Berapa usia Ibu?"- saya
"Y, suster. 15 tahun"- pasien
*glek*
"Wah, masih muda ya.. Suster mau periksa tekanan darah dulu ya... :)"- saya

Begitulah kira-kira kejadian hari pertama praktik klinik pada stase maternitas di suatu rumah sakit. Oleh-olehnya, tidak hanya ilmu dan pengalaman yang diperoleh, tetapi juga bahan renungan. Tentang kehamilan pada usia remaja. Saya cukup dibuat kaget bertemu pasien dengan usia remaja di ruang rawat  khusus maternitas. Renungan yang cukup membuat hati bergetar, sungguh meski agak berlebihan. Menurut saya pribadi, bertemu tiga pasien maternitas dengan usia remaja adalah jumlah yang banyak, tidak sedikit.

Ternyata, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2012, angka kejadian kasus kehamilan pada usia remaja (15-19 tahun) di Indonesia mencapai 48 dari 1000 kehamilan (BKKBN, 2014). Pun Indonesia menempati urutan kedua tertinggi pernikahan usia muda setelah Kamboja (Isfandari & Lolong, 2014). Pada sisi lain, Indonesia belum mencapai target dalam tujuan MDGs pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Kehamilan adalah suatu krisis maturitas yang dapat menimbulkan stres, tetapi berharga karena wanita tersebut menyiapkan diri untuk memberi perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar (Bobak, 2005). Dengan adanya kehamilan, maka wanita mengalami perubahan konsep diri untuk siap menjadi orang tua. Hal ini sesuai dengan tugas perkembangan usia dewasa yang dimulai pada usia 18 sampai 35 tahun, yaitu menentukan pasangan hidup, belajar untuk menyesuaikan diri dan hidup bersama pasangan hidup,  membentuk keluarga, belajar mengasuh anak, mengelola rumah tangga, meniti karir atau melanjutkan pendidikan, mulai bertanggung jawab sebagai warga negara, dan memperoleh kelompok sosial yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya (Havighurst dalam Adranita, 2008).

Sesuai dengan teori, bahwa kehamilan, kelahiran adalah tugas perkembangan usia dewasa dan tentunya berbeda dengan tahap perkembangan usia remaja. Menurut Havighurst dalam Ramadan (2013), tugas perkembangan usia remaja adalah berinteraksi sosial dengan teman sebaya, mengetahui dan menjalankan peran sosial, mengenali dirinya baik secara fisik dan psikologis, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, mencapai kemandirian emosional, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapkan pernikahan dan keluarga (pengetahuan), dan memperoleh nilai sebagai pegangan untuk berperilaku.  Maka, sudah jelas bahwa kehamilan dan pernikahan adalah belum saatnya terjadi bagi usia remaja untuk mengemban tugas perkembangan usia dewasa. Hal ini dapat berakibat pada konflik psikologis bagi usia remaja.

Lalu, kapan usia yang ideal untuk hamil? Menurut BKKBN, usia ideal untuk hamil adalah kisaran 20-30 tahun. Jika hamil di luar rentang usia tersebut, maka akan berisiko. Seorang wanita dikatakan siap apabila sudah siap baik dari aspek psikologis, fisik, dan sosial ekonomi (Bobak, 2005). Pada sisi sudut pandang pria, kesiapan menyambut kehamilan adalah ketika keuangan relatif cukup, hubungan yang stabil dengan pasangan, dan kepuasan dalam hubungan tanpa anak (May, 1982 dalam Bobak, 2005).

Jika sesuatu terjadi pada waktu yang tidak tepat, akan memberikan dampak negatif. Bagi remaja yang sudah mengalami masa kehamilan, maka tugas perkembangan remaja yang seharusnya dilalui, dapat tidak tercapai secara optimal. Pun akan terjadi hal serupa pada penyelesaian tugas perkembangan usia dewasa. Anak tidak dapat melanjutkan pendidikannya, belum siap secara mental, serta kesulitan-kesulitan lainnya. Lebih fatal lagi adalah jika terjadi stress dan depresi pada anak.

Dunia kini sudah sangat terbuka. Terbuka dalam pergaulan hingga menimbulkan kasus kehamilan pada usia remaja. Sebaliknya, keterbukaan dalam informasi harus dimanfaatkan. Informasi mengenai persiapan kehamilan banyak tersedia baik di pelayanan kesehatan maupun media massa dan elektronik. Seyogyanya, bagi pembaca yang dalam hal ini menempati posisi sebagai kerabat dekat, keluarga, dan siapapun yang mengetahui informasi ini, ada baiknya membantu untuk menjaga kesehatan anak remaja baik secara fisik maupun psikologisnya. Bagi anak remaja, sebaiknya menjaga diri sendiri dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai usia. Karena, sesuatu yang berlebihan dan tidak sesuai pada porsinya akan memberikan pengaruh yang mungkin tidak baik. :)

Buat adik-adik,
Stay young, Stay Healthy, Stay Happy! Cheers! 
*Hiks, Masa remajanya udah lewat. :'). Abaikan, Hehehe*

Referensi.
Adranita, M. (2008). Perbedaan Fokus Karir antara Pekerja Dewasa Muda yang Mengalami Pindah    Kerja dan Tidak Pindah Kerja di Jakarta. Diakses dari http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126729-331.702+AND+p+-+Perbedaan+Fokus+-+Literatur.pdf
Bobak, et al. (2005). Maternity & Women Health Care seventh edition. Elsevier Mosby, Inc
BKKBN. (2014). Aktivitas Seksual Remaja. diakses dari http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?     BeritaID=1770
Isfandari,S & Lolong, DB. (2014). Analisa Faktor Risiko dan Status Kesehatan Remaja Indonesia      Pada Dekade Mendatang. Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 42, No. 2
Ramadan, MP. (2013). Hubungan Antara Penerimaan Perkembangan Fisik dengan Kematangan    Emosi pada Remaja Awal. diakses dari http://repository.upi.edu/9377/2/s_psi_0800503_chapter1.pdf



KKN Kebangsaan 2015: Bung Karno Bertitah....

Standard
"Beri Aku 1000 orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri Aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"- Bung Karno


Masih dengan isu kebakaran hutan dan lahan serta bagian dari cerita perjalanan Kuliah Kerja Nyata di Riau pada Agustus lalu. Ceritanya, penulis masih menyimpan rasa rindu *tsah*. Hehe..

Masalah kebakaran hutan dan lahan serta bencana kabut asap masih menjadi isu nasional yang hangat diperbincangkan di media massa. Pada kegiatan KKN Kebangsaan bulan Agustus lalu, salah satu program yang dilakukan adalah edukasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan pada pendidikan dasar dan menengah.

Program edukasi yang disasarkan pada pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan khususnya kasus kebakaran hutan dan lahan pada generasi muda melalui pendidikan. Ya, generasi muda memang menjadi sasaran strategis jika dikorelasikan dengan titah Bung Karno. Dengan catatan bahwa generasi muda yang mampu membawa perubahan ke arah positif.

Hal yang telah dilakukan oleh kelompokku di desa Tanjung Damai adalah edukasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan melalui kegiatan dongeng, menonton video, dan kegiatan outbond. Melalui kegiatan dongeng, diharapkan anak-anak dapat memahami penyebab dan dampak dari kebakaran hutan dan lahan melalui cerita fabel. Sedangkan melalui video, anak-anak diperkenalkan apa itu lahan gambut serta langkah pencegahan. Anak-anak khusyuk menyimak dan memahami kegiatan yang dilakukan. :)


Suasana Menonton Video dan Dongeng
Kiri: Si Ular, salah satu tokoh dongeng. Kanan: Pertanyaan terkait isi video dan dongeng

Selain itu, kami juga melakukan kegiatan outdoor, yaitu penanaman pohon di depan halaman sekolah dan pelaksanaan outbond. Penanaman pohon merupakan bagian dari program revegetasi (baca tulisan sebelumnya) dan outbond bertujuan untuk menumbuhkan karakter kerja sama, saling tolong menolong, cinta alam melalui kegiatan bermain. Ada 6 jenis permainan yang kami lakukan, diantaranya adalah memindahkan air secara kelompok, estafet air, memindahkan masker, estafet gambar, teka-teki bom, titanic dan ular mencari teman. Anak-anak terlihat sangat gembira karena jarang sekali melakukan permainan semacam ini.
Outbond Memindahkan Air, Bekal Bintal K2N UI 2015 :p
Sebenarnya, target pencapaian program edukasi pada pendidikan dasar dan menengah adalah menyentuh kegiatan ekstrakurikuler dan kurikulum muatan lokal. Harapannya, melalui kedua aspek tersebut, edukasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dapat sustainable alias bekelanjutan. Sayangnya, kegiatan esktrakurikuler di SDN 20 Tanjung Damai belum cukup optimal serta kami belum sampai assessment ke arah sana. 

Pada proses ini, Aku belajar bagaimana kami satu tim merancang program kerja bersama dan menyatukan pendapat. Memang sebaiknya merencanakan program kepada masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan hanya untuk menjalankan program tertentu yang ditargetkan. Sebenarnya, banyak sekali permasalahan yang perlu diatasi terkait pendidikan. Sebenarnya (lagi) Aku tidak ingin sekali-kali mengucapkan kata "keterbatasan", tapi apadaya. Keterbatasan waktu yang dimiliki memang alasan paling normatif untuk tidak dapat melakukan berbagai kegiatan solutif dalam waktu satu bulan. Rasanya ingin lebih dari itu. Akan tetapi, semoga saja diberi kesempatan kembali untuk meningkatkan pendidikan di sana. Tuhan yang Maha Tahu dan Merencanakan. :)


Kebahagiaan Anak-Anak SDN 20 Tanjung Damai :)

Credit photo: Dokumentasi Mila Karmila

Kamis, 17 September 2015

KKN Kebangsaan 2015 : TSR, Stop Jerebu!

Standard
Di Sini Kita Bertemu Muka
Cegah Jerebu Melanda
Di Sini Kita Bertemu Muka
Untuk Hijau Bumi Kita

Jerebu alias Asap. Kini, Riau tidak lagi sendiri dalam menghadapi bencana Asap. Palembang dan Jambi telah menemaninya. Sayangnya, bukan ini yang diharapkan oleh manusia yang memiliki hati nurani.

Sudah tak terhitung lagi jumlah korban bencana Asap. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut telah menghantui seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang usia, bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia. Kegiatan belajar-mengajar tertunda. Aktivitas ekonomi masyarakat terhambat. Seluruh bangsa telah mengetahuinya.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2015 bulan Agustus lalu, tujuan kami adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Ratusan mahasiswa dari Sabang hingga Merauke bergerak bersama dengan tujuan yang sama. Berbagai upaya telah kami lakukan selama satu bulan di lokasi masing-masing. Salah satu upayanya adalah melakukan program revegetasi pada lahan gambut bekas terbakar.
Batu dan Lahan Gambut Habis Terbakar di Tanjung Damai

Menurut Peraturan Pemerintah RI No.76 tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, revegetasi adalah usaha untuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan. Jadi, upaya kami di desa Tanjung Damai khususnya adalah melakukan penanaman beberapa jenis bibit tanaman, yaitu mahoni, pulai, dan trembesi. Aku dan 10 teman lainnya melakukan program revegetasi bersama masyarakat desa Tanjung Damai. Kami menanam kurang lebih 200 bibit tanaman di beberapa fasilitas umum, seperti lapangan, sekolah dasar, TK dan PAUD, balai desa, posyandu, poskesdes, dan kuburan.

Peresmian oleh Sekretaris Desa (kanan) & Bupati Bengkalis (kiri)
Meskipun kami tidak melakukan penanaman pada lahan bekas terbakar seperti pada gambar paling atas, harapannya bahwa bibit tanaman tersebut dapat tumbuh besar. Kita tahu bahwa pohon berfungsi sebagai paru-paru dunia. Pohon berfungsi sebagai alat konversi gas CO2 (karbon monoksida) menjadi O2 (oksigen), udara yang kita hirup. Ya, semoga saja dengan sejumlah tanaman yang telah ditanam mampu untuk membantu penyediaan oksigen, mengurangi asap, dan penghijauan.

Bibit tanaman yang telah tertanam akan berguna apabila tumbuh dengan baik karena disiram air dan dirawat dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, kami juga berpesan agar masyarakat dapat merawat tanaman tersebut, khususnya pada anak-anak. Kami berpesan kepada anak-anak untuk selalu menjaga tanaman mereka hingga tumbuh menjadi pohon yang besar. Apabila diantara kami kembali (pulang) ke desa, bibit tanaman tersebut telah tumbuh besar dan siap menyapa dengan senyum segarnya. 

Tanam (T) !
---------------------------------------------------------------------------
Siram (S) !
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rawat (R) Bersama! Yeay! Go Green! :)
Untuk apa cinta bila tanpa pembuktian? :p

Jadilah Pemuda dan Pemudi
Bekerja Sepenuh Hati
Untuk Alam Bestari
Hingga Bumi Hijau Berseri


credit photo: Mila Karmila, Dokumentasi Pribadi
Kutipan : Mars KKN Kebangsaan 2015


Minggu, 06 September 2015

KKN Kebangsaan 2015: Tanjung Damai, Rumah Kita

Standard
Lama tidak posting tulisan setelah beberapa bulan lamanya. Perjalanan baru telah kulalui satu bulan yang lalu. Kini segudang cerita masih kusimpan dengan hangatnya rindu dan mungkin akan menjadi memori indah dalam hidup.

Satu bulan lamanya, Aku 'dititipkan' bersama 10 teman lainnya di desa yang sama. Desa itu bernama Tanjung Damai. Sebelum sampai lokasi, Aku melayangkan imajinasiku tentang desa ini. Sepertinya desa ini dekat pantai, karena namanya mengandung kata "Tanjung". Kalau mengingat materi IPS waktu SD, katanya sih Tanjung itu kan artinya daratan yang menjorok ke laut. Jadi, wajar kan kalau berasumsi demikian? Penasaran terus berlanjut. Biasanya mbah google punya semua jawaban pertanyaan. Eh, pas searching dengan keyword "tanjung damai, Riau", nggak ada tuh gambaran desanya. Adanya hanya gambar bapak-bapak yang mungkin itu lagi ada acara di desa Tanjung Damai. Nggak muncul pemandangan desa tok. Eh, tapi dapat gambar plang SDN 20 Tanjung Damai di google. Ini dia! Ya, cuma ini dan kurang memberikan gambaran lokasi desa. -____-



Terus, coba searching di google maps. Kalau lihat dari panah lokasinya sih....jauh dari laut ternyata. Akhirnya, berhenti dan memutuskan untuk menerima apa adanya.

Setelah sampai di desa........

Desa Tanjung Damai merupakan desa yang sangat rapi tata kelola desanya!!

Kalau dari segi geografisnya, Desa Tanjung Damai berbatasan langsung dengan beberapa desa lainnya diantaranya, Desa Sumber Jaya di sebelah utara, Langkat di sebelah selatan, Lubuk Gaung di sebelah Timur dan desa Sungai Linau di sebelah baratnya. Total luas wilayah desa Tanjung Damai adalah 2000 ha/m2, dengan luas wilayah pemukiman sekitar 54 ha/m2, 175 ha/m2 wilayah persawahan, 1749 ha/m2 luas perkebunan, dan luas wilayah prasarana umum desa  sekitar 21 ha/m2.  Dengan kendaraan bermotor, desa Tanjung Damai dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dari ibukota kecamatan Siak Kecil (sumber: data dari Balai Desa).

Desa Tanjung Damai terdiri atas lima dusun diantaranya adalah Sumber Agung, Sumber Rejeki, Sumber Makmur, Sumber Sumber Rejo, dan Sumber Sari. Desa ini memiliki Kantor desa, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), sekolah dasar (SDN 20 Tanjung Damai), TK dan PAUD (TK. Tunas Harapan), Posyandu, Masjid, Mushola, dan lapangan. Desa dengan jumlah penduduk 340 KK ini mayoritas penduduknya bersuku Jawa. Hal ini karena desa Tanjung Damai adalah salah satu desa eks transmigran pada tahun 1982.


sekolah dasar, TK, dan PAUD
Awalnya, pada tahun 1982,
desa ini bernama Siak A Absen. Desa ini memiliki pengalaman pahit karena sering terjadi pencurian dan tidak adanya kedamaian di lingkungan desa. Masyarakat mencita-citakan desa yang damai, sehingga muncullah gagasan kata 'damai' untuk dijadikan nama desa ini. Kemudian, terdapat sebuah sungai yang jika dilihat serupa dengan tanjung sehingga tercipta nama Tanjung Damai dan masyarakat sepakat dengan nama tersebut dengan harapan desa akan menjadi damai. Sungguh, kini (2015) desa ini memang sangatlah damai selama aku dan teman-teman melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sini.

Poskesdes & Lapangan
Pemandangan desa juga indah, namun agak berbeda jika dibandingkan dengan pemandangan di Jawa. Sejauh mata memandang, yang paling sering terlihat adalah pohon sawit. Ya, memang sawit merupakan sumber perekonomian utama bagi masyarakat desa. Namun, tidak hanya sawit, banyak pula pohon yang berbuah seperti rambutan, mangga, nangka, cempedak, pisang, apel, lengkeng, jeruk, jambu, kelapa, dll. Adapula pohon pinang, tanaman obat, serta bunga-bunga-an. Masyarakat desa begitu mencintai kegiatan berkebun. Pada saat pelaksanaan KKN, pohon rambutan semua sedang berbuah. Alhasil, hampir setiap hari kami makan buah rambutan dari rumah-rumah warga. Indahnya hidup di desa, meski listrik hanya ada dari pukul 18.00-06.00.... :3

Masjid & Mushola
Desa Tanjung Damai juga memiliki banyak lembaga masyarakat. Beberapa lembaga yang kuketahui diantaranya adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Lembaga Adat Melayu (LAM), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Masyarakat Peduli Api (MPA), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Tani, Kelompok Usaha Bersama (Kube), Karang Taruna, Kelompok wirid dan yasinan, dan lain-lain. Secara pribadi, beberapa nama lembaga tersebut merupakan nama yang asing di telingaku. Inilah yang bisa menjadi kunci jika melaksanakan kegiatan bermasyarakat. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di perkotaan, individualis meski rumah sudah tidak memiliki jarak lagi karena memiliki kesibukan masing-masing.

Balai Desa
Terima kasih, Tanjung Damai. Kau dan seluruh alam telah menerimaku dan teman-teman. Damai nian tempatmu, sesuai dengan apa yang kau sandang. Semoga Tuhan selalu melindungi alam dan seluruh isinya dan menjauhkanmu dari bencana asap. Selamat bertumbuh dan berkembang menjadi desa yang maju! :)





Senin, 29 Juni 2015

Resume Pre-K2N UI

Standard
Halo, readers! Selamat menempuh ibadah puasa di hari ke-11 Ramadhan! :)

Beberapa bulan silam, saya memutuskan untuk menempuh perjalanan dan yang pasti petualangan baru dalam hidup saya yang sudah melewati 21 tahun di dunia yang fana ini. Keputusan itu adalah daftar K2N UI 2015! Ya, keputusan itu sudah saya timbang-timbang. Kalau lolos, syukur Alhamdulillah. Kalau ndak lolos, yasudah, berarti belum waktunya atau mungkin akan ada hal yang lebih penting lagi untuk di urus. Alhamdulillah, Allah memperkenankan saya untuk bertualang pada perjalanan baru di K2N UI 2015. :)

Jadi, saya ingin sekali me-resume kegiatan-kegiatan seleksi untuk menjadi peserta sah K2N UI 2015. Ya! K2N UI ini punya seleksi yang cukup ketat dan membutuhkan usaha serta ke-istiqamah-an (konsistensi) dari calon pesertanya untuk sah menjadi peserta.

1. Lolos Seleksi Berkas!

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa seleksi K2N UI ini cukup panjang. Menurut pandangan saya, gerbang utama untuk menjadi peserta sah adalah lolos berkas. Apa syaratnya? Bisa dicek di web K2N UI. Ini penting dan harus disiapkan sebaik mungkin. Alhamdulillah, saya lolos berkas bersama 128 peserta lainnya. Banyak ya? ya! Tapi, tetap saja ada yang terseleksi di tahap ini. What's next?

2. Uji Konsistensi

Sebenarnya, tahap berikutnya adalah tahap pembekalan selama satu bulan. Pembekalan materi setiap hari Sabtu dan Minggu. Pembekalan ini masuk dalam penilaian dan salah satu pra-syarat lulus jadi peserta sahnya K2N UI 2015. Selain harus mengobarkan waktu weekend ini, calon peserta harus menulis materi di logbook harian dan masuk penilaian juga. Maka dari itu, saya menyebut tahap ini sebagai tahap Uji Konsistensi. Ya, tahap ini memang sangat penting karena memberikan materi-materi yang sekiranya sangat penting untuk turun di lapangan nanti dan sebagai bekal juga nantinya. Calon peserta, mulai berguguran dengan alasannya masing-masing. Berlakulah seleksi alam.

3. Bina Mental

Tahap terkahir, bina mental dan fisik! Tahap ini ibarat harga mati untuk lulus K2N UI. Puncak dari segala tahapan seleksi. Bina mental dan fisik ini dilaksanakan tanggal 12-16 Juni 2015 bertempat di Grup 3 Kopassus Cijantung. Lima hari kami, calon peserta ditempa untuk di beri nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, nasionalisme, jiwa corsa (rasa solidaritas), dan keyakinan. Saya akan bercerita tentang 5 hari Bina Mental Fisik pada chapter khusus. :3

Btw, Alhamdulillah sudah pengumuman penempatan. Saya ditempatkan di Riau, bersama 41 peserta lainnya. FYI, peserta lolos K2N UI sejumlah 81 orang dari 129 calon peserta. Ya, untuk mengabdi pada masyarakat perlu kesungguhan dan keteguhan hati. Bersama Masyarakat Memberi Manfaat! Sampai Jumpa pada ceritera berikutnya. ;)

Spoiler Chapter Khusus Bintal K2N :3

Selasa, 09 Juni 2015

Aku, Asumsi, dan Kakek

Standard

Dua malam, Aku bertemu dengan seorang Kakek dengan tongkat yang selalu menemaninya…

Pertemuan pertama, Aku, Kakek, memiliki dunia yang berbeda.
Malam hari sekitar pukul setengah sepuluh di Terminal. Kini, sudah rutinitasku setiap hari Selasa dan Kamis. Aku mengajar di salah satu daerah, perbatasan antara Depok dan Jakarta Selatan. Rutinitasku menunggu angkutan umum yang datangnya se-abad karena Aku berada pada titik pemberhentian akhir. Aku selalu berada di waktu kritis, antara angkutan itu datang karena sopirnya ingin pulang, atau bahkan ada karena memang sudah keberuntunganku. Alhamdulillah, selama ini Aku selalu beruntung, meski harus jalan kaki beberapa meter. Ceritanya sih mau sambil ikhtiar, daripada harus berdiri mematung dalam gelapnya malam. Hal itulah yang menyebabkan Aku sampai di Terminal hingga pukul setengah sepuluh malam.

Disebuah terminal.
Angkutan umum dengan kapasitas maksimum 14 penumpang malam itu sedang sepi. Hanya ada seorang Kakek yang sudah menempati posisinya yang kulihat nyaman baginya di belakang supir. Kulihat dirinya bersandar pasrah, memangku tas punggung, dan sepasang tongkat yang disandarkan ke pembatas zona depan angkutan dengan zona belakang. Aku, seperti biasa. Di pojokan, mencari jendela, menikmati angin, dan bersandar. Kala itu, duniaku, duniamu. Aku, sibuk dengan handphone, meski beberapa kali melihat sekeliling, termasuk Kakek itu, dan berlalu begitu saja.

Pertemuan Kedua, Aku menyelam dalam pikiran tentang Kakek.
Tadi malam, kedua kalinya Aku bertemu dengan Kakek. Akan tetapi, suasana pertemuan yang kedua sangat jauh berbeda dengan yang pertama. Aku, tiba terlebih dahulu daripada kakek. Kondisi angkutan sudah cukup penuh. Posisi pojok belakang supir sudah ada yang menempati, dan pojok-pojok juga sudah ada yang menempati. Aku, duduk diapit oleh 3 orang di sebelah kiriku dan 2 orang di sebelah kananku. Tinggalah posisi duduk untuk dua orang di dekat pintu, di belakang kursi zona depan angkutan. Sekitar pukul sembilan malam, seorang Kakek datang. Ternyata, Kakek yang pernah kulihat sebelumnya.

Kakek datang, masuk angkutan dengan cukup sulit upayanya untuk duduk dan cukup ribet dengan sepasang tongkat yang di pegangnya.

Eh, takut jatoh itu. Ntar kalo jatoh, tanggung jawab lu”, seru tukang parkir terminal.
Ki, naik yang di belakang aja.
Udah , gapapa. Jalan aja jalan. Nih, masih ada satu, biar saya yang di tepi.”, kata Kakek
Udah gapapa bang. Kita Cuma mau numpang kok.”, sahut dua pengamen muda.
Udah jalan aja. Nggak jatoh nggak, kan pegangan ini nih. Coba saya yang di tepi, kan lebih enak. Bisa. Kalo nggak bisa, nggak mungkin saya bisa sampai sini.”, kata Kakek dan mulai menggeser badannya menjauhi tepi pintu angkutan dengan cukup sulit.
Mbak, mbak, tukeran aja mbak”, seruku kepada mbak-mbak yang duduk di belakang supir, tempat duduk Kakek ketika saya melihat pertama kali. Namun, tak ada respon. Entah suara saya yang terlalu kecil, atau lembut, atau halus :p atau si mbak-mbak yang tidak dengar atau apatis (eh?). Saya, ge-re-ge-tan. Akhirnya angkutan melaju dengan keadaan penuh penumpang.
Kayak nggak biasa aja, Baru ketemu ya? Saya mau baca dulu.”, sahut Kakek.

Kemudian, kakek yang sudah memangku tas punggungnya dan menggantungkan tongkatnya di lengan, mengeluarkan buku agenda berwarna hitam dengan tulisan “excecutive agenda” di covernya. Lalu, kakek dengan kacamatanya memegang pulpen serta menggenggam handphone. Sesekali Kakek menjepit handphone dengan mulutnya, kemudian menulis. Aku, tidak tahu. Apakah Kakek itu sedang membaca atau menulis sesuatu hal. Yang pasti, menulis di dalam angkot itu sulit sekali karena Aku pernah melakukan hal itu.

Bang, kiri bang.”, sahut penumpang.

Beberapa penumpang turun, termasuk dua pengamen yang tadi menumpang. Namun, kursi pojok belakang supir masih ditempati seorang penumpang. Kakek mulai kesulitan mengendalikan pegangan tongkatnya. Namun, ia berhasil.

Kiri bang.”, sahut lagi penumpang. Kali ini, banyak penumpang turun, termasuk dua orang di sampingku. Pojok belakang supir pun, kosong. 

Nah, pindah tuh Ki ke belakang”, sahut supir.
Apa? Ki? Kayak nggak pernah ketemu aja. Pung. Hahaha..”, seru Kakek yang sambil memundurkan badannya ke tempat nyamannya. Sekarang, sudah berada tepat di sampingku.

Aku, masih memegang dan membaca buku kecilku yang berwarna hijau, memangku tas punggung, dan handphone. Tidak ingin menoleh ke arah Kakek. Tapi, yang Aku tahu, Kakek masih sibuk menulis, melihat handphone, dan menulis lagi. Kemudian, sesekali aku menoleh, melihat tulisan Kakek. Kemudian, Aku bingung, Aku berpikir. Tahukah apa tulisannya? Satu kata yang dapat Aku baca dan ingat, “esia” dan beberapa kata yang lain.

Aku ingin bertanya, tapi Aku ragu. Asumsiku adalah Kakek sedang belajar menulis. Kakek menuliskan setiap kata yang ada di handphonenya. Lebih tepatnya, message di inboxnya. Ya, sekali lagi, itu asumsi karena Aku tidak bertanya. Asumsi itu berputar-putar di pikiranku.

Kalau menurut KBBI, asumsi adalah dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan berpikir karena diangggap benar. Cohen (2000) mengatakan bahwa asumsi adalah kepercayaan, gagasan, dugaan, atau pemikiran yang dimiliki oleh seseorang, sekelompok orang, atau para ahli internal atau eksternal mengenai suatu subjek. 

Ibarat penelitian, maka asumsi yang muncul merupakan hipotesis penelitian. Hipotesis muncul dari serangkaian hasil observasi dan harus diteliti untuk mengetahui apakah hipotesis itu benar atau tidak. Ya, asumsi saya muncul dari hasil observasi, pengamatan yang saya lihat. Namun, memang asumsi tidak selamanya benar atau valid, hanya apa yang kita yakini. Langkah strateginya adalah bertanya, maka tidak akan tersesat ke dalam pemikiran diri sendiri. Sperti mengupas bawang, asumsi berada pada layer bawang paling luar. Kita harus menggali sumber hingga inti, baru bisa temukan jawaban atas kebenaran asumsi. Masalahnya adalah, “malu bertanya, sesat di jalan”.

Semoga saja Aku dipertemukan dengan Kakek lagi. Sehingga Aku bisa menguji dan mempertanyakan asumsiku, benar ataukah salah. Jika benar, maka Aku dapat melakukan sesuatu hal untuknya. Jika salah, artinya aku harus belajar untuk sampai tahap action, bukan hanya berputar pada pemikiran yang dapat menyesatkan. Itulah caring, bukan kepo. :)


Sumber:
Cohen, WA. (2000). A Class with Drucker. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 


8 Juni 2015
 Ruang Rutinitas 

Minggu, 19 April 2015

Bertolak ke Pulau Dewata, Bali

Standard
Siapa yang tidak kenal Bali? Yang bahkan Pulau ini lebih terkenal daripada pada negaranya sendiri di kalangan orang luar negeri. Nah, saya akan mengajak teman-teman untuk mengeksplor Bali lebih dekat! Yuk! ;)

1. Pura Taman Ayun

Pura Taman Ayun, khas Bali
Destinasi pertama adalah Pura Taman Ayun. Pura merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu di Bali. Lokasi Pura Taman Ayun berada di Desa mengwi, Kabupaten Badung. Tahukah kamu? Pura ini masuk ke dalam list World Heritagenya UNESCO loh. Tempat ini begitu bagus, rapi, bersih, dan tentunya bersejarah. Wajar saja sih, kan tempat beribadat ya. Hehe.. Namun, tempat ini boleh dikunjungi oleh masyarakat dengan membayar sekian rupiah, kecuali penduduk Bali, gratis. So, kamu harus jadi warga Bali dulu kalau mau ke sini dengan cuma-cuma. :p Ahya, satu lagi. Kalau bisa, kalau ingin berkunjung ke sini, pastikan kamu yang kaum hawa tidak sedang menstruasi, karena dilarang masuk. Ya, karena pura tempat suci untuk beribadah. :))

2. Tanah Lot

Itu lubang di bawahnya yang unik :)
Destinasi kedua, Tanah Lot! Tanah Lot ini sangat terkenal sekali di Bali. Pemandangannya sangat indah. Perpaduan antara laut, langit, bumi, dan pura. Sebenarnya Tanah Lot ini merupakan Pura. Pura Tanah Lot berada di pinggir pantai. Tanah lot ini terdiri dari dua kata, yaitu Tanah yang ditafsirkan sebagai karang tampak seperti gili atau pulau dan Lot atau Lod yang memiliki makna laut. Jadi, Tanah Lot berarti pulau kecil mengambang di laut. Uniknya Pura Tanah Lot ini adalah karena letaknya yang berada di atas laut. Menarik bukan? :)

Panas loh di sini!

3.  Sawah Terasering

Siapa bilang Bali cuma punya pantai, laut, atau Pura? Bali juga punya sawah loh! Sawah Terasering ini ada d Tegalalang, dekat Ubud. Penampilan sawahnya begitu cantik undakan-undakan sawah. Saya mengenalnya sebagai Terasering. Sebenarnya pengunjung bisa turun ke sawah tersebut. Namun, saya tidak melakukannya karena ingin berkunjung ke tempat lainnya. Tapi, rasanya dulu waktu tahun 2012 pernah turun juga sih. rasanya kayak di pedesaan gitu. Mendengar gemericik aliran air sungai. Sejuk. Selain itu, banyak juga pengrajin dan toko-toko yang menjual hasil kerajinan tangan. Salah satu contohnya adalah kaca perca. Kamu harus berkunjung ke sini. :)

Ini dia! Sawah Terasering

 4. Don Antonio Blanco Museum

Pintu masuk museum
Kalau kamu tertarik terhadap sejarah seni lukis di Bali, kamu harus mengunjungi Museum Blanco ini. Lokasinya berada di Ubud. Tiket masuk ke museum ini sejumlah Rp 30.000 saja sudah mendapatkan drink. :) Kalau dilihat ke dalam, sebenarnya museum ini seperti rumah dari pelukis yang dijadikan museum. Tempat ini juga mengadakan pertunjukkan tarian Bali di waktu-waktu tertentu. Kamu juga bisa berfoto dengan burung-burung jinak yang cantik di luar museum ini. :3 Mau tahu lebih lanjut? Klik di sini! :) 

Mau? ;)


5. Monkey Forest

Destinasi terakhir, yaitu Monkey Forest! Sudah ketahuan ya dari namanya, hutan monyet. Haha..Saya paling suka tempat ini dari 5 tempat yang saya kunjungi, entah kenapa. Lebih banyak tertawa karena melihat tingkah makhluk-makhluk lucu yang bernama monyet. :3 FYI, monyet di tempat wisata ini di lepas loh. Nggak dikurungin kayak di kebun binatang. Setting tempat ini seperti hutan. Ada sungai juga di dalamnya. Alami sekali~ Kadang kamu akan merasa terancam karena banyak monyet di sekelilingmu. Kadang pula kamu akan tertawa secara tidak sadar akibat tingkahnya yang lucu. Kalau ke Bali, mesti berkunjung ke sini! :))
Jalan di Monkey Forest
Indonesia, negeri alam ku cinta
Indonesia kaya raya alam-nya
Indonesia kaya budaya
Indonesiaku!
*Photo credit: Sabila
*PIC : Maheswari dan temannya :3